Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 110


Riski sangat emosi karena ulah Keysa yang gagal maka geng mereka akan menjadi target Denis sekarang.


Apa lagi status Denis yang sekarang bukanlah orang sembarang dan ia yakin pasti Denis akan menghancurkan geng mereka sampai rata dengan tanah.


“Fu*k” maki Riski dengan emosi.


Marco lalu mendekati tubuh salah satu anggota meraka, karena sempat melihat ada yang ganjil dari belakang tubuhnya. Ia menyibak baju anggotanya itu ke atas dan kaget melihat lambang yang ia sangat dikenalinya.


“Bos anda harus melihat ini” panggil Marco dengan wajah serius.


Riski Akbar tak mengatakan apa-apa dan menghampiri Marco untuk melihat apa yang akan ditunjukkan oleh tangan kananya itu. Seperti Marco ia juga tersentak kaget melihat lambang yang sangat ia kenali, karena nama dari lambang itu sekarang menjadi nama yang ditakuti di dunia bawah.


“Black Damon” ucap Riski dengan syok.


“Apa yang harus kita lakukan sekarang bos? Ini adalah peringatan yang dikirim oleh mereka kepada kita bos?” tanya Marco dengan cepat.


“Apa kamu yakin jika ja***g itu melakukan penyerangan kepada Denis Arkana?” tanya balik Riski dengan selidik.


“Yakin bos” ucap Marco dengan suara tegas.


“Lalu bagaimana bisa mayat-mayat ini dikirim oleh mafia Black Damon? Apa Denis selama ini bekerja sama dengan mafia?” tanya Riski Akbar dengan penasaran.


“Bisa jadi bos. Bukannya Denis Arkana selama ini berada diluar negeri dan 3 bulan yang lalu ia pergi ke Amerika untuk melebarkan perusahaannya disana bos. Bisa saja selama ini ia meminta bantuan kepada mafia untuk membantunya mendirikan perusahaan bos” jawab Marco menjelaskan.


“Atau” ucap Marco membuat Riski langsung menatapnya dengan selidik.


“Atau apa?” tanya Riski Akbar dengan penasaran apa yang mau diucapkan oleh Marco.


“Denis Arkana adalah mafia Black Damon bos” ucap Marco dengan serius.


Hahahahaha……………………..


Tawa Riski Akbar seketika pecah mendengar ucapan Marco yang tak masuk akal. Bagaimana tidak ia sangat mengenali Denis dari dulu dan yakin jika Denis itu tidak punya kemampuan untuk bergabung dalam kelompok mafia mana pun, karena setahunya Denis itu tak punya nyali untuk membunuh seseorang.


“Asal kamu tahu saja! Denis Arkana itu tidak punya nyali untuk membunuh” ucap Riski Akbar sambil tertawa lebar.


“Selama ini dia menjadi ketua geng Ular Cobra tidak pernah sekalipun membunuh musuhnya karena tidak ada jiwa seorang pembunuh dalam dirinya” tambahnya lagi dengan tatapan merendahkan.


“Tapi bisa saja selama ini dia sudah berubah bos” bantah Marco yang tak sependapat dengan Riski.


“No no no! Apa yang kamu pikirkan itu salah besar” ucap Riski sambil menggerakkan jari telunjuk tak setuju dengan pemikiran Marco.


Marco diam tak berdebat lagi dengan bosnya karena ia tahu itu percuma saja, apa lagi ia sangat mengenali sifat bosnya yang tidak mau mengaku kesalahannya dan menurutnya semua pikirannya itu benar.


“Cari tahu bagaimana Denis Arkana bisa mengenal mafia dan perketat penjagaan di markas dan bisnis aku, karena aku yakin Denis tidak akan tinggal diam karena perempuan ja**ng itu” titah Riski dengan suara tegas bercampur emosi mengingat Keysa.


“Baik bos” ucap Marco dengan patuh.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Riski  Akbar segera pergi dari sana meninggalkan Marco yang memberi perintah kepada anak buah mereka untuk menyingkirkan mayat-mayat itu. Tanpa Riski sadari ternyata ucapan Marco mengenai Denis tadi semuanya itu benar.


~ Rumah Arkana ~


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat dan tanpa terasa hari sudah berganti. Amira yang tidak syok lagi, pagi ini bangun pagi sekali untuk menyiapkan sarapan buat Denis karena semalam anaknya menginap disini.


“Bi apa persedian bahan makanan di kulkas masih lengkap?” tanya Amira dengan cepat mengingat jika hari ini Arkan dan Leila akan berkunjung kesini.


“Daging dan beberapa sayuran sudah tidak ada lagi nya” jawab bi Eda sambil melihat isi kulkas.


“Kalau begitu bibi tolong ke pasar sama pak Anton buat beli sayuran dan lainnya ya bi” pinta Amira dengan suara lembut.


“Baik nyonya”


Amira lalu mengambil beberapa lembar pecahan 100 ribu serta menulis apa saja yang harus dibeli bi Eda di pasar nanti. Setelah bi Eda pergi Amira segera berkutat dengan masakannya sebelum Denis bangun.


1 Jam kemudian


Amira sudah selesai dengan masakannya dimana ia membuat beberapa masakan kesukaan anaknya yaitu sandwich dan beberapa jenis kue. Semuanya karena Denis tidak suka sarapan dengan makanan berat di pagi hari seperti mendiang suaminya.


Tok………….tok………….tok……………


“Denis apa kamu sudah bangun nak?” tanya Amira sambil mengetuk pintu kamar Denis.


Tak mendapat jawaban dari anaknya Amira segera membuka pintu kamar Denis dengan pelan dan melihat ternyata Denis sedang tertidur pulas diatas ranjang.


“Mungkin dia masih ngantuk” gumam Amira dengan suara pelan.


Amira segera menutup kembali pintu kamar Denis dengan pelan membiarkan anaknya tidur, karena tadi pagi ia sempat melihat Denis keluar dari ruang kerjanya saat ia bangun, ia yakin jika semalam anaknya pasti tidak bisa tidur lagi seperti biasa.


Amira memilih sarapan dahulu tidak menunggu Denis bangun. Tepat pukul 10:00 pagi Leila dan Arkan pun datang dan keduanya ikut membantu Amira menyiapkan makan siang untuk mereka semua sambil bercerita.


“Ma dimana bos?” tanya Arkan yang sedari tadi tak melihat Denis.


“Masih tidur nak. Leila kamu tolong bangunkan Denis ya soalnya dia belum sarapan” jawab Amira sambil meminta Leila untuk membangunkan Denis.


“Iya ma” ucap Leila dengan suara lembut.


Leila segera naik ke lantai dua menuju kamar Denis untuk membangunkannya dan sampai di depan pintu ia lalu mengetuknya.


“Denis apa kamu sudah bangun?” tanya Leila.


“Aku masuk ya Denis” ucapnya lagi setelah beberapa saat tak mendengar jawaban dari dalam.


Leila membuka pintu dengan pelan dan melihat kedalam kamar Denis tapi keningnya mengerut saat tak mendapati Denis didalam sana. Ia lalu menuju ke kamar mandi untuk mengecek Denis tapi tidak ada disana begitu juga di balkon kamar.


“Kemana Denis? Kata mama dia masih tidur tapi kenapa tidak ada ya?” gumam Leila dengan bingung.


Tanpa ia sadari ternyata orang yang dicarinya sedang bersandar di pintu sambil bersedekap tangan di dada dan tersenyum tipis melihat kekasihnya yang kebingungan karena tak menemukannya didalam kamar.


“Mencariku sayang?” tanya Denis membuat Leila terkejut.


“Denis” pekik Leila langsung berbalik ke belakang sambil mengelus dadanya karena kaget.


Hehehehehe…………..


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Denis terkekeh melihat reaksi kekasihnya yang kaget, ia lalu menghampirinya dan seperti biasa mencium bibirnya membuat Leila tak bisa berkata apa-apa.


“Manis”ucap Denis sambil mengelap bibir Leila dengan lembut.


“Kata mama kamu sedang tidur sayang?” tanya Leila.


“Aku sudah bangun dari jam 08:00 sayang dan langsung ke ruang kerja untuk mengecek laporan yang masuk sayang” jawab Denis dengan suara lembut.


“Oh. Mama menyuruh aku untuk membangunkan kamu buat sarapan sayang” ucap Leila memberitahu maksud ia kesini.


“Heeemm! Aku mandi dulu sayang. Beritahu mama untuk menyiapkan makan siang saja buat aku sayang”


“Iya sayang”


Denis segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan Leila sebelum turun ia merapikan tempat tidur Denis dan tak lupa menaruh pakaian ganti buat Denis diatas tempat tidur.


“Seleranya persis selera aku” ucap Denis setelah keluar dari kamar mandi dan melihat pakaian yang dipilih Leila.


Sedangkan dibawah Leila segera memberitahu Amira tentang ucapan Denis tadi. Leila lalu membantu Amira menyiapkan makan siang untuk mereka semua.


“Jadi Denis tidak tidur nak?” tanya Amira dengan kaget.


“Iya ma” jawab Leila.


Phew……………


Amira membuang napasnya dengan kasar mendengar ucapan Leila barusan tentang Denis yang tidak tidur padahal pagi tadi Denis keluar dari ruang kerjanya jam 06:00 pagi.


“Kenapa ma?” tanya Leila dengan bingung melihat Amira yang terlihat seperti sedang berpikir keras.


“Pasti Denis kesusahan untuk tidur seperti biasanya” jawab Amira.


“Loh memangnya selama ini Denis sulit untuk tidur ya ma?” tanya Leila dengan cepat.


“Iya nak” jawab Amira.


“Benar yang di bilang mama ka. Selama di Amerika aku tidak pernah lihat bos tidur lebih dari 3 jam ka” tambah Arkan.


“Hah! Beneran dek?” tanya Leila dengan kaget.


Arkan mengangguk kepalanya sebagai jawaban, membuat Leila mengerutkan keningnya dengan bingung mengingat saat ia tidur dengan Denis di markas.


Bukannya waktu itu Denis sangat nyenyak tidurnya, batin Leila dengan tanda tanda besar.


Tak berselang lama Denis pun turun dan segera menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh mamanya bersama Leila, Arkan, dan bi Eda. Hari itu Leila dan Arkan menghabiskan waktu di rumah Amira hingga sore.


“Aku pergi dulu ma” ucap Denis pamit karena akan bertemu Sandro dan lainnya di kasino Adrian.


“Iya nak kamu hati-hati ya” ucap Amira.


“Iya ma”


“Ka aku pergi bereng sama bos ya” pamit Arkan kepada Leila.


“Iya hati-hati dek” jawab Leila dengan suara lembut.


“Sayang kamu nginap disini atau pulang?” tanya Denis.


“Aku pulang saja sayang karena ada beberapa laporan yang musti aku pelajari untuk rapat dengan pemegang saham besok sayang” jawab Leila.


“Heeemmm” deham Denis.


Cup…………..


Denis mencium bibir Leila didepan Amira dan Arkan, membuat wajah Leila menjadi sangat merah merasa sangat malu dengan kelakuan kekasihnya yang tak mengenal tempat.


Dengan santai Denis berlalu pergi diikuti Arkan, sedangkan Leila ia seakan ingin menenggelamkan diri ke dalam lubang saat menatap Amira.


“Mam…a” lirih Leila dengan malu-malu.


“Tenang saja sayang mama orangnya tidak seperti orang tua dulu kok” jawab Amira sambil tersenyum manis.


Setelah kepergian Denis dan Arkan tak berapa lama rumah Amira didatangi beberapa mobil mewah yang tidak dikenalinya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue……………….