My Amazing Husband

My Amazing Husband
Bonchap2 Wanita Pembohong


Di kamar hotel yang menjadi tempat pelarian Sylvia itu, mendadak berubah menjadi menegangkan. Wanita itu mendadak muncul di balik pintu dan langsung menguncinya setelah Elvan masuk ke dalam kamar hotelnya.


Elvan yang niat awalnya ingin menolong Sylvia, justru malah terjebak di situasi yang sangat tidak menguntungkan.


"Sylvia, apa yang kamu lakukan?" tanya Elvan yang kini sedikit panik. Laki-laki itu awalnya hanya ingin memastikan keberadaan Sylvia yang tengah sakit keras, tapi sekarang dia menyesali rasa kasihan itu.


"Aku hanya ingin memilikimu Kak, aku mohon. Aku bisa menjadi istri kedua, istri siri atau apapun itu. Aku mohon." Sylvia berkata dengan wajah memelas, wanita cantik itu terlihat semakin kurus karena penyakitnya.


"Sylvia, kamu sudah gila.” Elvan berusaha mendekati pintu. Namun Sylvia justru menghalangi langkahnya.


"Aku memang gila Kak, karena aku cinta kamu Kak Elvan, mengertilah." Sylvia semakin mendekati Elvan, sementara Elvan justru berjalan mundur ke arah ranjang. 


"Sylvia, yang kamu lakukan saat ini, itu bukan cinta, itu obsesi,” kata Elvan.


"Aku tidak peduli, ayolah Kak, ayo kita bercinta, disini tidak ada siapapun. Hanya ada aku dan kamu," kata Sylvia semakin berani.


"Jangan bodoh, Sylvia!"


“Aku memang bodoh, seharusnya begitu menyadari cintaku, aku langsung menikah denganmu, tapi ternyata dua tahun yang aku lalui terbuang sia-sia tanpa aku bisa memilikimu.” Wanita itu berjalan semakin dekat dengan Elvan, sementara Elvan memundurkan tubuhnya.


“Sylvia, jangan mendekat, aku sangat ingat istri dan anak-anakku, berhentilah!”


Begitu Elvan terpojok, ia malah membuka bajunya satu persatu, menyisakan pakaian da lamnya.


“Astaghfirullah.” Elvan langsung menampar pipi kanan Sylvia dengan keras membuat wanita terjatuh di atas ranjang hotel.


Elvan sempat melihat kartu yang menjadi kunci kamar hotel itu berada di dada Sylvia. Namun, ia tak mungkin bisa mengambilnya tanpa menyentuh dan melihat langsung sesuatu yang sangat haram untuknya.


Sylvia yang mendapat tamparan keras dari Elvan, hanya berdiri dan memegang pipinya yang terasa panas.


Elvan langsung mengambil gagang telepon di meja lalu menelpon resepsionis untuk meminta bantuan.


“Cepat bawakan kunci cadangan kamar 304, ada wanita gila yang mengamuk di sini.” kata Elvan setelah berhasil menghubungi pihak hotel di bawah.


Elvan kemudian berjalan menuju pintu, sedangkan Sylvia masih berdiri di dekat tempat tidurnya.


 “Jangan kamu pikir bisa keluar dengan selamat, aku tidak akan membiarkan itu.”


“Sylvia, sadarlah. Cari laki-laki lain yang bisa menerimamu apa adanya, karena sampai mati pun aku tidak akan meninggalkan istriku,”kata Elvan yang tetap waspada meski harus mengalihkan pandangannya supaya tidak melihat tubuh Sylvia yang hanya terbalut pakaian dalam.


“Tidak, kamu hanya milikku.” Sylvia mendekat ke arah Elvan.


Tiba-tiba pintu terbuka, seorang satpam dan pegawai hotel langsung masuk untuk melihat keadaan.


“Maaf ada apa ini?” tanya salah satu pegawai yang bingung melihat seorang wanita setengah telan jang di hadapannya.


“Dia memperkosa saya Mas,” teriak Sylvia histeris.


“Apa? Bukannya kamu yang akan memperkosaku.” Elvan tak menduga dengan jawaban Sylvia.


“Lihatlah Pak, dia telah memperkosa saya, dan ingin melarikan diri setelah merasa puas.” Sylvia memakai selimut untuk menutupi tubuhnya.


“Pak sebaiknya, kalian berdua ikut kami, atau kita selesaikan masalah ini di kantor polisi,” kata satpam hotel.


Sylvia merasa menang jika Elvan ketahuan sedang bersamanya, Marisa pasti akan cemburu dan marah pada Elvan, apalagi ada satpam dan pegawai hotel yang menyaksikannya tengah bersama wanita lain di hotel.


“Kita ke kantor polisi saja Pak, laki-laki ini pasti tidak akan mau bertanggung jawab.” Sylvia berpura-pura menangis sampai mengeluarkan air mata buayanya.


“Baiklah, kita ke kantor polisi sekarang,” kata Elvan dengan yakin.


Akhirnya, Sylvia dan Elvan dibawa ke kantor polisi untuk menyelesaikan masalah mereka. Saat dibawa melewati lobby hotel, Andra yang kebetulan ada di sana segera menghampiri Elvan dan Sylvia.


“Elvan, Sylvia, ada apa?” tanya Andra yang kebetulan baru saja mengantar kliennya.


“Dia memperkosa aku,” kata Sylvia.


Andra tak percaya begitu saja, lau ia bertanya pada Elvan “Benarkah itu?”


Tolong hubungi Samuel dan katakan adiknya ada di kantor polisi, aku bisa urus sisanya,” kata Elvan.


...🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀...


Sementara di tempat lain, Marisa sedang menunggu suaminya pulang, ponselnya tidak dapat dihubungi. Padahal satu jam lalu, Marisa telah mengirim pesan pada Kevin untuk menanyakan apalah suaminya tengah lembur, dan kata Kevin Elvan telah pulang dari jam tujuh malam.


Marisa juga mengirim pesan kepada Galih, dan ternyata Galih pun tak mengetahui keberadaan Elvan saat ini.


Wanita malang itu memutuskan untuk tidur terlebih dahulu. Namun, saat ia baru saja merebahkan tubuhnya, sebuah notifikasi masuk ke ponselnya.


Cepat-cepat ia membaca pesan itu, berharap Elvan yang akan memberinya kabar.


Sebuah foto Elvan akan masuk ke kamar mandi, masih lengkap dengan jas kerjanya. Lalu, foto kedua adalah foto Sylvia tengah memakai handuk hotel, di tempat yang sama.


Marisa berusaha meyakinkan dirinya, bahwa semua hanya kebetulan, toh Elvan juga masih memakai pakaian lengkap. Namun, hatinya yang terluka membuat matanya terasa perih, ia pun meneteskan air mata. Semakin ia memikirkannya, semakin sakit pula rasa di hatinya.


...🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀...


Elvan dan Sylvia sudah berada di kantor polisi. Sylvia dengan meyakinkan, tetap menuduh Elvan yang telah memperkosanya. Sedangkan, Elvan yang diinterogasi di tempat yang berbeda, menunjukkan bukti bahwa ia tak melakukan kesalahan apapun pada Sylvia.


“Ini adalah pulpen kamera, Silahkan kalian periksa rekaman video di sana, pasti kalian akan menemukan jawabannya,” kata Elvan.


“Baiklah, sebentar, kami akan membaca datanya.” Polisi yang menginterogasi Elvan itu membuka video yang diambil dari memori pulpen Elvan.


Bersambung….


...Kira-kira Marisa percaya Elvan apa nggak ya?...


...Ayo Papa El, aku mendukungmu, aku yakin kamu pasti bisa melewati ujian terakhir ini!...


Selow gays, ini cuma beberapa adegan aja kok, jangan marah ya 😍😍😍😍