
...🌼Happy Reading🌼...
Elvan bangkit setelah berhasil menguasai emosinya. Ia sadar, istrinya akan lebih tertekan lagi jika ia bersedih. Di kecupnya lembut kening Marisa yang terbalut perban.
"Sayang, kita baru menikah, tidak apa jika Allah belum memberi kita kepercayaan." Kata Elvan menggenggam tangan kanan Marisa yang tak ada selang infusnya.
Kesedihan dihatinya harus ia tekan, karena melihat istrinya itu baik-baik saja juga menjadi suatu keberuntungan yang patut disyukuri.
"Mas, aku tadi udah ke dokter, dan dokter juga udah periksa aku, kalau ada malaikat kecil kita disini Mas." Marisa tersenyum bahagia, ia menarik jemari tangan Elvan yang menggenggamnya dan menaruhnya di atas perutnya.
Elvan dengan segenap hatinya berusaha mengendalikan emosinya yang kembali merasuki dirinya. Bagaimana cara memberitahu Marisa bahwa janin itu telah pergi. Apakah ia tega melihat senyuman manis disela sakitnya itu menghilang dan lenyap begitu saja.
Elvan masih terdiam tak merespon. Melihat senyum Marisa yang terukir indah di bibirnya, membuat Elvan tak tahu harus berkata apa.
Sedangkan Marisa mulai curiga melihat suaminya tak memberikan respon seperti harapannya. Senyumnya tiba-tiba memudar, menyadari ada sesuatu yang tak ia ketahui.
"Apa Mas Elvan tidak bahagia?" Tanya Marisa melihat mata sembab suaminya yang tak bereaksi mendengar kabar kehamilannya.
Elvan mengelus pipi Marisa, mau tidak mau, suka tidak suka dia harus berkata jujur kepada Marisa.
"Sayang, malaikat kecil kita udah di surga sekarang, dia belum siap bertemu kita disini, kita akan ketemu dia di surga nanti ya sayang." Elvan menggenggam erat tangan Marisa, lalu mencium pipi Marisa cukup lama. Hingga ia bisa merasakan buliran air bening yang mengalir membasahi sebagian wajahnya, Marisa menangis dalam diamnya.
Air mata itu terus berjatuhan tanpa bisa berhenti, Marisa melayang dalam pikirannya. Bayi kecil yang tadi siang baru saja ia kenal, kini lenyap terhapus kata 'surga' yang diucapkan suaminya sendiri. Benarkah bayi kecil itu tak bisa ia miliki? Sesak di dada membuatnya tak mengeluarkan sepatah kata pun, hanya air mata yang terus saja berjatuhan membasahi pipi hingga menjadikan basah di bantal rumah sakit itu.
Elvan berbisik lembut di telinga istrinya "Allah menyuruh kita menikmati masa indah pernikahan dulu sayang, kita bisa memiliki anak jika Allah sudah yakin kita bisa dipercaya." Elvan lalu mencium tangan Marisa yang ia genggam erat.
Sementara air mata Marisa terus mengalir deras tak terkendali. Ingin rasanya ia berteriak histeris, tapi nyatanya hanya air matanya yang keluar. Lidahnya kelu, tak lagi dapat bersuara.
Pak Erwin dan Alvero yang menyaksikan dua orang yang baru saja kehilangan itu hanya diam membeku, ikut merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan Marisa dan Elvan.
Galih datang bersama dokter yang menangani Marisa, lalu dokter itu memeriksa organ-organ vital Marisa, seperti otak, jantung, dan juga paru-paru.
"Ibu Marisa sudah baikan, tinggal pemulihan saja. Tolong dijaga jangan sampai stres dulu ya." Kata dokter lalu segera pamit keluar.
"Sayang, kamu dengar kan, jangan sampai kamu stres ya, nanti kalau kamu sembuh, Mas akan ajak kamu bulan madu lagi, kamu suka pantai kan?" Kata Elvan berusaha menghibur Marisa.
Entahlah, ia tak tahu kalimat apa yang bisa membahagiakan istrinya saat ini. Marisa masih membisu, tatapannya kosong namun air mata masih terus membanjiri wajahnya.
"Papa rasa, Marisa bisa ambil cuti untuk pemulihan, tidak perlu buru-buru keeja, benar kan Al?" Kata Pak Erwin.
"Iya iya, papa benar, nanti aku akan suruh orang buat cari ganti kamu sementara Ris, kamu fokus sama pemulihan kamu dulu ya." Kata Alvero membenarkan.
Menyadari ada orang lain yang memperhatikan keadaannya, Marisa mulai menarik nafas dalam-dalam, berusaha menguasai dirinya sendiri.
"Mas, aku nggak mau sendirian dirumah, setelah aku pulih aku masih pengen kerja, boleh ya mas." Kata Marisa memohon kepada suaminya. Kehilangan janin yang baru saja ia kenal membuatnya begitu sedih, ia tak ingin berlarut dalam kesedihan jika dirumah sendiri, yang akan membuat suaminya khawatir.
"Sayang, kamu tenang aja, papa dan Kak Al tidak memaksamu, kamu bisa kerja setelah benar-benar pulih, iya kan pa." Kata Elvan.
"Iya El. Marisa, kamu bisa datang ke kantor kapanpun kamu siap, karena kamu juga bagian dari perusahaan." Kata Pak Erwin.
Marisa mengangguk pelan, Elvan lalu merasa lega karena Marisa tak berlarut dalam kesedihannya.
Lalu Pak Erwin dan Alvero pamit pulang karena malam semakin larut. Galih pun juga pulang setelah membeli makanan untuk Elvan.
"Maafkan aku ya mas." Kata Marisa kembali meneteskan air mata.
Elvan saat ini tidur disampingnya, karena ranjang rumah sakit itu muat untuk mereka berdua.
"Sayang, buatku apapun yang buat kamu bahagia mas akan jauh lebih bahagia. Ini bukan salahmu, mungkin dia belum rejeki kita sayang." Elvan mengelus rambut Marisa yang tergerai dibelakang telinganya.
Malam itu Elvan mendekap Marisa dalam pelukannya, berusaha menghilangkan sakit dan juga meyakinkan istrinya itu bahwa semuanya pasti akan indah pada waktunya.
"Kalau saja ini tidak terjadi, kebahagiaan kita akan lengkap Mas." Marisa menangis dalam pelukan suaminya. "Aku baru saja bahagia dengan kehamilanku, tapi dalam sekejap kebahagiaan itu menjauh dariku Mas. Hiks...." Marisa menumpahkan kesedihannya dalam dekapan Elvan, meskipun Elvan sendiri juga merasakan kesedihan yang sama.
***
Tiga hari setelah kecelakaan, Marisa sudah diperbolehkan pulang. Ia sudah tak lagi mengenakan perban di kepala, hanya sedikit perban yang menempel di keningnya menutupi luka dikepalanya.
Marisa turun dari mobil, dibantu Elvan suaminya. Ibu-ibu komplek yang melihat kedatangannya langsung menghampiri Elvan dan Marisa. Mereka lalu berbincang di ruang tamu pasangan baru itu. Mereka membawa buah, masakan dan juga beberapa cemilan yang telah mereka beli bersama untuk menjenguk Marisa setelah mendapat kabar dari Elvan bahwa Marisa akan pulang.
"Mbak Risa, turut berduka ya, semoga Allah segera menggantinya dengan yang lebih sempurna." Kata Bu Ana.
"Terimakasih ibu-ibu semuanya." Kata Marisa yang menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Mbak Risa, saya dulu juga pernah kehilangan tapi dulu bayi saya lahir prematur dan tidak selamat, tapi setelah itu Allah memberi saya bayi sehat yang sekarang malah sering membuat saya emosi." Kata Bu Ririn, tetangga Marisa.
Marisa tersenyum, mengingat anak laki-laki Bu Ririn yang memang sangat bandel itu.
"Anak-anak itu yang nantinya akan menuntun kita menuju surga Bu Ririn." Kata Bu Eli.
"Insya Allah, Aamiin." Kata Bu Ririn.
Marisa kembali berpikir, benar kata Bu Eli, Anak mereka akan menjadi penolongnya saat di akhirat nanti, ia hanya perlu mengikhlaskannya.
Siang itu, ibu-ibu komplek berusaha membuat Marisa sedikit melupakan kesedihannya. Mereka memang tetangga yang akan selalu ada disaat suka maupun duka.
***
Malam harinya, Galih dan juga teman-temannya datang ke rumah Elvan untuk membesuk Marisa. Menunjukkan rasa empatinya kepada sahabat mereka itu.
Setelah berbincang diruang tamu, Elvan mengajak mereka semua menuju rooftop seperti biasa saat mereka berkumpul, agar bisa lebih santai. Karena beberapa teman Elvan ada yang membawa pacarnya, Marisa pun bersama dengan beberapa wanita itu. Saling mengakrabkan diri dan juga mengobrol tentang persahabatan pasangan mereka masing-masing.
Galih mendekati Elvan saat Marisa tak ada disampingnya.
"Van, gue udah dapet info siapa yang nabrak Marisa waktu itu."
to be continued
Terimakasih readers kece masih setia dengan Marisa Dan Elvan.
Semoga menghibur ya, jangan lupa tinggalkan like dan coment untuk semangatin autor ðŸ¤ðŸ¤
Kalau kalian suka dengan cerita ini boleh banget ya kasih vote dan giftnya, Autor nggak maksa ðŸ¤ðŸ¤.