
Setelah kepergian Bimo, Denis kembali menatap pemandangan malam kota Jakarta dari jendela memikirkan kehidupan sebelumnya. Air matanya jatuh mengingat orang yang paling menderita karena dia adalah mamanya sendiri.
“Maafkan aku ma. Aku berjanji akan membahagiakan mama di kehidupan ini” ucap Denis dengan suara bergetar.
Kring………………
Matanya lalu menatap ke arah hp yang tersimpan di atas nakas tak jauh dari tempat ia berdiri, saat melihat nama Mama di layar hpnya air matanya semakin mengalir dengan deras.
Denis segera menjawab panggilan dari mamanya sebelum panggilannya berakhir.
“Halo nak. Apa kamu sudah tidur?” tanya Amira dengan suara lembut dari seberang.
Mama, batin Denis menahan suara tangisnya sehingga tidak keluar.
“Halo Denis. Apa kamu disana nak?” tanya Amira dengan cemas karena tidak mendengar suara sang anak.
^^^“Iya ma” ucap Denis dengan suara serak.^^^
“Suara kamu kenapa nak? Apa kamu sedang sakit?” tanya Amira dengan panik saat mendengar suara Denis.
^^^“Aku baik-baik saja ma cuma flu biasa” jawab Denis.^^^
“Flu? Kamu sudah minum obat belum Denis? Ah! Kamu harus makan dulu sebelum minum obat nak. Kamu dimana nak apa mau mama anterin makan buat kamu sayang?” tanya Amira beruntun membuat Denis tersenyum karena dicemaskan oleh sang mama.
^^^“Ma” panggil Denis dengan suara lembut.^^^
“Iya nak. Apa kamu menginginkan sesuatu?” tanya Amira dengan suara lembut.
^^^“Aku sayang sama mama” jawab Denis tak menjawab pertanyaan sang mama.^^^
“Denis………….hiks hiks hiks. Kamu baik-baik saja kan? Mama sangat menyayangimu nak jadi tolong beritahu mama jika kamu merasa sakit saat ini” balas Amira sambil menangis.
Hehehehe………………
Denis terkekeh tak menyangka mamanya akan menangis ketika ia mengatakan sangat menyayanginya dan Denis tahu mamanya juga sangat sayang kepadanya.
Sedangkan Amira yang mendengar suara kekehan Denis semakin dibuat bingung oleh anaknya.
“Denis kamu masih sehat kan nak?” tanya Amira takut anaknya jadi stres karena terlalu forsir bekerja.
^^^“Aku baik ma jadi jangan cemaskan aku” jawab Denis dengan suara lembut.^^^
“Apa mama kesana sana buat rawat kamu nak?” tanya Amira lagi.
^^^“Aku baik-baik saja ma dan jangan berani datang karena ini sudah terlalu larut ma” jawab Denis memperingati mamanya.^^^
“Tapi nak”
^^^“Aku ada bawahan dan anak buahku yang stand by 24 jam jika aku butuh ma. Jadi mama jangan khawatir ya” potong Denis sebelum mamanya mengatakan sesuatu.^^^
“Baiklah. Tapi mama mohon jaga kesehatanmu nak” pinta Amira.
^^^“Iya ma. Mama juga ya”^^^
“Iya nak pasti”
Denis segera mematikan panggilannya sepihak karena sudah tidak ada lagi yang ingin ia bahas, kebetulan besok juga mereka akan bertemu di hotel tempat acara ulang tahun perusahaan akan diadakan lusa nanti.
~ Kediaman Baker ~
Arkan kaget bukan main saat menuruni tangga hendak ke kolam berenang, tapi ia urungkan saat melihat kakaknya yang pulang dengan kening di perban.
“Pak Jordi tolong simpan kue dan roti kesukaan Arkan ya” ucap Leila sambil menyodorkan plastik belanjaannya ke pak Jordi kepala pelayan disana.
“Baik nona muda” ucap pak Jordi menerima plastik dari Leila.
“Terima kasih ya pak”
“Sama-sama nona muda”
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Leila kembali melanjutkan langkahnya, tapi seketika ia berhenti saat akan naik ke tangga melihat adiknya yang sedang menatapnya dengan cemas dan mata berkaca-kaca.
“Kamu kenapa dek?” tanya Leila sambil tersenyum manis.
“Kening ka Leila kenapa?” tanya balik Arkan menunjuk keningnya.
“Oh ini! Hanya luka kecil saja dek jadi jangan khawatir ya” jawab Leila sambil meraba keningnya yang di perban.
“Luka kecil? Ka aku bukan anak kecil yang bisa kakak bohongi dan aku tahu luka itu bukan luka kecil ka” hardik Arkan dengan suara tinggi.
Leila, pak Jordi, dan para pelayan yang berada disana, kaget bukan main saat mendengar suara Arkan yang meninggi. Baru kali ini mereka mendengar dan melihat tuan muda kedua mereka berbicara dengan suara tinggi seperti itu.
“Arkan kakak tidak bohong sayang. Ini hanya luka kecil saja dek” ucap Leila dengan suara lembut.
“Apa karena aku introvert dan penakut sehingga kakak tidak ingin mengatakan yang sebenarnya?” tanya Arkan dengan suara bergetar.
“Bukan begitu maksud kakak Arkan. Kamu jangan berpikir seperti itu dek karena kakak tidak pernah menganggap kamu seperti itu” jawab Leila dengan tatapan lembut.
Hiks……………hiks………….hiks…………..hiks………….
Leila lalu menghampiri Arkan dan memeluknya dengan erat saat melihatnya menangis.
Keduanya berpelukan sambil menangis di anak tangga, pak Jordi yang melihat hal itu juga ikut menangis karena ia tahu bagaimana kasih sayang semua anak majikannya dari dulu.
Tuan muda pertama saya harap tuan muda cepat sadar karena kedua adik tuan sangat membutuhkan sosok tuan muda saat ini, batin pak Jordi.
Setelah agak tenang Leila lalu menceritakan bagaimana ia bisa mendapat luka di keningnya dengan jujur tidak ada yang disembunyikan dari Arkan.
Saat mendengar cerita kakaknya, entah kenapa ia merasa sangat tidak berguna karena tidak bisa membantu dan melindungi sang kakak.
Sepertinya besok aku harus menghubungi ka Denis, batin Arkan penuh tekad.
Waktu berlalu dengan sangat cepat dan saat ini Denis sedang mendengar semua ceramah dari mamanya, saat Amira melihat tangan anaknya di perban saat bertemu di hotel Hilton.
Denis duduk sambil menutup mata tapi telinganya terasa sangat panas, karena hampir satu jam ia diceramahi oleh mamanya karena melukai tangannya sendiri dengan alasan yang tak masuk akal.
“Ma cukup aku tahu apa yang aku lakukan ma” ucap Denis dengan suara lembut.
“Mama hanya tidak ingin kamu menyakiti diri kamu seperti itu nak” ucap Amira dengan tatapan sendu.
“Ya aku tahu ma tapi ini semua hanya kecelakaan kecil saja jadi mama jangan khawatir ya” balas Denis sambil mengelus tangan mamanya dengan lembur.
“Iya nak”
Tak berselang lama Amira segera pergi keluar dari kamar anaknya karena akan bertemu dengan ibu Sandro, ibu angkat Rian, dan ibu Arsen di restoran hotel. Karena sudah lama mereka tidak berbincang-bincang, karena sibuk dengan urusan rumah tangga mereka.
“Bos” panggil Sandro setelah masuk ke dalam kamar president suit yang ditempati Denis.
“Suruh semuanya berkumpul disini 1 jam lagi” titah Denis dengan suara dingin.
“Baik bos”
“Oh kamu jemput bocah kemarin di lobby hotel dan bawa dia kesini” ucap Denis memberi perintah mengingat pesan yang dikirim Arkan tadi pagi.
“Sekarang bos?” tanya Sandro.
“Heemmm” deham Denis sambil mengangguk kepala.
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
Sandro bergegas keluar dari kamar Denis menuju lobby hotel untuk menjemput Arkan. Saat hendak masuk ke dalam lift ia dengan cepat menarik tangan Arsen dan Rian yang hendak keluar dari lift untuk masuk kembali ke dalam lift.
“Aku ingin menemui bos dude” ucap Arsen dengan suara dingin.
“Bos menyuruh kita semua kesana 1 jam lagi” ucap Sandro dengan cepat.
“Oh”
“Hey bocah empat mata. Kamu tahu siapa kekasih bos?” tanya Sandro dengan cepat.
“Kekasih bos?” tanya balik Arsen dengan alis sebelah terangkat.
“Kamu tidak tahu kalau bos sudah punya kekasih?” tanya Sandro dengan penasaran.
“Aku baru dengar hal ini dari kamu” jawab Arsen dengan jujur.
“Rian kamu tahu hal ini?’ tanya Sandro sambil menatap Rian.
“Aku tahu” jawab Rian dengan singkat.
Seketika keduanya lalu menatap Rian dengan tatapan selidik, karena Rian mengetahui siapa kekasih bos mereka. Padahal selama ini bos mereka tidak terlihat dekat dengan perempuan mana pun selain tante Amira.
“Kekasih bos adalah presdir BakerTech” ucap Rian dengan suara dingin.
“APA” pekik keduanya dengan suara nyaring membuat Rian terlonjak kaget.
“Apa kalian pikir ini di hutan” hardik Rian dengan emosi.
“Wait wait! Dari mana kamu tahu kalau presdir BakerTech itu kekasih bos?” tanya Arsen dengan penasaran.
“Kamu tidak sedang membohongi kami kan?” tanya Sandro dengan selidik.
“Terserah kalian mau percaya atau tidak” jawab Rian dengan santai.
Sandro dan Arsen menatap Rian dengan tak percaya mendengar jawaban Rian yang santai dan berlenggang keluar dari lift saat tiba di lantai satu. Keduanya yang masih sangat penasaran segera mengikuti Rian menuju cafe yang berada di lobby hotel.
“Katakan dengan jujur bagaimana kamu tahu kalau pacar bos adalah presdir BakerTech” ucap Sandro dengan suara dingin dan tegas.
Rian menatap keduanya saling bergantian dan menceritakan apa yang terjadi setelah mereka meeting bersama Austin Smith waktu itu di hotel ini.
Mendengar cerita Rian, keduanya akhirnya percaya kalau kekasih bos adalah wanita yang sempat mereka kagumi saat pertama kali bertemu.
“Aku tidak menyangka bos akan bergerak secepat itu” ucap Sandro sambil tersenyum penuh arti.
“Apa dia gadis yang baik?" tanya Arsen yang belum percaya sepenuhnya dengan Leila.
“Menurutku dia gadis yang baik dan cocok dengan bos” jawab Rian.
“Aku belum bisa mempercayai begitu saja. Ingat selalu jaga bos dan pantau semua yang mendekati bos” ucap Arsen dengan suara tegas.
“Itu sudah pasti” jawab Sandro dan Rian dengan serentak.
Brak…………..
Sandro memukul meja dengan kuat mengagetkan Rian dan Arsen disana. Keduanya lalu melihat Sandro dengan tatapan penuh tanda tanya menanyakan apa yang terjadi dengannya.
“F**k! Aku lupa dengan perintah yang bos suruh barusan” maki Sandro dengan kesal.
“Well! Selamat menikmati hukuman dari bos dude” balas Arsen sambil tersenyum menyeringai.
“Lebih baik kamu segera pergi sebelum bos semakin menunggu lama” ucap Rian sambil menunjuk jam tangannya memberi isyarat jika waktu terus berjalan.
“Sialan” umpat Sandro sambil berlari keluar dari dalam cafe dengan langkah panjang.
Sampainya di lobby ia mengedarkan pandangannya dan melihat Arkan yang sedang berdiri di sudut lobby, sambil menunduk menunggu orang yang akan menjemputnya seperti ucapan Denis di pesannya.
“Kamu bocah ikut aku” ucap Sandro dengan suara tegas mengagetkan Arkan.
Ehhh………..
...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...
To be continue………………..