
"Zea? Siapa Zea?" Alvero yang memang tak mengenal Zea bertanya kepada Zayn dan juga Marisa.
Zayn telah turun dari gendongan Alvero.
"Zea adalah putriku." Jawab Marisa.
"Jadi Zayn, Zea?" Alvero tak mampu berkata-kata, ia ikut meraskan bahagia ternyata Marisa telah memberinya dua keponakan sekaligus.
Marisa hanya mengangguk, sementara Zayn tak mengerti dengan apa yang kedua orang dewasa itu bicarakan.
"Uncle, jadi Zea boleh main kesini nggak besok?" Tanya Zayn kepada pamannya itu.
"Tentu boleh dong." Alvero mengangkat tubuh Zayn lagi. "Nanti kita beli mainan buat Zea ya." Kata Alvero.
"Siap Uncle, buat Zayn juga ya." Kata Zayn senang.
Marisa pun ikut senang, karena Alvero mau menerima Zea seperti Zayn juga.
🌱🌱🌱
Minggu pertama setelah kembali ke ibu kota telah dilewati dengan baik oleh Marisa, ibu dua anak itu mulai mengawali paginya dengan menyiapkan dua kotak bekal makan untuk kedua anak kembarnya, walaupun Zayn dan Zea masih belum tahu fakta itu, tapi cukuplah baginya bisa mencurahkan kasih sayangnya kepada kedua balita itu.
Siang itu, setelah menghubungi Sheryl untuk tak menjemput Zea, akhirnya Marisa tiba di sekolah si kembarnya. Dengan semangat ia menghampiri kedua bocah yang telah menunggunya itu.
Setelah itu mereka masuk mobil dan menuju ke kantor Alvero, bersama Pak Sardi tentunya.
Mereka turun dari mobil tepat di depan loby kantor. Zea yang tak pernah masuk ke gedung perkantoran pun terkagum-kagum dengan bangunan yang terlalu tinggi menurutnya itu.
"Mama, kita naik ke atas sana?" Dengan sedikit takut Zea memeluk lengan Mamanya, ia berjalan disebelah kiri Marisa, sedangkan Zayn ada di sebelah kanan Marisa.
"Zea apa kamu takut?" Tanya Zayn yang melihat wajah pucat Zea.
"Sayang kamu takut?" Marisa menatap putri kecilnya itu.
"Mama, kalau kita jatuh gimana? Kalau ada pesawat lewat gimana?" Zea merasa begitu ketakutan membayangkan sesuatu yang buruk dalam imajinasinya.
"Zea sini biar Mama gendong ya." Marisa pun menggendong gadis yang rambutnya tergerai indah itu.
"Zea kalau kamu takut, tutup mata aja" Kata Zayn memberi saran.
Akhirnya Zea pun menutup mata dan Marisa segera menggandeng Zayn menuju lift yang mengantar mereka ke ruangan Alvero.
Tak berapa lama mereka pun akhirnya sampai di ruangan Alvero.
"Uncle." Zayn menghampiri pamannya lalu mencium punggung tangan Alvero.
"Zea, ayo salim sama Uncle Alvero, Uncle ini bosnya Mama." Kata Marisa yang lalu menurunkan Zea dari gendongannya.
"Halo anak cantik, nama kamu siapa?" Tanya Alvero yang menyeimbangi tinggi Zea.
"Namaku Zea Uncle, eh maaf Pak Bos." Kata Zea yang membuat Alvero tertawa karena gemas.
"Panggil Uncle aja ya sama kayak Zayn." Kata Alvero.
"Iya Uncle." Kata Zea dengan sangat manis.
"Oh iya, Uncle punya hadiah buat Zea dan Zayn juga." Kata Alvero lalu menyerahkan dua paper bag kepada Zayn dan Zea.
Zayn dan Zea secara bersama sama membuka paper bag itu dan mengeluarkan isinya.
"Waww, Baby Alive." Kata Zea lalu memeluk boneka berbentuk bayi itu.
"Wah, aku dapet Bumblebee." Kata Zayn lalu memeluk Alvero. "Makasih Uncle." Zayn melompat lompat karena senang.
"Sama-sama Zayn."
"Zea, ayo bilang makasih ke Uncle Alvero." Kata Marisa.
Zea lalu menghampiri Alvero.
"Boleh peluk nggak Uncle kayak Zayn tadi." Kata Zea malu-malu.
"Boleh dong sayang." Alvero lalu merentangkan tangannya yang kemudian dipeluk oleh Zea.
"Terimakasih Uncle baby Alivenya cantik banget, ini bisa jadi makin besar loh Uncle, nanti rambutnya juga bisa tumbuh jadi panjang, tapi Zea mau mainin jadi baby aja." Kata Zea yang sangat gembira mendapatkan hadiah semahal itu.
Alvero tersenyum lalu menyentuh pipi Zea "Sama-sama cantik."
tok..tok..tok..
Semua yang ada di ruangan itu lalu menoleh ke arah pintu yang terbuka itu.
"Ada apa ini?" Elvan yang tiba-tiba masuk ke ruangan Alvero terkejut dengan dua bocah yang sedang memegang mainannya.
"Elvan." Alvero tak kalah terkejut, seharusnya Elvan masih di luar negeri saat ini.
"Papa, papa udah pulang?" Tanya Zayn saat melihat papanya.
Sementara Marisa hanya terdiam melihat kedatangan Elvan yang tak terduga.
"Zayn, tadi papa dari bandara langsung ke sekolah, ternyata kamu udah di jemput sekretaris Uncle, jadi Papa kesini." Kata Elvan menghampiri putranya yang berdiri di sebelah Marisa.
"Iya Pa, oh iya Papa, ini Mama Zayn Pa. Zayn nggak bohong kan?" Kata Zayn.
"Kamu.." Elvan memejamkan matanya sebentar lalu membukanya kembali. "Kamu..." Elvan tak sanggup meneruskan kata katanya, lalu ia menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar. "Kamu istriku." Elvan memegang pipi kiri Marisa dengan tangan kanannya.
Marisa hanya diam saja tak bereaksi, dalam hatinya bertanya-tanya apakah suaminya telah mengingatnya kembali. Apakah suaminya telah benar-benar kembali.
"Mama." Zea yang kebingungan menarik tangan Marisa dan menyadarkan Marisa dari pikirannya sendiri, bahwa Elvan belum sepenuhnya mengingatnya.
"Maaf, saya bukan istri Anda." Marisa lalu meraih tubuh Zea dan menggendongnya. "Saya permisi Pak." Marisa meminta ijin kepada Alvero untuk meninggalkan ruangan itu.
"Mama, Mama." Zayn yang ditinggal Marisa lalu mengikuti Marisa dan Zea yang masih dalam gendongan Marisa itu keluar dari ruangan Alvero.
Kini tinggallah dua laki-laki sebaya yang sama-sama sudah menikah itu.
"El, berusahalah mengingat istrimu, mungkin wanita itu bisa membantumu mengingat Marisa." Kata Alvero.
"Tapi untuk apa aku mengingat orang yang sudah meninggal, bukankah itu hanya akan menimbulkan luka Kak?" Tanya Elvan.
"Pikirkan Zayn, pikirkan juga istrimu, apakah kamu benar-benar melupakan sumpahmu di hadapan Allah saat menikahinya El, dan apakah kamu pernah melihat jenazahnya? melihat makamnya?" Tanya Alvero kesal.
"Aku kecewa karena dia meninggalkan Zayn di panti asuhan." Kata Elvan.
"Kata siapa?" Alvero menaikkan nada bicaranya, ia sudah sangat kesal dengan Elvan. "Berhenti menjadi bodoh dan berhenti dibodohi El, sudah saatnya kamu mencari kebenaran tentang keluargamu, bertanggung jawablah atas istri dan anakmu El." Kata Alvero lalu meninggalkan Elvan sendiri di ruangannya.
Marisa dan kedua anaknya tengah bermain di meja kerjanya, saat Alvero menghampiri mereka.
"Maaf Pak, saya akan kembali fokus bekerja." Kata Marisa lalu membereskan kardus kardus mainan yang berserakan di mejanya.
"Tidak apa-apa, lagian pekerjaan kamu juga tidak banyak kan, temani saja mereka bermain." Alvero lalu mengambil kursi dan duduk di sebelah Zea.
"Dia cantik sekali ya." Alvero menyentuh pipi gembul Zea.
Marisa hanya tersenyum, sedangkan Zea mengucapkan terimakasih sambil tersenyum manis.
Elvan keluar dari ruangan Alvero dan menghampiri mereka berempat.
"Bisa kita bicara sebentar." Elvan menghampiri Marisa, lalu mengajak Marisa masuk ke dalam ruangan Alvero.
"Ada apa?" Tanya Marisa saat mereka telah di dalam ruangan Alvero.
Ya Tuhan, kenapa aku ini, kenapa rasanya ingin sekali memeluknya, tapi dia bilang dia bukan istriku. Ya Allah tunjukkan aku kebenaran dari semua ini. Batin Elvan.
"Apakah Zayn menyusahkanmu?" Tanya Elvan yang sebenarnya bingung harus mengatakan apa.
"Tidak, dia anak yang baik, hanya saja dia menganggap saya Mamanya." Kata Marisa.
"Apa kamu keberatan Zayn memanggilmu Mama?" Tanya Elvan penasaran.
"Tidak, saya juga seorang ibu, saya mengerti bagaimana perasaannya." Kata Marisa yang tak mau menatap mata Elvan.
"Apakah kamu mau menjadi Mamanya?" Tanya Elvan.
"Maksudnya?" Marisa tak mengerti dengan jelas pertanyaan Elvan barusan.
"Maksudku, menjadi Mama seperti dalam pikirannya. Memasakkan makanan kesukaannya, menjemputnya sekolah seperti kamu menjadi Mama untuk anakmu sendiri." Kata Elvan.
Marisa hanya mengernyit. "Maaf saya harus kembali bekerja." Marisa lalu meninggalkan Elvan, namun tangannya langsung dicekal oleh Elvan yang langsung membawanya ke tembok dekat pintu. "Apa yang Bapak lakukan." Marisa terkukung, ia tak dapat bergerak karena Elvan mengunci kedua tangannya ke tembok.
"Maaf, sebentar saja biarkan aku memandang wajahmu untuk mengingat istriku." Kata Elvan.
Kedua jantung di masing-masing tubuh itu berdetak cukup kencang.
"Tidak, aku sangat tidak suka menyentuh maupun disentuh wanita, tapi melihatmu benar-benar membuatku tak sanggup menahan diri, bisa saja aku menciummu disini, rasanya aku sangat sangat merindukanmu. Maaf." Elvan lalu melepaskan tangan Marisa setelah menyelesaikan kata-katanya.
Marisapun langsung pergi meninggalkan Elvan dan menghampiri dua bocah yang kini sibuk bermain itu.
"Zayn Zea, ke dalam yuk, jangan ganggu Mama kerja." Kata Elvan yang keluar dari ruangan Alvero, lalu melirik Marisa dan tersenyum ke arahnya.
Kedua anak kembar itu menurut dan membawa mainannya ke dalam ruangan Alvero.
"Kak Al, masuk yuk, mau aku laporin ke Reyna kalau Kakak berdua'an sama sekretaris Kakak?" Kata Elvan lalu masuk ke ruangan Alvero bersama Zayn dan Zea.
"Dia kenapa sih." Gumam Alvero lalu berdiri dari duduknya dan meninggalkan Marisa.
Zayn dan Zea sedang bermain di lantai sedangkan Elvan duduk di sofa mengamati dua bocah yang terlihat mirip itu.
"Ada apa?" Alvero duduk di samping Elvan dengan malas.
"Mereka mirip ya." Kata Elvan yang masih memperhatikan Zayn dan Zea yang sedang bermain.
"Emmm, terus kenapa, mungkin karena emaknya punya muka sama jadinya mereka mirip." Kata Alvero asal bicara.
"Eh Kak, emang Marisa beneran kayak gitu mukanya?" Tanya Elvan penasaran.
"Emang kamu nggak pernah lihat fotonya Marisa." Bukannya menjawab, Alvero malah balik bertanya.
"Ya pernah sih, tapi aslinya kan aku lupa." Kata Elvan.
"Kalau rasanya lupa juga nggak?" Tanya Alvero yang mulai terkekeh.
"Apaan sih." Elvan mendorong tubuh Alvero. "Tapi jujur sih, lihat dia aku tu kayak pengen meluk dia, pengen cium dia, kayak kangen banget." Kata Elvan yang membayangkan wajah Marisa saat ia mengukungnya di tembok.
"Aiss mes*m banget sih." Balas mendorong tubuh Elvan. "Lagian biasanya juga alergi di pegang perempuan." Kata Alvero
"Nggak tau juga sih, dia beda banget, aku harus deketin dia kak."
"Kalau dia bukan istrimu gimana El?"
"Yaudah mungkin emang segitu aja jodohku sama Mamanya Zayn."
"Terus Silvia gimana?"
"Aku setuju mau dijodohin sama dia kan karena kasihan sama Zayn, kalau Zayn sukanya sama Mamanya Zea, yaudah aku deketin aja Mamanya Zea."
"Kamu suka sama Sarah?"
"Aku nggak tau, tapi aku penasaran aja kenapa jantung aku berdebar-debar waktu lihat dia, padahal sama Silvia atau yang lain juga biasa aja."
"Ya udah kakak dukung, tapi kakak nggak tau ya dia punya suami atau enggak."
Elvan mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Eh, tapi pas aku jemput Zayn, yang jemput Zea itu orang lain deh, dan Zea panggilnya itu bukan Mama."
"Oh ya?" Alvero juga terkejut dengan omongan Elvan.
"Zea, sini sebentar sayang." Kata Elvan melambaikan tangannya memanggil Zea.
"Iya Om, ada apa?" Tanya Zea yang menghampiri Elvan dan Alvero.
"Em, kamu kalau sekolah dijemput siapa?"
"Dijemput Bunda Om, kenapa?"
"Emmm, kalau Papa Zea kemana?"
"Zea nggak punya Papa Om, Zea punyanya Ayah, tapi Ayah Zea menikah sama Bunda Zea, jadi Zea punya Ayah, Bunda, dan Mama. Kalau Papa Zea nggak punya."
"Emm gitu, yaudah Zea main sama Zayn lagi ya." Kata Elvan.
Lalu Zea pun kembali ke lantai bermain bersama Zayn.
"Paham nggak?" Tanya Alvero yang kebingungan dengan jawaban Zea.
"Paham lah, kayaknya Ayahnya Zea itu nikah lagi, jadi yang jemput di sekolah itu ibu tirinya."
"Baik juga ya ibu tirinya."
"Hmm Kayaknya Sarah juga gitu, dia akan tetep baik kok walaupun jadi ibu tirinya Zayn."
"Yakin bener kayaknya"
"Yakin lah."
"Tapi El, kalau bisa jangan kasih tau Kakek dan Papa dulu ya soal Sarah dan Zea."
"Kenapa?"
"Ya nggak papa, pokoknya jangan terlalu percaya lah sama Kakek, daripada dia gagalin usaha kamu."
"Emmmm iya juga sih."
🌱🌱🌱
Jam kantor telah usai, kini Marisa tengah bersiap-siap untuk pulang, ia juga menbereskan tas sekolah milik Zea.
"Zayn, kita antar Mama sama Zea pulang yuk." Kata Elvan saat mereka keluar dari ruangan Alvero.
"Horeee." Zayn dan Zea berpelukan.
"Nggak usah Pak, kami bisa pulang naik bis kok." Marisa menolak.
"Jangan sungkan, ini juga demi Zayn kok." Kata Elvan.
"Iya Sarah, lagian kasian Zea udah capek banget kayaknya, nggak akan aman kalau naik bis." Kata Alvero.
Dengan terpaksa Marisapun menyetujuinya. Lalu mereka pun keluar ruangan dan berjalan menuju lift.
"Mama Zea takut." Kata Zea saat melihat pintu lift terbuka.
"Mau Mama gendong?" Kata Marisa
"Biar Papa gendong ya." Kata Elvan lalu meraih tubuh gadis kecil itu.
"Papa?" Marisa kaget dengan sebutan itu.
"Iya, kalau Zayn boleh manggil kamu Mama, berarti Zea juga boleh kan manggil aku Papa." Kata Elvan membela diri.
Alvero terkekeh, adiknya itu sedang berusaha keras ternyata. Selamat berjuang Elvan.
Mereka berlima keluar dari lift menuju parkiran mobil. Zea masih dalam gendongan Elvan sedangkan Zayn digandeng Marisa berjalan menuju mobil.
"Zayn sama Zea di belakang ya, Mama nemenin Papa di depan." Kata Elvan saat membukakan pintu belakang mobil dan memasangkan sabuk pengaman mereka.
"Saya sama anak-anak saja di belakang." Kata Marisa yang lagi-lagi menolak permintaan Elvan.
"Saya bukan supir." Kata Elvan lalu membuka pintu penumpang samping kemudi.
Marisa yang malas berdebat pun akhirnya duduk di depan bersama Elvan. Elvan lalu masuk ke mobil dan segera melajukan mobilnya ke luar area parkir.
Dalam perjalanan pulang Zayn dan Zea terus saja berbicara, lebih tepatnya Zea yang banyak bertanya dan Zayn yang menjawab. Itu tempat apa, itu namanya apa, ada saja yang ditanyakan Zea dan dijawab dengan ikhlas oleh Zayn.
"Anak-anak mau makan dulu nggak?" Tanya Elvan yang sebenarnya ia sendiri sedang lapar.
"Kita makan di rumah Mama aja ya Pa, masakan Mama enak soalnya." Kata Zayn.
"Oke deh." Kata Elvan lalu melirik Marisa dan tersenyum.
"Om, om, aku pengen kesana dong." Kata Zea.
"Zea, panggil Papa ya, jangan Om." Kata Elvan, lalu melirik Marisa lagi, yang dilirik malah membuang muka, mengahadap kaca samping kirinya.
"Papa, Zea mau kesana, Zea suka es krim Pa." Zea menunjuk sebuah minimarket yang berada di seberang jalan.
"Kita cari yang di depan aja ya Zea, biar nggak putar balik, oke." Kata Elvan.
"Tapi ada kan? Zea pengen banget es krim."
"Zea, dirumah kan masih ada es krimnya, yang kemarin dibeliin Bunda, ingat jangan buang-buang uang sayang." Kata Marisa menasehati putrinya.
"Oh iya, Zea lupa." Kata Zea menutup mulutnya dengan tangan kecilnya.
Kata-kata Marisa itu malah terngiang-ngiang di kepala Elvan 'Mas, jangan buang-buang uang ya.' Elvan mengingat suara itu, suara Marisa saat mereka berdua di mobil.
Bersambung....