
Bugh...........bugh............bugh............
Denis memukul dan menendang Martin dengan brutal tak memberinya waktu untuk membalas pukulannya.
Hana, Marcel, Laura, dan semua keluarganya berteriak panik melihat Martin yang sudah berlumuran darah di lantai tapi masih tetap di pukul Denis.
"Hentikan anak sialan! Beraninya kamu memukul kakak aku bangsat!" maki Laura dengan suara tinggi.
"Cukup aku mohon. Tolong jangan pukul suamiku" teriak Hana dengan memohon.
"Sialan! Lepaskan daddy aku bangsat!" maki Marcel dengan emosi.
Marcel bergegas maju ke arah Denis ingin memukulnya tapi belum juga ia memukul Denis, malah ia yang sudah terpental ke belakang karena ditendang Denis.
Melihat hal itu emosi Hana dan Laura memuncak dan mereka maju ke depan ingin menghajar Denis tapi di cegah oleh Amira dan Leila.
Bugh...........bugh..........bugh...........bugh......
Prang........prang.........
Ruang keluarga di mansion utama Massimo sudah tidak berbentuk lagi. Suami dan anak-nak Laura yang melihat perkelahian mereka hanya diam saja tidak ingin ikut campur.
Krek................aarrgghh..............
Teriak Martin saat tangannya dipatahkan Denis dengan mudah. Denis sendiri tersenyum seperti iblis mendengar jeritan kesakitan Martin yang sangat merdu di telinganya.
"HENTIKAN KALIAN SEMUA!" teriak Alexandro dengan suara menggelegar saat keluar dari kamar.
Seketika semuanya berhenti saat mendengar teriakan Alexandro barusan. Denis tersenyum menyeringai melihat Martin dan Marcel yang sudah babak belur di lantai dan tidak bisa bangun lagi.
Ehhh...........
Tiba-tiba ia dibuat kaget saat melihat penampilan sang mama dan istrinya yang berantakan. Ia terkekeh melihat kedua perempuan tua di depan mereka yang berpenampilan lebih kacau dari keduanya.
Hehehehe! Istri dan mama aku ternyata garang juga, batin Denis sambil terkekeh.
Denis menghampiri istri dan mamanya sambil menggelengkan kepala melihat penampilan keduanya. Leila sendiri menatap suaminya dengan bibir mengerucut merasa kesal.
"Jangan ketawa sayang" ketus Leila dengan wajah cemberut.
"Ternyata istriku dan mamaku ganas juga ya" bisik Denis sambil tersenyum lebar.
"Ihhhh! Sayang" pekik Leila dengan mata melotot.
"Apa ada yang terluka sayang?" tanya Denis dengan suara di rambut.
"Tidak ada sayang. Tapi aku tidak tahu dengan mama" jawab Leila.
"Mama tidak terluka nak" balas Amira dengan suara lembut.
"Heemmm" deham Denis dengan lega.
Beruntung istri dan mamanya tidak terluka jika tidak Hana dan Laura akan menjadi pelampiasan emosi Denis. Alexandro menatap mereka semua dengan tatapan tajam meminta penjelasan mengenai apa yang terjadi.
"Katakan" titah Alexandro dengan suara tegas.
"Mereka yang mulai duluan daddy. Anak sialan itu yang memulai memukul Marcel dan ka Martin" jawab Laura dengan suara tinggi menunjuk Denis.
"Denis" ucap Alexandro dengan suara dingin.
"Anda punya cctv di sini kan jadi anda bisa melihatnya" ucap Denis dengan santai.
"Daddy lihat sendiri kan kelakuannya. Dia itu anak yang tidak punya sopan santun daddy" hardik Laura dengan suara menggelegar.
"Sebaiknya daddy usir dia dari sini sebelum dia membunuh kita semua" tambah Hana dengan emosi.
"Benar ucapan ka Handa daddy. Daddy usir anak miskin ini dari mansion!" dukung Laura dengan emosi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Alexandro menutup mata mengontrol emosinya mendengar ucapan putri dan menantunya yang sangat membuatnya pusing.
"DIAM!" bentak Alexandro dengan suara tinggi menatap keduanya dengan tatapan tajam.
Keduanya diam tak berbicara lagi saat mendapat bentakan dari Alexandro. Mata coklatnya menatap mereka untuk tidak berbicara jika tidak ingin diusir, ia lalu melirik Justin sambil menunjuk cctv.
Justin yang mengerti maksud Alexandro segera memberikan iPad kepadanya. Rahang Alexandro mengeras setelah tahu siapa yang memulai kekacauan di mansionnya.
Bugh............
"Anak kurang ajar!" bentak Alexandro sambil menendang Martin di perut dengan kuat.
"Daddy" pekik semua keluarga Massimo dengan kaget.
Pertunjukkan yang menarik, batin Denis sambil tersenyum smirk.
"Beraninya kalian buat keributan di mansion daddy. Apa kalian tidak bisa lihat kalau mommy kalian sedang sakit didalam sana!" bentak Alexandro dengan suara tinggi.
"Jangan salahkan kami daddy. Ini semua karena anak sialan itu" protes Laura tak terima.
"Diam kamu Laura jika tidak daddy akan mencoret nama kamu dari daftar waris daddy" hardik Alexandro dengan tatapan tajam.
"Apa!" pekik Laura dengan kaget.
"Kamu tahu kalau ucapan daddy tidak pernah main-main" balas Alexandro dengan suara tegas.
Laura mengepal kedua tangannya sambil menatap sang daddy dengan tatapan emosi. Begitu juga dengan Martin yang sudah duduk di sofa setelah dibantu istrinya.
Jangan bilang kalau tebakan aku benar mengenai kedatangan anak tukang sapu itu disini, batin Martin tak terima.
Ia lalu mengambil hpnya dan mengirim pesan kepada Roy mengenai Denis yang berada di mansion utama Massimo, agar mereka segera bergerak jangan menunda lagi dengan rencana mereka selama ini.
"Ayok kita pulang" ucap Denis mengagetkan Alexandro.
"Apa kalian tidak bisa menginap disini Denis?" tanya Alexandro dengan wajah memohon.
"Nak" lirih Amira sambil menatap putranya dengan tatapan sendu.
"Aku tidak ingin mereka membunuh kita saat kita tidur mommy" ucap Denis sambil melirik Laura dan Martin.
"Itu tidak mungkin Denis. Hanya kalian yang boleh menginap disini tidak dengan mereka" tegas Alexandro yang tahu maksud Denis.
"Daddy" pekik Laura dan Martin dengan emosi.
"Apa kalian lupa kalau kalian tidak daddy terima disini sebelum kalian mengembalikan semua uang yang kalian hambur-hamburkan!" bentak Alexandro dengan suara tinggi.
Keduanya diam tidak berbicara lagi karena memang mereka masih ingat dengan hukuman yang diberikan daddy mereka.
Mau tak mau makan itu mereka pulang ke mansion mereka meninggalkan Denis, Amira, dan Leila yang akan menginap disana.
1 Minggu kemudian
Sudah 1 Minggu berlalu sejak perkelahian Denis dsn keluarga sang papa di mansion utama Massimo. Selama itu juga Denis, Leila, dan Amira menginap disana menemani dan menghibur Linda yang terpukul setelah mengetahui kebenaran tentang anaknya Demian.
"Ma hari ini kita harus pulang karena aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku lagi ma" ucap Denis dengan suara lembut di taman belakang.
"Iya mama tahu nak. Kalau begitu ayok kita temui nenekmu" ajak Amira.
"Iya ma"
Keduanya lalu bergegas menemui Linda di dalam mansion yang sedang bercanda gurau dengan Leila. Sampai didalam Denis segera memberitahu apa yang mereka bicarakan di taman tadi.
Linda sebenarnya tidak ingin berpisah dengan cucu dan mantunya tapi ia tidak bisa menahan mereka karena apa yang dikatakan Denis benar.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Ia berjanji akan segera melakukan terapi agar kondisinya cepat pulih dan pergi ke Indonesia untuk mengunjungi makam putranya.
~ Martinez Company ~
Saat ini Roy dan Martin sedang berbicara dengan dengan serius mengenai Denis yang hari ini akan pulang.
"Ayok kita serang dia sebelum dia sampai di bandara" ucap Martin dengan cepat.
"Heemm! Serahkan semua ke Sanches karena ia sudah bergerak sekarang" balas Roy sambil tersenyum menyeringai.
"Bagus! Aku sudah tidak sabar ingin memberi pelajaran kea anak sialan itu" ucap Martin dengan emosi.
"Kamu harus bersabar kawan"
"Ya kamu benar"
Keduanya tersenyum smirk memikirkan Denis yang akan tertangkap Sanches sebentar lagi. Apa lagi ini adalah negara kekuasan mereka dan Denis tidak bisa apa-apa selama berada disini.
Tanpa keduanya sadari ternyata rencana mereka akan gagal karena Denis tidak akan lewat bandara umum melainkan akan pulang lewat bandara pribadi teman Simon.
~ Landasan Pribadi Archile ~
Simon saat ini sedang bersama Bram dan Clayton Archile sahabatnya di landasan pribadinya. Mereka sedang menunggu kedatangan Denis dan keluarganya disana.
"Aku tidak menyangka kamu akan melawan daddy kamu sendiri dude" ucap Clayton.
"Apa lagi aku, tapi inilah kenyataannya yang sebenarnya" balas Simon.
"Aku penasaran apa yang membuat seorang kolonel tertinggi mengeluarkan pemberitahuan pelarangan kepada seorang presdir Denis Arkana" terka Clayton.
"Bukan kamu saja tapi aku juga. Meski pun begitu aku tahu ini semua adalah daddy aku karena dia dan kolonel George adalah teman baik" ucap Simon dengan suara tegas.
"Menurutku ada rahasia besar di balik ini semua" tebak Clayton.
"Mungkin" balas Simon dengan acuh.
Tak berselang lama mobil yang membawa Denis akhirnya sampai juga di landasan pribadi Clayton. Denis keluar sambil memeluk pinggang istrinya dengan posesif dan berjalan di samping sang mama.
"Apa ada kendala selama di perjalanan?" tanya Simon.
"Tidak ada" jawab Denis dengan suara dingin.
"Syukurlah! Kenalin ini sahabat aku Clayton Archile sekaligus pemilik landasan ini" ucap Simon memperkenalkan Clayton.
"Kenalkan aku Clayton Archile dan suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan presdir DA Corp secara langsung" ucap Clayton sambil menjulurkan tangannya.
"Denis Arkana" balas Denis mengambil uluran tangan Clayton.
"Apa aku bisa bekerja sama dengan perusahaan anda presdir Denis?" tanya Clayton.
"Clay" ucap Simon memperingatinya.
"Aku cuma bertanya saja dude. Lagian aku juga ingin melebarkan sayap perusahaanku ke Asia" balas Clayton dengan cepat.
"Kirimkan saja proposal anda ke perusahaanku dan aku akan membacanya" balas Denis dengan suara dingin.
"Terima kasih presdir Denis"
"Heemmm"
"Sudah waktunya kalian berangkat" ucap Simon yang mendapat isyarat dari Bram.
"Baiklah"
Denis, Leila, dan Amira segera pamit ke keduanya dan masuk ke dalam jet pribadi Denis yang akan membawa mereka kembali ke tanah air.
Didalam jet Denis tersenyum smirk membaca laporan yang di kirim oleh Arsen barusan mengenai rencana Roy Martinez.
"Bodoh! Kalian pikir bisa menangkap aku semudah itu" ejek Denis sambil tersenyum menyeringai.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............