
Pagi itu, setelah sarapan bersama ayah dan suaminya, Marisa tengah merias wajahnya dengan make-up natural. Ia yang biasanya hanya memakai krim dan bedak tabur saja. Kini mulai memoles bibirnya dengan lipstik.
Marisa yang biasanya hanya memakai riasan ketika bekerja, kini mulai membiasakan diri untuk berdandan demi terlihat cantik dimata suami tercinta.
Sementara Elvan telah selesai membersihkan mobilnya dari debu dan kini tengah memasukkan koper-koper ke dalam mobilnya.
Elvan pun masuk ke dalam rumah dan tak melihat pak Rahmad di rumah. Lalu Elvan masuk ke dalam kamarnya.
"Mas, udah siap mobilnya?" Tanya Marisa yang selesai membereskan peralatan riasnya.
"Udah sayang, ayah kemana ya kok sepi?" Tanya Elvan yang mengambil ponselnya dan meletakkannya kedalam saku celananya.
"Mungkin ayah lagi di kandang kambing Mas." Kata Marisa.
"Kamu tambah cantik kalau dandan." Kata Elvan lalu mencium bibir istrinya. Merasakan bibir ranum yang kini membuatnya serasa gila setiap kali melihatnya.
"Mas." Marisa mendorong tubuh Elvan saat merasa hampir kehabisan nafas.
"Mas gak tahan tiap lihat bibir kamu yang menggoda ini." Elvan mengusap lembut bibir Marisa.
"Mas, lipstiknya jadi belepotan kan, tuh bibir mas Elvan ikutan merah." Kata Marisa.
Lalu Elvan meraih tisue disebelah tas kosmetik istrinya. Lalu mengelap dengan lembut bekas lipstik yang memang belepotan disekitar bibir Marisa. Setelah itu mengelap bibirnya sendiri dengan tisu.
"Udah kan." Kata Elvan.
"Yaudah kita cari ayah terus langsung berangkat mas."
"Hemm." Elvan membuka pintu kamar dan setelah mereka keluar ternyata sang ayah sedang duduk di kursi tamu.
"Kalian sudah mau berangkat?" Tanya Pak Rahmad yang kemudian bangun dari duduknya.
"Iya ayah, takut macet nanti, kan perjalanan jauh juga." Kata Elvan. "Kita pamit dulu ya ayah." Elvan mencium punggung tangan sang mertua. Pak Rahmad lalu memeluk tubuh Elvan yang lebih tinggi darinya.
"Hati-hati dijalan. Ayah titip Risa ya." Kata Pak Rahmad yang menepuk-nepuk punggung Elvan.
"Iya ayah." Jawab Elvan diiringi dengan senyumannya.
"Ayah dirumah hati-hati ya." Kata Marisa yang mencium tangan pak Rahmad, lalu memeluknya ayahnya dengan erat.
"Iya, kamu juga, jangan lupa sering-sering kasih kabar ke ayah." Kata Pak Rahmad membalas pelukan putri kesayangannya itu.
Mereka pun meninggalkan rumah Pak Rahmad.
***
Didalam mobil.
"Mas, nanti berhenti di ind***ret ya, aku pengen beli cemilan dulu." Kata Marisa.
"Iya, kalau bosen tidur dulu aja nanti mas bangunin." Kata Elvan yang masih fokus menyetir.
"Enggak mas, aku nggak ngantuk. Pengen temenin mas aja. Kita nanti disana berapa lama mas?" Tanya Marisa.
"Sabtu pagi kita udah balik kok sayang, mas reservasi buat tiga malam aja. Nanti kalau kelamaan dan tau harganya kamu malah ngomelin Mas." Kata Elvan.
"Emang berapa harganya mas? Oh iya aku ingat, bukannya kalau mau nginep disana harus jauh-jauh hari ya antrinya?" Kata Marisa teringat cerita beberapa teman kerja dan teman kuliahnya dulu.
"Emangnya kamu pikir bayar ke kasir supermarket pakek antri segala?" Elvan terkekeh.
"Emang mas nggak ngantri?" Tanya Marisa heran.
"Sayang jangan ngomel dulu ya, kita udah sampek nih, katanya mau ngemil?" Elvan memarkirkan mobilnya di depan minimarket 24 jam.
"Mas, jangan buang-buang uang ya." Kata Marisa lalu turun dari mobil.
Elvan menggeleng-gelengkan kepala, istrinya yang cantik dan lemah lembut itu ternyata juga bisa cerewet kalau menyinggung masalah uang.
Marisa mengambil beberapa camilan dan juga minuman untuk dia dan suaminya. Lalu segera menuju ke kasir. Namun ternyata Elvan telah menunggunya di depan kasir.
Minimarket itu terlihat sepi, hanya beberapa orang saja yang masih sibuk berkeliling mencari barang-barang yang mungkin sedang diskon. Jadi Marisa juga tidak sampai mengantri saat di kasir.
"Sekalian ini." Kata Elvan menyerahkan dua bungkus coklat ukuran besar yang sebelumnya ia ambil dari depan meja kasir.
"Totalnya seratus lima ribu tiga ratus rupiah. Mau dibayar cash atau pakai kartu kredit atau debit?" Tanya kasir itu kepada Elvan dan Marisa.
Marisa mengeluarkan uang dari dompetnya. Namun Elvan lebih dulu menyodorkan kartu debitnya kepada kasir.
Marisa hanya tersenyum.
Setelah menerima sekantung plastik berisi belanjaan mereka, mereka pun kembali ke mobil.
"Ini buat kamu, Mas udah ganti pinnya tadi, pinnya tanggal pernikahan kita. Kamu bisa pakai buat kebutuhan kamu dan juga keperluan rumah tangga kita, insya Allah cukup nggak akan sampai pakek tabungan kamu, kalau ada kurangnya kamu bilang Mas ya, jangan ambil uang kamu." Kata Elvan menyerahkan kartu atm kepada Marisa lalu memakai sabuk pengamannya.
"Terimakasih mas, akan aku pergunakan dengan baik kartu ini." Kata Marisa terharu.
"Maaf ya, mas cuma kasih kartu debit biasa sama kamu, bukan kartu kredit tanpa batas." Elvan terkekeh.
"Maaas,," Marisa yang hampir berkaca-kaca justru menjadi tertawa karena omongan suaminya itu. "Kalau tanpa batas, aku malah gak tau batasan aku nantinya."
"Kamu bisa aja." Kata Elvan mengacak-acak rambut istrinya. "Udah, pasang dulu sabuknya, sopirnya nggak bisa berangkat nih."
"Mas nggak mau pasangin sabuk aku?" Kata Marisa dengan ekspresi wajahnya dibuat semanis mungkin.
"Iya iya sini. Manja banget sih." Elvan lalu memasangkan sabuk pengaman istrinya. "Kamu masih belum bayar ojek yang waktu lembur loh." Kata Elvan mengingatkan.
"Harus bayar ya mas driver?" Tanya Marisa.
"Bayar disini sama disini aja lah." Kata Elvan menunjuk kedua pipinya.
"Mas ini tempat umum." Kata Marisa
"Yaudah kalau gak mau, berarti kamu yang nyetir deh mas males." Kata Elvan memanyunkan bibirnya.
Elvan tau istrinya itu tidak bisa menyetir mobil. Jadi pasti dia akan dapatkan apa yang dia mau.
Marisa pun mencium kedua pipi Elvan. Dan juga mengecup sekilas bibir Elvan.
Elvan terbengong, ia tak menyangka istrinya akan memberi kecupan di bibir juga.
Tok...tok...tok...
Kaca mobil Elvan diketuk. Elvan pun membuka kaca mobilnya.
"Mas, kalau mau m*sum jangan disini." Kata bapak-bapak yang sepertinya baru memarkir motornya disamping mobil Elvan karena sebelumnya tidak ada motor disana.
"Maaf pak, ini istri saya, sepertinya lagi gemes sama saya sampai nggak tau tempat. Maaf ya." Elvan meminta maaf lalu menyalakan mesin mobilnya meninggalkan tempat parkir minimarket.
"Mas kok bohong sih. Kan tadi mas yang nyuruh." Marisa protes.
"Mas kan gak minta cium bibir. Malah kamu cium. Ya mungkin kamu lagi gemes kan jadi dimana bohongnya dong?" Tanya Elvan dengan tersenyum puas.
"Ih.. Mas nyebelin."
Mereka pun menikmati perjalanan panjang mereka dengan saling menggoda. Ya meskipun lebih banyak Elvan yang menggoda Marisa, namun gadis cantik itu tak pernah sungguh sungguh marah dengan suaminya.
****
Akhirnya merekapun sampai diarea parkir milik resort itu, kemudian mereka menunggu di dermaga selama beberapa menit, karena mereka sampai disana sebelum jadwal pemberangkatan kapal. Lalu mereka pun diantar menuju ke pulau A dengan kapal speed boat.
"Mas, ini penginapannya?" Kata Marisa saat mereka sampai di dermaga pulau A tempat mereka akan menghabiskan bulan madu mereka.
"Iya, gimana suka nggak?" Tanya Elvan.
"Suka Mas, bagus banget." Kata Marisa.
"Jangan tanya harganya ya, kamu pasti marah, tapi yang jelas Mas lakuin ini untuk kamu, untuk kebahagiaan kamu. Jadi jangan marah ya." Kata Elvan yang ikut bahagia saat melihat istrinya itu sumringah karena begitu senangnya.
Mereka pun memasuki loby hotel yang memang terkenal bagus itu untuk melakukan cek in. Lalu setelahnya mereka diantar oleh seorang housekeeping yang juga membawakan barang-barang mereka.
Kamar tempat mereka menginap berada persis diatas laut. Jadi serasa mengapung diatas air laut dengan ombak yang tenang.
Marisa terkagum-kagum. Sebenarnya Elvan juga namun karena ia telah melihat gambar gambarnya sebelum reservasi jadi dia tidak terlalu kaget.
"Mas. Kamu romantis sekali." Kata Marisa saat masuk kamar dengan disambut oleh bunga bunga yang sengaja ditata diatas ranjang, bahkan selimutnya pun dibentuk menyerupai sepasang angsa yang tengah beradu paruh. Marisa memeluk tubuh suaminya dengan perasaan yang sangat bahagia.
"Kalau kamu bahagia. Mas akan lebih bahagia." Kata Elvan yang kini mulai menjelajahi tubuh sang istri dan juga meraba area-area sensitif istrinya.
Mereka pun menutup sore yang indah itu dengan pernyatuan sempurna di tempat yang damai dan juga romantis.
bersambung....