
Elvan begitu terkejut mendengar berita dari Andra yang menyatakan bahwa Sylvia telah meninggal dunia. Setelah gagal menjebak Elvan, Sylvia berusaha lari saat Samuel menjemputnya di kantor polisi. Namun, nasib malang telah menimpa gadis itu, ia tertabrak mobil saat melarikan diri dan meninggal dunia saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
"Sayang, Sylvia meninggal," ucap Elvan setelah mendapat kabar dari Andra.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Mas, bagaimana bisa?" tanya Marisa.
"Andra bilang, Sylvia tertabrak mobil saat berusaha kabur, kamu mau ikut melayat?" Elvan menatap wajah Marisa yang masih basah oleh air mata.
Elvan memeluk erat tubuh Marisa, bagaimanapun ia tak ingin kehilangan istrinya itu. Tak bisa dipungkiri, Sylvia hampir saja menghancurkan rumah tangganya. Namun, umur manusia memang tak ada yang tahu.
"Aku merasa kasihan dengan Sylvia, Mas," kata Marisa.
Marisa tahu, Sylvia benar-benar terobsesi dengan Elvan, tapi ia juga tak menyangka bahwa kisah Sylvia akan berakhir tragis. Padahal, Marisa berharap Sylvia bisa menemukan cinta sejatinya.
"Semua sudah ditakdirkan, Sayang. Kita doakan saja semoga Sylvia mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah." Elvan mengusap rambut istrinya.
"Aamiin."
...🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀...
*enam bulan kemudian*
Elvan dan Marisa tengah berada di pusat perbelanjaan. Dengan perutnya yang besar, Marisa masih saja bergerak aktif kesana kemari mencari perlengkapan untuk bayinya. Sementara Elvan tengah kerepotan membawa barang-barang belanjaan. Di sampingnya ada si tampan Zayn yang juga terlihat cemberut.
“Pa, memangnya mama nggak capek ya dari tadi keluar masuk toko,” keluh Zayn yang telah kelelahan.
“Nggak tahu lah Zayn, tuh lihat! Zea juga kayaknya nggak capek ngikutin mama kemana-kemana.” Elvan duduk di kursi tunggu bersama Zayn. Dua laki-laki itu menyaksikan dua wanita yang tengah memilih tempat tidur bayi yang pas untuk anggota keluarga yang dua bulan lagi akan hadir ke dunia.
“Papa kenapa tadi mau sih nganterin mama, ‘kan Zayn juga harus ikut, harusnya kita tadi di rumah main bola.” Zayn merasa benar-benar lelah. Pria kecil itu tahu jika selama hamil ini, mamanya akan suka sekali berbelanja dan itu sangat membosankan baginya.
“Nanti kalau kamu udah besar juga kamu akan ngerti Zayn,” kata Elvan.
Beberapa saat kemudian, Marisa menghampiri suami dan anak laki-lakinya.
“Mas, aku udah pilih box bayinya, nanti mereka akan kirim ke rumah,” kata Marisa.
“Ma, kita pulang yuk, aku capek banget Ma,” kata Zayn yang sudah tak tahan lagi.
“Oke, kita pulang sekarang ya.”
Mereka pun pulang ke rumah mereka. Semenjak hamil, Marisa tidak bisa tidur nyenyak saat di rumah Kakek Darma, oleh karena itu Elvan mengajak keluarga kecilnya untuk pulang ke rumahnya sendiri demi kesehatan Marisa dan bayi mereka.
Kini Marisa dan Elvan tengah berada di kamar mereka. Usai berbelanja seharian, Marisa mengeluh pegal-pegal yang membuat Elvan harus memijat kakinya.
“Apa saat hamil si kembar kamu juga seperti ini, Sayang?” tanya Elvan yang masih setia memijat kaki Marisa.
“Nggak Mas, dulu saat hamil mereka, aku biasa aja, nggak ada keluhan apa-apa, bahkan aku masih bisa kerja loh sebelum lahiran. Mungkin mereka paham kalau papanya nggak ada di samping mereka. Jadi mereka nggak manja kayak yang ini.” Marisa mengusap perutnya yang besar.
“Makanya, sekarang mas menikmati jadi suami siaga yang menemani masa-masa kehamilan istrinya.” Elvan ikut mengusap perut Marisa.
“Masa-masa melahirkan dan menyusui juga, Mas,” kata Marisa.
“Iya, Sayang. Tapi, sekarang biarkan mas mencicipi sepuasnya ya, sebelum masa menyusui nanti.” Elvan mulai menyingkap kaos longgar yang dipakai Marisa.
...🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀...
Sementara itu, Elvan sang suami siaga terus mengelus pinggang istrinya. Ia tahu bagaimana sakit yang dirasakan istrinya itu, karena dulu ia pun pernah merasakannya saat Marisa melahirkan dua anaknya.
Kemudian dokter mulai memeriksa pembukaan untuk mengecek apakah bayinya siap dilahirkan, saat Marisa merasa ingin mengejan.
Dokter pun memberi instruksi yang menuntun Marisa untuk mengejan dengan benar. Hingga akhirnya, lahirlah seorang bayi laki-laki yang mengobati kesakitannya.
Seorang perawat membersihkan bayi Marisa lalu memberikannya kepada sang ibu agar bisa melakukan proses menyusui dini.
“Selamat ya, Pak. Bayinya ganteng banget ya,” kata dokter yang menolong persalinan Marisa.
“Terima kasih Bu Dokter.” Elvan duduk di samping Marisa yang sedang menyusui bayinya sebelum diazani oleh Elvan.
Beberapa saat kemudian, Pak Erwin datang bersama Zayn dan Zea yang tak menemani proses persalinan adik bayi mereka.
“Mama, adik aku ganteng ya, namanya siapa Ma?” tanya Zea.
“Namanya, Zayyan Elvan Wiguna,” jawab Marisa yang masih berbaring di ranjangnya.
“Zayn, Zea, Zayyan.” Zayn menunjuk dirinya, lalu menunjuk saudara perempuannya, lalu menunjuk adik bayinya.
“Iya Zayn, sekarang kamu punya dua adik yang harus dijaga, kamu mengerti, kan?” tanya Elvan.
“Iya Papa, Zayn senang punya adik baru, nanti kita bisa main bola bareng.” Zayn mengusap kepala adiknya yang kini terlelap di ranjang khusus bayi.
“Selamat ya El, Marisa, semoga keluarga kalian akan terus bahagia,” kata Pak Erwin.
“Aamiin, makasih Pa.”
“Ma, Pa, kalau Zea minta adik yang perempuan bisa nggak? Zea nggak punya teman main boneka.” Zea merasa sedih karena yang ia inginkan adalah adik perempuan.
Elvan pun menggendong anak perempuannya itu. “Sayang, kamu itu satu-satunya princess papa, nanti kalau punya adik perempuan, Zea udah nggak jadi princess papa lagi,” kata Elvan.
Keluarga bahagia itu pun semakin lengkap dengan kehadiran anggota keluarga baru. Marisa dan Elvan pun bersama-sama membesarkan ketiga anaknya, melewati suka dan duka membina rumah tangga.
TAMAT
Terimakasih telah membaca sampai akhir. Semoga suka dan ikut bahagia.
Sampai jumpa di karya Author yang lain😘😘😘
*PROMO*
Yuk, mampir ke karya baru aku 🤗🤗
klik gambar profil aku dihalaman depan novel ini, 7purnama
See You Again gengs😘😘😘