
Salim terlempar mengenai mobilnya karena di pukul orang yang ditabraknya tadi. Pengawalnya yang hendak maju ingin memukul orang didepan mereka tiba-tiba berhenti saat melihat dua orang di belakangnya menodongkan pistol ke arah mereka.
"Kenapa kalian diam saja sialan! Hajar berengsek itu!" bentak Salim dengan emosi.
Iissshhh..............
Salim meringis sakit di punggung dan perutnya, ia berdiri dengan kaki gemetar menahan rasa sakit yang amat luar biasa.
Sedangkan Pablo, Steven, dan Geby yang melihat hal itu ternganga tak menyangka kalau Arsen akan memukul Salim.
Ya orang yang ditabrak Salim adalah Arsen Sanjaya yang datang ke restoran tante Amira untuk menemui Denis.
Sedangkan kedua orang dibelakangnya yang menodongkan senjata adalah Arkan dan Sandro, yang juga ingin menemui Denis meminta tanda tangan dan melapor hasil transaksi markas semalam.
"Kamu tahu siapa aku sialan?" tanya Salim dengan tatapan berkilat marah.
"Tidak penting buat aku untuk tahu siapa kamu! Memangnya kamu itu Tuhan, dewa, presiden, atau selebriti!" ketus Arsen dengan tatapan tajam.
"Fu*k! Aku Salim Rasyid orang terkaya ke 4 di dunia" ucap Salim dengan suara lantang.
"Rasyid?" tanya Arsen dengan kening berkerut.
"Ya Rasyid itu nama belakangku" jawab Salim dengan sombong dan angkuh.
"Lihat saja kamu tidak akan bisa lolos dari keluarga Rasyid. Bahkan sebentar lagi kamu hanya tinggal nama saja! Tapi kalau kamu mau menjilat sepatuku aku akan mempertimbangkan untuk membebaskanmu" tambahnya lagi dengan percaya diri.
Dasar bodoh! Kamu sudah salah memilih lawan, batin Sandro merasa kasihan dengan Salim.
"Ka Arsen ayok beri dia pelajaran! Masa ka Arsen diam saja diejek oleh monyet jelek itu" bisik Arkan dengan emosi.
Arsen tersenyum menyeringai menatap Salim seakan berkata tidak takut sama sekali dengan ancamannya. Bisikan Arkan juga tidak ia hiraukan karena saat ini ia sedang memikirkan hukuman apa yang cocok untuk orang sombong seperti Salim.
Ia maju menghampiri Salim membuat Salim melotot memikirkan apa yang akan dilakukan oleh Arsen. Sedangkan pengawalnya hanya diam saja tidak menghalangi Arsen karena takut ditembak Sandro dan Arkan.
"Jangan mendekat! Aku bilang jangan mendekat sialan!" bentak Salim sambil mundur.
Grep................
"Aaarrgghh! Lepas sialan! Apa yang kamu lakukan bangsat!" teriak Salim sambil memaki Arsen.
Bagaimana tidak Arsen menjambak rambutnya dengan kuat membuat kepala Salim sangat sakit. Mata Salim melotot melihat tangan kiri Arsen yang mengeluarkan pisau lipat.
"Apa yang mau kamu lakukan sialan! Tolong! Tolong" teriak Salim dengan ketakutan.
Hehehehe.............
Arsen terkekeh melihat Salim yang belum diapa-apakan sudah ketakutan. Bahkan ia sampai kencing di celana karena ketakutan.
"Hey bocah empat mata! Apa kamu sudah selesai bermain dengan dia? Ingat tujuan kita kesini dan jangan lupa ini masih didepan umum" ucap Sandro mengingatkan.
"Heeemm" deham Arsen.
"Kali ini aku lepaskan kamu sialan! Tapi jangan senang dulu karena urusan kita belum selesai" bisik Arsen sambil tersenyum menyeringai.
Glek................
Salim menelan salivanya dengan susah mendengar bisikan Arsen. Ia seakan tahu kalau sebentar lagi hidupnya di tidak akan tenang.
"Ah! Ingat persiapkan dirimu karena aku akan segera mengunjungimu dan melukis tubuhmu dengan pisau kesayanganku" bisik Arsen lagi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Salim gemetar ketakutan dan syok memikirkan ucapan Arsen barusan. Melihat korbannya ketakutan membuat Arsen semakin tidak sabar ingin bermain dengannya.
Brak..................
Arsen menghantam kepala Salim di kap mobil dengan kuat. Seketika darah mengalir dengar deras dari pelipis dan hidung karena hidungnya patah.
Dengan santai Arsen berlalu pergi meninggalkan Salim disana. Orang-orang yang kebetulan lewat didepan sana hanya diam saja tidak berniat membantu Salim.
Apa lagi saat melihat Arsen, Sandro, dan Arkan yang sangat mereka kenali. Siapa sih yang tidak mengenal ketiganya yang adalah orang kepercayaan Denis yang sangat kejam seperti bos mereka.
"Woww! Ka Arsen sangat menakjubkan" decak Geby dengan kagum.
"Siapa orang itu?" tanya Steven dengan suara dingin.
"Orang kepercayaan ka Denis sekaligus hacker ka Denis" jawab Geby dengan menggebu-gebu.
"Menarik" gumam Steven sambil tersenyum tipis.
Arsen yang hendak masuk ke dalam restoran langsung ditahan Geby. Keningnya mengerut melihat bocah didepannya yang menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Minggir bocah" sentak Arsen dengan suara dingin.
"Ka Arsen ayo kita menikah" ajak Geby dengan serius.
Hah..............
Semua disana dibuat syok dan kaget mendengar ucapan Geby. Bahkan Arsen sampai melotot dengan rahang ingin terlepas tak menyangka akan diajak menikah oleh anak umur 15 tahun.
Pablo sendiri mematung dengan mulut terbuka lebar tak menyangka putrinya akan mengatakan hal seperti itu.
"Sepertinya sebentar lagi kamu akan punya menantu" ucap Steven sambil terkekeh.
"Ckk!! Diam kamu sialan! Itu tidak mungkin apa lagi menantuku bocah sombong itu!" hardik Pablo dengan mata melotot.
"Kamu pikir aku juga mau punya mertua pak tua bodoh seperti kamu" balas Arsen dengan tatapan sinis.
"Apa kamu bilang bocah sialan! Sini kamu, biar pak tua ini menghajarmu berengsek!" bentak Pablo dengan emosi.
Arsen tersenyum mengejek menatap Pablo dan berlalu pergi dari sana diikuti Sandro dan Arkan. Geby sendiri menatap **********daddy*********nya* dengan tatapan tajam karena sudah membuat pujaan hatinya marah.
Ya mulai detik ini Geby sudah mengklaim Arsen sebagai miliknya. Apapun yang terjadi jadi dia akan membuat Arsen mencintainya.
~ ******DA Resort****** ~
Ternyata Denis bukan membawa istrinya ke restoran di pinggir pantai malah ia membawa istrinya ke resort yang tak jauh dari ibu kota.
"Sayang ini resort kamu?" tanya Leila dengan kaget melihat logo perusahaan suaminya di dalam kamar resort.
"Iya sayang" jawab Denis sambil memeluk istrinya dari belakang.
"Kapan kamu buat sayang dan kenapa aku tidak pernah mendengar tentang resort ini?" tanya Leila sambil melihat sekelilingnya.
"Sudah sangat lama sayang. Aku membangun resort ini setelah pulang dari Amerika" jawab Denis dengan suara lembut.
"Oh"
Leila berdecak kagum melihat interior didalam kamar resort yang sangat mewah dan modern. Bahkan suasana didalam resort membuat siapa saja tidak akan pernah bosan berlama-lama disna.
Apa lagi keseluruhan resort dibuat dari kaca yang berkualitas tinggi dan tidak akan bisa dilihat dari luar.
"Apa kamu suka sayang?" tanya Denis berbisik di telinga Leila sambil menciumnya.
"Uhmm! Sangat suka sayang" jawab Leila sambil menutup mata menahan desahannya karena ulah sang suami.
"I want you baby" (aku menginginkan kamu sayang) ucap Denis dengan suara serak.
"Ingat kata dokter sayang" ucap Leila menutup mata menikmati ciuman sang suami di tengkuknya.
"Heeemmm"
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Denis menghirup aroma tubuh istrinya menahan gairahnya. Ia lalu melepaskan pelukan sang istri dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk menuntaskan gairahnya.
Melihat sang suami yang tersiksa ada rasa kasihan tapi ia tidak mau kandungannya kenapa-napa.
Sebaiknya aku konsultasi saja sama dokter Suci, batin Leila.
Ia segera mengambil hpnya didalam tas dan saat hendak menelpon dokter Suci tiba-tiba hp Denis berdering tertera nama Arsen disana.
"Sayang hp kamu bunyi" teriak Leila.
"Angkat saja sayang" balas Denis dari dalam kamar mandi.
Leila segera mengambil hp suaminya dan menjawab panggilan Arsen.
"Halo bos" ucap Arsen dari seberang.
^^^"Halo Arsen" ucap Leila dengan suara lembut.^^^
"Eh! Nyonya. Maaf aku pikir bos yang menjawab"
^^^"Tidak apa-apa Arsen. Suamiku sedang didalam kamar mandi. Apa ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Leila dengan cepat.^^^
"Ini nyonya ada beberapa berkas yang harus di tanda tangani bos dan juga ada laporan yang harus aku berikan kepada bos nyonya" jawab Arsen.
^^^"Oh kalau begitu kama datang saja ke DA resort kebetulan kami ada disini"^^^
"Baik nyonya aku akan segera ke sana"
^^^"Iya Arsen"^^^
Leila lalu mematikan panggilannya dan segera menelpon dokter Suci untuk berkonsultasi. Ia keluar dari kamar menuju ruang tengah melihat ada beberapa pelayan yang sedang membakar ikan di belakang resort.
"Halo selamat siang nyonya Arkana" ucap dokter Suci dari seberang.
^^^"Halo selamat siang juga dok. Maaf aku sudah menganggu dokter"^^^
"Tidak kok nyonya. Kebetulan saya lagi senggang karena ini jam istirahat"
^^^"Oh syukurlah"^^^
"Iya nyonya. Kalau boleh tahu ada keperluan apa nyonya menelpon saya?" tanya dokter Suci dengan sopan dari seberang.
"Dari pemeriksaan nyonya kandungan nyonya kuat dan baik-baik saja jadi bisa nyonya. Tapi sebaiknya jangan terlalu sering dan usahakan nyonya dan suami melakukannya dengan posisi aman uuntuk janin dan jangan terlalu kasar" jawab dokter Suci menjelaskan.
^^^"Oh baik dok. Terima kasih atas informasinya" ucap Leila dengan sopan.^^^
"Sama-sama nyonya. Jika ada yang ingin nyonya tanyakan silahkan hubungi saya"
^^^"Iya dok"^^^
Leila mematikan panggilannya dan menaruh hp di atas meja. Ia lalu berjalan ke belakang resort melihat apa ikan bakarnya sudah matang atau belum karena ia sudah sangat lapar.
Sedangkan Denis yang berada dalam kamar tersenyum lebar melihat riwayat panggilan istrinya dari hpnya.
Ia memang memasang aplikasi bajak untuk mengetahui siapa saja yang menghubungi istrinya takut ada musuhnya yang mencoba memperalat istrinya.
Selesai memakai pakaian Denis segera kelaur ke belakang resort bergabung bersama istrinya yang sudah lebih dulu menikmati ikan bakar.
~ Medika Hospital ~
Langkah kaki yang berlari di lorong ruang sakit menggema sepanjang jalan. Sampainya di ruangan VIP 4 mereka semua langsung masuk ke dalam.
Brak.............
Bunyi pintu yang dibuka dengan kuat mengagetkan dokter, suster, dan Salim yang berada di atas brankar rumah sakit.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Anakku apa yang terjadi sama kamu?" tanya Emira dengan panik menghampiri putra keduanya.
"Mommy" lirih Salim dengan mata berkaca-kaca.
"Dok bagaiman kondisi putra saya?" tanya Adam dengan suara dingin.
"Tuan Salim mengalami patah tulang di bagian hidung, tulang punggungnya juga bergeser serta ada lebam di bagian perut" jawab dokter Rio.
"Apa" pekik semua keluarganya dengan kaget.
"Tidak ada cidera serius kan dok?" tanya Onur dengan cepat.
"Dari hasil rontgen tidak ada tuan" jawab dokter Rio.
"Heemmm"
"Kali begitu saya permisi dulu tuan dan nyonya" pamit dokter Rio.
"Iya dok"
Setelah dokter dan suster sudah pergi, Adam lalu membordir putranya dengan banyak pertanyaan ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi begitu ceritanya dad" ucap Salim setelah menceritakan apa yang tejadi kepadanya dengan jujur.
"Apa kamu mengenal dia?" tanya Adam dengan cepat.
"Tidak dad. Aku hanya kenal Steven saja yang kebetulan ada disana" jawab Salim.
"Steven mafia itu?" tanya Onur dengan selidik.
"Iya ka"
"Buat apa dia ke sana?" tanya Emira dengan bingung.
"Aku tidak tahu mom. Mungkin dia ingin makan di restoran itu juga" jawab Salim sambil mengangkat kedua bahunya.
Adam diam memikirkan nama restoran yang tidak asing untuknya. Sepertinya ia pernah mendengar atau membaca nama restoran itu dimana tapi ia lupa.
"Ada apa daddy?" tanya Onur dengan bingung melihat daddynya.
"Sepertinya nama restoran itu tidak asing buat daddy" jawab Adam sambil mengetuk jarinya di dagu.
"Maksud daddy D&A Resto?" tanya Emira.
"Iya mom" jawab Adam.
"Itu restoran milik mamanya Denis Arkana Daddy" ucap Liliana yang baru saja datang dengan kursi roda bersama asistennya yang baru.
"Ah! Iya benar daddy itu restoran mama anak sialan itu" ucap Onur yang sudah mengingat pernah membaca nama restoran itu dimana.
"Berarti bisa saja Steven ke sana untuk mengintai musuhnya sebelum bertindak" ucap Salim.
"Lalu kenapa dia belum bergerak juga?" tanya Adam.
"Ckk!! Apa daddy lupa kalau belum mengirim 20% dari pembayaran kita dad. Daddy kan tahu dia akan bergerak jika sudah mendapat 20% upahnya lebih dulu" decak Sambil dengan ketus.
"Ah! Iya daddy lupa" jawab Adam dengan santai.
"Tidak ada yang gratis di dunia ini daddy. Dimana-mana ada uang ada barang jadi Steven akan bergerak setelah mendapat uang komisinya 20% lebih dulu daddy" ucap Onur.
"Tapi kan kita sudah mengubah rencana kita ka" ucap Liliana.
"Ya kamu benar. Kalau begitu ayok kamu hubungi Leila untuk mengajaknya bertemu" titah Adam.
"Besok baru aku hubngi dia daddy" ucap Liliana.
"Heemm"
"Ingat jangan sampai mereka mencurigaimu" ucap Emira dengan tatapan tajam.
"Tenang saja mommy itu tidak akan terjadi" balas Liliana sambil tersenyum lebar.
"Kami mengandalkanmu sayang" ucap Adam dengan tegas.
"Iya daddy jangan khawatir"
"Heemmm"
~ Kediaman Baker ~
Ceklek................
Claudia terlonjak kaget saat mendengar pintu kamar yang ia tempati terbuka. Ia seketika berdiri mematung melihat siapa yang masuk.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rayen dengan suara dingin.
"B.....aik tuan" jawab Claudia dengan gugup.
"Apa kamu takut denganku?" tanya Rayen sambil menunjuk dirinya sendiri.
Claudia mengangguk kepalanya menjawab pertanyaan Rayen. Siapa saja yang dikurung didalam kamar seperti dia pasti akan merasa takut, apa lagi ia sudah pernah melihat kekejaman Rayen memukul seorang perempuan.
"Tuan mau apa?" tanya Claudia dengan mata melotot melihat Rayen yang menghampirinya.
Ia mundur ke belakang hingga mentok di tembok tidak bisa mundur lagi. Rayen tersenyum smirk melihat Claudia yang sudah tidak bisa kabur lagi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Tuan sa.....ya mohon lepaskan saya. Saya janji tidak akan melapor tuan ke polisi karena susah mengurung saya disini" pinta Claudia dengan tubuh gemetar.
"Apa kamu lupa dengan ucapanmu waktu itu honey?" tanya Rayen berbisik di telinga Claudia.
Deg.............
Jantung Claudia berdetak dengan cepat mendengar ucapan Rayen. Pikirannya seketika melayang mengingat apa yang pernah ia ucapkan waktu menolong Liliana.
Bodoh banget kamu Claudia. Kenapa kamu tidak bisa memikirkan hal lain selain mengatakan akan melakukan apapun untuk menolong nona Liliana, batin Claudia tersenyum getir.
Ia tak menyangka karena sudah menolong Liliana waktu itu malah sekarang ia yang terjebak disini. Sedangkan orang yang ia tolong malah memecatnya tanpa pesangon.
Kamu memang perempuan bodoh Claudia, batin Claudia mengatai dirinya sendiri.
Rayen yang melihat wanitanya seperti sedang memikirkan sesuatu mengerutkan keningnya. Entah kenapa ia tidak suka melihat wajah sedih Claudia.
Cup.................
Mata Claudia melotot dengan apa yang dilakukan Rayen barusan. Ia tidak menyangka akan dicium oleh Rayen, apa lagi ini adalah ciuman pertamanya.
~ DA Resort ~
Prang................prang..........prang............
Denis membanting dan menendang semua barang didalam resort setelah mendengar informasi yang dibawa Arsen, Sandro, dan Arkan barusan.
Apa lagi Mark barusan menelpon memberitahu kalau ternyata Liliana dan Roy Martinez memang bekerja sama untuk menghancurkannya.
Sedangkan Leila yang sedang menikmati angin sore di pantai tidak tahu jika suaminya sedang emosi saat ini.
"Sandro siapkan pasukanku karena aku akan menghabisi mereka semua" titah Denis dengan suara dingin
"Hah! Apa kita akan menyerang Nine Cloud bos?" tanya Sandro dengan kaget.
"Ya. Sudah cukup aku berdiam diri selama ini karena sudah waktunya aku menghabisi pengganggu-panganggu itu sebelum mereka menghancurkan keluargaku" jawab Denis dengan aura membunuh.
"Lalu bagaimana dengan keluarga Rasyid bos?" tanya Arkan.
"Biarkan jal**g itu besok ketemu dengan istriku di mansion dan malamnya kita habisi mereka karena ingin main-main denganku" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai.
Kring.................
Hp Arsen berbunyi membuat semua mata memandang kearahnya. Ia melihat nam Pak Tua Ulrico yang tertera di layar hp karena sudah dari tadi ia terus menghubunginya.
Mau apa lagi pak tua ini, batin Arsen dengan kesal.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue..............