
Setelah menceritakan semua rahasia tentang keluarga Baker dan juga tentang orang yang ingin membunuh Rayen, Austin segera pergi. Karena sudah lega mengetahui sahabatnya yang selamat dari kecelakaan itu meski saat ini masih koma dan sedang disembunyikan di tempat yang tidak akan pernah orang tahu.
“Cari tahu semua informasi tentang orang itu” titah Denis dengan suara dingin.
“Baik bos” ucap ketiganya dengan serentak.
“Publikasikan jati diri Arkan karena aku tidak ingin dia menjadi target musuh kakaknya”
“Aku akan mengurusnya bos” ucap Arsen dengan suara dingin.
“Sandro suruh Mark lacak keberadaan Rayen dan Leo” ucap Denis dengan suara tegas.
“Baik bos” ucap Sandro dengan cepat.
Ceklek…………………
Tiba-tiba mereka semua diam saat mendengar suara pintu yang dibuka dan ternyata yang datang adalah Leila, Arkan, Anisa, dan beberapa pelayan yang mendorong troli berisi makanan untuk mereka semua.
“Loh klien kamu sudah pergi sayang?” tanya Leila yang tak melihat keberadaan Austin dan Kenneth.
“Iya sayang” jawab Denis dengan suara lembut.
“Aku menyuruh pelayan membawakan makanan buat lainnya biar kita bisa makan siang bersama sayang” ucap Leila memberitahu Denis kalau dia ingin makan bersama dengan semuanya.
“Heeemmm”
Arkan yang tak melihat keberadaan Max menengok ke kiri dan kanan mencarinya, tapi tidak ada disana. Ia bahkan sampai keluar untuk mencari Max tapi tidak ada juga.
“Ada apa bocah?” tanya Sandro dengan cepat.
“Dimana ka Max? bukannya tadi dia disini?” tanya balik Arkan.
“Sudah aku suruh pulang ke markas karena ada pesanan yang harus dikirim 2 jam lagi” jawab Arsen dengan suara dingin.
“Yah padahal ka Max belum makan siang” keluh Arkan merasa sedih karena tadi keduanya tidak sempat makan dan langsung kesini.
Semuanya diam menatap Arkan dan tak menyangka jika rasa perduli dan solidaritas Arkan sangat tinggi kepada orang lain. Leila yang tadi masih kesal dengan adiknya seketika tersenyum bangga, melihat adiknya yang perduli dengan orang di sekelilingnya.
“Kamu pesankan saja makanan buat dia dan suruh pengawal mengantarnya ke markas” usul Sandro.
“Ah! Benar juga usul ka Sandro” ucap Arkan dengan semangat.
Ia segera keluar untuk memesankan makanan buat Max dan menyuruh salah satu pengawal kakaknya Leila mengantarnya kepada Max yang saat ini pasti sudah sampai di markas.
“Kamu cicipi dulu makanannya sayang. Kalau tidak cocok dengan lidah kamu jangan dimakan” ucap Leila sambil menatap Denis dengan tatapan penuh cinta.
Denis tak berkata apa-apa dan melakukan apa yang disuruh Leila barusan, saat ia memasukkan satu suapan kecil udang balado makanan kesukaannya ia diam merasakan rasanya yang sama persis dengan buatan sang mama.
Leila sendiri menunggu dengan cemas takut jika masakannya tidak sesuai dengan selera Denis. Lama sekali Denis terdiam membuat Leila duduk dengan tidak tenang ingin mendengar jawaban kekasihnya.
“Bagaimana sayang?” tanya Leila dengan wajah cemas.
Denis menoleh menatap Leila dengan wajah datar dan dingin, membuat Leila yakin jika masakannya tidak cocok dengan lidah Denis. Seketika ia menunduk meremas kedua tangannya merasa lemas, karena tak bisa membuat masakan yang cocok dengan lidah kekasihnya.
“Persis seperti masakan mama sayang” ucap Denis dengan suara lembut sambil menggenggam tangan Leila dengan mesra.
Ehhh…………..
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Leila mengangkat kepalanya merasa kaget dengan ucapan Denis barusan dan ingin membuktikan jika apa yang ia dengar barusan itu bukan kebohongan. Ia tersenyum lebar melihat Denis yang tersenyum manis menatapnya.
“Beneran sayang?” tanya Leila dengan antusias.
“Heemmm” deham Denis menjawab.
“Syukurlah sayang” ucap Leila dengan lega.
“Mulai sekarang kamu saja yang masak buat aku jika mama sibuk sayang”
“Iya sayang”
Mereka semua lalu mulai menikmati makanan didepan mereka dengan lahap tanpa ada suara sedikit pun, karena Denis tidak suka jika makan sambil berbicara. Sedangkan Amira yang memilih makan siang di restorannya kaget saat melihat Thomas kepala pengawal Denis disana.
“Kenapa tante?” tanya Seina yang bingung melihat Amira seperti orang kaget.
“Tidak apa-apa nak” jawab Amira dengan cepat.
“Jadi ini restoran jeng Amira?” tanya Clara sambil melihat restoran Amira yang sangat ramai oleh pengunjung saat ini.
“Iya jeng Clara! Ini restoran yang dibangun Denis buat aku padahal waktu itu aku hanya berjualan makanan di warung kecil tepat di depan rumah aku” jawab Amira dengan suara lembut.
“Aku sudah tidak sabar ingin mencicipi makanan di restoran tante” pekik Seina dengan antusias.
“Iya nak” ucap Amira sambil tersenyum manis.
Mereka lalu masuk kedalam restoran dan Amira memberitahu pelayan untuk memanggil Anisa menghadapnya sekarang.
Dibelakangnya semua keluarga Martinez di buat kaget dengan interior restoran yang sangat mewah dan elegan, apa lagi saat masuk mereka sudah disambut bau harum masakan yang sangat mengoda.
“Ka restoran tante Amira bagus ya” bisik Seina kepada Simon.
“Ya kamu benar dek. Baru kali ini kakak lihat restoran sebagus ini dengan desain yang sangat mewah dan membuat siapa saja ingin berlama-lama disini” balas Simon dengan decak kagum.
“Apa maksud kamu dek?” tanya Simon dengan cepat.
“Orang yang mendesain interior ruangan ini mengusung tema kehangatan. Karena jika seseorang merasa hangat maka ia pasti akan merasa nyaman dan betah, apa lagi ini adalah restoran dan ia ingin orang yang datang kesini tidak hanya merasa kenyang dengan makanannya tapi hatinya juga merasa damai” papar Seina menjelaskan.
“Tepat sekali sayang. Orang yang mendesain interior ini memilih tema seperti yang kamu katakan dan dia adalah sahabat anak tante yang sekaligus tangan kanannya” ucap Amira sambil menatap Seila dengan decak kagum.
“Iya tante” ucap Seila dengan malu-malu.
Cih! Cari perhatian aja si kutu buku, batin Seina dengan sinis menatap kembarannya.
Amira segera mengajak mereka naik ke lantai dua setelah Anisa datang memberitahu jika ia sudah selesai menyiapkan satu ruangan VIP untuk mereka.
Sedangkan Denis dan lainnya yang sudah selesai makan segera pergi untuk kembali ke perusahaan karena harus mengerjakan pekerjaan mereka. Leila naik ke mobil Denis karena Denis akan mengantarnya sebelum ke perusahaan.
“Bocah kamu duluan saja aku ingin ke kamar mandi” ucap Sandro.
“Oke ka” ucap Arkan.
Sandro bergegas menuju ke toilet dan setelah selesai ia segera keluar dan saat akan berbelok ia tiba-tiba bertabrakan dengan Seila yang hendak ke toilet.
Brugh……………..
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
“Maaf aku tidak melihat kamu muncul” ucap Sandro dengan suara lembut dan segera membantu Seila yang terjatuh di lantai.
“Tidak apa-apa” ucap Seila dengan kaku karena tidak terlalu pandai berbicara bahasa Indonesia.
Sepertinya dia bukan orang Indonesia dan wajahnya terlihat blasteran, batin Sandro meneliti wajah Seila dan cara bicaranya yang kaku.
“Apa ada yang luka?” tanya Sandro dengan cepat.
“No. I’m okay” (tidak. Aku baik-baik saja) jawab Seila dengan suara lembut.
“Are you sure?” (apa kamu yakin) tanya Sandro lagi.
“Yeah”
Seila segera pergi dari sana menuju toilet meninggalkan Sandro yang masih menatapnya, saat akan pergi matanya menangkap gantungan kunci berbentuk segiempat warna ungu dengan tulisan ARMY BTS.
“Cih!! Dasar labil” decih Sandro.
Ia lalu menaruh gantungan kunci itu didalam saku jasnya dan yakin jika suatu saat mereka akan bertemu kembali. Sedangkan didalam ruangan VIP 6 Amira sedang membantu pelayan menaruh makanan untuk tamu-tamunya.
“Semoga kalian menyukainya” ucap Amira.
“Dari baunya saja ini sangat harum. Aku yakin rasanya pati sangat enak” ucap Seina dengan cepat.
Amira hanya tersenyum saja dan menyuruh mereka untuk segera menyantap makanan di restorannya. Semuanya kaget tak menyangka jika makanan di sini sangat enak dan rasanya sangat berbeda dengan restoran dimana saja.
“Wow! Ini sangat enak Amira” puji Roy.
“Terima kasih” ucap Amira dengan senang.
“Jeng Amira dimana anakmu? Kami belum melihatnya dari kemarin?” tanya Clara yang penasaran dengan wajah Denis.
“Tadi dia ada disini tapi sudah kembali ke perusahaan jeng” jawab Amira.
“Ah! Coba kita datangnya lebih awal pasti bisa bertemu dengannya” sesal Roy.
“Nanti malam kalian bisa bertemu dengannya karena aku menyuruhnya untuk makan malam di rumah” ucap Amira.
“Baiklah. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kembaran sahabatku itu” balas Roy dengan tak sabar.
~ Mansion Kenzo ~
Saat ini Kenzo sedang melakukan pertemuan dengan jajaran direksi di perusahaan yang tak lain adalah pendukung direktur Abraham Kein selama ini. Mereka sedang melakukan pertemuan untuk membahas ucapan Leila tadi di meeting.
“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang CEO Kenzo?” tanya direktur pemasaran dengan cepat.
“Menyingkirkan perempuan itu dari jabatannya” jawab Kenzo dengan suara dingin.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya manajer HRD.
“Jebak dia dan buat skandal di publik yang mencoreng citra perusahaan. Dengan begitu dia tidak punya hak untuk duduk di kursi presdir” jawab Kenzo sambil tersenyum smirk.
“Ide yang bagus CEO Kenzo” ucap semuanya dengan serentak.
“Bagaimana jika kita menggunakan juga tentang pemilik saham terbanyak dan meminta menunjukkan surat kuasa dari presdir lama yang menunjukkan presdir Leila sebagai penggantinya” usul salah satu dari mereka.
“Ya itu boleh juga” ucap direktur pemasaran dengan senyum lebar.
“Lakukan itu setelah skandalnya dipublikasi” titah Kenzo.
“Baik CEO Kenzo” jawab semuanya dengan serentak.
Tanpa mereka sadari ternyata Ando sedari tadi menjadi pendengar setia, sekaligus merekam semua pembicaraan mereka di otaknya untuk diberitahu kepada Sandro dan menggagalkan semua rencana Kenzo ke depannya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue……………….