Penyesalan Anak Durhaka

Penyesalan Anak Durhaka
PAD | BAB 57


Leila menunduk tak berani mengangkat kepalanya dengan pikiran berkecamuk memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya.


“Hubungi asisten dia” ucap Denis memberi isyarat menunjuk Leila dengan kepalanya.


“Baik bos” ucap Rian.


Rian segera menghubungi Leo asisten Leila untuk menjemputnya, sedangkan Denis menyuruh lainnya untuk keluar dari ruang kerja Arsen meninggalkan dia dan Leila, karena dia tahu Leila pasti merasa tidak nyaman berada disana.


“Denis” ucap Leila dengan gugup.


“Heemmm”


“Apa kamu tahu jika didalam minuman tadi ada sesuatu?” tanya Leila dengan cepat.


“Ya” jawab Denis dengan singkat.


“Bagaimana bisa?” tanya Leila dengan penasaran.


Denis menatap Leila dengan tajam membuat Leila menunduk takut akan tatapan Denis yang seakan ingin menelannya hidup-hidup. Sedangkan Denis yang malas berbicara lalu memanggil Arsen masuk dan menyuruhnya membajak cctv di hotel Baker pada saat jam kejadian.


Leila syok setelah melihat rekaman tersebut dimana asisten Kenzo membayar seorang pelayan di hotelnya untuk memasukkan sesuatu ke minumannya dan mengantar ke kamarnya.


Bukan hanya itu saja, tapi manajer hotel juga disuap oleh Kenzo agar memberikan kunci kamarnya kepada Kenzo.


“Bagaimana bisa mereka melakukan hal itu kepadaku?” tanya Leila dengan kaget.


“Semuanya karena kekuasaan nona Baker” jawab Arsen dengan suara dingin.


Leila tak bisa berkata apa-apa dan hanya bisa termenung membuat Denis dan Arsen saling melirik, mengatakan jika pasti ia saat ini sangat kepikiran untuk mengurus masalah seperti ini. Arsen lalu berlalu keluar meninggalkan keduanya didalam sana.


“Apa yang kamu pikirkan?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Aku ternyata lemah. Aku belum bisa seperti kakak aku untuk mengurus perusahaan daddy dan menjaga milik kami. Bagaimana aku akan melindungi keluargaku kalau aku saja tidak bisa menjaga diriku sendiri” lirih Leila dengan putus asa.


Denis bangun dan mengajak Leila untuk melihat ke arah jendela. Entah apa yang akan diperlihatkan oleh Denis hanya dia saja yang tahu.


“Kamu lihat orang itu” tunjuk Denis ke arah Tom yang sedang berjaga didekat mobilnya.


“Iya aku lihat” jawab Leila dengan cepat.


“Dulu dia adalah seorang anak jalanan yang dibuang ayah kandungnya setelah ibunya mati diracuni oleh ayahnya dan setelah itu ayahnya menikah lagi. Ia mempunyai seorang adik perempuan yang masih kecil tapi adiknya meninggal disiksa ibu tiri mereka” papar Denis menjelaskan.


“Lalu?” tanya Leila yang tertarik dengan cerita Denis.


“Aku bertemu pertama kali dengan dia saat dia akan bunuh diri di atas bangunan tua di pinggiran kota, merasa hidupnya tidak berguna karena tidak bisa melindungi adiknya. Aku waktu itu mengatakan kepada dia boleh saja dia mati saat ini, tapi pasti ibu tiri dan ayahnya akan bahagia diatas kematiannya lalu siapa yang akan membalas kematian ibu dan adik” ucap Denis sambil mengambil sebatang rokok dan menyalakannya.


Leila sebenarnya tak bisa tahan dengan asap rokok, tapi ia tidak bisa melarang Denis untuk merokok karena ia bukan siapa-siapanya.


“Kamu menyuruhnya untuk membalas dendam kepada ayah dan ibu tirinya?” tanya Leila.


“Ya” jawab Denis dengan singkat.


Glek………………


Leila menelan salivanya dengan susah mendengar jawaban Denis barusan yang tak ia sangka. Entah kenapa ia merasa Denis bukan orang sembarang dan ada sesuatu yang membuat Denis seperti itu.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


“Balas dendam paling bagus adalah tunjukkan ke orang itu kalau kamu bisa berdiri dengan jerih payahmu sendiri dan tidak butuh mereka dalam hidupmu” ucap Denis dengan suara tegas.


“Jadi” ucap Leila dengan mata melotot setelah paham maksud Denis.


“Jangan menilai sesuatu dari sampul luarnya saja” tegas Denis dengan tatapan tajam.


“Maaf” lirih Leila merasa bersalah.


“Jangan pernah menyerah dan salahkan dirimu saat masalah datang karena itu bukan salahmu” ucap Denis dengan suara dingin.


Tok………………tok………………tok…………….


“Masuk” ucap Denis saat mendengar pintu diketuk.


“Bos asistennya sudah datang” ucap Arsen dengan suara dingin.


“Kamu sudah bisa pulang” ucap Denis sambil menatap Leila dengan tajam.


Leila ingin sekali meminta nomor hp Denis dan ingin bertemu lagi dengannya, tapi ia urungkan saat melihat Denis yang sudah berbalik kembali menghadap jendela seakan memberitahunya jika ia tidak ingin berbicara dengannya lagi.


“Terima kasih Denis dan senang bertemu denganmu kembali” ucap Leila dengan tulus sambil berlalu keluar dari sana.


Denis hanya melirik sekilas dan tidak membalas ucapannya dan kembali menghisap rokok membuang semua rasa berkecamuk didalam hatinya.


Ingin rasanya ia berbicara lebih banyak lagi dengan Leila, tapi ia masih ingat dengan pengkhianatan yang ia rasakan di kehidupan sebelumnya.


Aku tidak ingin merasakan pengkhianatan itu lagi, batin Denis.


~ Kediaman Baker ~


Sampainya di kediaman mereka Leila keluar dari dalam mobil dengan langkah cepat, membuat Leo bergegas menyusulnya karena ingin mendengar penjelasannya mengenai apa yang terjadi.


“Nona muda saya mohon tolong beritahu saya apa yang terjadi?” tanya Leo dengan memohon.


“Kapan kakak akan sadar dari komanya ka Leo?” tanya balik Leila dengan tatapan sendu.


“Nona muda” ucap Leo dengan suara lirih tak bisa menjawab pertanyaan Leila barusan.


Air mata Leila menetes membuat Leo sangat frustasi karena tak bisa menjaga kedua adik tuannya dengan baik.


Leila berlalu pergi ke lantai dua menuju kamarnya meninggalkan Leo dengan wajah frustasi, tak bisa berkata apa-apa saat ini apa lagi memaksa Leila untuk berbicara mengenai apa yang terjadi barusan.


Leo memutuskan untuk pergi menghendel beberapa pekerjaan di perusahaan yang belum selesai diperiksanya. Ia membiarkan Leila malam ini tenang dan ia akan bertanya besok saja.


Tanpa keduanya sadari ternyata adik Leila yang bernama Arkan Luis Baker melihat semuanya.


“Aku anak yang tidak berguna untuk keluarga ini” ucap Arkan dengan getir berlalu masuk ke dalam kamarnya.


~ Rumah Arkana ~


Denis memilih pulang ke rumah mamanya kebetulan besok adalah weekend dan ia akan menemani mamanya pergi ke panti asuhan sesuai keinginan mamanya.


Sampainya disana bi Eda segera membuka pintu buatnya saat mendengar bunyi mobil waktu ia akan mengambil air minum di dapur.


“Den” ucap bi Eda dengan sopan.


“Mama udah tidur bi?” tanya Denis dengan suara dingin.


“Sudah dari jam 10 den” jawab bi Eda.


“Heeemmm”


“Aden mau disiapin makan?” tanya bi Eda.


“Tidak” jawab Denis dengan singkat dan berlalu naik ke lantai dua menuju kamarnya.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


Bi Eda yang sudah terbiasa dengan sikap dingin tuan mudanya, merasa biasa saja dan berlalu pergi ke kamarnya di bagian belakang untuk melanjutkan tidur.


Sedangkan Denis setelah membersihkan diri ia mengambil obat tidur yang diresepkan oleh dokter Bimo yang sudah menjadi dokter pribadinya beberapa bulan yang lalu.


Tak terasa malam pun berganti dengan pagi, membuat semua makhluk hidup sudah bangun untuk melakukan kegiatan mereka di akhir pekan.


Begitu juga dengan Denis dan mamanya yang sudah bersiap akan menuju panti asuhan, untuk memberikan bantuan sembako dan donasi setiap bulannya.


“Udah semuanya ma?” tanya Denis dengan suara lembut.


“Sudah nak. Ayok kita berangkat” ajak Amira.


“Heemmm”


~ Panti Asuhan Harapan ~


Setibanya di panti asuhan Harapan keduanya langsung disambut oleh ibu Lina pengurus panti asuhan tempat Amira berdonasi selama ini.


Anak-anak panti asuhan yang melihat kedatangan Amira sangat bahagia, karena biasanya mereka akan mendapat mainan dan buku pelajaran saat ia datang.


“Terima kasih nyonya Amira karena sudah berdonasi di panti asuhan kami selama ini” ucap ibu Lina dengan tulus.


“Sama-sama bu Lina, lagian ini juga bentuk kepedulian sesama manusia” balas Amira dengan suara lembut.


“Ini anaknya ya nyonya?” tanya ibu Lina menunjuk Denis yang sedari tadi diam saja.


“Iya bu Lina. Kenalkan ini anak saya satu-satunya namanya Denis bu” ucap Amira dengan sopan.


“Wajahnya bule ya bu ganteng pula” ucap bu Lina sambil tertawa.


“Gen dari papanya bu Lina! Hehehehe” ucap Amira sambil terkekeh.


“Selamat datang ya nak di panti asuhan kami. Kenalin saya ibu Lina yang menjadi pengurus di tempat ini” ucap ibu Lina dengan sopan.


“Denis” balas Denis dengan suara dingin dan tegas.


Amira tersenyum getir meminta maaf atas kelakukan anaknya yang berlaku dingin kepada bu Lina dan hanya dibalas anggukan kepala saja, karena ia sudah biasa menghadapi sifat orang yang seperti Denis selama ini.


“Ma aku tunggu diluar ya” ucap Denis dengan suara lembut.


“Iya nak”


Denis berlalu pergi dari ruangan bu Lina dengan langkah tegap merasa tidak betah didalam sana.


Saat keluar dari ruangan bu Lina matanya menatap sekeliling bangunan panti asuhan dan mengernyitkan kening melihat bangunan panti yang sudah sangat tidak layak untuk ditempati.


Bukannya mama setiap bulan memberi donasi ke tempat ini dengan jumlah yang sangat besar ya, batin Denis dengan bingung.


Arsen


^^^“Selidiki pengurus panti asuhan Harapan tempat mama aku donasi”^^^


“Baik bos”


Denis tak membalas lagi pesan Arsen hanya membacanya saja, ia berjalan keluar dan berkeliling melihat keadaan sekitar dan juga anak-anak pantai yang terlihat sangat kurus seperti tidak diberi makan dengan baik disini.


“Lihat saja jika tebakanku benar maka jangan harap kamu akan bebas dari hukumanku” gumam Denis sambil tersenyum smirk.


...🌼 🌼 🌼 🌼 🌼...


To be continue…………………..