Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 47


Ceklek…………….


Pelayan tadi membuka pintu ruang VIP untuk mereka bertiga sambil mempersilahkan mereka masuk dengan sopan. Ia lalu memberikan buku menu kepada ketiganya.


“Apa menu favorit disini?” tanya Martin Massimo dengan suara berwibawa.


Ya orang yang baru saja datang dan memesan ruang VIP adalah Martin Massimo bersama daddynya dan tangan kanan sang daddy.


“Semua menu disini adalah menu favorit restoran kami tuan. Restoran kami biasanya membuat menu spesial yang berbeda-beda setiap hari agar pelanggan bisa menikmati menu yang berbeda setiap hari tuan” jelas pelayan tadi sambil menunjukkan menu spesial untuk hari ini.


“Kalau begitu kami pesan menu spesial hari ini dan juga sebotol Glenfiddich 1937” ucap Alexandro dengan suara tegas.


“Baik tuan. Apa masih ada lagi?” tanya pelayan tadi dengan sopan.


“Apa kami bisa bertemu dengan owner restoran ini?” tanya Alexandro dengan suara tegas.


“Mohon maaf tuan saya akan bertanya dulu kepada owner kami apakah beliau bisa bertemu atau tidak” ucap pelayan tadi dengan sopan.


“Baiklah kami tunggu informasinya nona Anisa” ucap Justin Membaca nametaq Anisa.


“Maaf tuan kalau boleh tahu dengan tuan siapa saya berbicara?” tanya Anisa.


“Katakan saja tuan Alexandro Massimo ingin bertemu” ucap Alexandro dengan suara dingin.


“Baik tuan. Mohon di tunggu pesanannya”


Anisa segera berlalu keluar dan menyampaikan pesanan tamu VIPnya kepada pak Roni sous chef dan ia juga bergegas menuju ke ruangan Amira untuk memberi tahu permintaan tamu VIP tadi.


Tok……..tok……………..tok………………


“Masuk” ucap Amira dari dalam membuat Anisa segera membuka pintu.


Anisa lalu masuk ke dalam ruangan Amira dengan langkah cepat ingin menyampaikan permintaan tamu VIP mereka barusan yang ingin bertemu dengan owner restoran.


“Maaf nyonya sudah menganggu waktu istirahat nyonya” ucap Anisa dengan sopan.


“Tidak apa-apa Anisa. Memangnya ada apa kamu kesini?” tanya Amira sambil tersenyum manis.


“Itu ada tamu VIP yang meminta ingin bertemu dengan nyonya” jawab Anisa.


“Siapa?” tanya Amira dengan penasaran.


“Katanya tuan Alexandro Massimo ingin bertemu nyonya” jawab Anisa dengan sopan.


Deg…………..deg……………..deg………………


Jantung Amira berdetak dengan cepat mendengar nama orang yang ingin bertemu dengannya saat ini.


Pikirannya berkelana memikirkan apa mau keluarga suaminya lagi, bukannya waktu itu Denis sudah memperingatkan mereka untuk tidak menemui mereka lagi.


Karena terlalu banyak berpikir Amira sampai tak sadar jika sedari tadi Anisa terus memanggilnya untuk bertanya jawabannya.


“NYONYA” teriak Anisa dengan suara kencang mengagetkan Amira.


“Hah! Ada apa Anisa?” tanya Amira dengan kaget.


“Maafkan saya nyonya karena sudah berteriak dan mengagetkan nyonya” ucap Anisa merasa bersalah.


“Iya tidak apa-apa Anisa. Lagian ini juga bukan salah kamu kok”


“Sekali lagi saya minta maaf nyonya. Saya sudah dari tadi memanggil nyonya tapi nyonya diam saja” lirih Anisa dengan sesal.


“Iya tidak apa-apa Anisa saya ngerti kok”


“Iya nyonya. Jadi bagaimana nyonya? Apa yang harus saya sampaikan kepada tamu VIP kita?” tanya Anisa dengan sopan.


“Beritahu mereka jika aku tidak bisa bertemu” jawab Amira dengan cepat.


“Baik nyonya”


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Anisa segera pamit undur diri untuk menyampaikan jawaban sang nyonya kepada tamu mereka yang sudah menunggu di ruang VIP. Amira dengan cepat mengambil hpnya dan menghubungi Denis untuk memberi tahunya.


“Denis angkat nak” ucap Amira dengan panik karena panggilannya sudah 4 kali tapi tidak di angkat oleh Denis.


Ia terus menelpon Denis tapi masih belum juga ada jawaban. Amira lalu menelpon Sandro tapi panggilannya juga tidak di angkat, begitu pula dengan Arsen dan Rian yang juga tak menjawab telponnya.


“Kemana sih mereka semua” ucap Amira semakin panik.


Kring……………


Tiba-tiba hpnya berbunyi ada panggilan masuk dari Sandro membuat Amira dengan cepat menjawab panggilan tersebut.


“Halo nyonya”


^^^“Halo nak Sandro. Nak Sandro ada dimana? Tante sudah menelpon Denis dari tadi tapi telpon tante tidak diangkat nak” ucap Amira dengan menggebu-gebu.^^^


“Nyonya aku lagi di Singapura dinas keluar negeri dan aku tidak tahu bos berada dimana nyonya” jawab Sandro dari seberang.


^^^“Hah! Lalu Denis dimana sekarang nak?” tanya Amira dengan kaget.^^^


“Aku tidak tahu nyonya. Coba nyonya hubungi Arsen atau Rian nyonya” jawab Sandro.


^^^“Tante sudah menghubungi mereka tapi sama saja panggilan mereka tidak diangkat nak Sandro”^^^


“Mungkin bos dan lainnya sedang meeting nyonya, karena bos paling tidak suka diganggu jika sedang meeting”


^^^“Oh”^^^


“Memangnya ada apa nyonya?” tanya Sandro dari seberang.


^^^“Nak Sandro apa mengetahui tentang keluarga Massimo yang dari Italia?” tanya Amira dengan cepat.^^^


“Bos pernah menyuruh kami mencari informasi tentang mereka nyonya tapi aku tidak tahu untuk apa” jawab Sandro dengan jujur.


^^^“Mereka adalah keluarga papa denis nak. Ada sesuatu yang tante tidak bisa beritahukan ke kamu tapi saat ini mereka datang ke restoran tante ingin bertemu tante nak. Padahal Denis sudah memperingati mereka untuk tidak datang menemui kami lagi dan juga melarang tante bertemu dengan mereka nak Sandro” papar Amira menjelaskan.^^^


“Kalau begitu nyonya jangan bertemu dengan mereka. Tante beritahu saja kedatangan mereka ke bos lewat pesan tapi jangan menemui sampai ada balasan dari bos” usul Sandro.


^^^“Iya nak Sandro”^^^


“Kalau begitu aku tutup dulu nyonya karena mau meeting sebentar lagi”


^^^“Iya nak. Jaga dirimu selama disana ya nak”^^^


“Iya nyonya”


Phew……………….


Amira membuang napas dengan kasar setelah memberitahu Sandro dan segera mengirim pesan ke Denis seperti usulan Sandro barusan.


“Semoga mereka tidak memaksa untuk bertemu denganku” ucap Amira penuh harap.


~ Markas Black Damon ~


Tenyata Denis dan Arsen bukan berada di perusahaan melainkan berada di markas Black Damon, sedang melihat kandang peliharaan Denis yang baru selesai di bangun dan memasukkan semua peliharaannya ke dalam.


Arsen yang baru pertama kali melihat hewan peliharaan Denis kaget tak menyangka jika bosnya itu memilih predator ganas sebagai peliharaannya.


Bahkan jumlah mereka ada 5, meski mereka baru berumur 4 bulan tapi melihat mereka saja sudah membuat Arsen bergidik ngeri.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Kerja bagus Max” puji Denis dengan suara dingin.


“Terima kasih bos” balas Max sambil tersenyum hangat.


“Bagaimana dengan ruangan produksi?” tanya Denis sambil menaruh kedua tangannya didalam saku celana.


“Semuanya sudah selesai bos tinggal beroperasi saja bos” jawab Max dengan suara tegas.


“Mulailah beroperasi besok” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos”


“Awasi semua produksi dan anak buah kita dengan ketat dan jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun” ucap Denis memberi peringatan dengan tatapan tajam.


“Baik bos”


Denis lalu masuk ke dalam kandang peliharaannya membuat semua anak buahnya tercengang melihat apa yang dilakukan bos mereka. Bagaimana tidak saat ini Denis seperti sedang berbicara akrab dengan kelima hewan ganas itu seperti seorang sahabat.


Kelima ekor hewan itu seakan mengerti perkataan Denis dan mengibaskan ekor mereka membalas setiap ucapan Denis.


Apa lagi saat ini mereka sedang berjejer rapi menghadap Denis, seakan mendengar orang tua mereka yang sedang berbicara.


“Nama kalian Sita, Leon, Ema, Tigoz, Jacob” ucap Denis sambil menunjuk kelima hewan tersebut.


Crash…….crash……….crash........crash……..crash……..


“Bagus. Semoga kalian suka dengan rumah baru kalian” ucap Denis sambil tersenyum bahagia.


Crash……………crash…………crash……………..


Kibasan ekor kelima buaya peliharaan Denis menggema didalam sana, membuat dia tersenyum puas karena mereka menyukai rumah mereka yang baru.


Denis kemudian bergegas keluar dari kandang kelima hewan peliharaannya, lalu memantau keadaan markas dan melihat ruangan produksi senjata yang akan mulai beroperasi besok.


Ia juga melihat latihan anak buahnya yang sedang di latih oleh anak buah yang pertama setelah mereka lolos seleksi.


Kening Denis mengerut saat mengambil hpnya dan melihat ada banyak panggilan tak terjawab dari mamanya tadi.


Setelah meeting di perusahaan tadi, ia lupa mengaktifkan kembali hpnya dari mode silent dan tak tahu jika mamanya menelpon dan mengirim pesan.


“Berengsek” maki Denis dengan rahang mengeras membaca pesan sang mama.


Dengan cepat Denis segera menelpon mamanya dan tak sampai dering kedua panggilannya langsung di jawab oleh Amira.


“Halo nak”


^^^“Apa mama bertemu dengan mereka?” tanya Denis dengan suara dingin.^^^


“Tidak nak. Mama menolak untuk bertemu dengan mereka” jawab Amira dengan cepat.


^^^“Mama sekarang berada dimana?” tanya Denis.^^^


“Mama lagi di ruangan mama di restoran nak” jawab Amira dengan cepat meski ia bingung kenapa anaknya bertanya.


^^^“Jangan keluar dari sana sampai aku datang ma”^^^


“Iya nak”


Denis mematikan panggilannya sepihak dan memberi isyarat kepada Arsen untuk segera pergi dari sana.


Sepanjang jalan Arsen dan sang sopir menelan saliva dengan susah, merasakan aura Denis dari kursi belakang yang terasa sangat mencekam didalam sana.


Keduanya saling melirik dan berkata lewat tatapan mata untuk tidak menganggu Denis saat ini karena suasana hatinya sedang buruk.


Mau apa lagi mereka kesana, batin Denis sambil mengepal kedua tangannya hingga urat-uratnya terlihat sangat jelas.


~ D&A Resto ~


Brak…………….


Denis menutup pintu mobil dengan kuat mengagetkan Arsen yang baru saja ingin turun untuk membukakan pintu buat Denis, tapi ia kalah cepat dengan gerakan Denis yang sudah lebih dulu keluar dari dalam mobil.


“Siapa sih yang sudah membuat mood bos jadi buruk” gumam Arsen dengan suara pelan sambil mengikuti Denis yang sudah masuk terlebih dahulu.


Baru saja masuk ke dalam restoran langkahnya seketika terhenti melihat Denis yang sedang berdiri tak jauh dari pintu masuk, sambil menatap ketiga orang didepannya dengan tatapan berkilat tajam.


Eeehhh……………..


Sesaat Arsen kaget karena mengenali ketiga orang didepannya dan ia masih ingat betul. Karena informasi merekalah ia harus mendapat bogem mentah dari Denis waktu itu hingga membuatnya harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari.


Ckk! Jadi mereka yang sudah membuat mood bos buruk, batin Arsen berdecak kesal.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Sedangkan ketiga orang didepan Denis berdiri mematung merasa gugup melihat tatapan tajam Denis yang sama persis dengan almarhum orang yang mereka kenali selama ini.


Ketiganya seakan tidak bergerak untuk maju atau mundur, seakan kaki mereka dilem di lantai merasakan aura Denis yang menguar didalam sana.


Denis sendiri tersenyum menyeringai menatap ketiganya dan berjalan maju menghampiri ketiganya yang berdiri dengan kaku tak bisa bergerak.


Mata tajam dan dingin Denis seakan membuat mereka serasa di lautan es yang paling dingin dengan oksigen yang terbatas.


“Beraninya kalian tidak mengindahkan ucapan aku waktu itu” ucap Denis dengan suara dingin berhadapan langsung dengan Alexandro Massimo.


Glek…………….


Alexandro menelan salivanya berkali-kali membasahi tenggorokannya yang terasa kering saat bertatapan dengan Denis. Tubuhnya gemetar merasa aura Denis yang sangat mengintimidasi dan menakutkan.


“Bos” panggil Arsen sambil memberi isyarat dengan kepalanya menunjuk ke arah pengunjung restoran.


Bibir Denis terangkat melirik sekilas pengunjung restoran yang tak menyadari akan apa yang terjadi saat ini. Hanya pelayan di pintu masuk dan bagian kasir yang menyadari apa yang sedang terjadi.


“Faresti meglio a uscire di qui prima che ti mandi all'inferno” (sebaiknya kalian pergi dari sini sebelum aku mengirim kalian ke neraka) ucap Denis dengan suara dingin seperti es di kutub.


“Voi” (kamu) tunjuk Martin dengan mata melotot tajam karena emosi mendengar ucapan Denis barusan.


“Ckk!!” decih Denis dengan senyum sinis sambil berlalu pergi dari hadapan ketiganya


Hosh………………hosh…………hosh………………..


Napas Alexandro satu-satu setelah kepergian Denis seakan baru bebas dari ruang hampa tanpa udara.


Arsen yang melihat hal itu tersenyum mengejek saat melewati ketiganya, membuat Justin menatapnya dengan mata tajam memperingatinya untuk tidak menatap tuannya seperti itu.


Kalian sudah salah memilih lawan tuan besar Massimo, batin Arsen dengan senyum mengejek.


Denis sendiri melirik ke belakang dengan mata ekornya tersenyum menyeringai melihat orang yang sangat ia benci.


Tangannya mengepal dengan erat seakan ingin membunuh mereka saat ini juga tapi ia tahan karena tidak ingin kehilangan kontrol didepan umum.


Jangan berani mengusik aku dan mamaku selagi kalian masih ingin bernapas dibumi, batin Denis dengan mata tajam membunuh.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………………