Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 185


Aaarrrgghhh..............


Teriak Leila dan Amira dengan kencang saat mendengar suara ledakan barusan. Denis memeluk tubuh sang istri yang hampir terjungkal ke depan saat limousine yang mereka tumpangi berhenti mendadak.


Sedangkan Amira yang duduk di pojok tidak sampai ke jatuh ke depan. Rahang Denis mengeras dengan tatapan membunuh karena yakin ada musuhnya didepan sana.


"Bos anda baik-baik saja?" tanya Thomas lewat halkie talky.


^^^"Apa yang terjadi?" tanya balik Denis.^^^


"Ada mobil yang meledak didepan mobil pengawal bos" jawab Thomas.


^^^"Fu*k! Suruh anak buahmu bersiap untuk menyambut tamu yang sebentar lagi datang" titah Denis dengan suara tegas.^^^


"Kami semua sudah bersiap di luar bos"


Denis lalu menyuruh Leila untuk duduk bersama sang mama karena ia harus melakukan beberapa hal penting.


Ia lalu menghubungi Max dan pada panggilan kedua panggilannya langsung di jawab.


"Halo bos"


^^^"Kirim helikopter ke lokasi aku sekarang"^^^


"Baik bos"


^^^"Bawa 400 anak buah kita untuk membantu Thomas dan anak buahnya"^^^


"Siap bos"


"Mama baik-baik saja?" tanya Denis dengan suara lembut setelah mematikan panggilannya.


"Apa yang terjadi nak?" tanya balik Amira dengan tubuh gemetar karena baru pertama kali mengalami hal sepeti ini.


"Aku tidak tahu. Mama jangan takut ya karena aku tidak akan membiarkan mama dan istriku kenapa-napa" jawab Denis dengan suara tegas.


"Sayang" panggil Leila dengan wajah pucat.


Dor..........dor............dor........dor...........


Tak lama bunyi tembakan bersahutan dari luar membuat Amira dan Leila semakin ketakutan. Leila yang sedang memeluk mama mertuanya mengigit bibirnya mengalihkan rasa takutnya.


Rahang Denis mengeras melihat sang istri yang menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa takutnya.


Grep..............


Ia lalu memeluk kedua wanita yang sangat ia cintai dengan erat. Keduanya memeluk tubuh Denis mencari ketenangan saat mendengar suara tembakan yang semakin lama semakin menjadi.


Aku tidak akan membiarkan kalian hidup karena sudah mengusik ketenangan akau, batin Denis dengan aura membunuh didalam mobil.


Leila yang merasakan aura suaminya semakin mengigit bibirnya menahan rasa takut. Melihat hal itu dengan cepat Denis mencium bibir sang istri membuat Leila kaget bukan main.


"Jangan sakiti dirimu sayang" bisik Denis dengan suara lembut.


Hiks.........hiks.........hiks.........


Tangis Leila pecah mendengar ucapan suaminya. Denis tersenyum sambil mengeratkan pelukannya dan menenangkan keduanya.


"Bos kami sudah sampai" ucap max dengan suara dignin dari luar.


"Heemmm" deham Denis.


Denis lalu menyuruh keduanya untuk keluar dari sana dan menaiki helikopter yang sudah tiba di luar sana. Saat keluar Denis melihat anak buahnya yang berjaga ketat di sekitaran mobilnya, sedangkan Thomas dan lainnya sedang bertarung dengan musuhnya.


"Na.....k" ucap Amira dengan gemetar ketakutan.


"Mama percaya kan sama aku?" tanya Denis dengan suara lembut.


"Iya nak" jawab Amira.


Max lalu menuntun Amira menuju helikopter yang berada 100 meter dari posisi mereka. Sedangkan Denis ia memeluk istrinya sambil memantau sekeliling takut ada musuh yang mendekat ke arah mereka.


Dor.........dor............


"Arah jam 9" ucap Denis dengan suara lantang saat menembak 2 orang musuh yang hendak menembaknya.


Max segera memberi isyarat kepada sniper untuk menembak ke arah yang diberitahukan oleh Denis barusan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Dor...........dor...........dor..........dor..........


Bunyi tembakan bersahutan semakin menjadi disana dari pihak Denis dan musuhnya. Thomas dan anggota Balck Damon terus menembak musuh yang terus berdatangan.


"Max kawal istri dan mamaku mansion" titah Denis dengan suara dingin.


"Baik bos" ucap Max segera naik ke helikopter.


"Sayang kenapa kamu tidak ikut?" tanya Leila dengan khawatir.


"Kamu dan mama tunggu aku di mansion ya sayang. Karena ku ingin membereskan hal ini terlebih dahulu" jawab Denis dengan suara lembut.


"Tapi sayang" ucap Leila yang langsung dipotong Denis.


"Aku janji akan pulang menemuinya sayang" potong Denis yang tahu apa yang dipikirkan istrinya.


"Aku mohon kembalilah dengan slemaat sayang dan ingat ada aku dan mama menunggumu di mansion" ucap Leila dengan tatapan berkaca-kaca.


"Iya sayang"


Cup.................


Denis mencium bibir istrinya dengan lembut tak perduli dimana mereka saat ini. Setelah itu ia mengangguk kepalanya menatap Max memberi isyarat untuk menjaga keduanya di mansion sampai ia datang.


Helikopter yang dinaiki Leila dan Amira segera pergi dari sana meninggalkan Denis dan anak buahnya di sana. Seketika aura membunuh menyeruak di sana membuat semua orang bergetar ketakutan.


"Bunuh mereka semua jangan biarkan satu pun lolos" ucap Denis dengan suara lantang.


"Baik bos" ucap semua anak buahnya dengan serentak.


Dor...........dor..........dor........dor..........


Aaarrgghh............aaarrrgghhh............


Suara jeritan kesakitan dari pihak musuh bergema di sana bersamaan dengan bunyi tembakan yang semakin menjadi.


Duar............duar..............duar........


Bunyi ledakan dan teriakan kesakitan bergema membuat siapa saja yang mendengarnya ketakutan. Asap membumbung tinggi di atas langit membuat langit menjadi gelap dan terlihat sangat berkabut.


Para polisi yang mendengar suara ledakan tersebut bergegas pergi ke asal bunyi tapi mereka dihadang oleh 4 truk yang terbakar di pertigaan jalan.


Dor...........dor..........dor............dor.......


Denis melepas tembakan tepat ke arah musuh di kepala mereka. Ia lalu berdiri melihat sekeliling yang penuh dengan mayat.


"Bos semuanya sudah mati" lapor Thomas yang melihat tidak ada musuh lagi.


"Bawa anggota kita yang terluka ke markas" titah Denis dengan suara dingin.


"Lalu bagaimana dengan mayat dari pihak musuh bos?" tanya Thomas.


"Biarkan polisi yang mengurusnya" jawab Denis sambil tersenyum smirk memikirkan sesuatu.


"Baik bos"


"Ah! Teliti semua mayat jika ada ada anggota kita yang mati, bawa mayatnya kembali ke markas"


"Siap bos"


Tak berselang lama Arkan datang dengan motor besarnya diikuti oleh Arsen dan Sandro yang baru saja dari markas dengan mobil sport mereka masing-masing.


"Yah! Aku ketinggalan pestanya" ucap Arkan dengan kesal.


"Bos anda baik-baik saja?" tanya Arsen dan Sandro dengan serentak.


"Heemmm" deham Denis sambil mengangguk kepalanya.


"Bersihkan jejak kita dari sini sebelum polisi sampai" titah Denis dengan suara aura tegas menatap ketiganya.


"Baik bos" jawab ketiganya dengan serentak.


Denis berlalu masuk ke dalam mobil Sandro bersamanya dan pergi dari sana. Sedangkan Arkan dan Arsen tinggal di sana untuk mengurus semua kekacauan ini sebelum polisi sampai.


~ Mansion Denis Arkana ~


Mobil Sandro diikuti 2 mobil pengawal berhenti tepat didepan mansion. Denis keluar dengan kedua tangannya masih memegang pistol, diikuti Sandro yang menenteng jasnya.


"Selamat datang tuan" ucap pak Tio didepan pintu.


"Dimana istri dan mamaku?" tanya Denis dengan suara dignin.


"Nyonya besar dan nyonya ada di ruang keluarga tuan" jawab pak Tio dengan cepat.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis segera melangkah masuk menuju ruang keluarga ingin melihat keadaan istri dan mamanya. Baru saja masuk ke dalam ruang keluarga tiba-tiba Leila berlari menuju ke arahnya dan langsung memeluknya sambil menangis.


"Hiks hiks hiks...........aku sangat mengkhawatirkan kamu sayang........hiks hiks hiks" ucap Leila sambil menangis histeris.


"Aku baik-baik saja sayang" ucap Denis dengan suara lembut sambil membalas pelukan sang istri.


Denis mencium puncak kepala Leila dengan lembut sambil mengelus punggungnya menenangkannya. Matanya menatap ke arah sang mama yang juga menatapnya dengan senyum manis merasa lega karena anaknya pulang dengan slemaat.


Ia lalu melirik ke samping dimana ada Pablo Ulrico bersama asistennya yang ternyata sudah datang.


"Ayok kita duduk sayang" ajak Denis dengan suara lembut.


"Iya sayang" balas Leial dengan suara serak karena baru saja menangis.


Mereka lalu menghampiri Amira dan Pablo, baru saja mereka duduk Arsen dan Arkan tiba-tiba datang.


"Semuanya sudah beres bos" lapor Arsen dengan suara dignin.


"Bagus" jawab Denis dengan suara dingin.


"Apa yang tejadi Denis?" tanya Pablo.


Denis tidak menjawab dan malah menghidupkan TV yang sedang memberitakan tentang banyak mayat yang tergeletak di jalanan di pinggiran kota dan juga ada suara ledakan yang sangat kencang tadi.


"Itu ulah kamu Denis?" tanya Pablo dengan syok melihat berita tersebut.


"Bos kenapa kita tidak membereskan mayat-mayat itu juga? Bukannya itu sama saja kita mengundang polisi untuk mengusut kasus ini bos?" tanya Sandro.


"Itu lebih bagus jika polisi turun tangan" jawab Denis dengan santai.


"Tapi kalau polisi tangkap bos bagaimana?" tanya Arkan dengan cepat.


"Sayang. Nak" ucap Amira dan Leila dengan serentak merasa khawatir mendengar ucapan Arkan barusan.


"Aku tidak akan pernah ditangkap posisi sayang. Mama juga jangan khawatir ya" jawab Denis dengan suara lembut menatap keduanya bergantian.


"Tapi apa yang diucapkan oleh Arkan bisa saja jadi nak" ucap Amira dengan panik.


"Itu tidak akan nyonya karena mereka tidak mempunyai bukti kalau bos terlibat" jawab Arsen dengan suara tegas.


"Apa benar begitu sayang?" tanya Leila dengan penasaran.


"Heeemm" deham Denis sambil mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Lalu untuk apa kamu membiarkan mayat-mayat itu tergelatak saja begitu dan diliput oleh media?" tanya Pablo dengan cepat.


"Well! Itu hadiah aku untuk mereka" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.


Pablo mengerutkan keningnya memikirkan jawaban Denis, tapi sedetik kemudian bibirnya terangkat setelah mengerti apa yang direncanakan oleh Rneis.


"Aku ingin melihat wajahnya saat menonton berita ini" ucap Pablo sambil tersenyum menyeringai.


"Ka mereka lagi ngomong apa sih" bisik Arkan di telinga Sandro.


"Ckk!! Kamu itu memang bocah bodoh!" decak Sandro sambil mencibir Arkan.


"Ihhhh! Ka Sandro nyebelin" ketus Arkan dengan kesal.


Sedangkan Amira yang tak mengenal Pablo sedari tadi menatapnya merasa pernah melihat wajahnya tapi entah dimana.


"Maaf tuan. Tapi apa tuan pernah foto dengan seorang pria di atas kap mobil di padang hijau yang hanya ada satu pohon saja disana?" tanya Amira sambil menatap Pablo mengagetkan semua orang didalam sana.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue............