Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 182


Sampainya di mansion Denis segera keluar dari mobil setelah Thomas membukakan pintu untuknya. Saat keluar dari dalam mobil para penjaga dan pelayan yang berada di depan mansion dibuat kaget.


Bagaimana tidak penampilan Denis saat ini seperti pembunuh berdarah dingin, karena tubuhnya berlumuran darah dari kepala hingga kaki.


"Selamat datang tuan" ucap para pelayan sambil menunduk menyambut kepulangan Denis.


Denis berlalu tidak berkata apa-apa membuat para pelayan bergidik ngeri melihat penampilan tuan mereka yang sangat mengerikan.


Prang...............


Bunyi benda pecah bergema di pintu penghubung dari ruang santai menuju dapur. Denis melirik ke arah bunyi dan mendapati istrinya yang sedang berdiri dengan syok menatapnya.


"Apa y......ang terjadi sa......yang?" tanya Leila dengan terbata-bata merasa kaget.


"Jangan bergerak sayang" ucap Denis dengan suara tinggi saat melihat istrinya akan menghampirinya.


"Kenapa sayang?" tanya Leila dengan bingung.


Denis menghampiri istrinya dan langsung mengendong tubuhnya dengan sekali hentakan. Sebelum itu ia menyuruh pelayan untuk membersihkan pecahan gelas di lantai karena ulah istrinya.


"Sayang kamu terluka?" tanya Leila dengan panik menyentuh pipi suaminya yang ada noda darah.


"Tidak sayang" jawab Denis dengan suara lembut.


"TIDAK APANYA SAYANG. LALU DARAH INI DARI MANA JIKA KAMU TIDAK TERLUKA" pekik Leila dengan suara tinggi.


Denis menutup mata saat mendengar suara istrinya yang membuat telinga sakit. Tidak mengatakan apa-apa ia dengan cepat bergegas pergi ke kamar mereka.


"Sayang turunkan aku dan jawab pertanyaan aku" ucap Leila dengan panik.


"Ini bukan darah aku sayang dan aku tidak terluka juga" jawab Denis sambil menurunkan istrinya setelah berada didalam kamar.


"Kalau bukan darah kamu lalu ini darah siapa sayang?" tanya Leila dengan bingung.


"Nanti aku jelaskan sebentar. Lebih baik kamu temani aku mandi sayang" jawab Denis sambil tersenyum penuh arti.


"Hah! Tapi"


Cup..................


Denis membungkam mulut istrinya sebelum ia protes dengan ciuman panas. Leila yang masih penasaran dan ingin jawaban dari suaminya akhirnya pasrah saja melayani nafsu sang suami didalam kamar mandi.


Ahhhh...............


Desa**n keduanya bergema serentak didalam kamar mandi setelah mendapat pelepasan. Kedua kaki Leila terasa sangat lemas di bawah shower beruntung suaminya memeluk pinggangnya dengan erat.


"Tubuh kamu seperti narkotika untuk aku sayang" ucap Denis sambil menghisap leher sang istri dan meninggalkan jejak disana.


"Ah! Cukup sayang aku sudah sangat lelah" lirik Leila dengan napas satu-satu.


"Heemmmm"


Denis lalu membantu membersihkan tubuh keduanya karena istrinya sudah sangat kelelahan. Bagaimana tidak hampir 2 jam mereka melakukan hubungan suami istri didalam kamar mandi, karena gairah sang suami yang sangat besar.


Leila yang merasa sangat kelelahan langsung tertidur saat suaminya membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Melihat hal itu Denis hanya tersenyum sambil mengecup kening dan bibirnya sebelum menyusulnya tidur.


Kring....................


Hp milik Leila berdering sedari tadi mengagetkannya yang masih tidur. Perlahan-lahan mata indah itu mengerjab menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam kamar.


Ia lalu melihat ke belakang saat merasa ada tangan kekar yang memeluk perutnya dengan sangat erat. Seketika bibirnya terangkat mengingat kejadian semalam didalam kamar mandi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Entah terbuat dari apa tenaga suami aku, batin Leila tak habis pikir.


Leila perlahan-lahan mengangkat tangan suaminya dan segera memakai bathrobe menutup tubuh polosnya.


Melihat suaminya yang masih sangat nyenyak Leila membiarkan saja karena kebetulan hari ini hari minggu.


"Pantes aja aku merasa lapar ternyata sudah jam 08:00 pagi" gumam Leila dengan suara pelan.


Ia lalu masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Tak sampai 20 menit Leila sudah selesai mandi dan bergegas memakai perawatan tubuhnya tak lupa memilih baju santai.


Sebelum keluar kamar ia mengambil hpnya untuk mengecek siapa yang menelpon tadi.


"Ka Rayen" ucap Leila dengan bingung melihat panggilan tak terjawab dari sang kakak.


"Selamat pagi nyonya" ucap pak Tio saat Leila keluar dari dalam lift.


"Pagi juga pak Tio" balas Leila dengan suara lembut.


"Apa nyonya mau sarapan?" tanya pak Tio.


"Tidak pak Tio. Aku ingin membuatkan sarapan untuk aku dan suamiku pak Tio. Tolong suruh pelayan dan koki menyiapkan bahan menu sarapan yang semalam aku berikan" jawab Leila menjelaskan.


"Baik nyonya"


Sampainya di ruang makan Leila segera menghubungi sang kakak sebelum ia menyiapkan sarapan untuk mereka.


^^^"Halo ka"^^^


"Halo dek"


^^^"Tadi pagi kakak nelpon buat apa?" tanya Leial to the point.^^^


"Oh kakak ingin bicara dengan suamimu tapi nomornya tidak aktif makanya kakak menelepon kamu" jawab Rayen dari seberang.


"Ka Rayen mana sarapanku" teriak Arkan dari sebrang yang sempat didengar Leila.


^^^"Loh Arkan di rumah ya ka" tanya Leila dengan cepat karena tahu biasanya adiknya itu suka tidur di apartemen dibandingkan di rumah mereka.^^^


"Ya semalam dia dihajar oleh Arsen sampai babak belur makanya menginap disini" kesal Rayen dari seberang.


^^^"Memangnya apa salah Arkan ka? Kenapa dia di hajar sama Arsen?" tanya Leila dengan bingung.^^^


"Mana kakak tahu. Kamu tanya aja sama suamimu" jawab Rayen dengan cepat.


^^^"Suamiku masih tidur karena semalam pulangnya larut jadi sebentar baru aku tanyakan ka"^^^


"Kalau begitu 1 jam lagi lagi kakak dan Arkan ke sana karena ada yang mau kakak bicarakan sama suamimu"


^^^"Baik ka aku tunggu"^^^


"Iya dek. Bye"


^^^"Bye ka"^^^


Leila bergegas ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk dia dan sang suami. Tak lupa menyuruh pelayan menyiapkan bahan makan untuk makan siang yang akan ia buat untuk keluarganya yang akan datang.


~ Markas Luca Othello ~


Keduanya sedang menunggu Dante yang tak ada kabar sedari tadi, apa lagi saat mereka pergi ke markas Dante dan mendapati markasnya sudah rata dengan tanah.


"Apa sudah ada kabar dari Mr. Constanzo?" tanya Alan dengan bingung.


"Belum. Nomornya juga tidak aktif dari tadi" jawab Luca dengan pikirkan berkelana.


"Bagaimana bisa markas Mr. Constanzo bisa rata dengan tanah dalam semalam?" tanya Alan yang sedari tadi sangat penasaran.


"Aku juga tidak tahu. Padahal kemarin markasnya masih ada saat aku ke sana" jawab Luca dengan bingung.


"Jangan bilang Denis Arkana yang menghancurkannya" tebak Alan.


"Tidak mungkin. Lagian dari mana dia punya kekuatan untuk meratakan markas sebesar itu dalam semalam saja" bantah Luca tak setuju.


"Siapa yang tahu? Bukannya selama ini kita sedang mencari kekuatan yang mendukung Denis Arkana?" tanya Alan dengan cepat.


"Ya aku tahu. Tapi aku yakin kalau bukan anak itu yang menghancurkan markas Dante! Tapi kalau Rayen Baker itu sudah pasti" jawab Luca dengan tegas.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Alan memikirkan ucapan Luca yang ada benarnya juga. Kemungkinan paling besar saat ini adalah Rayen Baker karena dia seorang mafia.


Padahal tebakannya tadi mengenai Denis ternyata benar. Bukan Rayen yang menghancurkan markas dan semua anak buah Dante tapi kelompok mafia Balck Damon milik Denis yang melakukan itu semua.


"Berengsek! Sebenarnya kemana dia dan kenapa tidak bisa dihubungi!" sarkas Luca dengan tidak tenang.


"Lebih baik kita beritahu hal ini kepada ketua" usul Alan.


"Heemmm"


Luca lalu mengambil hpnya dan berniat menelpon Roy Martinez. Sebelum dia menelpon Rot tiba-tiba Sandy asisten Alan Draw masuk dengan tergesa-gesa, membuat keduanya menatapnya dengan penuh tanda tanya.


"Tuan" panggil Sandy dengan napas satu-satu karena berlari.


"Ada apa?" tanya Sandy dengan bingung.


"Dia sudah muncul tuan" jawab Sandy dengan cepat.


"Dia siapa sialan? Kalau omong itu yang jelas!" hardik Alan dengan suara tinggi.


"Itu bos! Pablo Ulrico" ucap Sandy.


"APA" teriak keduanya dengan kaget.


"Dari mana kamu tahu itu Pablo Ulrico? Apa kamu bertemu dengannya langsung?" tanya Luca dengan cepat.


"Barusan saat aku sedang menuju kesini dan singgah ke minimarket aku bertemu dengannya pas mau pulang Mr. Othello. Dia lalu memberiku flash ini dan menyuruh untuk memberikan kepada tuan Alan" jawab Sandy sambil menunjukkan flash yang ia maksud ke Alan.


Alan seger mengambil flash tersebut dan membuka flash itu ingin mengetahui apa isi flash tersebut.


Keningnya mengerut melihat video berdurasi 40 detik. Karena penasaran ia segera membuka video tersebut dan seketika ketiganya kaget bukan main.


"Berengsek kamu Pablo!" hardik Luca dengan suara tinggi saat menonton video tersebut.


"Sial ternyata ini semua kerjaannya" ucap Alan dengan emosi.


Bagaimana tidak video itu berisi penyiksaan Pablo kepada Dante. Bahkan mereka dengan jelas melihat tubuh Dante yang penuh dengan luka.


"Aku rasa dia sudah bertemu dengan Denis Arkana" ucap Luca.


"Ya itu pasti. Berarti saat ini kita sudah tidak aman lagi dan sebaiknya kita mundur untuk menyiapkan rencana matang sebelum kita menyerangnya" balas Alan.


"Heemmm" deham Luca.


~ Roma, Italia ~


Saat ini Roy sedang bersama istri dan kedua anaknya menghadiri ulang tahun dari perdana Mentri Italia.


Dengan berwibawa ia menyapa tamu-tamu petinggi negara dan juga rekan bisnis disana. Simon yang melihat cara bicara daddynya tersenyum sinis karena tahu jika saat ini sang daddy sedang menjilati para petinggi negara dan pengusaha besar di sana.


Munafik, batin Simon dengan kesal.


Setelah berbincang-bincang dengan tamu hadiran, Roy Martinez lalu pamit pulang ke tuan rumah karena sudah tengah malam.


Simon yang masih emosi dengan sang daddy memilih pulang dengan mobil pribadinya tidak ingin satu mobil dengan keluarganya di limousine milik Roy.


~ Mansion Martinez ~


Sampai di mansion mereka bergegas keluar dan masuk ke dalam mansion yang langsung disambut kepala pelayan.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Selamat datang tuan, nyonya, tuan muda, dan nona muda" sapa kepala pelayan dengan sopan.


"Suruh pelayan bawakan minuman ramuanku ke kamar" titah Seina dengan angkuh.


"Baik nona muda"


"Maaf tuan tapi ada paket yang dikirim oleh Mr. Constanzo barusan" ucap kepala pelayan mengingat paket yang ia terima tadi.


"Maksudnya Dante Constanzo?" tanya Roy dengan cepat.


"Benar tuan" jawab kepala pelayan dengan sopan.


"Bawa paket itu ke ruang kerjaku" titah Roy dengan suara tegas.


"Baik tuan"


Roy segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan diri sebelum pergi ke ruang kerja. Sedangkan Simon yang penasaran apa yang dikirim oleh Mr. Constanzo segera pergi ke balkon lantai untuk menunggu sampai daddy datang.


Ceklek..............


Roy masuk ke dalam ruang kerjanya bersama kepala pelayan yang sudah menunggunya didepan pintu sambil membawa kotak hitam berukuran agak besar.


Sebelum pintu tertutup rapat Simon menahannya dan mengintip ke dalam ingin melihat apa isi kotak tersebut.


"Buka kotaknya" titah Roy dengan suara dingin.


Tak berkata apa-apa kepala pelayan segera membuka kotak tersebut membuat Roy dan Simon sudah tak sabar ingin melihat isi kotak tersebut.


Duar..............


Bagai disambar petir tubuh ketiganya menegang melihat isi kotak tersebut yang berisi kepala Dante yang masih berdarah-darah.


"DENIS ARKANA" teriak Roy menggelegar dengan wajah emosi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.................