Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 129


Pikiran Leila berkelana kemana-mana memikirkan apa maksud mama Amira tidak memberitahu siapa sebenarnya dia di sini.


Apa mama malu mengakui aku didepan sahabat almarhum papa, batin Leila.


Simon terus mengajak Leila untuk bercerita tapi hanya dibalas singkat saja oleh Leila. Ia hanya tersenyum manis saat ditanya dan menjawab singkat saat ada yang bertanya.


Seila yang duduk berhadapan dengan Leila mengerutkan keningnya melihat Leila yang sepeti orang sedang berpikir keras.


Aku rasa ka Leila tidak nyaman saat ini, batin Seila dengan curiga.


"Ayok kita sarapan" ajak Amira setelah bi Eda menghidangkan semua menu sarapan di meja makan.


"Wah makanannya terlihat sangat enak" ucap Simon sudah tak sabar ingin mencicipi makanan di depannya.


"Amira dimana Denis?" tanya Roy.


"Denis masih tidur. Nanti dia bangun baru sarapan" ucap Amira memberitahu.


"Tante Adrian juga belum bangun sama Arkan" ucap Simon.


"Loh Arkan nginap disini juga ya?" tanya Amira dengan kaget.


"Iya tante. Semalam Arkan datang udah malam banget aku sampai tidak tahu dia datang jam berapa" jawab Simon.


"Bi semalam bibi yang bukain pintu buat Arkan ya?" tanya Amira menoleh ke bi Eda.


"Iya nyonya, jam 01 dini hari den Arkan datang nyonya" jawab bi Eda.


"Siapa Arkan dan Adrian?" tanya Rio yang tak mengenali keduanya.


"Arkan itu adik kandung Leila sedangkan Adrian sahabat Denis sejak mereka duduk di bangku SD" jawab Amira.


"Oh"


Mereka lalu sarapan bersama dalam hening, selesai sarapan Leila memilih ke taman menunggu dokter Bimo yang akan menganti perban di tubuh Leila sekaligus memeriksa keadaannya.


Tak lama dokter Bimo datang bersama Seila dan juga Seina yang ingin berkenalan lebih jauh dengan Leila.


"Selamat pagi nona Leila. Bagaimana kabar nona?" tanya Bimo dengan sopan.


"Pagi juga dok. Jauh lebih baik dari kemarin dok" jawab Leila sambil tersenyum manis.


"Baguslah nona. Biar saya periksa dulu luka-luka nona dan menganti perbannya"


"Iya silahkan dok"


Bimo lalu memeriksa kondisi Leila tak lupa menganti perban di lukanya dan memberikan salep khusus lebam.


Selesai memeriksa kondisi Leila ia segera pamit pulang, karena harus mengurus beberapa pekerjaan di markas dan juga memantau perkembangan sang ibu yang semakin hari ada kemajuan.


"Ka Leila umur berapa sekarang?" tanya Seina dengan penasaran.


"Aku 23 tahun ini" jawab Leila dengan suara lembut.


"Wah kakak masih muda sekali tapi sudah jadi seorang presdir ya. Aku kira kakak itu masih kuliah"


"Aku hanya mengantikan posisi kakak aku saja saat ini. Mau di bilang aku itu sebenarnya penganguran sih" ucap Leila dengan suara lembut dan ayu.


"Pasti ka Leila tidak kuliah ya. Enak juga ya hidup kakak hanya berleha-leha di rumah" ucap Seina terdengar sinis.


"Seina" ucap Seila memperingatinya tak suka mendengar ucapan kakak kembarnya yang sangat kentara mengejek ka Leila.


Seina menatap kembarannya dengan tatapan tajam memperingatinya untuk tidak ikut campur. Leila sendiri tersenyum manis menatap keduanya meski ia tahu jika ucapan Seina tadi mengejeknya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


"Jadi kalian umur berapa sekarang?" tanya Leila tidak mau termakan dengan ucapan Seina barusan.


"Kita umur 20 ka" ucap Seila dengan sopan.


"Oh berarti seumuran dong dengan Arkan. Kalian berarti masih kuliah dong" tebak Leila.


"Iya kita kuliah. Tidak seperti kakak yang tidak kuliah!" ucap Seina dengan sinis.


Mata Seila melotot tajam menatap kembarannya untuk tidak mengatakan hal seperti itu kepada ka Leila. Sedangkan orang yang menjadi bahan cemooh Seina hanya tersenyum manis menatapnya.


"Aku menyelesaikan kuliahku diumur 20 tahun karena sejak SMP aku mengikuti kelas akselerasi" ucap Leila.


Skakmat..............


Seina dibuat tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Leila yang membungkamnya karena sudah merendahkan pendidikannya.


Rasian kamu Na! Jangan menilai orang dari penampilan luarnya saja Seina, batin Seila tersenyum mengecek kembarannya.


"Ka Leila ternyata anak angkat aunty ya" ucap Seina mengalihkan pembicaraan tentang pendidikan.


"Ya begitulah" ucap Leila tak mau mengklarifikasi ucapan mama Amira tadi.


"Baguslah. Aku kira kakak itu pacar ka Denis karena jika itu terbukti maka kakak mending mundur saja karena aku dan ka Denis sudah dijodohkan sejak kedua orang tua kami duduk di bangku kuliah" ucap Seina dengan percaya diri.


Deg...............


Jantung Leila seperti di pukul hamar dengan kuat mendengar ucapan Seina tentang perjodohan dirinya dengan Denis yang sudah di atur sebelum mereka lahir.


"Dijodohkan?" tanya Leila dengan kaget.


"Iya ka. Kedatangan kami kesini bukan hanya mencari keberadaan keluarga uncle Demian tapi juga ingin membahas mengenai janji perjodohan yang sudah dibuat kedua orang tua kami sebelum kami lahir" jawab Seina dengan antusias.


Wajah Leila seketika pucat mendengar ucapan Seina barusan. Pikirannya melayang tidak konsen lagi mendengar apa yang sedang diucapkan oleh Seina.


Seila yang melihat perubahan wajah ka Leila segera memegang tangannya untuk mengecek kondisi Leila.


"Ah! Kenapa?" tanya Leila dengan kaget saat tangannya disentuh.


"Apa kakak sakit? Wajah kakak sangat pucat" ucap Seila dengan cemas.


"Uhmm.........aku hanya pusing saja" jawab Leila dengan suara bergetar.


"Aku masuk ke dalam dulu" tambahnya lagi segera bergegas pergi tidak menunggu jawaban keduanya.


"Kenapa ka Leila?" tanya Seina dengan bingung.


"Jaga ucapan kamu lain kali Seina! Ucapan kamu tadi sangat keterlaluan!" tegur Seila dengan suara tinggi.


"Ckk!! Memangnya apa salah aku? Aku itu ngomong sesuai fakta" balas Seila dengan suara tak kalah tinggi.


"Sekali lagi kamu bicara seperti itu ke ka Leila aku akan mengadukan kamu ke Daddy!" ucap Seila memperingatinya dengan tegas.


Seila segera pergi dari sana meninggalkan saudara kembarnya karena tidak suka dengan cara bicara Seina yang menghina orang lain.


"Ckk!! Semua karena gadis sialan itu!" ucap Seina dengan kesal sambil menatap kepergian Seila.


Didalam rumah Leila segera menuju kamar Amira dengan perasaan hancur dan hati yang terasa sangat sakit.


"Sayang kamu mau kemana?" tanya Amira saat hendak keluar kamar.


"Aku mau tidur ma. kepala aku pusing ma" jawab Leila sambil menunduk.


"Sudah ma. Aku tidur dulu ya ma" jawab Leila bergegas masuk ke dalam kamar.


Amira mengerutkan kening melihat Leila yang tergesa-gesa masuk ke dalam kamar. Tapi ia pikir jika mungkin kepala Leila sakit jadi bertingkah seperti itu.


Sebelum berangkat ke restoran Amira sudah menitip pesan kepada bi Eda untuk mengecek kondisi Leila setiap satu jam dan juga menyiapkan sarapan buat Denis, Arkan, dan Adrian.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Tepat pukul 10:00 pagi Denis keluar dari kamar dengan pakaian lengkap, ia merasa badannya sangat segar karena semalam bisa tidur dengan nyenyak.


"Kamu mau ke perusahaan dude?" tanya Adrian saat keluar dari kamar mendapati Denis yang juga baru keluar dari kamar.


"Heemmm" deham Denis dengan suara dingin.


Keduanya lalu menuju ke bawah untuk sarapan sebelum melakukan aktifitas mereka. Sampainya di meja makan ternyata Arkan sedang sarapan.


"Pagi bos" sapa Arkan.


"Hey bocah apa kamu tidak melihat aku juga disini!" hardik Adrian dengan kesal saat Arkan hanya menyapa Denis saja.


"Kakak tidak penting" sarkas Arkan dengan sinis.


"Awas kamu bocah sebentar aku akan memberimu pelajaran" ketus Adrian sambil menunjuk Arkan dengan sinis.


"Ckk!!!" decak Arkan dengan sinis tidak takut sama sekali.


Ketiganya lalu sarapan dengan hening dan setelah sarapan Denis segera berlalu pergi tapi langkahnya terhenti saat mengingat Leila yang belum ia lihat sedari tadi.


"Dimana Leila?" tanya Denis dengan suara dingin ke bi Eda.


"Non Leila sedang tidur den katanya kepalanya pusing" jawab bi Eda.


Denis segera menuju ke kamar sang mama mengkhawatirkan Leila, Seila yang baru saja masuk ke dalam rumah mengerutkan keningnya melihat wajah ka Denis yang terlihat sangat cemas mendengar berita tentang ka Leila.


Aku yakin ka Leila bukan anak angkat aunty Amira, batin Seila.


Cup................


Prang.................


Arkan menjatuhkan gelas ke lantai saat melihat Sandro yang baru datang langsung mencium perempuan yang tidak ia kenali begitu juga dengan Adrian yang sampai menganga.


Sedangkan Seila yang di cium barusan mematung tak menyangka jika ia akan mendapat ciuman seperti kemarin dulu dari kekasihnya.


"Miss you sweety" ucap Sandro sambil tersenyum manis.


"Ka sand......ro" ucap Seila terbata-bata karena gugup.


"Call me honey" (panggil aku sayang) ucap Sandro dengan tatapan tajam.


"KA SANDRO" pekik Arkan dengan suara melengking.


"Cih! Bocah berisik itu lagi" decih Sandro sambil menatap Arkan dengan tatapan tajam karena mengganggunya.


"Kalian" ucap Adrian menunjuk keduanya.


"Dia pacar aku Seila" ucap Sandro dengan santai.


"Sejak kapan ka? Kenapa aku tidak tahu? Ka Sandro ketemu dia dimana dan sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Arkan beruntun dengan penasaran.


"Bocah nanti aku jelaskan" jawab Sandro.


"Dimana bos?" tanya Sandro sambil memeluk pinggang Seila dengan posesif.


Adrian menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Sandro yang sangat posesif seperti Denis. Sedangkan Seila ia berharap orang tuanya dan saudaranya jangan pulang dulu dan melihat dia yang seperti ini.


sedangkan didalam kamar Denis mengelus pipi Leila dengan lembut. Tiba-tiba ia mengerutkan keningnya saat melihat jejak air mata Leila yang sudah kering.


Kenapa dia menangis, batin Denis dengan penuh tanda tanya.


Ingin sekali ia bertanya kenapa Leila menangis tapi ia urungkan karena Leila sangat nyenyak sekali tidurnya.


Cup...............


Denis mencium kening dan bibir Leila sebelum pergi. Saat pintu kamar sudah tertutup mata Leila tiba-tiba terbuka dan seketika air matanya mengalir dengan deras.


Apa kamu menerima perjodohan itu Denis? Lalu bagaimana dengan aku, batin Leila dengan hancur.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


~ BakerTech ~


Sandro yang mengambil alih tugas Leila selama ia tidak masuk segera menyuruh Alin untuk memberitahu wakil direktur membuat konferensi pers mengenai skandal Leila.


Ia juga menyelidiki lanjut siapa-siapa saja yang terbukti korupsi selama ini dan mengumpulkan bukti-buktinya untuk diberikan kepada Leila setelah ia masuk kembali.


"Tuan Sandro. Para pemegang saham meminta untuk mengadakan rapat darurat secepatnya untuk menunjuk siapa yang harus menduduki kursi direktur dan CEO yang kosong saat ini" lapor Alin.


"Jadwalkan rapatnya nanti seminggu lagi" balas Sandro dengan suara tegas.


"Baik tuan Sandro"


~ DA Corp ~


Denis sedang mendengar laporan penyerangan markas Kenzo semalam dari Arsen dan juga Max saat ini.


Ia tersenyum smirk mendengar informasi dari Arsen yang memberitahu tentang detektif Gilang semalam yang meminta bertemu dengannya.


"Bagaimana kondisi sialan itu?" tanya Denis dengan suara dingin.


"Kondisinya sangat sekarat bos dan aku yakin dia tidak akan bertahan lama" jawab Arsen.


"Bos aku rasa Ando akan di panggil untuk diselidiki tentang kasus Kenzo yang seorang pengedar narkoba" tambahnya lagi.


"Jika sialan itu mati sebelum persidangannya maka tutup semua keterlibatan Ando dengan dia. Tapi jika dia masih hidup kamu tahu apa yang harus kamu lakukan" titah Denis dengan tatapan tajam.


"Ya bos aku tahu"


"Max malam nanti kamu berangkat ke Jepang dan hancurkan bisnis Mr.Yamoto yang sudah berani mencuri kontainer senjataku" ucap Denis dengan suara tegas.


"Baik bos"


"Arsen kamu dan Sandro yang akan pimpin penyerangan ke markas Elang Putih besok malam" ucap Denis dengan suara tegas.


"Siap bos"


Arsen dan Max lalu keluar dari ruangan Denis saat ia memberi isyarat tangannya untuk keluar. Tak berselang lama Rian masuk sambil membawa berkas laporan yang harus ditanda tangani Denis.


Sedangkan di lobby perusahaan Austin turun dari mobil mewahnya bersama Kenneth tangan kanannya ingin menemui Denis sebelum ia pulang ke Amerika siang nanti.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue.................