
"Untuk apa dia menelponku" gumam Denis menatap hpnya yang terus berbunyi.
Denis lalu memutuskan untuk menjawab panggilan itu karena biasanya Austin Smith menelponnya jika ada hal penting saja.
^^^"Heeemmm" dengan Denis suara dingin.^^^
"Setidaknya kamu mengucapkan salam atau apa Denis jangan hanya deham saja" ketus Austin dari seberang.
^^^"Jika kamu ingin mendapat salam dariku maka urungkan saja" balas Denis tak kalah ketus.^^^
"Ckk!! Dasar arogan!" decak Austin dengan kesal.
^^^"Cepat katakan ada apa kamu menelponku!" sarkas Denis dengan sakura dingin.^^^
"Apa anak buahmu yang membakar club milik Henry Ignasio yang ada di Los Angeles?" tanya Austin dengan serius.
^^^"Aku tidak tahu" jawab Denis dengan jujur.^^^
"Barusan Kenneth menelponku memberitahu hal ini katanya ada kebakaran di salah satu club milik Henry Ignasio dan di TKP ditemukan lambang mafia kamu di tembok" ucap Austin menjelaskan.
Kening Denis mengerut mendengar ucapan Austin karena setahunya ia tidak pernah memberikan perintah untuk membakar club milik Henry Ignasio.
Sepertinya ada yang mau main-main dengan kelompokku, batin Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Halo Denis kamu masih disana"
^^^"Heemmm" deham Denis.^^^
"Jadi benar bukan kamu yang melakukan hal itu kan?" tanya Austin.
^^^"Bukan" jawab Denis dengan sakura dingin dan tegas.^^^
Ia langsung mematikan panggilannya sepihak tidak peduli jika Austin masih ingin berbicara. Dengan cepat Denis segera menghubungi Sean untuk menanyakan hal ini karena dia yang bertanggung jawab disana.
"Halo bos" ucap Sean dari seberang.
^^^"Katakan siapa yang membakar club milik Henry Ignasio disana?" tanya Denis to the point.^^^
"Aku masih mencari tahu bos karena kami tidak melakukan hal itu. Aku sudah menyelidik semua anak buah kita disini dan mereka tidak melakukan hal itu bos" jawab Sean dengan suara tegas.
^^^"Lalu bagaimana dengan lambang kelompok kita yang di TKP?" tanya Denis dengan suara dingin.^^^
"Itu bukan lambang kita bos karena di lambang itu mereka lupa menaruh ciri khas lambang kita bos. Mereka pikir itu titik di inisial nama bos sehingga mereka menggambar bulatan kecil bos" jawab Sean menjelaskan.
Hahahahaha................
Tawa Denis seketika pecah mendengar kebodohan musuhnya. Hanya anggotanya saja yang tahu jika titik bulatan di tengah lambang mereka itu adalah inisial namanya bukan bulatan kecil.
^^^"Cari orang yang terakhir kali berselisih dengan kalian" titah Denis dengan suara dingin.^^^
"Maksud bos?" tanya Sean dengan bingung.
^^^"Mereka adalah orang yang membakar club Henry Ignasio" jawab Denis dengan suara dingin.^^^
"Baik bos" ucap Sean setelah paham apa maksud Denis.
Denis mematikan panggilannya sepihak dan segera mengirim pesan ke Mark untuk membantu Sean mencari tahu siapa yang ingin bermain dengan kelompok mereka di Amerika.
Saat turun ke lantai satu Denis mengangkat alisnya sebelah mendengar suara ribut-ribut dari ruang keluarga.
"Ada apa ini?" tanya Denis dengan suara dingin mengagetkan istrinya dan kakak iparnya yang sedang berdebat.
"Sayang" ucap Leila menoleh ke belakang melihat suaminya.
Denis menghampiri sang istri yang duduk di sofa dan segera mengangkatnya lalu mendudukkan di pangkuannya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
"Bisa tidak kalian jangan bermesraan di depanku" ketus Rayen dengan kesal.
Denis menatap Rayen dengan tatapan dingin dan tajam seakan berkata siapa kamu berani mengatur aku di rumahku.
Phew..................
Rayen membuang napas dengan kasar melihat tatapan Denis yang membuatnya kesal. Sedangkan Denis ia tidak perduli dengan Rayen dan sibuk mengelus perut Leila sambil mengecup lehernya.
"Sayang ada ka Rayen" ucap Leila dengan malu.
"Tidak usah perduli dengan dia sayang. Lagian tidak ada yang mengundang dia kesini" balas Denis dengan acuh.
"Berengsek! Adik ipar sialan!" hardik Rayen dengan suara tinggi.
"Pak Tio" panggil Denis dengan suara dingin.
"Iya tuan" ucap pak Tio yang sedari tadi berdiri tak jauh dari ketiganya.
"Panggil pengawal dan usir manusia berisik ini" tunjuk Denis ke arah Rayen.
Mata Rayen melotot kaget mendengar ucapan Denis yang tidak main-main. Leila juga kaget tak menyangka suaminya akan mengatakan hal seperti itu ke kakak kandungnya sendiri.
"Sayang kamu kok gitu. Ini kakak kandungku loh" protes Leila.
"Aku tidak perduli sayang! Aku tidak suka keributan di rumahku" balas Denis dengan suara tegas.
"Phew! Jangan lakukan hal itu sayang" ucap Leila sambil membuang napas dengan kasar.
"Ckk!!"
"Suamiku sayang yang paling ganteng jangan usir ka Rayen ya nanti aku kasih dobel deh Sebentar" bisik Leila dengan suara menggoda.
"Heemmm! Tapi kamu yang pegang kendali sayang" deham Denis sambil tersenyum penuh arti.
Ehh................
Leila dibuat bungkam tak bisa berkata apa-apa dan mengangguk kepala sebagai jawab. Denis semakin tersenyum lebar sudah tidak sabar ingin ke kamar mereka.
"Kalian berdua kenapa bisik-bisik?" tanya Rayen dengan bingung.
"Cih!" decih Denis dengan sinis menatap Rayen.
"Ka Rayen sih datang buat keributan di mansion aku jadi suami aku marah. Lain kali aku tidak mau kakak buat keributan lagi disini" ketus Leila dengan tatapan tajam.
Rayen melongo tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan sang adik yang baru kali ini berbicara dengannya seperti itu.
Kenapa sifat adik aku berubah seperti singa jantan itu setelah hamil ya, batin Rayen dengan bingung.
"Ada apa kamu datang kesini?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Dimana Arkan?" tanya balik Rayen.
"Apa kepalamu terbentur? Bukannya kamu tinggal dengan Arkan kenapa bertanya kepadaku?" tanya Denis dengan sinis.
"Dia pergi dengan kekasihku" ucap Rayen dengan suara tegas.
"APA!" pekik Leila dengan suara menggelegar mendengar ucapan kakaknya.
"Sayang" sarkas Denis dengan kesal.
"Hehehehe! Maaf sayang aku hanya kaget saja" ucap Leila sambil terkekeh.
"Heemmm"
"Ka Rayen siapa kekasih kakak? Sejak kapan kakak punya pacar? Apa kami mengenalnya? Siapa namanya? Dari mana asalnya?" tanya Leila beruntun.
"Satu-satu dong dek nanyanya" ucap Rayen sambil memijit keningnya yang berdenyut mendengar pertanyaan beruntun sang adik.
"Ishh! Ka Rayen jawab dong!" sarkas Leila dengan kesal.
Rayen mengusap wajahnya dengan kasar mendengar ucapan sang adik yang menatapnya dengan tajam. Sedangkan Denis ia tersenyum mengejek menatap Rayen.
"Namanya Claudia dia manta asisten Liliana Rasyid" ucap Rayen dengan suara tegas.
"Hah! Perempuan yang aku bawa dari rumah sakit waktu itu kan" tebak Leila.
"Heemmm" deham Rayen sambil mengangguk kepala.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Mau tak mau Rayen harus menceritakan awal mula hubungannya dengan Claudia dan juga tujuan dia datang ke sini yaitu mencari Arkan yang membawa pergi kekasihnya.
Hahahahaha.................
Tawa Leila seketika pecah mendengar cerita sang kakak apa lagi mendengar adiknya yang berani membawa kabut pacar sang kakak hanya karena mobil sport.
"Aku tidak menyangka Arkan bisa seberani itu ka! Hehehehe" ucap Leila sambil terkekeh.
"Jangan mulai deh dek" ketus Rayen dengan kesal karena sampai saat ini ia belum mendapat informasi keberadaan Arkan dan kekasihnya.
"Lagian kakak sih masa hanya mobil saja kakak ngak beliin. Atau kakak sudah jatuh miskin?" tanya Leila dengan cepat.
"Leila" desis Rayen dengan suara kesal.
"Suamiku apa kamu tahu dimana Arkan?" tanya Leila tidak menggubris ucapan Rayen.
"Pencatatan sipil mungkin" jawab Denis dengan ambigu.
"Loh ngapain Arkan ke pencatatan sipil sayang?" tanya Leila semakin penasaran.
"Urus berkas pernikahan" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai menatap Rayen.
"JANGAN BERCANDA KAMU SIALAN!" bentak Rayen dengan suara menggelegar.
"Ka Rayen kenapa bentak suamiku" hardik Leila dengan suara tinggi dan tatapan tajam.
"Ckk!!" decak Rayen tak membalas ucapan sang adik.
Denis tersenyum mengejek menatap Rayen yang juga sedang menatapnya dengan kesal. Rayen lalu pergi dari sana karena yakin ia tidak bisa mendapat informasi dari Denis dan Leila.
"Hubungi Arsen dia pasti tahu dimana Arkan" ucap Denis sebelum Rayen keluar dari mansion.
Rayen hanya mengangkat jarinya berbentuk tanda oke sambil berlalu pergi. Dengan cepat ia menghubungi Arsen dan sesuai ucapan Denis akhirnya ia tahu dimana keberadaan sang adik.
Arkan Luis Baker, batin Rayen dengan gigi gemelutuk.
3 Bulan kemudian
Sudah 3 bulan berlalu dan saat ini Leila dan Denis sedang check up kandungan Leila di Medika Hostipal.
Usia kehamilan Leila sudah 4 bulan dan saat memasuki usia 3 bulan ia tidak mengalami morning sicknes lagi.
"Kandungan nyonya sehat dan kuat, detak jantung janin juga normal" ucap dokter Suci memeriksa kandungan Leila.
"Iya dok" ucap Leila dengan senang.
"Apa nyonya masih mual?" tanya dokter Suci.
"Tidak lagi dok" jawab Leila.
"Untuk obat mualnya tidak usah diminum lagi dan nanti saya akan berikan vitamin saja nyonya"
"Baik dok"
"Usahakan makan makanan yang bergizi dan jangan sampai stress ya nyonya karena itu bisa mempengaruhi hormon kehamilan nyonya dan berakibat pada janin" ucap dokter Suci.
"Iya dok"
Sedari tadi Denis diam saja mendengar penjelasan dokter mengenai istrinya. Ada beberapa hal yang harus ia bicarakan dengan istrinya setelah pulang nanti karena sudah 3 bulan ini ia harus menahan diri untuk meninggalkan sang istri.
Papa mohon kamu baik-baik didalam sana saat papa pergi ya nak dan tolong jangan buat mama capek dan kelelahan, batin Denis sambil mengelus perut sang istri.
Tuk......................
"Sayang" ucap Leila dengan kaget karena baru kali anaknya menendang.
"Apa yang terjadi sayang? Kita kembali ke rumah sakit sekarang!" ucap Denis dengan panik.
"Jangan sayang tidak perlu. Aku baik-baik saja kok"
"Baik bagaimana sayang. Barusan kayak ada yang tendang perut kamu" hardik Denis dengan suara tinggi.
Phew................
Leila membuang napasnya dengan kasar dan segera mengambil hpnya. Denis diam saja melihat apa yang dilakukan istrinya dan tak berapa lama Leila menyuruhnya untuk membaca informasi yang ia cari di google barusan.
Ehhh.................
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...................