My Amazing Husband

My Amazing Husband
Tega Banget Sih


"Papa sama Tante Sylvia nggak jadi nikah sayang." Elvan mengusap lembut pipi Zayn dan Zea bergantian. "Papa sama Mama kan udah sama-sama sekarang, jadi, kita akan selamanya menjadi keluarga utuh buat Zayn dan Zea." Elvan menjelaskan kepada dua bocah yang sama-sama cerdas itu.


Sylvia merasa panas mendengar jawaban Elvan, hatinya tersayat, pedih sekali. Lagi-lagi ia harus merelakan orang yang dicintainya untuk wanita lain. Walau kali ini berbeda, tapi rasanya sama-sama menyakitkan.


Marisa melihat Sylvia menangis. Sebagai perempuan, ia tentu sangat memahami rasa sakit yang dirasakan Sylvia saat itu. Namun, ia sendiri juga tak bisa memberi dukungan, mengingat dia sendiri tak mengenal wanita itu.


"Mas…." Marisa memberi kode untuk Elvan karena tak tega melihat Sylvia menangis.


Elvan pun memahami maksud istrinya.


"Syl, are you okay?" tanya Elvan.


"Aku pulang dulu ya, nanti aku kabarin lagi kalau mau ketemu Mami Papi." Sylvia segera meraih tasnya. "Bye Zayn." Ia mengusap lembut kepala Zayn.


"Hati-hati," kata Elvan.


Sylvia hanya mengangguk kemudian meninggalkan cafe itu.


Marisa melihat ketulusan di mata Sylvia saat wanita itu mengusap rambut Zayn.


Sore itu, Elvan bersama istri dan kedua anaknya menikmati waktu kebersamaan mereka di Mall.


🌱🌱🌱


Cahaya bulan berpadu dengan kelip bintang menerangi hati Marisa malam itu, setelah pertemuannya dengan Sylvia siang tadi, ia jadi memikirkan banyak hal. Tentang Sylvia yang terluka, tentang Kakek Darma yang masih membencinya. Dan tentang permintaan Kakek untuk berpoligami.


Elvan melihat istrinya tengah melamun di ayunan rooftop mereka, lalu ia mendekati wanita yang hanya memakai atasan tipis juga rok selututnya.


Elvan tersenyum menikmati ekspresi wajah istrinya, terkadang keningnya berkerut menyatukan kedua alisnya, namun sekejap kemudian ia menggeleng-geleng kepala, entah apa yang tengah dipikirkannya.


Elvan lalu masuk ke kamarnya lagi, membuka lemari dengan sangat pelan, takut mengganggu anak-anaknya yang telah lelap. Ia mencari-cari sesuatu di sana, lalu tersenyum bahagia saat mendapatkan sesuatu yang menarik baginya. Cepat-cepat Elvan keluar untuk menemui istrinya, dan ternyata benar, wanita itu masih di posisi semula, mengayun pelan dengan sorot mata lebar dan pikiran yang entah melayang kemana.


"Dingin sayang," kata Elvan dengan suara lembutnya, lalu memasangkan jaket di tubuh istrinya.


"Mas…. Kok ada disini sih, bukannya tadi mas lagi di ruang kerja ya," kata Marisa yang memang tak menyadari kedatangan Elvan.


Elvan menarik tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mengecup lembut kening Marisa. Lalu memeluknya dengan erat.


"Mas udah merhatiin kamu dari tadi, kamunya aja yang ngelamun terus." Elvan menangkup wajah istrinya dengan kedua telapak tangannya. "Ngelamunin apa sih?" tanya Elvan yang kini menatap serius ke mata Marisa.


"Nggak Mas, aku nggak ngelamunin apa-apa kok," ucap Marisa yang kini tersenyum.


"Sayang, aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Apa setelah berpisah lama dariku, perasaanmu masih sama?" tanya Elvan, kedua matanya berusaha menyelami perasaan Marisa lewat mata indah itu.


"Aku juga sangat mencintaimu Mas." Marisa lalu memeluk erat tubuh suaminya, dan menyembunyikan wajahnya dalam dada bidang Elvan. Sungguh ia sangat bersyukur bisa bersama kembali dengan Elvan.


"Mas sangat merasa bersalah, membuatmu melewati kehamilan juga melahirkan seorang diri, maafkan suamimu Sayang." Elvan membalas pelukan hangat Marisa, ia memejamkan matanya berusaha menyalurkan rasa cintanya lewat pelukan hangat itu.


Marisa mengurai pelukannya pada tubuh Elvan. Wanita yang kini terbalut jaket hangat milik suaminya itu kembali menatap wajah rupawan yang senantiasa terawat, walau bulu-bulu halus mulai terlihat di sekitar dagu dan atas bibirnya. Ada sendu, kesedihan, juga penyesalan yang bisa dia lihat dengan jelas di dalam mata Elvan.


"Kamu tau nggak Mas, aku melahirkan mereka tanpa rasa sakit," ucap Marisa yang mulai mengingat kembali kejadian lima tahun lalu.


"Oh ya." Elvan merasa tak percaya dengan kata-kata Marisa. "Apa hanya aku yang merasakan sakitnya?" tanya Elvan yang juga kembali mengingat masa lima tahun lalu, saat ia mengalami kesakitan yang luar biasa, sakit yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bahkan dokter pun tidak mampu menyimpulkan penyakit apa yang diderita Elvan saat Marisa melahirkan itu.


"Mas, sakit apa?" tanya Marisa yang masih menautkan jemari tangannya di belakang tubuh Elvan.


Elvan memajukan wajahnya agar semakin dekat dengan Marisa. "Mas waktu itu sakit sekali di pinggang, panas, nyeri, pokoknya sakit banget." Elvan menempelkan keningnya pada kening Marisa. "Dan besok paginya Mas ketemu Zayn," ucapnya lemah, seolah ia tengah merasa bersalah karena saat itu Marisa juga harus terpisah dari Zayn.


"Oh ya, Mas waktu itu yang merasakan sakitnya?" tanya Marisa tak percaya dengan penjelasan suaminya.


"Aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya Mas," kata Marisa yang kemudian tersenyum senang.


Elvan melihat istrinya tertawa sambil menutupi mulutnya itu pun menjadi gemas. "Apa kamu senang Mas kesakitan?" tanya Elvan yang kemudian berusaha melepas tangan istrinya yang menutupi mulutnya itu.


"Enggak, tapi aku senang Mas, karena aku yang berjuang Mas yang kesakitan, Allah benar-benar adil," kata Marisa yang menghindar dari suaminya, ia kini bahkan berlari menjauhi suaminya.


"Kalau nanti ketangkep, nggak akan Mas lepas loh ya." Elvan berdiri, masih di tempat yang sama saat ia duduk menghampiri Marisa tadi.


"Tangkep aja Mas, aku nggak takut," kata Marisa yang kini telah berjarak cukup jauh dari Elvan.


"Oke, kita lihat nanti ya." Elvan berjalan mendekati Marisa. Namun wanita itu malah berlari semakin menjauh sambil sesekali tertawa.


"Nanti kita usaha punya anak lagi ya sayang, biar Mas bisa tahu gimana kamu kalau lagi hamil besar." Elvan masih berjalan pelan.


"Mas mau lihat aku gendut, gitu maksudnya?"


"Nggak sayang, tapi Mas beneran pengen nemenin kamu di masa-masa kehamilan, biar Mas ngerasa jadi Papa yang seutuhnya."


"Em, tapi aku boleh berdoa ya Mas, semoga kalau kita dikasih anak lagi, Mas yang akan ngerasain sakitnya melahirkan lagi," Marisa terkekeh, lalu berlari lagi, karena Elvan kini mulai mengejarnya.


Rooftop di rumah itu memang cukup luas, Elvan sendiri yang mendesainnya, agar ia dan teman-temannya yang cukup banyak sesama pecinta motor dulu bisa berkumpul bersama di rumah itu.


Elvan masih mencari celah agar ia bisa menangkap Marisa dengan mudah.


Malam itu benar-benar malam yang indah, sejenak Marisa melupakan pikirannya tentang Sylvia, Elvan dan Kakek Darma.


"Sayang, kalau kita punya anak lagi, kamu maunya cowok atau cewek," tanya Elvan yang mulai berusaha mengalihkan fokus Marisa.


"Emm,, apa aja Mas, yang penting Mas Elvan yang kesakitan." Marisa masih berada jauh dari jangkauan Elvan.


"Tega banget sih sama suami sendiri." Elvan berjalan ke arah bunga-bunga yang telah ditata rapi oleh Marisa.


"Ya nggak gitu Mas, tapi kalau Allah ngasih kesempatan gitu lagi aku seneng Mas."


Prak…


Pot bunga dari tanah itu pecah karena tersandung kaki Elvan, Elvan pun tak menyiakan kesempatan.


"Ahhh.. ahh.. sakit.," katanya sambil memegangi kakinya.


"Kenapa Mas?" tanya Marisa yang kini mendekati suaminya.


"Auuu… sakit… sakit banget…," kata Elvan yang masih memegangi kaki kirinya.


"Mas, kalau jalan lihat-lihat dong." Marisa langsung memeriksa kaki Elvan yang sepertinya baik-baik saja.


"Kena….." Elvan langsung memeluk tubuh Marisa yang berjongkok di depannya. 


Bersambung….


Ada yang setuju nggak kalau Mas El sama Mbak Ris ngasih adik buat si kembar 🤭🤭🤭


Jangan lupa tinggalkan like dan komennya 😅😅


Nanti kalau banyak yang komen, Othor up 1 bab lagi 🤭🤭