Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 157


Amira seketika tersadar dari pingsan saat merasakan dingin di sekujur tubuhnya karena disiram air dingin oleh anak buah Lewis, tubuhnya sampai bergetar hebat merasa kedinginan.


Ia menatap sekeliling bingung ia berada dimana tapi saat melihat orang bertubuh besar dengan wajah sangar membuat Amira semakin ketakutan.


"Siapa kalian?" tanya Amira dengan takut.


"Aku tidak menyangka kalau mama seorang Denis Arkana ternyata masih sangat cantik meski sudah berumur 40 tahun" ucap Lewis sambil menatap Amira dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Bos apa kami bisa menikmatinya?" tanya salah satu anak buah Lewis dengan tatapan penuh napsu.


"Rupanya sifat bejat kalian terpancing juga ya" jawab Lewis sambil tersenyum smirk.


"Tidak perduli tua bos, kalau bening begini sudah pasti kami terpancing bos" balas salah satu anak buah Lewis dengan cepat.


"Kalian boleh menikmatinya setelah urusan aku dengan dia selesai" ucap Denis dengan suara tegas.


"Terima kasih bos" ucap beberapa anak buah Lewis dengan senang.


Amira yang mendengar pembicaraan mereka semakin bergetar ketakutan.


Ia menggelengkan kepalanya saat Lewis menatapnya tapi dibalas dengan senyum smirk seakan memberitahunya kalau ia tidak perduli.


"Jangan berani macam-macam kepadaku jika tidak kalian akan berurusan dengan anakku" ancam Amira dengan suara tegas.


Hahahaha................


Tawa Lewis bersama anak buahnya seketika pecah didalam sana. Mereka menertawakan Amira yang berani mengancam mereka padahal ia sendiri sedang ketakutan.


"Apa tante pikir kami takut dengan anak tante itu" ucap Lewis sambil terkekeh.


"Asal tante tahu saja ya, kalau kelompok kami ini adalah kelompok mafia yang ditakuti di seluruh Asia, bukan seperti anak bodoh kamu itu yang hanya punya jabatan sebagai presdir saja" ejek Lewis sambil terkekeh.


"JANGAN MENGHINA ANAK AKU SIALAN!" bentak Amira dengan emosi.


Plak..............


"Beraninya kamu membentak aku perempuan tua" bentak Lewis sambil menampar pipi kanan Amira dengan kuat.


Wajah Amira seketika menoleh ke samping saat di tampar Lewis. Rasa asin ia rasakan didalam mulutnya karena tamparan Lewis barusan membuat bibirnya terluka.


Ia mengepal kedua tangannya dengan erat sambil menatap Lewis dengan tajam, tak takut sama sekali dengannya karena Lewis sudah menghina putra semata wayangnya.


"Beraninya kamu menatap bos seperti itu perempuan tua!" bentak Bernad dengan suara tinggi.


"Anda tahu tante, siapa saja yang berani menatap aku seperti itu dia tidak akan bisa menghirup udara lagi mulai besok" ucap Lewis dengan tatapan membunuh.


Cuih...............


Amira meludahi Lewis hingga terkena wajahnya seakan memberitahunya kalau ia tidak takut kepadanya.


Rahang Lewis mengeras merasa sangat emosi karena ada yang berani meludahi wajahnya, apa lagi ia seorang tante-tante.


Plak..........plak...........plak........plak.........


Lewis menampar pipi Amira berkali-kali melampiaskan rasa emosinya. Bernad yang melihat Amira dipukul seperti itu merasa kasihan karena disini Amira tidak melakukan kesalahan kepada mereka.


"Bos hentikan! Kita masih membutuhkannya untuk memancing nona Leila keluar lewat kekasihnya bos" ucap Bernad menahan Lewis yang hendak menendang Amira.


"Fu*k" maki Lewis dengan suara tinggi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Ia membuang napas dengan kasar melupakan rencana mereka yang akan memakai Amira untuk membawa Leila keluar lewat Denis.


Tanpa mereka sadari jika saat ini Denis bersama pasukannya begitu juga dengan Rayen dengan pasukannya sedang bersiap menuju markas mereka.


~ Markas Black Damon ~


Saat ini 500 anak buah Denis sudah bersiap menunggu perintah Denis kapan mereka akan berangkat. Arsen yang sudah mendapat lokasi markas Lewis Hamilton dari Leo segera beranjak ke ruangan pribadi Denis.


Saat dia hendak masuk ke dalam ruangan pribadi Denis, ia ditahan oleh Rayen yang ingin bertemu dengan Denis.


"Bos" ucap Arsen setelah masuk ke dalam ruangan Denis.


Denis tidak menjawabnya dan malah menatapnya dengan tatapan membunuh. Mata coklatnya menatap Arsen dan Rayen dengan tajam seakan ingin menelan mereka hidup-hidup.


"Semuanya sudah siap bos" ucap Arsen.


"Berapa lama?" tanya Denis dengan singkat.


"2 jam dari sini bos" jawab Arsen.


"Kita gunakan saja helikopter" usul Rayen.


"Itu sangat berbahaya Rayen karena mereka akan mengetahui kedatangan kita. Takutnya mereka akan menyembunyikan nyonya jika mendengar suara helikopter" ucap Arsen dengan cepat.


"Tapi kita akan sangat lama jika menggunakan mobil" bantah Rayen tak setuju.


"Yang penting nyonya dalam keadaan selamat" ucap Arsen tak mau kalah.


Keduanya saling berdebat dengan keputusan mereka masing-masing. Denis sendiri diam dengan pikiran berkelana.


"Siapkan rudal" ucap Denis dengan suara dingin.


"Rudal?" tanya Rayen dan Arsen dengan serentak.


"Hancurkan bagian depan markas mereka dengan rudal dan serang mereka bersamaan" jawab Denis dengan serentak.


"Maksudmu kita akan mengalihkan perhatian mereka dengan rudal" terka Rayen dengan selidik.


"Heemmm" deham Denis.


"Aku setuju bos" ucap Arsen dengan cepat.


Ketiganya lalu keluar dari ruangan Denis dan bergegas naik ke helikopter milik Denis. Sedangkan Max ia yang bertugas untuk menembak rudal dengan helikopter yang lain.


~ Markas Lewis Hamilton ~


Saat ini Lewis sedang memaksa Amira untuk mengatakan kata-kata yang seperti ia ucapakan agar direkam.


Ia berencana untuk mengirim rekaman tersebut ke Denis dan menyuruh Denis untuk menukar sang mama dengan Leila.


"Good. Segera kirim ke Denis Arkana" titah Lewis sambil tersenyum menyeringai.


"Baik bos"


Duar................duar............duar............


Seketika bunyi ledakan mengagetkan Lewis, Bernad, dan anak buahnya. Keduanya saling melirik bertanya apa yang terjadi di luar sana.


Lewis dan Bernad segera pergi keluar untuk melihat apa yang terjadi. Saat keduanya sampai di luar mereka menatap bagian depan markas yang sudah hancur.


Bunyi helikopter di atas langit mengalihkan pandangan mereka semua. Karena terpaku dengan helikopter di atas mereka tidak tahu jika markas mereka sudah dimasuki oleh pihak Denis dan Rayen dari seluruh penjuru.


Dor...........dor...........dor..........dor..........


"Sial! Kerahkan semua anak buah kita!" teriak Lewis dengan suara menggelegar.


"Bos mereka mafia Black Damon" ucap Bernad sambil menunjuk lambang kebesaran Denis di samping helikopter.


Lewis kaget tak menyangka mafia yang saat ini sedang ramai dibicarakan di dunia bawah muncul di markas.


Pikirannya berkelana memikirkan apa hubungannya dengan mafia Black Damon. Setahunya dia tidak pernah menyinggung kelompok mafia tersebut.


"Jangan bilang mereka datang untuk perempuan tua itu" terka Lewis.


"Itu tidak mungkin bos. Aku sudah menyelidiki latar belakang presdir Denis dan ia tidak terpaut dengan mafia manapun bos" ucap Bernad dengan cepat.


"Tapi jika itu Rayen Baker itu bisa jadi bos" tambahnya lagi.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Lewis menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan Bernad. Keduanya lalu berbalik ingin masuk ke dalam markas mengambil senjata dan mengontrol anak buah mereka.


Dor..........dor..........


Dua tembakan seketika melewati kedua pelipis mereka membuat langkah mereka terhenti. Keduanya saling melihat bertanya siapa yang menembak mereka dari belakang.


Bulu kuduk mereka merinding saat merasakan dingin di kepala bagian belakang.


Bugh................brugh................


Lewis melayang terpental ke depan hingga jatuh di tanah saat ia akan berbalik ingin melihat siapa yang menembak mereka.


"Fu*k!" maki Lewis dengan emosi.


Saat ia mengangkat kepala dan langsung di sambut tatapan datar dan dingin dari Denis yang membuat tubuhnya bergetar.


Siapa dia sebenarnya? Kenapa auranya sangat mengerikan, batin Lewis


Denis melangkah dengan langkah panjang menghampiri Lewis.


Bugh...........bugh..........bugh..........


Denis menghajar Lewis tidak memberikan ia waktu untuk membalas pukulan Denis. Sedangkan Bernad yang hendak menolong Lewis langsung di tahan oleh Arsen.


Arsen juga tak tanggung-tanggung memukul Bernad meski beberapa kali Bernad sempat membalas pukulannya.


Tak berselang lama keduanya berhasil melumpuhkan mereka hingga tidak bisa berdiri lagi. Rayen yang bertugas mencari keberadaan tante Amira sangat syok saat menemukannya di ruang paling belakang markas.


"Denis kamu harus melihat ini" teriak Rayen dengan suara melengking.


Denis tak bertanya dan segera menuju ke arah Rayen, sedangkan Rayen ia bejalan menuju ke arah Lewis Hamilton.


"Long time no see Lewis Hamilton" (lama tak berjumpa Lewis Hamilton) ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.


"Ternyata kamu selamat ya Rayen........hehehe" balas Lewis sambil terkekeh.


"Ya karena belum waktunya aku pergi dari dunia ini berengsek" ucap Rayen dengan suara dingin.


"Aku berharap waktu itu cepat datang" ucap Lewis sambil tersenyum smirk.


"Sepertinya kata itu lebih cocok untukmu" ejek Rayen.


Grep............


"Apa yang kamu lakukan sialan! Lepaskan aku bangsat!" bentak Lewis saat bajunya di tarik Rayen hingga keduanya saling berhadapan.


"Sebaiknya kamu simpan saja suaramu itu" ucap Rayen sambil tersenyum menyeringai.


Mata Lewis melotot mendengar ucapan Rayen, apa lagi senyumannya yang terlihat seperti seorang sesiopat.


Bugh............bugh..........bugh...........


Rayen membenturkan wajah Lewis di tembok berulang kali hingga wajahnya hancur. Tak hanya itu, Rayen juga mematahakn kedua tangan Lewis membuat Lewis berteriak kesakitan.


Arsen yang melihat apa yang Rayen lakukan hanya menonton saja sambil menginjak kepala Bernad di tanah.


"LEWIS HAMILTON" teriak Denis dengan suara menggelegar.


"Ah! Iblis yang sesungguhnya akhirnya datang juga" ucap Rayen yang sudah menebak apa yang akan terjadi saat menemukan Tante Amira.


Bugh..............


Denis menendang tubuh Lewis dengan kuat hingga terpental jauh ke belakang. Ia lalu menghampiri Lewis dan menghajarnya kembali dengan brutal.


"Beraninya kamu melukai mama aku bangsat!" bentak Denis dengan emosi.


Sret............sret.........sret.........


Aarrgghh..............


Lewis menjerit kesakitan saat Denis menggu***inya kulit tubuhnya dengan tak berperasaan. Ia hanya bisa pasrah saja karena sudah tidak bisa melawan.


Dengan kejam Denis memberi pelajaran kepada Lewis sambil mengingat tubuh sang mama yang terkapar lemah di lantai dengan tubuh penuh luka dan memar.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue................