
Jadi Dante Constanzo sudah mati, batin Simon dengan kaget.
Ia tidak menyangka ada orang yang berani mengirim kepala Dante ke daddynya, apa lagi ia tahu kalau Dante Constanzo adalah seorang mafia yang terkenal sangat kejam dan berbahaya.
Apa benar ini semua kerjaan Denis, batin Simon penuh tanda tanya.
Simon bergegas pergi dari sana tak ingin daddynya tahu jika ia mengintip mereka. Sedangkan didalam ruang kerja Roy saat ini wajahnya merah padam menandakan ia sangat emosi.
"Beraninya kamu membunuh orang aku" hardik Roy dengan suara tinggi.
"Apa hanya kepalanya saja?" tanya Roy dengan sorot mata tajam menatap kepala pelayan.
"Hanya ada paket itu saja tuan" jawab kepala pelayan.
"Bakar kepala Dante dan ingat jangan ada yang sampai mengetahui hal ini! Jika tidak kamu tahu akibatnya!" ancam Roy dengan sorot mata tajam.
"Saya tahu tuan. Lagian saya tidak pernah melihat hal ini" balas kepala pelayan dengan suara tegas.
Kepala pelayan segera pegri dari sana membawa kepala Dante yang sudah dimasukkan kembali ke kotak hitam tadi.
Kring.............
Mata tajamnya menatap hp di sampingnya dimana tertera nama Luca Othello.
^^^"Halo"^^^
"Dante saat ini berada di tangan Pablo Ulrico Mr. Martinez" ucap Luca dari sebrang.
^^^"Pablo Ulrico?" tanya Roy dengan suara dingin.^^^
"Iya Mr. Martinez. Dia barusan mengirimkan flash berisi video penyiksaan Dante" jawab Luca dengan cepat.
^^^"Apa kamu yakin itu Pablo Ulrico yang melakukannya dan bukan Denis Arkana?" tanya Roy dengan bingung.^^^
"Benar Mr. Martinez. Dia sendiri yang memberikan flash berisi video tersebut ke Sandy asisten Mr. Draw" jawab Luca.
^^^"Berengsek! Berarti dia juga yang mengirimkan kepala Dante ke mansion aku" hardik Roy dengan suara tinggi.^^^
"Hah! Apa maksud anda Mr. Martinez? Memangnya apa yang terjadi dengan kepala Dante?" tanya Luca beruntun dengan kaget.
^^^"Dante sudah meninggal dan barusan ada yang mengirim kepala Dante lewat paket kepadaku dengan nama pengirim Dante" jawab Roy.^^^
"Apa" pekik Luca dengan kaget dari seberang.
"Berengsek kamu Pablo! Aku akan membunuhmu sialan!" hardiknya lagi dengan emosi.
^^^"Lebih baik kalian segera pulang kesini biar Pablo tidak bisa mengusik kalian disana" ucap Roy dengan cepat.^^^
"Aku tidak akan pulang sebelum aku memberi pelajaran kepada sialan itu Mr. Martinez. Jika kami pulang sekarang otomatis dia akan merasa senang" ucap Luca dengan suara dignin.
^^^"Baiklah jika itu maumu tapi ingat untuk selalu berhati-hati. Aku akan mengirim pasukan tambahan untuk kamu dan Mr. Draw"^^^
"Baik Mr. Martinez"
Roy lalu mematikan panggilannya sepihak dan segera mengirim pesan kepada anggota Nine Cloud untuk bertemu di markas mereka saat ini juga.
~ Markas Nine Cloud ~
Saat Roy dan 4 orang petinggi di perkumpulan Nine Cloud sudah berada didalam ruang pertemuan di markas Nine Cloud dan hanya Mr. Yuri saja yang tidak hadir karena berada di Belanda saat ini.
Mereka berlima diam dengan pikirkan masing-masing setelah Roy memberitahu apa yang terjadi kepada Dante di Indonesia, tak lupa dengan paket yang ia terima di mansion beberapa jam yang lalu.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
"Jadi dimana anggota tubuhnya yang lain?" tanya Sanches setelah lama hanya ada keheningan.
"Aku tidak tahu. Tapi aku yakin jika anggota tubuhnya yang lain sudah tidak ada lagi" jawab Roy dengan suara dingin.
"Sial! Bagaimana bisa dia sudah berada di Indonesia. Aku yakin pasti dia sudah memberitahu Denis Arkana mengenai perkumpulan kita" sarkas William dengan suara tinggi.
"Itu sudah pasti. Berarti ksempatan untuk mendapat sidik jadi dan darahnya akan semakin sulit" tambah Henry.
"Apa rencana anda sekarang Mr. Martinez?" tanya Sanches.
"Kita akan bergerak menyerang Denis untuk mendapatkan darah dan sidik jarinya dengan cara apapun. Lagian hanya dia satu-satunya harapan kita untuk mendapat harta peninggalan Demian" jawab Roy dengan saura tegas.
"Sebaiknya kita culik ibu atau istrinya agar bisa bernegosiasi dengan dia" usul Henry.
"Lakukan apapun yang penting ada hasily. Tapi sebelum itu kita singkirkan Pablo Ulrico terlebih dahulu" balas Roy dengan suara tegas.
"Ya anda benar Mr. Martinez karena dia adalah orang yang paling berbahaya untuk kita sedari dulu. Apa lagi jika dia buka mulut di publik, itu akan menjadi pukulan terbesar untuk kita" ucap Sanches.
"Kalau begitu kita hancurkan kelemahan dia terlebih dahulu karena setelah itu dia tidak bisa berkutik lagi" usul William.
"Ide anda boleh juga Mr. Richie" ucap Martin yang sedari tadi diam.
"Aku akan mengirim pasukan tambahan untuk Mr. Othello dan Mr. Draw di Indonesia. Malam ini juga aku akan mengirim pembunuh bayaran untuk Pablo Ulrico dan keluarga Denis Arkana" ucap Roy dengan suara tegas.
"Oke" ucap mereka semua serentak setuju.
Mereka lalu bergegas pergi dari markas setelah membahas tentang Dante. Malam itu juga Roy Martines mengirim pasukan tambahan untuk Luca dan Alan, tak lupa pembunuh bayaran untuk melenyapkan kedua anak Pablo dan manculik istri dan mama Denis.
~ Rose Hotel ~
Saat ini Amira sedang memantau makanan buatannya di dalam ballroom hotel Rose, karena semua hidangan untuk acara pernikahan saat ini adalah masakan dari restorannya.
"Anisa kamu cek semua makanan jika ada yang habis segera beritahu pak Roni untuk mengisi ulang" titah Amira dengan suara tegas.
"Baik nyonya" ucap Anisa segera melakukan perintah Amira.
Amira berlalu pergi mengecek semua makanan di meja hidangan. Saat melihat para tamu yang terlihat senang saat menikmati makanannya, ada rasa bangga dan senang dalam dirinya.
Aku tidak pernah menyangka akan berdiri disini hari ini, batin Amira dengan sedih.
Suasana pesta yang sangat meriah dengan banyak tamu hadiran membuat Amira dan semua karyawannya terlihat sangat sibuk sekali.
4 Jam kemudian
Pesta sudah selesai dan tersisa petugas hotel dan pelayan restoran Amira yang masih berlalu-lalang didalam ballroom hotel.
"Semuanya harap berkumpul disini" ucap Anisa dengan suara tegas.
Semua pekerja D&A Resto segera berkumpul ditengah-tengah ballroom. Melihat semuanya sudah berkumpul Amira lalu memberikan pengumuman kepada semua pekerja di restoran miliknya.
"Terima kasih atas kerja keras kalian semua hari ini. Dan aku sangat bersyukur karena tanpa kalian semua mungkin acara ini tidak akan berhasil. Karena semuanya sudah bekerja keras hari ini maka aku memberi kalian semua libur selama dua hari dan kalian bisa mengajak keluarga kalian untuk menginap di hotel dengan gratis selama 2 hari" ucap Amira dengan suara lantang.
Yeaaayy...............
Prok..............prok.........prok..........
Riuh tepuk tangan dan teriakan senang dari semua pekerja restoran bergema didalam ballroom.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
Terima kasih nyonya
Nyonya kami menyayangi anda
Nyonya semoga sehat selalu
Nyonya memang terbaik
Amira tersenyum manis mendengar pujian pegawainya. Ia tahu kalau itu pujian yang tulus dari mereka bukan karena mendapat bonus darinya.
Setelah itu Amira bergegas pergi dari ballroom menuju kamar untuknya di lantai 50. Saat hendak masuk ke dalam lift ia mengernyitkan keningnya melihat Anisa yang masih mengikutinya.
"Sudah tidak usah mengantar aku Anisa. Kamu segera istirahat karena aku tahu kamu sangat capek" ucap Amira dengan suara lembut.
"Saya akan mengantar nyonya sampai ke depan kamar barulah saya pulang nyonya" tolak Anisa dengan suara tegas.
Amira mengangguk kepalanya tak menyuruhnya untuk segera pulang, karena tahu kalau itu percuma saja.
Setelah melihat sang nyonya sudah masuk ke dalam kamar khusus untuknya, Anisa segera pergi menuju kamar untuknya di lantai 20.
Ting...............
Mas Rianโค๏ธ
"Aku baru saja sampai didepan hotel sayang"
^^^"Iya mas. Aku juga baru habis ngantar nyonya ke kamarnya dan ini mau menuju ke kamar mas" balas Anisa sambil tersenyum manis.^^^
"Oke sayang. Mas ketemu dulu sama manajer hotel baru menuju ke sana"
^^^"Iya mas aku tunggu"^^^
Anisa tersenyum manis sudah tidak sabar ingin pergi bersama kekasihnya entah kemana. Sedangkan di lobby hotel, Rian sedang berbicara dengan manajer hotel menanyakan bagaimana acara tadi.
"Segera bersihkan ballroom untuk acara besok dan jangan lupa untuk mengatur semua pelayanan hotel dengan baik" titah Rian dengan suara dignin.
"Baik tuan Rian"
"Oh jangan biarkan siapapun naik ke lantai khusus nyonya besar selain kekasihku dan pengawal nyonya besar" ucap Rian dengan suara tegas.
"Baik tuan Rian akan saya mengerti" balas sang manajer dengan suara tegas.
Rian bergegas pergi dari sana tapi tak lama mata tajamnya menangkap keberadaan dua orang yang mencurigakan.
Dengan cepat ia segera menghubungi tim keamanan hotel untuk terus memantau kedua orang itu. Mendapat perintah dari sekretaris bos besar bagian tim keamanan segera memantau pergerakan kedua orang tersebut.
~ Mansion Ulrico ~
"Daddy" pekik Geby Ulrico putri Pablo dengan suara melengking dari lantai dua.
"Kenapa sayang?" tanya Pablo dengan suara lembut.
"Kata om Vito kita akan tinggal dan bersekolah disini ya daddy?" tanya Gaby sambil duduk di pangkuan daddynya.
"Benar sayang" jawab Pablo sambil mengelus kepala sang putri dengan lembut.
"Daddy yakin kita tidak akan kembali ke pulau lagi?" tanya Gio dengan suara dingin.
Pablo menatap putranya yang duplikat dirinya dari wajah hingga sifat keduanya. Ia mengangguk kepala menjawab pertanyaan putranya karena memang mulai sekarang mereka tidak akan kembali ke pulau pribadi miliknya.
"Jangan bilang daddy sudah menemukan keluarga uncle Demian" tebak Gio dengan mata memicing.
"Tepat sekali tebakan kamu son" balas Pablo dengan cepat.
"Beneran daddy? Jadi kita akan bertemu dengan keluarga uncle Demian ya?" tanya Geby dengan cepat.
"Iya sayang. Nanti daddy akan mengajak kalian untuk bertemu dengan mereka" jawab Pablo dengan suara lembut.
Ketiganya lalu bercerita hingga tengah malam barulah mereka tidur. Setelah melihat kedua anaknya sudah tidur Pablo bergegas masuk ke dalam ruang kerja diikuti Vito.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
"Apa ada berita terbaru dari sana?" tanya Pablo dengan suara dingin.
"Mereka mengirim pasukan tambahan dengan jumlah yang banyak untuk Mr. Othello dan Mr. Draw bos" jawab Vito.
"Berarti mereka sudah mulai bergerak. Aku yakin target mereka adalah keluargaku dan keluarga Denis" tebak Pablo dengan sorot mata tajam.
"Benar bos. Menurut mata-mata kita mereka berencana ingin menghabisi tuan muda dan nona muda bos" papar Vito menjelaskan.
"BANGSAT!" bentak Pablo dengan suara tinggi.
"Perketat penjagaan kedua anakku mulai besok dan taruh pengawal yang banyak untuk melindungi kedua anakku" titah Pablo dengan suara tegas.
"Baik bos" balas Vito.
Vito segera keluar dari ruang kerja Pablo untuk menyiapkan pengawal tambahan untuk kedua anak sang bos. Sedangkan Pablo ia segera mengambil hpnya dan menelpon Denis.
"Heemmm" deham Denis dengan suara dingin dari seberang.
^^^"Maaf om menganggu tidurmu Denis"^^^
"Katakan" ucap Denis dengan suara dingin dari seberang sana.
^^^"Mereka sudah mulai bergerak dan mereka berencana untuk membunuh kedua anakku dan menculik keluargamu" ucap Pablo to the ponit.^^^
"Heemmm! Jam 13:00 siang di restoran mamaku"
Belum juga menjawab ucapan Denis ternyata panggilannya sudah dimatikan oleh Denis dengan sepihak dari seberang.
"Tidak anak tidak ayah sama saja kelakuan mereka" gumam Pablo sambil menggelengkan kepalanya.
~ Mansion Denis Arkana ~
Setelah menerima telpon dari Pablo, tatapan mata Denis terlihat sangat tajam seperti ingin membunuh seseorang detik ini juga.
Denis menatap Rayen, Arkan, Arsen, dan Sandro dengan tatapan tajam karena seharian ini mereka berada di mansion Denis.
"Ada apa?" tanya Rayen dengan suara dingin.
"Sepertinya aku akan kedatangan tamu tak diundang" jawab Denis sambil tersenyum menyeringai seperti iblis.
Glek...............
Semua disana menelan saliva mereka dengan susah merasakan aura Denis yang sangat mengintimidasi. Apa lagi tatapan matanya yang terlihat seperti monster berdarah dingin membuat semua disana bergidik ngeri.
...๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ ๐ผ...
To be continue................