
Siang itu, Marisa menemukan kembali sosok suami yang lebih dari lima tahun ini sangat ia rindukan. Sosok yang selama ini tak pernah terlupa dalam setiap lantunan do'a yang terpanjatkan. Bersamanya, Marisa menjaga dan merawat putri kecil mereka yang sangat membutuhkan perhatian ekstra.
Siang itu, setelah menumpahkan segala beban dalam hatinya diiringi tangis yang pecah, Marisa kembali dalam pelukan hangat Elvan yang sangat ia cintai. Berkali-kali Elvan mengecup, membelai dan meminta maaf atas segala derita yang dirasakan Marisa setelah kecelakaan itu.
Tangan kokoh itu masih membelai rambut halus istrinya, kegiatan itu dulu sangat ia sukai, dan kini semakin menguatkan ingatannya tentang masa lalu mereka. Sekali lagi Elvan mencium bibir Marisa, sangat lembut dan penuh cinta, tak seperti cium*n panas yang ada di adegan drama korea.
"Sayang, Mas akan menebus segala hal yang telah kalian alami dengan membahagiakan kalian berkali-kali lipat." Kata Elvan yang masih membelai rambut istrinya.
Mereka masih duduk di sofa berwarna hijau, menghadap Zea yang tertidur pulas, entah karena efek obat atau memang kelelahan, gadis itu benar-benar nyenyak. Sementara kedua orang tuanya berpelukan mesrah.
"Mas, aku sudah mengikhlaskan semua yang terjadi Mas, aku tidak ingin anak-anak sampai merasakan sakit hati, jadi jangan sampai mereka tau kenyataan pahit ini Mas." Kata Marisa.
Wanita muda itu bangkit dan melepaskan pelukan suaminya setelah menangkap pergerakan kecil yang dilakukan putrinya.
"Sayang..." Marisa membelai rambut gadis itu yang tergerai menutupi bantal tidurnya.
"Mama, Zea pengen dipeluk Papa." Kata Zea dengan suara paraunya.
Elvan yang berada di samping Marisa langsung memeluk erat putrinya yang baru ia kenali beberapa hari belakangan ini. Mencium kedua pipi yang tak lagi terlihat gembul itu, lalu di akhiri dengan kecupan lama di kening gadis bernama Zea itu.
Zea, gadis itu tersenyum, matanya menyipit kala bibirnya mengukir senyum termanisnya, benar-benar manis di mata Elvan. Ayah dua anak itu menemukan hal yang sama yang sangat ia sukai saat Zayn putranya masih senang mengikutinya nongkrong ke kafe atau sekedar main di Timezone dulu. Senyuman Zea benar-benar persis saat Zayn dengan tulusnya mengucap terimakasih setelah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Elvan berharap keluarga kecilnya akan selalu bersama dan tak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka.
Gadis kecil itu berangsur ceria, Elvan melalui anak buah yang dikirim Kevin telah membawa beberapa boneka utuk putrinya itu agar tak jenuh terbaring di ranjang rumah sakit yang membosankan meski di ruangan VVIP sekalipun.
Kini, Elvan terlihat pasrah saat Zea dengan isengnya meminta Marisa untuk menguncir rambut Papanya itu.
"Ayo Ma, ikat lagi yang kenceng." Zea memberi perintah Mamanya untuk kembali mengikat rambut hitam dan lebat milik Elvan.
"Sayang, aku pusing, jangan kenceng-kenceng ya." Protes Elvan kepada istrinya yang berdiri di belakangnya.
"Kalau nggak kenceng nanti lepas Mas, lagian kamu mau-mau aja disuruh Zea." Kata Marisa yang kembali mengikat kuat rambut suaminya sesuai permintaan Zea putri mereka.
"Mas kan cuma nggak mau ngecewain Zea sayang. Tolongin Mas ya." Kata Elvan memelas.
"Yaudah kalau gitu pasrah aja Mas." Kata Marisa yang sebenarnya juga tak bisa menolak keinginan Zea, apalagi gadis itu tengah sakit.
"Mama sekarang gantian Mama yang diikat rambutnya sama Papa ya." Kata Zea yang memangku boneka baby Alivenya yang baru tadi dibawakan Kevin bersama boneka barbie lengkap dengan rumah-rumahannya.
"Sekarang kamu juga kena sayang." Kata Elvan yang kini berdiri dibelakang Marisa dan menuntun istrinya itu untuk duduk agar ia bisa membalas perbuatannya yang menyiksa kepalanya.
"Papa bisa kepang rambut Mama nggak, Zea nggak pernah lihat Mama dikepang, jadi Zea pengen lihat sekarang, bisa ya Pa." Kata Zea yang tak bisa ditolak Elvan.
"Emmm Papa lihat tutorialnya dulu ya, pasti bisa kok." Ucapnya lalu menyambar ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja.
Elvan mengetikkan kata kunci dalam kolom pencariannya. Memilih video yang sepertinya cukup mudah untuk ia ikuti. Lalu ia mulai menyisir rambut Marisa dan mulai mengambil beberapa helai rambut untuk disatukan mengikuti setiap arahan dari video itu.
Akhirnya Elvan pun berhasil menyelesaikan hasil karyanya di rambut Marisa, meski beberapa kali ia gagal dan harus mengulangi lagi tahap-tahap itu dengan kesal. Kini rambut Marisa telah dikepang dua membuatnya terlihat seperti orang yang lucu di mata Zea juga Elvan.
Zea tertawa puas melihat sang Mama yang nampak lain dari biasanya. Elvan terkekeh, ia dengan bangga memuji kecantikan Marisa yang tak berubah meski rambutnya kini sangat berbeda dari biasanya.
"Mama, Zea mau foto Mama sama Papa ya." Zea telah meraih ponsel Marisa yang memang tergeletak di ranjang disamping Zea.
"Jangan." Teriak kedua orang tua Zea itu bersamaan.
"Kenapa? Zea mau kasih lihat ke Zayn kalau Mama sama Papa lucu, pasti Zayn juga ketawa kayak Zea." Kata Zea yang masih gemas melihat Mamanya dikepang dua, dan Papanya itu entah berapa banyak ikat rambut warna wanrni yang menghias kepalanya itu.
"Yaudah deh boleh." Kata Elvan lalu merangkul Marisa dan Zea segera mengambil foto Papa Mamanya.
Setelah melakukan foto berbagai gaya sesuai arahan Zea tentunya, akhirnya gadis kecil itu menyudahi acara main-mainnya karena hari mulai sore. Marisa dan Elvan pun bernafas lega karena telah terbebas dari kejahilan putri mereka sendiri. Selang oksigen di hidung Zea juga sudah dilepas, kantong darahpun telah diganti dengan cairan infus.
Sore menjelang Kevin pun datang membawa beberapa pakaian dan makanan untuk Elvan dan Marisa yang kemungkinan besar akan menginap di rumah sakit menemani Zea.
"Wah, beneran Marisa ternyata." Kata Kevin saat menghampiri Zea dan Marisa yang duduk di tepi ranjang Zea.
"Iya Pak Kevin, apakabar?" Tanya Marisa lalu berjabat tangan dengan Kevin.
"Aku baik, ini pasti kembarannya si Zayn ya." Kata Kevin tersenyum kepada Zea lalu gadis itu menjabat tangannya dan mencium punggung tangan Kevin.
"Iya, namaku Zea, kalau Uncle ini siapa?" Tanya Zea yang memang tak mengenal Kevin.
"Ini Uncle Kevin temennya Mama Papa sama Uncle Al juga." Kata Kevin memperkenalkan dirinya.
"Uncle Al kemana kok nggak jenguk Zea." Tanya Zea.
"Uncle Al lagi jemput Zayn mungkin besok Zayn sama Uncle udah sampek sini Cantik." Kata Kevin.
"Asyiiik, Zea besok pasti udah sembuh biar bisa main sama Zayn lagi." Kata gadis itu bersemangat.
"Sayang, Mama Papa mau ngobrol sebentar sama Uncle Kevin dulu ya, Zea istirahat dulu, oke." Kata Elvan lalu mengajak Marisa dan Kevin untuk mengobrol di sofa setelah mendapat persetujuan Zea.
"Sory banget ya Marisa aku nggak bisa bantu Elvan untuk ingat kamu meskipun aku ingin sekali." Kata Kevin menyesali dirinya sendiri.
"Iya Pak, saya tahu kok posisi Pak Kevin gimana." Kata Marisa.
"Tapi Ris, selama ini kamu kemana, Alvero itu nyari kamu udah lama loh tapi nggak ada jejak.." Tanya Kevin.
"Ya mungkin karena identitas baru itu jadi nggak ada yang nemuin dia." Sahut Elvan.
"Iya, jadi setelah lahiran aku emang pakek identitas orang lain jadi kalian susah nyari aku." Kata Marisa
"Tapi kamu tahu nggak kenapa kamu bisa sampai ke sini dan kerja di tempat Alvero." Kevin bertanya kembali.
"Kenapa?" Elvan ikut bertanya, karena ia sendiri pun penasaran akan hal itu.
"Karena saat Alvero kunjungan ke kantor cabangnya, tempat kerja Marisa yang lama dia lihat Marisa, kata Alvero saat itu Marisa emang nggak lihat Alvero secara langsung jadi karena penasaran dia tarik Marisa kesini, dan ternyata benar dia Marisa." Kata Kevin mengatakan cerita sahabatnya itu.
"Tapi yang aku bingungin kenapa Pak Al bikin perusahaan sendiri sih?" Tanya Marisa heran.
"Jadi, Papa Erwin sama Mama Anita..." Marisa melirik kedua laki-laki itu bergantian.
"Iya mereka bercerai." Jawab Kevin. "Risa kamu tahu tidak suami kamu ini nggak kalah hebat loh dari Pak Erwin dan Alvero." Kata Kevin yang membuat Elvan mengukir senyumnya.
Marisa tersenyum. "Tapi, aku lebih suka suamiku yang pengusaha bengkel dari pada seorang Pimpinan GC GRUP."
"Bengkel?? Maksud kamu pengusaha bengkel??" Tanya Elvan yang sepertinya bingung.
"Iya Mas, dulu awal kita kenal itu kamu pengusaha bengkel, temennya Mas Galih, Kakaknya Ratna sahabat aku." Marisa mengingatkan suaminya itu awal-awal mereka dekat sebelum menikah.
"Galih? Ratna? Siapa mereka?" Elvan masih terlihat kebingungan.
"Em, sepertinya Elvan belum mengingat itu, kamu bisa bantu Elvan pelan-pelan Risa." Kata Kevin.
"Iya Pak, akan aku usahakan." Kata Marisa, sementara Elvan disebelahnya hanya diam.
"Yaudah aku pamit pulang dulu. Kalian jangan lupa makan makanannya." Kata Kevin lalu segera undur diri.
Setelah Kevin pulang, Marisa pun menyiapkan makanan yang tadi dibawa Kevin.
"Sayang, aku dulu kayak gimana?" Tanya Elvan setelah menyelesaikan makannya.
"Emm, Mas dulu orang yang baik, perhatian, romantis, sederhana dan apa adanya." Jawab Marisa jujur.
"Jadi, Mas dulu punya bengkel?" Tanya Elvan.
"Iya Mas, dulu Mas Elvan hanya pemilik bengkel, bukan CEO seeperti sekarang, tapi bengkel Mas Elvan itu dulu sukses banget, nggak tau kalau sekarang." Kata Marisa melayangkan pikirannya pada keadaan enam tahun lalu.
"Bengkel itu masih sukses kok, Mas cuma pengen ngetes kamu aja." Kata Elvan lalu tersenyum dan mencubit pipi Marisa gemas.
"Ih, mas apaan sih." Marisa tersipu malu.
"Lagian siapa yang CEO, Mas tetep pengusaha bengkel kok. Nanti, kalau Zayn udah gede Mas akan fokus ke bengkel aja. Oh iya kamu nggak mau tau gimana kabar Ayah sekarang?" Tanya Elvan yang membuat Marisa terkejut.
"Ayah? Mas Elvan ingat Ayah?"
"Iya, semenjak Mas ketemu Galih beberapa tahun lalu dia bantu Mas buat ingat semua kenangan yang Mas lupain, termasuk Ayah juga." Kata Elvan.
"Gimana kabar Ayah Mas?" Marisa mulai sendu, mengingat sudah terlalu lama ia menghilang dan tak mengabari Ayahnya itu.
"Dia baik, Mas masih sering kesana tiap beberapa bulan kok, karena Mas berharap akan menemukan kamu di rumah Ayah." Kata Elvan serius.
"Apa Kakek tau semua ini." Marisa mulai was-was.
"Kakek nggak tau karena Mas nggak mau lagi dimata-matai, Mas akan meninggalkan perusahaan kalau Kakek melakukan itu lagi." Kata Elvan.
"Lalu kenapa Mas sulit mengingatku?" Marisa nampak kecewa.
"Maafkan Mas, karena Mas sangat sulit mengingat hanya dengan foto, tapi setelah kita ketemu, kilasan-kilasan memori itu muncul diingatan Mas. Mas masih sangat mencintaimu Marisa istri Mas yang paling sempurna." Kata Elvan merayu Marisa dan membuat pipi ibu dua anak itu memerah.
"Lalu wanita yang akan Mas nikahi bagaimana?" Tanya Marisa yang mulai cemburu karena ada wanita lain disisi suaminya selama ini.
"Silvia? Percaya ya sama Mas, biar Mas yang urus dia."
🌱🌱🌱
Pagi menjelang, Zea sudah nampak segar setelah Marisa mengelap dan membersihkan seluruh tubuh gadis kecil itu. Dengan hati-hati mengganti baju Zea dan mendandani gadis itu. Elvan yang baru keluar kamar mandi mencium aroma bedak yang dipakai Zea membuatnya langsung menghampiri bocah yang sudah sempurna dengan penampilannya itu.
"Anak Papa udah cantik aja." Kata Elvan lalu duduk di kursi sebelah ranjang Zea.
"Iya dong, Zea kan emang udah cantik dari lahir." Gadis itu terkekeh karena ucapannya sendiri yang terdengar narsis. "Zayn kapan datengnya sih Pa." Tanyanya mulai tak sabar.
Marisa bergantian masuk kamar mandi, sementara Zea ditemani Elvan.
"Bentar lagi mungkin sayang. Zea udah sembuh beneran?" Tanya Elvan
"Udah dong Pa." Gadis itu ceria.
"Zea.." Zayn tiba-tiba masuk dan membuat Zea dan Elvan tersenyum saat melihat kearahnya
Bocah laki-laki itu berlari menghampiri Zea. Lalu dengan dibantu sang Papa, Zayn berhasil duduk di ranjang Zea menemani saudarinya itu yang sudah terlihat lebih baik dari pertama kali datang ke rumah sakit itu kemarin.
Pak Erwin dan Alvero masuk menyusul Zayn yang sudah berlari terlebih dulu.
"Jadi ini cucu Grand-Pa yang namanya Zea, cantik sekali kamu Zea." Kata Pak Erwin yang langsung memeluk cucu perempuannya.
"Grand Pa, Grand Pa nya Zayn ya." Tanya Zea dengan polos.
"Grand Pa Zayn, Grand Pa Zea juga kok, iya kan Pa." Kata Zayn.
"Iya Zayn."
"Zea, gimana rasanya masih sakit nggak?" Tanya Alvero.
"Aku udah sembuh, aku pengen pulang kok Uncle." Kata Zea.
"Bagus itu sayang, yang semangat." Kata Pak Erwin memeluk kembali gadis yang tengah duduk diranjangnya itu.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan Marisa langsung mengomel, "Mas, kebiasaan deh kalau gosok gigi nggak ditutup lagi tutup oasta giginya jadi tumpah kemana-mana kan." Kata Marisa yang masih belum menyadari kedatangan Zayn, Alvero juga Pak Erwin.
Semua orang melihat kearah Marisa yang hanya memakai celana selutut dan kaos yang dibawakan Kevin kemarin, sementara lehernya tertutup handuk yang dililitkan ke leher.
"Mama." Teriak Zayn yang langsung menbuat Marisa tersadar.
Elvan terbengong dan Alvero juga Pak Erwin tertawa.
Bersambung....