My Amazing Husband

My Amazing Husband
Berhentilah Menyakiti


🌱🌱🌱Happy ReadingπŸ€πŸ€πŸ€


Mendengar penghinaan dari Bu Anita, Elvan pun merasa tak terima. Hatinya merasakan sakit, saat wanita yang pernah menjadi ibu tirinya itu dengan tega meragukan kesetiaan Marisa.


"Kalau seseorang tidak mencelakai kami, pasti kami tidak akan pernah berpisah." Elvan menatap tajam mata Bu Anita.


Marisa sedikit terkejut dengan respon Elvan, ia yang tak ingin terjadi keributan di rumah sakit, akhirnya menggandeng lengan suaminya itu.


"Mas, ayo kita pulang!" ajak Marisa yang kini setengah menyeret tangan Elvan. "Kak Reyna, Kak Al, kami pulang dulu," pamit Marisa pada sepasang orang tua baru itu.


"Hati-hati, El," kata Alvero saat Elvan dan Marisa akan meninggalkan ruang perawatan Reyna.


Alvero kini menatap tajam Bu Anita, ia dari dulu tak menyukai sikap mamanya yang selalu membenci Elvan.


Sadar akan tatapan tajam Alvero, Bu Anita pun meletakkan cucunya kembali ke ranjang bayinya. Wanita yang tak lagi muda itu memilih duduk di sofa.


Alvero duduk di samping Bu Anita, memegang tangan wanita yang telah melahirkan nya ke dunia. Entah kenapa sangat sulit menyentuh hati Bu Anita, Alvero pun menghembuskan nafasnya dengan berat.


"Ma, berhentilah menyakiti Elvan. Apa sebenarnya kesalahan Elvan?" tanya Alvero lelah.


"Mama nggak suka aja sama dia, dia itu bukti penghianatan Papa," jawab Bu Anita dengan ketus.


"Dan aku adalah bukti dari pengkhianatan Mama. Bahkan Mama lupa, aku anak haram yang masih sangat disayangi oleh Papa," kata Alvero.


Bu Anita terdiam, selama ini ia hanya memikirkan perasaannya sendiri, ia bahkan tak tahu bagaimana perasaan Alvero sesungguhnya.


"Kalau Mama masih punya hati, berhentilah menyakiti mereka Ma, karena dengan Mama menyakiti mereka, Mama juga menyakitiku Ma. Elvan anak sah, karena Papa dan Bunda menikah dengan sah. Sedangkan aku Ma, aku anak haram yang Mama lahirkan setelah mengkhianati Papa." Alvero menundukkan kepalanya, hatinya begitu hancur. Ia teringat kejadian lima tahun lalu, saat Pak Erwin mengatakan kebenaran tentang statusnya.


Lebih dari lima tahun lalu, saat Bu Anita pulang dari Paris, Alvero melihat hubungan mama dan papanya semakin jauh. Pak Erwin tak pernah mau bercerita tentang hubungannya dengan Bu Anita yang renggang, namun surat perceraian itu menjawab semua pertanyaan yang ada di benak Alvero. Pak Erwin masih tak mau mengatakan fakta tentang perselingkuhan istrinya, akhirnya membuat Alvero mendesak sang mama untuk berkata jujur.


Bagai tersambar petir, Alvero begitu terkejut saat Bu Anita mengakui perselingkuhannya. Bahkan, Alvero yang menjadi kebanggaan keluarga Wiguna ternyata hanya anak haram hasil perselingkuhan mamanya.


Karena merasa bersalah dengan Elvan atas sikap Bu Anita selama ini, Alvero memilih meninggalkan rumah dan perusahaan Wiguna. Dan mulai membangun sendiri perusahaannya bersama Reyna yang saat itu masih menjadi tunangannya, karena pernikahan mereka harus tertunda.


"Maafkan mama Al, Mama terlalu egois, maafkan mama." Bu Anita mulai tersentuh hatinya, ia menangis, menyesali setiap perbuatannya.


"Berjanjilah Ma, jangan menyakiti keluarga Wiguna lagi, kalau Papa mau, Papa bisa saja menuntut Mama atas semua yang menimpa keluarga Wiguna, tapi Papa nggak pernah melakukannya Ma, karena Papa sangat nenyayangi Al." Alvero memohon dengan hatinya, berharap sang mama akan benar-benar berubah.


"Mama janji Al, Mama tidak akan menyakiti mereka lagi." Bu Anita langsung memeluk tubuh putranya, kini ia sadar, ia juga harus memikirkan perasaan Alvero. Karena beruntungnya, Pak Erwin tetap menganggap Alvero putranya, dan tidak menyebar fakta yang sesungguhnya.


Ibu dan anak itu akhirnya saling melapangkan hatinya dalam pelukan yang sangat erat.


Reyna yang sedari tadi terdiam, ikut meneteskan air mata melihat adegan mengharukan sepasang ibu anak itu.


Alvero dan Bu Anita lalu menghampiri Reyna yang masih di atas ranjang pasiennya. Bu Anita langsung memeluk menantu kesayangannya itu.


Rasa haru pun semakin terasa di ruangan VVIP itu, hingga suara tangis bayi Reyna menghentikan drama tangisan mereka.


Alvero tersenyum bahagia karena mamanya telah belajar menerima kenyataan.


🌱🌱🌱M.A.HπŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Di dalam mobil, Elvan yang sedang mengemudikan mobilnya terlihat masam. Sementara Marisa berkali-kali membuang nafas beratnya.


Kata-kata Bu Anita yang begitu menyakiti hatinya, membuat Elvan tak sanggup menampilkan senyum di wajah tampannya.


"Mas, jangan manyun gitu, jelek Mas." Marisa yang duduk di samping suaminya kini merasa tak nyaman dengan ekspresi yang ditampilkan suaminya.


"Memangnya kamu nggak marah sama Mama Anita? Dia yang udah buat kita kecelakaan, dan akhirnya memisahkan kita selama ini Sayang." Elvan kembali kesal mengingat ulah ibu tirinya itu.


Marisa mengusap lembut wajah suaminya, lalu ia menampilkan senyum yang begitu manis.


"Mas, bukankah karena itu hubungan kita menjadi kuat?" tanya Marisa.


Elvan menepikan mobilnya, lalu memandang wajah Marisa dengan serius.


"Apa kamu sungguh tidak membenci Mama Anita?" tanya Elvan yang kini menggenggam kedua tangan Marisa.


Marisa tersenyum, lalu dengan yakin ia menjawab, "Aku tidak pernah membenci Mama Mas, karena Mama, cintaku sama Mas Elvan semakin dalam, dan karena Mama juga aku belajar menjadi wanita yang kuat."


Elvan melepas sabuk pengaman nya, lalu memeluk erat tubuh Marisa. Elvan tak menyangka, istrinya benar-benar berjiwa besar. Meski dia tersakiti, namun tak ada dendam di hatinya, membuat Elvan semakin bersyukur memiliki istri seperti Marisa.


"Aku Sangat mencintaimu Sayang, aku sangat bangga memilikimu." Elvan mengusap rambut Marisa yang masih duduk di kursinya.


Marisa membalas pelukan Elvan, ia juga sangat bersyukur memiliki suami yang setia seperti Elvan. Suami yang begitu mengagumkan baginya.


"Mas, kamu inget posisi kayak gini nggak?" tanya Marisa yang masih dalam di pelukan Elvan.


"Nggak, memangnya kenapa Sayang?" Elvan balik bertanya, namun tangannya masih sangat erat memeluk Marisa.


Marisa mencoba mengurai pelukan mereka.


"Dulu waktu kita kecelakaan kan kita lagi berhenti di tepi jalan kayak gini," ucap Marisa mengingatkan.


Seketika Elvan langsung kembali pada posisinya. Kemudian memasang kembali sabuk pengamannya.


"Kamu nakut-nakutin mas deh Sayang." Elvan kembali melajukan mobilnya.


Marisa terkekeh pelan, kebiasaan Marisa saat tertawa ialah selalu menutupi mulutnya dengan telapak tangannya.


Elvan tersenyum karena tawa istrinya.


"Jadi, kamu juga sudah memaafkan kakek?" tanya Elvan yang masih penasaran.


Marisa terdiam sejenak, lalu ia menghembuskan nafasnya yang berat.


"Aku sudah memaafkan kakek Mas, hanya saja aku masih kecewa waktu itu, tapi sekarang, aku sudah mengikhlaskan semua, dan aku harap kita semua akan bahagia pada akhirnya," jawab Marisa dengan penuh keyakinan.


"Syukurlah." Elvan mengusap pelan rambut Marisa.


Sayang, masih ada satu penghalang kita menuju kebahagiaan yang sempurna, aku berharap, kita bisa melaluinya, dan semoga saja dia bisa menerima kenyataan, meski dengan keadaannya yang sekarang.


Bersambung….


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Karena komentar kalian itu yang bikin Othor semangat nulisnya, so, Othor tunggu komentar positif kalian ya, pasti Othor balas kok 🀭🀭


Kalau suka sama karya ini, tambahkan ke favorit dengan klik ❀, boleh banget kalau mau kirim hadiah, kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🀭🀭


Terima kasih banyak readers kece yang masih setia terus πŸ€—πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Mau kenal Othor?


Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka