
“Nyonya” panggil bi Eda dengan tergopoh-gopoh berlari menuju Amira dan Leila yang sedang bercerita di taman samping.
“Ada apa bi?” tanya Amira dengan bingung melihat bi Eda yang seperti dikejar hantu.
“Itu nya………hosh hosh hosh………….itu ada………..hosh hosh” ucap bi Eda dengan napas satu-satu merasa cape karena berlari.
“Atur pernapasan bibi dulu baru ngomong bi” ucap Amira dengan suara lembut.
Bi Eda melakukan seperti yang disuruh Amira barusan sebelum mengatakan apa yang ingin disampaikannya tadi.
“Ada apa bi?” tanya Amira setelah melihat bi Eda sudah tenang.
“Itu nya! Didepan ada tamu” jawab bi Eda.
“Tamu? Siapa bi?” tanya Amira.
“Saya tidak tahu nyonya. Saya baru pertama kali melihat mereka datang kesini nyonya dan ingin bertemu dengan nyonya. Oh iya wajah mereka semuanya bule nya” jawab bi Eda menjelaskan dengan antusias.
“Hah! Bule!” pekik Amira dengan suara nyaring takut jika yang datang adalah keluarga suaminya seperti waktu itu.
Tak berkata apa-apa lagi Amira segera menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa tamu yang dimaksud oleh bi Eda barusan. Leila dan bi Eda saling melirik bertanya apa yang terjadi dengan Amira tapi keduanya tak tahu.
“Bi tolong buatkan minum buat tamu didepan ya” pinta Leila dengan suara lembut.
“Iya non” jawab bi Eda segera beranjak ke dapur.
Leila memutuskan mengikuti Amira ke depan karena ia juga penasaran ingin melihat siapa yang datang. Sedangkan didepan Amira menatap 5 orang berwajah khas bule seperti yang dikatakan bi Eda dengan kening berkerut, karena tak mengenali mereka.
“Amira” ucap Roy Martinez dengan senang melihat kedatangan Amira.
“Umm! Maaf, tapi tuan ini siapa ya dan ada perlu apa mencari saya?” tanya Amira dengan sopan.
Semuanya dibuat kaget melihat cara bicara Amira yang terlihat elegan, anggun, dan berwibawa sekaligus. Apa lagi wajah Amira yang sangat cantik tidak terlihat seperti wanita berumur 40an yang sudah memiliki anak, hal itu membuat Clara dan Seina merasa iri dengan kecantikan alami Amira.
Aku yakin dia melakukan operasi plastik seluruh tubuh, batin Clara dengan perasaan iri.
Aku tidak sangka istri Demian ternyata secantik ini, batin Roy dengan decak kagum.
Melihat tamunya yang bengong, Amira semakin bingung karena tamunya ini tidak menjawab pertanyaannya. Leila yang baru datang juga ikut dibuat bingung melihat 5 orang didepannya sedang bengong.
Kenapa mereka semua pada bengong ya, batin Leila.
“Ma mereka kenapa?” bisik Leila bertanya.
“Mama juga tidak tahu sayang” jawab Amira ikut berbisik.
Eheemmm………………
Deham Amira dengan suara agak tinggi membuat kelima orang itu tersentak kaget, kelimanya berdeham merasa malu karena kedapatan bengong.
“I’m sorry Amira, but i can’t speak Indonesian” (maaf Amira, tapi aku tidak bisa berbicara bahasa Indonesia) ucap Roy.
“Not problem Mr” (tidak masalah tuan) balas Amira sambil tersenyum manis.
Nb : disini percakapannya author buat dalam bahasa Indonesia ya
Tak berselang lama bi Eda datang membawa minum buat mereka semua, Leila yang melihat diluar sudah maghrib memilih untuk pulang, karena besok ia harus memimpin rapat dengan pemegang saham membahas perihal direktur Abraham.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Jadi kalau boleh tahu anda sekalian ini siapa ya?” tanya Amira.
“Ah iya! Perkenalkan aku Roy Martinez dan ini Clara Martinez istriku. Ini anak pertama kami Simon Martinez dan putri kembar kami Seina Martinez dan Seila Martinez” jawab Roy memperkenalkan diri dan semua keluarganya satu persatu.
“Oh. Halo salam kenal semua. Saya Amira Arkana-Salma” ucap Amira ikut memperkenalkan diri juga.
“Kalau boleh tahu dari mana kalian tahu rumah saya dan juga tadi saya mendengar tuan menyebut nama saya?” tanya Amira.
“Demian Arkana Missamo adalah sahabatku dari kecil hingga kami tumbuh dewasa” jawab Roy.
“Suamiku?” tanya Amira dengan kaget.
“Ya suami kamu Amira. Aku tahu keberadaan kamu dan Denis dari televisi saat menonton gosip tentang kalian” jawab Roy dengan cepat.
Roy lalu menceritakan semua kisahnya bersama Demian dan kenapa selama ini ia tidak pernah muncul dihadapan mereka.
Itu semua karena ia kehilangan jejak Demian setelah diusir dari keluarga Massimo dan yang ia tahu, kalau Demian menentang keluarganya hanya untuk menikahi gadis yang dicintainya.
Amira diam mencerna semua ucapan Roy karena itu semua sangat mendadak untuknya, apa lagi jika tiba-tiba saja ia dikagetkan dengan kemunculan mereka semua.
“Amira apa bisa aku melihat makam sahabatku?” tanya Roy dengan memohon.
“Aku akan mengantar kalian semua kesana” jawab Amira dengan sopan.
“Terima kasih Amira”
“Iya sama-sama”
“Jadi kalian datang dari kemarin?” tanya Amira dengan cepat mengalihkan pembicaraan tak mau membahas tentang suaminya.
“Ya! Kami menginap di hotel Baker” jawab Clara.
“Kalau kalian tidak keberatan kalian boleh menginap disini. Kebetulan aku hanya tinggal sendiri dengan pembantu dan satpam disini” tawar Amira.
“Gimana mom?” tanya Roy sambil menatap istrinya.
“Aku dari daddy saja dan anak-anak” jawab Clara dengan suara lembut.
“Anak-anak apa kalian ingin menginap di rumah tante Amira?” tanya Roy sambil menatap ketiga anaknya bergantian.
“Simon, Seila?” tanya Roy tak mau mendengar pendapat Seina saja.
“Kita terserah daddy saja” jawab Simon mewakili Seila adiknya.
“Baiklah kalau begitu kami akan menginap disini Amira” ucap Roy dengan senyum lebar.
“Kalau begitu biar aku suruh bibi siapkan kamar untuk kalian semua” ucap Amira dengan suara lembut.
“Iya Amira”
Amira lalu menyuruh bi Eda untuk menyiapkan 3 kamar tamu untuk tamu-tamunya, tak lupa membantu bi Eda untuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua yang dibantu Clara saat melihat Amira menuju ke dapur.
Denis Arkana! Kamu milikku, batin Seina sambil melihat foto Denis yang dipajang sangat besar di ruang keluarga dengan tatapan memuja.
~ Deluxe Casino ~
Denis, Arkan, Arsen, Sandro, dan Rian sedang menunggu kedatangan detektif Gilang yang sedang menuju kesini sesuai pesan yang Arsen kirim kemarin dulu.
“Jadi bagaimana dengan perempuan ja**ng itu bos?” tanya Sandro dengan kesal mengingat perbuatan Keysa semalam.
“Siapa yang ka Sandro maksud?” tanya Arkan yang tak mengetahui kejadian semalam.
“Bocah kamu diam saja deh! Ini itu urusan orang dewasa bukan anak kecil seperti kamu” sarkas Sandro dengan kesal.
“Cih! Aku itu bukan anak kecil ka Sandro! Aku itu sudah berumur 19 tahun!” decih Arkan dengan kesal.
“Tetap saja kamu itu masih bocah dimata aku”
“Kalian bisa diam tidak! Kalau mau ribut keluar sana” bentak Arsen dengan suara tinggi sambil menatap keduanya dengan tatapan tajam.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sandro dan Arkan saling mencibir satu sama lain lewat tatapan mereka, tak berani mengeluarkan suara saat melihat tatapan tajam Arsen yang tidak sedang bercanda.
Tak berselang lama detektif Gilang tiba di kasino Deluxe yang langsung disambut Erwin membawa dia ke ruang VIP 4. Sampainya disana detektif Gilang menatap jam tangannya yang menunjukkan pukul 21:00 tepat.
Ceklek………………….
Erwin membukakan pintu untuknya dan saat masuk ke dalam, ia tersentak kaget melihat beberapa orang yang sangat dikenalinya berada didalam sana. Padahal ia pikir jika malam ini ia hanya akan bertemu berdua saja dengan Arsen.
“Tepat jam 21:00” ucap Arsen dengan suara dingin.
“Silahkan duduk detektif Gilang. Buat diri anda senyaman mungkin dan jangan hiraukan kami disini” ucap Sandro sambil menunjuk kursi didepannya yang masih kosong.
Detektif Gilang tak berkata apa-apa dan segera duduk di kursi yang ditunjuk Sandro tadi.
Meskipun begitu matanya sedari tadi melihat sekeliling melihat wajah-wajah orang didalam sana, bahkan ia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang presdir Denis yang terkenal sangat misterius selama ini.
Wajahnya sangat mirip dengan presdir Rayen Baker meski dia terlihat lebih muda, batin detektif Gilang dengan kaget saat menatap Arkan.
“Aku tahu aku tampan om tapi tidak perlu ditatap seperti itu juga om” ucap Arkan dengan sinis.
“O…….m?” tanya detektif Gilang dengan terbata-bata saat dipanggil om.
“Heemmm! Om kan sudah tua jadi wajarkan aku panggil om” balas Arkan dengan santai.
Skakmat!
Detektif Gilang dibuat bungkam tak bisa berkata mendengar ucapan Arkan barusan padahal umurnya baru 36 tahun dan ia juga belum menikah.
Sandro, Arsen, dan Rian berbalik ke samping menahan tawa mereka yang hampir pecah saat mendengar Arkan memanggil detektif Gilang dengan sebutan om.
“Arkan” ucap Denis dengan suara dingin.
“Maafkan aku bos” ucap Arkan dengan cepat mengerti apa maksud Denis barusan yang tak lain memperingatinya untuk tidak berulah.
Denis melirik ke arah Arsen memberinya isyarat untuk mulai melakukan bagiannya saat ini dan mengurus semua yang akan ditanya oleh detektif Gilang nanti.
“Aku dengar anda mencariku detektif Gilang?” tanya Arsen dengan suara dingin.
“Ya! Anda pasti sudah menebak maksud aku mencari anda selama 1 bulan terakhir tuan muda Sanjaya” jawab detektif Gilang to the point.
“Hehehehe! Sepertinya anda sudah mendapat semua buktinya ya” ucap Arsen sambil terkekeh.
“Ya dan semua seperti yang anda ucapkan waktu itu” balas detektif Gilang dengan suara tegas.
“Bisa anda beritahu apa maksud itu semua dan siapa tersangka yang sebenarnya tuan muda Sanjaya?” tambahnya lagi dengan wajah serius.
“KENZO ARJUNA ADALAH TERSANGKA SEBENARNYA” ucap Arsen dengan suara tegas dan dingin.
“Apa!” pekik detektif Gilang dengan kaget.
“Bagaimana bisa? Bukannya dia anak kandung Marcel Arjuna sekaligus adik kandung dari kedua kakaknya? Lalu kenapa dia adalah tersangka di kasus ini? Apa alasannya juga dia melakukan itu semua kepada keluarga kandungnya sendiri?” tanya detektif Gilang dengan beruntun.
“Itu tugas anda untuk mencari tahu detektif! Aku sudah memberikan nama tersangkanya yang sebenarnya jadi silahkan mencari bukti untuk menjebloskannya ke penjara meski aku rasa itu akan sangat sulit” jawab Arsen sambil tersenyum menyeringai.
“Berikan satu bukti yang menguatkan ucapan anda barusan tuan muda Sanjaya” ucap detektif Gilang dengan suara tegas tak mau percaya begitu saja.
Arsen tersenyum smirk mendengar ucapan detektif Gilang barusan dan ia akui detektif Gilang memang patut mendapat gelar detektif maut selama ini.
Menarik, batin Denis dengan tatapan tajam dan dingin menatap detektif Gilang.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue……………