
Semua mata menatap Arsen seakan bertanya siapa yang menelponnya. Arsen lalu menunjukkan hpnya ke hadapan mereka memberitahu siapa yang menelponnya.
"Pak tua Ulrico yang menghubungiku" ucap Arsen dengan suara dingin.
"Buat apa dia menghubungimu bocah?" tanya Sandro dengan penasaran.
"Bukannya tadi kita bertemu dengan dia di restoran mama Amira ya?" tanya Arkan sambil menatap Arsen bingung.
"Aku tidak tahu untuk apa dia menghubungiku" jawab Arsen dengan jujur.
"Ayok ka jawab sebelum panggilannya mati" ucap Arkan.
Arsen segera menekan tombol jawab tak lupa membuat loudspeaker agar semuanya bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
"Halo" ucap Pablo dari seberang dengan suara dingin.
^^^"Ada apa pak tua?" tanya Arsen to the point.^^^
"Ckk!! Bocah kurang ajar!" hardik Pablo dengan suar tinggi.
^^^"Jika tidak penting aku matikan pak tua" ucap Arsen dengan sinis.^^^
"Tunggu ada yang ingin aku tanyakan" ucap Pablo dengan cepat.
^^^"Katakan" ^^^
"Dimana Denis. Aku ingin bertemu dengannya karena ada seseorang yang ingin bertemu dengannya" ucap Pablo dengan suara tegas dari seberang.
^^^"Siapa?" tanya Arsen yang melihat Denis yang menyuruhnya untuk bertanya siapa yang ingin menemuinya.^^^
"Tangan kanan papanya dulu waktu masih menjadi mafia" jawab Pablo dari seberang.
Arsen menatap Denis seakan bertanya apa yang harus ia jawab. Pablo yang tidak mendengar suara Arsen segera bertanya apa dia masih ada disana atau tidak.
Denis lalu menulis sesuatu di hpnya lalu menunjukkan ke Arsen yang dibalas anggukan kepala.
^^^"Malam ini jam 10:00 di DA Resort" ucap Arsen dengan suara dingin.^^^
"Baiklah" balas Pablo dari seberang.
Arsen lalu mematikan panggilannya karena tidak ada lagi yang ingin ia bicarakan.
"Siapa yang ingin bertemu dengan bos?" tanya Sandro dengan penasaran.
"I don't know" (aku tidak tahu) jawab Arsen sambil mengangkat kedua bahunya.
"Tadi katanya tangan kanan tuan besar waktu masih menjadi mafia! Apa bos mengenalnya?" tanya Arkan sambil menatap Denis.
"No" jawab Denis singkat.
"Aku sudah tidak sabar ingin melihat orang yang ingin bertemu dengan bos" ucap Sandro.
"Yang pasti orang itu bukan orang sembarang karena statusnya yang adalah tangan kanan tuan besar. Meski begitu kita harus tetap waspada bos siapa tahu dia ada maksud terselubung" papar Arsen dengan suara tegas.
Prang..............
Semua mata seketika memandang ke arah suara dan mendapati Leila yang berdiri dengan syok di dekat dapur.
"Apa barusan ada badai disini?" tanya Leila dengan kaget.
"Sayang" panggil Denis dengan suara lembut.
"Apa yang terjadi disini sayang? Siapa yang melakukan ini semua?" tanya Leila dengan penasaran.
Eh...........
Leila seketika diam melihat keadaan ruang tengah resort yang bermatakan sambil memikirkan sesuatu. Menurutnya hanya satu orang yang bisa melakukan hal seperti ini dan itu adalah suaminya sendiri.
"Bisa kamu jelaskan sayang?" tanya Leila dengan tatapan tajam dan tegas.
"Phew! Ayok kita ke kamar sayang nanti aku jelaskan semuanya" jawab Denis sambil membuang napas dengan kasar.
"Heeem" deham Leila.
Sebelum masuk ke dalam kamar Denis menyuruh ketiganya untuk membereskan semua kekacauan disana. Ingin rasanya mereka membantah perintah Denis tapi ketiganya tidak berani.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sedangkan didalam kamar Leila duduk sambil bersedekap tangan didada menatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Sayang" panggil Denis dengan suara lembut.
"Cih! Jangan menggodaku sayang. Cepat jelaskan!" titah Leila dengan suara tegas.
"Aku emosi mendengar laporan Arsen dan Mark tentang keluarga Rasyid dan Roy Martinez sayang. Ternyata keluarga Rasyid berencana membayar mafia untuk membunuh aku, kamu, dan anak kita sayang" papar Denis menjelaskan.
"Apa!" pekik Leila dengan kaget.
Wajahnya seketika pucat mendengar ucapan suaminya. Dengan reflek ia memegang perutnya yang masih rata memikirkan janin didalam kandungannya.
"Mereka ingin membunuh anak kita sayang" ucap Leila dengan tubuh gemetar.
"Kamu tenang ya sayang jangan takut. Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu apa lagi anak kita sayang" ucap Denis dengan suara tegas.
"Tapi aku takut sayang" lirih Leila dengan ketakutan.
"Percaya sama aku sayang. Sampai matipun aku tidak akan membiarkan satu orang pun menyakiti kalian berdua" ucap Denis dengan tegas.
Leila mengangguk kepala melihat suaminya dan mempercayainya. Ia yakin suaminya tidak akan membiarkan satu orangpun menyakiti dia dan anak mereka.
"Lalu apa hubungannya dengan Roy Martinez sayang?" tanya Leila dengan penasaran.
"Liliana Rasyid bekerja sama dengan Roy Martinez untuk memisahkan kita berdua sayang. Roy Martinez sengaja mendekati Liliana agar membuat aku jatuh dalam pelukannya dan mereka bisa mendapatkan darahku sayang" jawab Denis menjelaskan.
"Hah! Untuk apa darah kamu sayang?" tanya Leila dengan penasaran.
"Mereka ingin membuka brankas harta Karun papa sayang. Brankas itu hanya bisa dibuka dengan darah keturunan dari papa sendiri" jawab Denis dengan jujur.
Leila menutup mulut kaget tak menyangka ada orang yang seperti itu. Hanya demi harta saja mereka tega menyakiti seseorang bahkan sampai membunuhnya.
"Kamu harus hati-hati mulai sekarang sayang" ucap Leila dengan cemas.
"Iya sayang jangan khawatir karena suamimu ini bukan orang lemah" balas Denis sambil tersenyum manis.
"Iya sayang"
Grep..................
Denis memeluk istrinya dan mengelus punggungnya dengan lembut, seakan berkata kalau semua akan baik-baik saja.
5 Jam kemudian
Tinggal satu jam lagi Pablo akan datang menemui Denis di resortnya. Saat ini Denis dan lainnya tengah menunggu kedatangan Pablo di ruang tengah resort.
"Sayang" panggil Leila dengan suara lembut dari lantai dua.
"Kenapa sayang?" tanya Denis dengan suara lembut sambil menatapnya dengan tatapan penuh cinta.
"Sini" panggil Leila dengan malu-malu.
Denis segera menghampiri istrinya di lantai dua dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Aku tidak bisa tidur sayang" jawab Leila sambil mengerucut bibirnya.
"Lalu"
"Aku mau peluk kamu sambil tidur sayang" ucap Leila dengan wajah merona.
Denis tersenyum lebar melihat istrinya yang menunduk malu. Ia tahu kalau istrinya pasti ingin mencium bau tubunya baru bisa tidur beberapa hari terakhir.
"Kalau gitu ayok aku temenin sayang" ajak Denis sambil menuntun istrinya ke ranjang.
Denis memeluk istrinya dengan erat sambil mengelus punggungnya dengan lembut. Leila tersenyum manis mencium bau tubuh suaminya yang sangat ia suka.
Tepat pukul 22:00 WIB mobil Pablo berhenti didepan resort milik Denis. Ia datang bersama dengan Steven dan Vito untuk menemui Denis.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Thomas yang berdiri didepan resort segera membawa mereka menuju kamar paling mewah di resort ini.
"Bos Sandro mereka susah tiba" ucap Thomas dengan suara dingin.
Sandro menatap ke belakang dan melihat Pablo yang datang bersama Vito san seseorang yang berpenampilan tertutup.
Mata tajamnya menatap orang itu dari atas ke bawah melihat penampilannya yang serba hitam dan hanya mata bijinya saja yang kelihatan.
Begitu juga dengan Arsen dan Arkan yang menatap ketiganya dengan tatapan tajam. Sandro lalu menyuruh ketiganya duduk di sofa dan ia menyuruh Arkan memanggil sang bos.
"Ckk!! Kenapa bukan ka Sandro aja sih" decak Arkan dengan kesal.
"Jangan banyak tanya bocah! Cepat sana beritahu bos!" Ketus Sandro dengan tatapan tajam.
Arkan mengerucut bibirnya ke depan menatap Sandro dengan kesal. Meski begitu ia tetap melakukan apa yang disuruh Sandro.
Tok..........tok........tok.........
"Bos mereka sudah disini" ucap Arkan dengan saura pelan.
Ia diam mendengar balasan Denis tapi tidak ada jawaban sama sekali. Meskipun begitu ia tetap sabar menunggu dan selang 10 menit Denis berdeham.
Arkan memilih kembali tak bertanya karena yakin Denis sudah mendengarnya. sampainya di bawah Sandro menatapnya dengan bingung bertanya dimana bos.
"Bos cuma deham saja" ucap Arkan memberitahu.
"Oh" jawab Sandro dengan singkat.
Ketiganya lalu kembali sibuk dengan kegiatan mereka tidak memperdulikan keberadaan Pablo, Vito, dan Steven.
Kenapa mereka diam saja. Apa Denis tidak ingin bertemu denganku, batin Steven penuh tanda tanya.
Tak berapa lama Steven bergidik ngeri merasakan aura yang sangat mengintimidasi dan mencekam.
Aura ini, batin Steven dengan kaget merasakan aura yang sama persis dengan milik sang bos.
Duar.................
Tubuhnya menegang bagai disambar petir melihat sosok yang baru saja turun dari lantai dua.
Ia kaget melihat Denis yang terlihat sama persis dengan Demian Arkana Massimo mantan bosnya. Bahkan ia sempat berpikir jika Denis adalah Demian bosnya.
"Bos" panggil Steven dengan reflek.
"Hey dude" panggil Pablo mengagetkan Steven dari keterjutannya.
Eheeemm.............
Deham Steven menormalkan rasa terkejutnya saat melihat Denis. Sedangkan Denis sendiri ia duduk di sofa singel sambil berpangku kaki terlihat sepert seorang raja yang sangat berkuasa.
"Katakan" ucap Denis dengan suara dingin dan tegas.
"Dia yang ingin bertemu denganmu Denis" ucap Pablo sambil menunjuk Steven disampingnya.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Steven lalu membuka topi dan masker mulutnya sehingga wajahnya terlihat dengan jelas. Rahang tegas dan kokoh, wajah blasteran, dan ada luka panjang di keningnya membuat dia terlihat sangar dan menyeramkan.
"Senang bertemu denganmu Denis Arkana. Perkenalkan aku Steven tangan kanan papamu saat masih menjadi ketua mafia di Red Blood" ucap Steven dengan suara dingin dan tegas.
"Lalu apa tujuan kamu menemuiku?" tanya Denis dengan suara dingin.
"Apa kamu tidak mencurigaiku Denis?" tanya Steven sambil tersenyum smirk.
"Jadi benar kamu datang kesini dengan maksud tertentu!" bentak Sandro dengan suara tinggi sambil menodongkan senjata ke Steven.
"Wah penyambutan yang sangat luar biasa" ucap Steven dengan santai.
"Usir dia" titah Denis dengan suara dingin sambil berdiri.
"Tunggu dulu aku belum selesai" ucap Steven dengan kaget melihat respon Denis.
"Don't waste my time old man" (jangan membuang waktuku pak tua) ucap Denis dengan aura mengintimidasi.
Glek.............
Steven menelan salivanya dengan susah mereasakan aura Denis yang sangat berbahaya. Ia lalu mengeluarkan foto Denis dan Leila dan menaruhnya diatas meja.
"Apa ini?" tanya Arsen dengan cepat.
"Aku disewa keluarga Rasyid untuk membunuhmu dan istrimu" jawab Steven dengan jujur menatap Denis.
"Berengsek! Jadi kamu mafia yang mereka bayar?" tanya Arsen sambil menunjuk Steven.
"Ya! Singkirkan tanganmu sebelum aku memotongnya anak muda" ucap Steven dengan tatapan membunuh.
"Heeemmm" deham Arsen sambil menurunkan tangannya.
Ia tahu orang didepannya sangat berbahaya jadi sebaiknya ia tidak mengganggunya.
Hahahahaha...............
Tawa Denis seketika pecah didalam sana membuat semuanya menatapnya dengan bingung.
"Arsen perketat penjagaan mamaku mulai besok. Jangan lupa perketat juga mansionku karena besok akan ada sesuatu yang besar terjadi nanti" titah Denis dengan suara tegas.
"Oke bos"
"Sandro beritahu Sean untuk menyuruh mata-mata kita di Italia bergerak malam ini juga"
"Baik bos"
"Bukannya malam ini kamu ada jadwal bersenang-senang Arsen?" tanya Denis sambil tersenyum menyeringai.
"Ah! iya benar bos aku sampai lupa" jawab Arsen sambil tersenyum lebar mengetahui maksud Denis dan segera berlalu pergi.
Denis bersedekap tangan didada sudah tidak sabar ingin melihat berita mengemparkan besok pagi.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue...............