
Suasana sekolah mulai ramai saat mobil Elvan tiba di sekolah. Marisa berinisiatif untuk turun menjemput kedua anak kembarnya, sementara Elvan menunggu di mobil.
Tak lama, Andra pun datang menghampiri mobil Elvan yang kaca sampingnya terbuka.
"Tumben, istri lo yang turun," ucap Andra tanpa basa-basi.
Elvan menatap jengah laki-laki yang berdiri di samping mobilnya itu. Entah kenapa, ia tak pernah menyukai laki-laki bernama Andra itu.
"Kenapa? Kamu suka sama istriku?" tanya Elvan langsung pada intinya.
Andra terkekeh, sebegitunya Elvan posesif terhadap Marisa.
"Santai Bro, gue nggak ada niat sedikitpun untuk merebut istri lo, gue tau kok dia wanita baik-baik yang nggak mungkin tergoda sama rayuan gue," kata Andra yang membuat Elvan semakin bingung.
Elvan turun dari mobilnya, membuat dua laki-laki itu berdiri sejajar, terlihat jelas Elvan yang lebih tinggi dari Andra.
"Gue nggak ngerti, jadi lo deketin istri gue buat apa?" tanya Elvan yang mengungkapkan rasa penasarannya.
Andra menarik nafas berat, mau tak mau ia pun bercerita dengan pesaingnya itu.
"Gue cuma mastiin kalo lo beneran balik sama mamanya Zayn, dan gue ada kesempatan buat balikan lagi sama Sylvia. Walaupun istri lo lebih alami kecantikannya, tapi gue bukan perebut bini orang." Andra menepuk-nepuk pelan pundak Elvan. "Gue jemput Axel dulu, kasihan dia nungguin. Oh iya, jaga hubungan lo sama Marisa, lo nggak akan tau apa yang bisa Sylvia lakuin buat ngerusak rumah tangga kalian," kata Andra yang kemudian berlalu meninggalkan Elvan.
Elvan merenungi kata-kata Andra, selama ini ia berpikir bahwa Andra menyukai istrinya. Namun ternyata, laki-laki yang telah menjadi duda itu justru mengharapkan kembali mantan kekasihnya, yang sempat menjadi pasangan Elvan juga.
"Papaaa." Si ceria Zea menarik lengan ayahnya yang sedang menikmati lamunannya.
Elvan menoleh ke bawah, "Hai Sayang."
Marisa dan Zayn datang menyusul Zea. Gadis kecil itu sebelumnya berlari menghampiri Elvan, karena begitu tak sabar ingin menjenguk sepupu barunya.
"Papa, ayo kita pulang terus lihat adek bayi." Zea segera membuka pintu mobil penumpang di belakang sopir.
Elvan tersenyum tipis. Namun, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Elvan pun segera mengeluarkan ponsel dari saku jasnya.
Marisa dan Zayn memasuki mobil, menunggu Elvan yang masih menerima telpon.
"Ma, nanti boleh gendong adik bayinya nggak?" tanya Zea saat Marisa telah duduk rapi di mobil.
"Lihat nanti ya Sayang, kalau nggak bisa gendong nggak boleh ngambek loh ya." Marisa mewanti-wanti putrinya.
"Oke Ma." Gadis kecil itu tersenyum manis.
Elvan pun masuk ke dalam mobil dan segera memasang sabuk pengamannya.
"Sayang, kita ke bengkel sebentar ya." Elvan meminta persetujuan dari istrinya.
"Ada apa Mas?" tanya Marisa.
"Ada beberapa berkas yang perlu segera tanda tangan, bentar aja kok, ya." Elvan melajukan mobilnya meninggalkan sekolah Zayn dan Zea.
Marisa mengangguk, sudah lama juga ia tak mengunjungi bengkel suaminya. Selama perjalanan menuju bengkel, dua anak kembar itu nampak berdiskusi membahas banyak hal, tentang rupa bayi Reyna, juga membahas ulang tahun mereka yang akan dirayakan esok hari.
Zayn dan Zea begitu antusias membayangkan kado apa yang akan mereka dapatkan nanti.
Mobil pun berhenti di depan bengkel.
"Papa ini dimana?" tanya Zea yang belum pernah datang ke bengkel Elvan.
"Ini bengkelnya Papa Zea," jawab Zayn dengan cepat.
"Yuk, kita turun dulu Sayang," ajak Marisa.
Marisa turun dari mobil, lalu Zayn segera menggandeng tangan mamanya. Seolah memamerkan bahwa mamanya kini telah kembali. Sementara Zea mengekor di belakang Elvan yang telah masuk lebih dulu.
Marisa dan Zayn saling bergandengan tangan, lalu masuk ke dalam bengkel Elvan.
"Siang Bu Marisa, siang bos kecil," sapa salah seorang kasir senior di bengkel Elvan.
"Siang juga." Marisa sedikit terkejut dengan sambutan itu. "Apa ada tamu?" tanya Marisa pada wanita tersebut.
"Iya Bu, ada pengacara Pak Elvan, Bu Marisa bisa tunggu di sofa sana." Wanita itu menunjuk sofa berwarna coklat di ruangan itu. "Mari, saya antar!"
"Tidak usah, saya bisa sendiri." Marisa mengajak Zayn untuk menunggu di sofa. "Kenapa pengacara datang ke sini, tidak ke kantor saja," gumam Marisa.
Sekitar lima belas menit menunggu, pengacara keluar dari ruangan, disusul Elvan, Zea dan juga Galih.
Marisa berdiri menghampiri pengacara suaminya itu.
Setelah berbasa-basi sebentar, pengacara itu akhirnya meninggalkan bengkel Elvan.
"Hai Ris, lama nggak ketemu." Galih mengulurkan tangannya.
"Hai, Mas Galih, apa kabar?" tanya Marisa.
"Alhamdulillah baik," jawab Galih.
"Ada apa sih Mas sebenarnya, kenapa pengacara ke sini?" tanya Marisa pada suaminya, mereka kini berjalan menuju mobil.
"Nggak ada apa-apa Sayang. Oh iya, mumpung kamu disini, aku mau kasih lihat itu." Elvan menunjuk para pekerja bangunan yang tengah menyelesaikan pekerjaannya.
"Apa itu, Mas?" tanya Marisa tak mengerti.
"Mas rencananya mau bikin bengkel mobil di sana. Mungkin tahun depan baru mulai beroperasi bengkelnya. Doain ya." Elvan mengusap lembut rambut Marisa.
"Semoga lancar Mas, dan semoga berkah." Marisa tersenyum.
"Aamiin."
π±π±π±M.A.H.πππ
Malam harinya, Elvan dan Marisa mengajak dua anak kembar mereka untuk menjenguk Reyna yang masih di rumah sakit.
"Hai keponakan Onty," sapa Reyna yang baru saja selesai makan ditemani Alvero. Sementara Bu Anita sedang menggendong cucunya seorang baby sitter.
Zayn dan Zea segera bersalaman dengan orang dewasa di ruangan itu.
Sejenak mereka berbasa-basi, mengobrol dengan santai, hanya Bu Anita saja yang terlihat sedikit canggung dengan kedatangan Marisa dan Elvan.
"Mama, Zea harus panggil neneknya adik bayi dengan apa?" tanya Zea dengan polosnya.
"Emm β¦. Emm β¦. Apa ya." Marisa sendiri kebingungan dengan pertanyaan Zea yang tak terduga. Jika dijawab, ia takut Bu Anita tersinggung dan malah mengatakan hal yang menyakitkan pada putrinya.
"Panggil Oma saja," jawab Bu Anita. Wanita itu menyerahkan cucunya kepada baby sitter, lalu menghampiri Zea.
Elvan dan Marisa saling berpandangan. Mereka bertanya-tanya dalam hati, kenapa Bu Anita bersikap seperti itu?
"Kamu namanya siapa?" tanya Bu Anita dengan ramah.
Gadis kecil itu mendekat, lalu menampilkan senyum imutnya.
"Namaku Zea Oma, Zea kembaran Zayn," jawab Zea.
"Kamu cantik sekali ya, mirip neneknya papamu." Bu Anita mengusap lembut wajah Zea.
"Mama sudah berubah kok," ucap Alvero yang paham dengan kebingungan Marisa dan Elvan.
Bu Anita menghampiri Marisa, lalu menatap lekat wajah wanita yang pernah ia sakiti. Rasa bersalah dalam hatinya, membuat air mata Bu Anita meluncur pelan dari matanya.
"Maafkan Mama, Marisa." Bu Anita menangis di hadapan Marisa.
"Jangan menangis, Ma." Elvan mengusap lengan wanita tua yang sering menyakiti hatinya, bahkan pernah membuatnya mengalami kecelakaan.
"Maafkan Mama." Bu Anita langsung memeluk Marisa. Menangis karena rasa bersalahnya.
Marisa perlahan membalas pelukan Bu Anita. Ia sudah benar-benar memaafkan kesalahan-kesalahan yang telah dilakukan Bu Anita.
Dua wanita beda usia itu akhirnya berpelukan, membuat suasana haru ruangan VVIP rumah sakit itu.
"Ada apa ini?" tanya Kakek Darma yang datang bersama Pak Erwin.
Bersambungβ¦.
jangan lupa tinggalkan jejak jempolnya ππ