Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 45


Setelah beberapa hari di rawat di rumah sakit akhirnya Amira sudah di perbolehkan pulang karena kondisinya sudah pulih.


Selama mamanya di rawat Denis tidak pernah meninggalkan mamanya, bahkan urusan pekerjaan ia menyuruh Sandro untuk menghendelnya.


Denis lalu mengandeng tangan mamanya keluar dari ruang perawatannya, membuat semua pasang mata disana menatap mereka dengan decak kagum, karena jarang sekali ada anak muda yang mengandeng tangan mamanya seperti itu di depan umum.


Beruntungnya ibu itu punya anak seperti itu


Seandainya anak aku seperti pemuda itu?


Aku akan jadi orang tua paling bahagia di dunia ini jika anak-anak aku seperti dia


Bahagia sekali ibu itu punya anak yang sangat menyayanginya


Amira tersenyum bahagia mendengar bisikan-bisikan tersebut saat mereka keluar dari kamar rawatnya menuju lobby rumah sakit. Ia menatap Denis yang memakai pakaian kasual dan kaca mata hitam semakin membuat anaknya tampan.


“Aku tahu kalau aku tampan ma. Jadi jangan menatap aku seperti itu ma” ucap Denis dengan suara lembut meski ia tidak menatap Amira.


Eeehhh………….


Amira tercengang tak bisa berkata-kata mendengar ucapan anaknya yang memang benar adanya, kalau sedari tadi ia terus menatap putranya dan mengagumi ketampanannya yang menurun dari papanya.


Apa Denis bisa membaca pikiranku, batin Amira.


“Sekedar informasi anakmu ini tidak bisa membaca pikiran orang ma” ucap Denis sambil membungkuk menatap mamanya.


Bibirnya tersenyum tipis melihat wajah mamanya yang kaget, karena ia seakan bisa membaca pikiran sang mama.


Di umurnya yang sudah kepala empat Denis masih bisa melihat kecantikan mamanya yang masih terlihat jelas di wajahnya.


Aku janji akan membuat mama orang tua paling bahagia di dunia ma, batin Denis berjanji.


Denis segera membuka pintu mobil menuntun mamanya naik, sedangkan Tom dan 6 anak buahnya berjaga di belakang dan mengikuti mobil Denis yang sudah berlalu pergi.


Hari ini Denis memutuskan untuk membawa mobil sendiri karena ingin menghabiskan waktu bersama sang mama.


“Denis apa kita bisa ke restoran mama sebentar?” tanya Amira dengan suara lembut.


“Mama minggu ini tidak boleh bekerja dulu. Urusan restoran biar di urus sama orang kepercayaan mama itu karena mama baru sembuh” ucap Denis dengan suara tegas tapi tidak ada bentakan hanya ada kelembutan di setiap kalimatnya.


“Maksudmu Keysa nak?” tanya Amira.


“Mungkin. Aku tidak tahu namanya kerena tidak penting buat aku ma” jawab Denis dengan santai.


“Baiklah mama ikut ucapanmu saja. Kebetulan mama juga ingin menikmati liburan sedikit karena selama ini mama tidak pernah libur” ucap Amira memilih mengikuti ucapan sang anak.


“Heemmmm”


~ Rumah Arkana ~


Denis memarkir mobilnya tepat di depan pintu masuk rumah, dimana disana bi Eda sudah berdiri menunggu kedatangan mereka yang hari ini keluar dari rumah sakit.


“Selamat datang kembali di rumah nyonya” ucap bi Eda sambil tersenyum bahagia.


“Iya bi. Makasih ya udah sambut aku” balas Amira sambil tersenyum tulus.


“Sama-sama nyonya”


“Ma ayok masuk” ajak Denis sambil menuntun Amira masuk ke dalam rumah.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Hari itu Denis menemani mamanya seharian di rumah karena mulai besok ia akan kembali ke rutinitasnya seperti biasa.


Tak hanya itu Amira hari itu sangat pusing harus mendengar ucapan anaknya, yang memberitahu bi Eda untuk menyiapkan makanan untuknya tepat jam makan dan hal-hal yang boleh ia lakukan dan tidak selama di rumah.


~ DA Bank ~


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan pagi ini sebelum ke perusahaan, Denis dan Sandro mampir dulu ke DA Bank untuk melakukan inspeksi mendadak seperti biasanya.


“Presdir” ucap Rangga menyambut kedatangan Denis disana.


“Rapat dalam 10 menit” ucap Sandro memberi perintah dengan suara tegas.


“Baik presdir” ucap Rangga dengan sopan.


Rangga segera memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk memberitahu informasi tersebut ke kepala tim masing-masing agar menuju ruang meeting dalam waktu 10 menit.


Denis masuk ke dalam dengan tatapan datar dan dingin melihat sekelilingnya dengan tajam.


“Pecat dia” tunjuk Denis ke salah satu pegawai yang baru keluar dari lift sambil memakai headphone dengan penampilan acak-acakan.


“Baik presdir” jawab Rangga memberi isyarat kepada sekretarisnya untuk menandai orang yang ditunjuk Denis barusan.


Denis, Sandro, Rangga, dan sekretarisnya naik ke lift khusus Denis menuju ruang meeting di lantai 7.


Tatapan tajam dan dingin Denis membuat siapa saja bergetar ketakutan, apa lagi para pegawai disana tidak mengenal Denis dan hanya para petinggi dan ketua tim di masing-masing bidang.


Ceklek……………


“Selamat datang presdir” ucap semua peserta meeting dengan serentak menunduk memberi hormat saat pintu dibuka.


Denis duduk di kursi kebesarannya dengan tegap dan penuh wibawa sambil menatap satu persatu wajah para ketua tim dan petinggi di DA Bank miliknya. Saat matanya menangkap salah satu kursi yang kosong, rahangnya mengeras menguar aura membunuh didalam sana.


“Siapa yang belum hadir?” tanya Denis dengan suara dingin.


Semua mata langsung menatap ke kursi paling ujung yang kosong karena tak menyadari jika kursi itu kosong sedari tadi. Rangga yang melihat kursi kosong itu segera memberitahu Denis alasan kenapa orang itu tidak hadir.


“Itu adalah Alfa Harez ketua tim HRD presdir. 30 menit yang lalu ia meminta ijin pulang karena ibunya jatuh dari tangga dan masuk rumah sakit sedangkan istri dan 2 anaknya sedang menjenguk mamanya di Kalimantan presdir” papar Rangga menjelaskan.


“Sandro” ucap Denis dengan suara dingin memberinya isyarat.


“Baik bos” jawab Sandro segera berkutat dengan hp yang tahu isyarat Denis barusan.


1 menit


4 menit


6 menit


6 menit berlalu dan hanya ada keheningan didalam sana, membuat semua orang didalam sana menunduk menerka apa yang sedang terjadi.


Apa lagi tatapan tajam Denis membuat mereka tidak berani mengangkat kepala sekedar melihat atau mengintipnya.


“Benar bos dia berada di rumah sakit” ucap Sandro sambil menunjukkan hpnya berisi rekaman cctv rumah sakit yang di kirim Arsen barusan.


“Heemmm” deham Denis sambil mengangguk kepalanya.


“Beri dia cuti selama 2 minggu untuk menjaga mamanya” ucap Denis dengan suara dingin.


“Baik presdir” ucap Rangga dengan lega.


“Meeting dimulai. Silahkan presentasi laporan bulanan kalian” ucap Sandro dengan suara tegas dan dingin.


Glek…………….


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Semua didalam sana menelan saliva mereka berkali-kali karena saat yang menegangkan baru saja di mulai.


Sepanjang meeting berlangsung Denis hanya diam dengan wajah datar, menatap semua karyawannya yang melakukan presentasi didepannya.


“Berapa nasabah kita saat ini?” tanya Denis kepada direktur Staff Administrasi yang sedang melakukan presentasi.


“Sampai minggu lalu total nasabah di DA bank mencapai 700.000 nasabah yang tersebar di seluruh anak cabang bank presdir” jawab Hardin dengan suara tegas.


“Ratio nasabahnya saat ini?” tanya Denis lagi dengan suara dingin.


“265% dari ratio tahun kemarin presdir”


“Can you make it 300% after this month?” (bisakah kamu membuatnya 300% sampai akhir bulan) tanya Denis dengan suara dingin.


“Bisa presdir”


“Analisis kredit untuk UKM di seluruh pelosok dan berikan pinjaman kredit dengan bunga kecil” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik presdir” ucap semuanya dengan serentak.


“Maaf presdir apa kita bisa bekerja sama dengan pihak sekolahan, karena ada banyak sekolah yang mengirim proposal kerja sama untuk saluran dana beasiswa pemerintah lewat bank kita presdir?” tanya Alin ketua tim sumber daya manusia.


“Ikuti prosedur kita dan jika sekolah itu lolos kualifikasi bank kita maka terima saja” jawab Denis dengan suara tegas.


“Baik presdir”


“Tingkatkan fitur mobile banking saat ini dan usahakan semua nasabah kita memakainya” titah Denis dengan suara dingin menatap direktur  IT DA Bank.


“Baik presdir” jawab direktur IT dengan suara tegas.


“Acara tahunan perusahaan?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Maaf presdir tapi kami belum mendapat proposal mengenai estimasi anggaran dana untuk acara tahunan perusahaan tahun ini” jawab Rangga.


“Hubungi Rian” ucap Denis dengan suara tegas.


“Baik presdir”


Denis segera bangun dan pergi dari sana tak mengatakan satu kata pun, membuat semuanya bernapas dengan lega karena meeting kali ini berjalan dengan lancar meski mendadak.


Rangga sendiri mengantar kepergian Denis dan Sandro hingga sampai ke pintu keluar.


“Tolak semua proposal dari tuan besar Regans mulai saat ini dan batalkan semua pinjaman mereka” titah Denis sebelum masuk ke dalam mobil.


“Baik presdir” jawab Rangga dengan patuh meski ia sangat penasaran kenapa harus memutuskan kerja sama dengan perusahaan milik tuan besar Regans.


Didalam mobil Sandro segera melapor ke Denis kalau barusan Rian mengabari jika perusahaan Victory Company meminta ingin bertemu dengannya. Senyum sinisnya muncul di bibir Denis mendengar laporan Sandro barusan.


“Suruh direktur utama ke ruanganku” titah Denis dengan suara dingin.


“Baik bos” jawab Sandro dengan cepat.


~ DA Corp ~


Sampainya di perusahaan Denis dan Sandro segera masuk melalui basement menuju ruang kerjanya dengan lift khusus untuknya tidak lewat pintu depan perusahaan.


Ting………………


Lift berhenti di lantai ruang kerja Denis yang langsung di sambut oleh Rian didepan meja kerjanya. Denis melirik Sandro memberinya isyarat sambil menunjuk Rian yang sedang menunduk memberi hormat kepada keduanya.


Bugh……………….


Rian meringis menahan sakit di perutnya yang tiba-tiba tak ada hujan badai ia dipukul oleh Sandro dengan kuat di perutnya. Sedangkan Denis ia sudah masuk ke dalam ruangannya terlebih dahulu tidak memperdulikan keduanya.


“Tuan” ucap Rian dengan bingung sambil menahan rasa sakit di perutnya.


“Makanya kerja itu yang teliti” ejek Sandro segera berlalu masuk ke dalam ruangan Denis.


Dengan menahan sakit diperutnya Rian bergegas pergi ke meja kerjanya dengan langkah pelan. Direktur utama DA Corp yang sempat melihat semuanya berdiri mematung menelan salivanya dengan susah merasa ketakutan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Tuan Ri….an” panggil direktur utama yang bernama Steven Kaito dengan gugup.


“Tunggu aku beritahu presdir” ucap Rian dengan suara dingin.


Rian segera menelpon Denis memberi tahu kedatangan direktur Steven disini. Tak berselang lama direktur Steven segera masuk ke dalam ruangan Denis saat pintunya di buka oleh Sandro.


Kring……………..


Hp Rian berbunyi tertera nama Rangga direktur DA Bank disana membuat keningnya berkerut bertanya untuk apa direktur Rangga menelponnya.


^^^“Halo”^^^


“Halo selamat siang tuan”


^^^“Heemmm”^^^


“Maaf tuan saya hanya ingin memberitahu perintah presdir tadi yang menyuruh saya menelpon tuan mengenai proposal estimasi dana untuk acara tahunan perusahaan yang belum kami terima sampai saat ini”


^^^“Baik aku akan segera mengkonfirmasi dengan tim yang bertanggung jawab” jawab Rian dengan suara dingin.^^^


“Baik tuan saya tunggu informasinya”


^^^“Heemmm”^^^


Rian mematikan panggilannya dan meremas hpnya mengerti maksud pukulan Sandro tadi. Tatapan matanya berkilat tajam sambil menelpon direktur bagian Perencanaan dan Strategi DA Corp yang menangani kegiatan ini.


Beraninya kalian membuat kinerja aku buruk di mata bos. Kalian akan mendapat balasannya, batin Rian dengan rahang mengeras.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue………….