My Amazing Husband

My Amazing Husband
Rencana Jahat Anita


Siang yang terik itu, Elvan tengah memeriksa laporan laporan di bengkelnya. Dibantu Galih, ia memeriksa dengan teliti perkembangan bengkelnya selama ia tinggal ke perusahaan kakeknya selama beberapa bulan.


Ditemani secangkir kopi hitam yang tadi dibelikan oleh montirnya dari warung dekat bengkelnya, Elvan dan Galih fokus menatap kertas-kertas laporan dan mencocokkannya dengan layar komputernya.


Sebagai seorang suami yang akan menjadi seorang ayah, Elvan sebenarnya merasa tak tega berjauhan dari istrinya walau hanya beberapa jam. Ada perasaan aneh yang semenjak tadi mengganggu hati dan pikirannya. Entah perasaan apa itu ia tak mengerti, yang jelas ia merasa tidak tenang dan bayang-bayang Marisa waktu kecelakaan di depan bengkelnya kala itu, terus saja muncul dalam pikirannya, membuat Elvan berkali-kali menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan kasar.


"Elu kenapa Van?" Suara berat dari Galih menyadarkan Elvan dari pikiran-pikiran buruknya barusan.


"Hah kenapa?" Elvan yang mulai tak fokus pikirannya terbelah kemana-mana dan tak mampu mencerna dengan jelas kata-kata yang diucapkan sahabatnya itu.


"Elu kenapa? Mikiran apa sih?" Galih mengulang pertanyaannya.


"Gue nggak tau dari tadi bayangan Risa kecelakaan berputar-putar terus di otak gue." Elvan menyeruput kopinya yang mulai dingin.


"Baru berapa jam sih elu enggak ngelihat istri lu, udah kangen aja." Kata Galih meledek sahabat karibnya itu.


"Gue cuma kayak ngerasa nggak tenang gitu, elu nggak ngerasain sih gimana rasanya punya istri." Elvan balik meledek.


"Elu aja yang nggak pernah ngerasaain pacaran, sama aja sebenernya." Kata Galih.


"Beda lah, pengen makan ada yang masakin, tidur ada yang nemenin, ngobrol ada yang diajakin ngobrol. Mau buka mata sampai tutup mata lagi ada istri yang elu bisa lihat, bisa dinikmatin. Elu belum ngerasain sih enaknya." Kata Elvan.


"Iya deh, yang udah jadi laki orang, udah sana samperin bini lu, entar kita kerjain di rumah elu aja, gue mau nganter Dea ke bandara, mau dinas luar kota dia." Kata Galih.


"Yaudah, selesai nganter Dea elu kabarin gue, gue ajak Risa pulang dulu." Elvan mengambil jasnya dan meninggalkan ruangannya itu.


🌱🌱🌱


Sampai di loby kantor setelah memarkirkan motornya, Elvan berjalan menuju lift. Perasaannya semakin tak karuan ketika pintu lift tertutup. Ada debaran yang ia sendiri tak dapat mengartikannya, pikirannya berlarian kemana-mana, hanya satu keinginannya, cepat-cepat menemukan istrinya dalam keadaan baik-baik saja.


Setelah pintu lift terbuka, ia berjalan menuju ke ruangannya, melewati meja sekretaris milik istrinya yang kosong tak berpenghuni. Ia lalu berjalan mendekati pintu kaca yang tertutup tirai itu. Dan, mata Elvan terbelalak saat menyaksikan istrinya tengah bersimpuh di lantai dengan seorang wanita yang ia kenal tengah berdiri menyilangkan tangannya di dada dengan angkuhnya


"Marisa." Elvan berteriak dan dengan cepat memeluk istrinya.


Elvan menyentuh seluruh tubuh istrinya, mencoba memeriksa apakah istrinya itu baik-baik saja. Syukurlah, tak ada luka sedikitpun, lega rasa hatinya. Lalu pandangannya terarah pada wanita yang memang tak pernah bersikap baik kepadanya.


"Apa yang Mama lakukan?" Teriak Elvan, matanya memerah, tangannya mengepal menahan amarahnya.


"Tidak ada. Aku kesini hanya ingin memperingatkan wanita ini untuk menjauhi putraku. Karena kemarin aku melihat sendiri wanita ini datang ke ruangan Alvero saat Reyna tidak ada, dan kamu tahu." Bu Anita menjeda kata-katanya. "Aku melihat Alvero memeluk lengannya diruangan Alvero. Apa kamu tahu itu istrimu ini wanita penggoda?" Wanita itu melotot.


"Bukannya Mama yang punya affair dengan pengusaha saingan Kak Al itu?" Elvan geram mendengar ibu tirinya menuduh istrinya yang bukan-bukan.


"Tutup mulut kamu. Jangan sampai kamu mengadu macam-macam sama Papa kamu." Wanita itu murka lalu meninggalkan ruangan Elvan.


Elvan memeluk istrinya. "Sayang kamu baik-baik saja?" Tanyanya yang dijawab anggukan oleh istrinya.


"Apa yang dikatakan Mama tadi tidak benar Mas. Aku sungguh tidak sengaja hampir jatuh dan Kak Al menyelamatkanku Mas." Kata Marisa merasa bersalah.


"Tidak apa, Mas percaya sama kamu." Elvan masih memeluk istrinya, ia mengelus punggung Marisa agar istrinya itu merasakan ketenangan.


Elvan lalu mengajak istrinya pulang, meski jam pulang kantor masih tersisa dua jam lagi.


🌱🌱🌱


Setelah sampai di rumah, Elvan menemani istrinya untuk istirahat di kamar.


"Mas, kayaknya lebih baik aku berhenti kerja deh, karena aku nggak mau ada fitnah Mas, apalagi kalau sampai kenapa-napa dengan anak kita Mas." Kata Marisa khawatir.


"Iya sayang, besok Mas akan urus semuanya. Kamu beneran nggak mau ke dokter sekarang?" Tanya Elvan yang juga khawatir dengan istrinya.


"Besok pagi saja Mas, aku cuma pengen istirahat." Kata Marisa.


"Ya sudah Mas ke bawah dulu ya, kalau ada apa-apa kamu panggil Mas. Bentar lagi Galih juga datang, kamu Mas tinggal nggak papa." Elvan membiarkan istrinya untuk beristirahat.


Marisa mengangguk, lalu Elvan keluar dari kamar mereka.


🌱🌱🌱


Di tempat lain, Bu Anita sedang menelfon seseorang di kamarnya.


"Mas, anak sialan itu sudah tahu, bagaimana ini?". Kata Bu Anita kepada seseorang melalui panggilan telepon.


"Kita habisi saja mereka, supaya Al juga aman." Jawab laki-laki itu.


"Bagaimana caranya Mas?" Tanya Bu Anita.


"Kamu tenang saja, itu urusanku. Yang penting kita besok harus ke luar negri agar tidak ada yang curiga dengan kamu."


"Baiklah Mas, kemana kita akan pergi besok?"


"Oke, aku mau ke Paris ya, udah lama kamu nggak belanjain aku."


"Iya, akan aku urus. Besok saat kita berada di pesawat, mereka akan lenyap, kamu tenang saja sayang."


"Oke, aku tutup Mas, aku mencintaimu."


Bu Anita pun mengakhiri panggilannya. Tanpa ia sadari Pak Erwin mendengar pembicaraannya dengan seseorang di telepon itu. Namun Pak Erwin tidak mengerti jelas apa yang mereka bicarakan, Beliau hanya mendengar istrinya akan ke Paris bersama orang yang dicintainya besok.


Pak Erwin pun ingin menangkap basah istrinya itu, karena sudah lama ia curiga namun tak punya cukup bukti untuk membongkar perselingkuhan mereka. Jadi Beliau memutuskan untuk mengikuti mereka ke Paris.


🌱🌱🌱


Elvan tengah memeriksa laporan bengkelnya dengan sahabatnya Galih yang tadi siang tertunda. Hingga suara bel pintu rumahnya berbunyi membuatnya terpaksa membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


Reyna dan Alvero sedang berdiri di depan rumah Elvan membawa beberapa bahan masakan. Dan setelahnya Elvan membukakan pintunya.


"Kak Al, Reyna. tumben." Sapa Elvan dari dalam rumah.


"Hai El, Marisa mana? Aku udah janji mau masak bareng." Kata Reyna menunjukkan paper bag berisi sayuran segar yang ia bawa.


"Marisa lagi istirahat di kamar, masuk kak." Elvan mempersilahkan Alvero dan Reyna masuk ke dalam rumahnya.


"Aku langsung ke kamarnya aja, dimana?" Tanya Reyna.


"Diatas, sebelah kanannya tangga." Elvan menunjukkan kamarnya yang ada di lantai dua.


Reyna meletakkan sayurnya di meja makan dan berlari menuju kamar Marisa.


"Kakak nganterin dia? Tumben." Kata Elvan mengajak Kakaknya untuk duduk.


"Ya gimana lagi, kakak lagi berusaha buka hati kakak buat dia, dia baik sebenernya." Kata Alvero.


"Ya, dari dulu dia emang baik, walaupun unik."


"Itu Galih?" Tanya Alvero yang melihat sesosok laki-laki tengah fokus dengan laptopnya di ruang keluarga rumah Elvan.


"Oh, iya aku bawa pulang laporan bengkel. Gitu lah Kak, aku pusing bagi waktunya." Kata Elvan yang kini menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Besok kakak coba ngomong ke Papa biar Kevin bisa gantiin kamu di kantor." Kata Alvero yang tak tega melihat adiknya.


"Oke, besok sekalian aku sama Risa mau pamit ke Papa, Risa pengen fokus jadi ibu rumah tangga aja katanya."


"Emang Marisa udah hamil?" Tanya Alvero penasaran.


"Do'ain aja kak."


Tak lama Marisa dan Reyna menuruni anak tangga. Marisa nampak tersenyum ke arah suaminya.


"Mas, aku mau masak sama Kak Reyna ya. Mas mau dimasakin apa?"


"Kalau ada bahannya Mas mau pecel ayam deh."


"Oke." Jawab Marisa tersenyum.


"Kalau kamu mau dimasakin apa Al?" Tanya Reyna


"Sama kayak Elvan aja deh." Kata Alvero.


Mereka berdua pun memasak di dapur. Sementara Elvan dan Alvero menghampiri Galih yang ada di ruang keluarga.


🌱🌱🌱


Keesokan harinya, sebelum berangkat ke kantor Elvan mengantar Marisa untuk cek ke dokter kandungan karena rasa khawatirnya melihat Marisa terjatuh akibat ulah ibu tirinya kemarin.


Sementara Bu Anita dan Pak Daniel bertemu di bandara dan akan pergi ke Paris. Sedangkan Pak Erwin mengikuti istrinya sampai ke bandara, setelah sebelumnya berpamitan akan ke kantor.


Bu Anita bergandengan mesrah dengan Pak Daniel, mereka memakai topi dan kacamata. Pak Erwin di belakang mereka juga memakai topi hitam dan kacamata hitamnya. Meski diusianya yang tak lagi muda Beliau masih terlihat keren.


"Sayang, kamu udah siapin semua?" Tanya Bu Anita kepada Pak Daniel.


"Kamu tenang, semuanya beres, mereka udah stay. Begitu mendarat nanti kita pasti akan dapat kabar kematian mereka." Kata Pak Daniel meyakinkan.


Sementara Pak Erwin dibekakangnya tak mengerti siapa yang mereka bicarakan, namun menangkap basah mereka berdua jauh lebih penting untuk saat ini.


bersambung....