My Amazing Husband

My Amazing Husband
Hari Patah Hati


Pagi hari setelah sholat shubuh, Marisa menuju dapur untuk memasak. Nasi kemarin masih sisa banyak, Marisa memutuskan untuk menggoreng sisa nasi itu. Bukan hanya karena praktis, tapi sayang juga jika sampai terbuang sia-sia.


Selesai memasak nasi goreng, Marisa kembali ke kamarnya, sang suami yang masih mengaji pun terlihat masih khusyuk dengan bacaannya. Marisa mulai mandi menghilangkan aroma minyak yang menempel di tubuhnya.


Setelah selesai mandi, ia berhias seperti biasanya saat ke kantor. Sedangkan suaminya kini telah berada di dalam kamar mandi.


Sayup-sayup terdengar suara tukang sayur yang meneriakkan dagangannya. Marisa bergegas turun, setelah menyiapkan pakaian untuk suaminya. Ia berjalan dengan cepat menuju keluar rumah. Dan tukang sayur itu pun berhenti tepat di depan pagar rumahnya saat Marisa memanggilnya.


"Silahkan neng, sayurnya masih segar-segar." Kata penjual sayur saat melihat Marisa yang masih terhalang pintu pagar itu.


"Saya mau cabe dong pak, setengah kilo aja, bawang merah seperempat kilo, bawang putihnya seperempat kilo juga." Marisa meyebutkan bahan-bahan yang belum ia dapat dari supermarket waktu itu.


"Sudah, apa lagi neng?" Penjual sayur itu memasukkan belanjaan Marisa kedalam kantung kresek berwarna putih.


"Em, bayamnya 1ikat deh Pak, sama Kangkungnya 1ikat juga. Ayam nya sekilo berapa pak?"


"Eh, mbak cantik belanja." Sapa Ibu-ibu yang kemarin lusa lewat depan rumahnya.


"Eh, iya bu, kebetulan buat masak besok belum ada bahan." Jawab Marisa.


"Oh iya kenalan dulu, saya Esti, rumah saya beda satu rumah aja loh sebelah sana." Kata ibu itu menunjuk ke arah selatan, karena rumah mereka menghadap ke timur.


"Oh, iya, saya Marisa istrinya mas Elvan." Mereka pun saling berjabat tangan.


"Ayamnya tiga puluh neng, mau sekilo atau dua kilo." Kata penjual sayur.


"Sekilo aja pak."


"Kerja?" Tanya Bu Esti memperhatikan penampilan Marisa yang memang seperti pegawai kantor pada umumnya.


"Iya, saya kerja. Bu Esti sudah lama tinggal disini?"


"Sudah Neng, apalagi?" Tanya penjual sayur.


"Kalau saya baru dua tahunan lah tinggal disini. Lebih lama Mas Ganteng sebenernya, tapi dia kan jarang disini." Kata Bu Esti.


"Oh Ya." Marisa kemudian bertanya kepada penjual sayur. "Berapa semuanya?"


"Totalnya jadi enam puluh lima ribu." Kata Penjual sayur setelah menghitung semua belanja Marisa dengan kalkulator ponselnya.


"Wah, ada tetangga baru." Dua orang ibu-ibu datang menghampiri mereka.


Marisa menyerahkan uang lembaran seratus ribu kepada penjual sayur.


"Iya, ini istrinya Mas Ganteng komplek kita." Bu Esti yang menjawab. Sementara Marisa hanya tersenyum ramah.


"Mas Ganteng? Mas Elvan yang tinggal disini?" Seorang ibu bertubuh lebih gemuk menunjuk rumah Elvan dan Marisa.


"Iya. Sekomplek pasti pada kecewa." Jawab Bu Esti dengan yakin.


"Bukan kecewa lagi, patah hati sekomplek ini namanya." Kali ini wanita muda yang lebih langsing yang berkata.


"Ada apa?" Beberapa ibu yang baru datang pun ikut bergosip.


"Mas Ganteng udah punya istri." Kata ibu yang lebih gemuk tadi, suaranya yang sedikit serak seakan menangis karena kekecewaan.


"Apa? Beneran?" Salah seorang ibu-ibu yang baru datang pun terkejut dan tak percaya. "Jadi dari kemarin aku lihat lampu atas menyala itu karena Mas Ganteng nginep? Sama istrinya?"


Ibu bertubuh gemuk dan wanita bertubub langsing mengangguk bersamaan.


Lalu mereka berpelukan, seakan telah kehilangan harta berharga milik mereka secara bersamaan.


"Iya mbak Marisa yang cantik ini istrinya Mas Elvan." Bu Esti merangkul pundak Marisa dengan satu tangannya. Seolah memamerkan barang baru kepada ibu-ibu komplek itu. Membuat mereka jadi semakin histeris.


"Udah, kalian ini nangisin laki-laki lain, nggak ingat suami di rumah. Jadi belanja nggak?" Tanya penjual sayur kesal, ia lalu menyerahkan uang kembalian Marisa.


"Saya kan nggak ada suami, jadi nggak apa-apa kan nangisin laki-laki lain?"


"Iya, saya juga belum nikah, malah ditinggal nikah sama Mas Ganteng."


Melihat keadaan yang sedikit aneh menurutnya, Marisa pun berpamitan untuk masuk rumah. Meninggalkan ibu-ibu yang sedang meratapi pernikahannya dengan Elvan.


"Ibu-ibu, saya permisi dulu ya, mari bu Esti permisi." Marisa pun membuka pintu pagar.


"Iya mbak Marisa, biarkan mereka-mereka yang lebay ini." Jawab Bu Esti.


Marisa pun masuk ke dalam rumah dan menuju dapur untuk menyimpan belanjaannya.


Suaminya ternyata sudah duduk tenang dimeja makan, namun masih memegang ponselnya. Ia belum makan.


"Mas, ibu-ibu komplek lagi pada histeris diluar." Kata Marisa saat di depan suaminya.


"Kenapa?" Elvan yang tadi sibuk dengan ponselnya, kini menatap istrinya dengan heran.


"Mereka patah hati katanya." Marisa meletakkan ayam potong yang tadi dibelinya ke dalam lemari pembeku.


"Patah hati kenapa sayang? Karena Mas nikah sama kamu?" Elvan menebak sendiri jawabannya, karena memang ibu-ibu komplek itu memang sering berterus terang mengagumi ketampanan dan mengatakan bahwa ia adalah idola komplek perumahan mereka.


"Kok Mas tau?" Marisa kini tengah mencuci sayur yang dibelinya. Ia membuang akar akar sayur itu. Lalu mengeringkannya dan menyimpannya ke dalam lemari es.


"Ya nebak aja sih. Mereka itu lucu sayang. Kamu masak apa tadi?"


"Hari ini aku masak nasi goreng mas, maaf ya daripada kebuang aku masak aja nasinya." Marisa mengambil piring lalu menuang nasi kedalam piring suaminya.


"Iya sayang, terimakasih sudah mau repot masakin aku." Katanya lalu melahap suapan pertamanya. Setelah menelan seluruh makanannga. Ia mengambil sesendok nasi lagi. Kali ini kedua tangannya diangkat tinggi menampilkan dua jempolnya yang teracung.


"Mas Elvan ngomongnya selalu berlebihan deh, emang aku putri kerajaan apa, masak gitu aja dibilang repot." Kali ini Marisa hendak mengambil piring untuknya sendiri, namun tangan kiri suaminya mencegahnya untuk bergerak.


"Kenapa mas, aku mau makan juga. Laper." Marisa hendak melepas tangan suaminya.


"Sini mas suapin. Ak.." Tangan Elvan sudah menempelkan sesendok nasi goreng itu di depan mulut Marisa.


Marisa membuka mulutnya dan mengunyah nasi goreng suapan Elvan.


"Kamu bukan putri kerajaan, tapi kamu Ratu kerajaanku." Elvan menyuap nasi kedalam mulutnya sendiri.


"Memangnya mas Elvan raja?"


"Iya lah, aku raja, ini istanaku, kamu adalah ratunya. Daj sebentar lagi Allah akan menciptakan putri atau pangeran disini." Elvan mengusap perut istrinya.


Merekapun sarapan diselingi obrolan-obrolan manis. Tak sedikitpun membahas makan malam nanti yang entah akan menyenangkan atau justru menegangkan.


Saat Marisa membuka pintu garasi, ia melihat ibu-ibu masih berkumpul di depan pagar rumahnya. Ia pun menghampiri ibu-ibu komplek yang masing-masing telah memegang kantung kresek belanjaan.


"Ibu-ibu masih disini?" Tanya Marisa yang kini membuka pintu pagar rumahnya.


"Iya, kita nungguin Mas Ganteng, mau tanya langsung, beneran dia tega ninggalin kita semua." Jawab ibu-ibu berbaju biru.


"Mas Elvan nggak kemana-mana ibu-ibu, dia malah akan menetap disini sama saya." Kata Marisa


"Bukan ninggalin pindah, tapi ninggalin nikah." Jawab ibu bertubuh gemuk.


Mereka menangis. Marisa semakin merasa aneh dengan para tetangganya itu.


Lalu Elvan keluar dengan motornya dan berhenti di pintu pagar.


"Mas Ganteng." Teriak mereka saat motor Elvan berhenti.


"Pagi ibu-ibu. Apa kabar? Maaf lahir dan batin ya." Elvan yang belum memakai helmnya itu tersenyum kepada ibu-ibu yang telah menunggunya.


"Tuh kan, senyum mas Ganteng bikin meleleh. Kayak nggak rela mas Ganteng jadi milik pribadi. Mas Ganteng kan milik komplek." Kata ibu berbaju kuning.


Elvan hanya terkekeh, sudah biasa baginya mendengar ocehan ibu-ibu yang absurd itu.


"Mbak, boleh nggak kita masih sering belanja disini. Lihat Mas ganteng tiap hari. Kita masih syok loh." Kata ibu bertubuh gemuk.


Marisa hanya tersenyum. Apa ini, seperti suaminya ini seorang artis saja yang dimiliki penggemarnya.


"Gimana sayang?" Elvan mengerlingkan mata, ikut-ikutan memprovokasi.


"Terserah ibu-ibu saja, asal jangan aneh-aneh ya." Marisa mengalah.


"Makasih mbak cantik, kita janji, kalau diluar rumah, Mas Ganteng milik mbak Marisa sekaligus milik komplek, tapi kalau di dalam rumah, Mas ganteng tetep milik mbak Marisa kok." Kata ibu bertubuh gemuk. Sepertinya ibu itu adalah ketua mereka.


"Kita berangkat dulu ya ibu-ibu, takut telat." Elvan mendorong motornya keluar pagar. Sementara Marisa menutup pintu pagar dan menguncinya.


"Iya, hati-hati Mas Ganteng."


Marisa pun naik ke atas motor. Dan mereka berdua meninggalkan ibu-ibu komplek yang masih berdiri di depan rumah mereka.


****


Hari pertama bekerja setelah libur lebarannya, Elvan mengantar Marisa dengan motornya. Ia pun harus pergi ke bengkel untuk bekerja.


Setelah berpamitan dengan sang suami, Marisa memasuki gedung perkantoran itu. Ia bertemu dengan beberapa karyawan yang telah berkumpul, saling bersalaman mengucapkan selamat lebaran dan saling meminta maaf.


"Hai sekertaris Dirut." Sapa seorang laki-laki yang ia kenal bernama Kevin.


"Hai, pak Kevin, Selamat lebaran, Mohon maaf lahir dan batin ya." Kata Marisa menjabat tangan Kevin.


"Ya, sama-sama. Selamat lebaran untukmu juga ya." Kata Kevin.


"Terimakasih pak."


"Alvero baru balik, entar sore katanya nyampek." Kata Kevin lalu mereka berjalan menuju lift.


"Iya, Pak Alvero sudah confirm ke saya kok pak."


Mereka pun sampai di depan lift.


"Eh, Pak Kevin. Marisa, Minal aidzin walfaidin ya Ris." Kata seorang karyawan perempuan yang sedang menunggu di depan lift.


"Minal aidzin walfaidin juga Sha. Maaf lahir batin." Kata Risa setelah mereka bercipika cipiki ria.


"Selamat lebaran Sasha. Maaf lahir batin ya." Kata Kevin.


"Iya, terimakasih pak. Maaf lahir batin juga." Kata Sasha tersenyum kepada Kevin. "Eh, tadi siapa yang anter kamu? Aku lihat loh kamu salim ke cowok yang bawa motor tadi." Kata Sasha tertawa karena baru ini ia memergoki Risa diantar kerja oleh laki-laki.


"Ohh,, itu."


Ting..


Pintu lift terbuka.


"Kamu diantar siapa?" Kini Kevin juga ikut penasaran. Pasalnya Kevin tahu jika Alvero sahabatnya menyukai Marisa, dan pasti ini bisa menjadi info penting untuk sahabatnya itu.


"Itu... Emmmm..."


"Pacar???" Sasha memotong kata-kata Marisa.


Marisa hanya tersenyum, ia ingat yang suaminya bilang jangan sampai Alvero tahu, jadi ia tidak meralat tebakan Sasha.


"Kamu udah punya pacar?"


Kini giliran Kevin yang mendesaknya, membuat Marisa seakan mati kutu.


Ting..


Lift kembali terbuka.


"Aku duluan ya." Kata Sasha yang memang kerja di ruangan dua lantai dibawah Marisa dan Kevin.


Kini dalam lift itu hanya ada Kevin dan Marisa.


"Marisa, kamu punya pacar?" Tanya Kevin lagi.


"Emm, mungkin besok Pak Kevin bisa tau jawabannya." Jawab Marisa tak ingin berterus terang.


"Besok?? Kamu mau umumin pacar kamu saat halal bihalal?" Kevin tak puas dengan jawaban yang diberikan Marisa.


"Pak, kita cek ulang berkas meeting nanti sore yuk, Pak Alvero bilang harus perfect loh." Marisa berusaha mengalihkan pembicaraan.


Ting


Pintu lift kembali terbuka. Kini mereka telah sampai di lantai teratas tempat mereka bekerja.


Dan benar saja, Kevin yang memang profesional itu langsung membahas berkas-berkas yang dikatakan Marisa.


bersambung....