
Malam semakin larut, hawa dingin mulai merasuki kulit. Remang cahaya lampu menghiasi ruangan yang dihuni empat manusia itu. Dua diantaranya masih terjaga dan saling memeluk, berlindung di balik selimut tebal yang menutupi tubuh polos nan lengket akibat keringat.
Ya, setelah bermain kejar-kejaran tadi, sang suami berusaha merayu istrinya untuk bermain cinta, menyatukan dua bagian sensitif masing-masing hingga akhirnya terkulai lemas di bawah selimut yang sama.
Nampak jelas, wajah puas sang suami yang tersorot cahaya lampu tidur. Wajah tampan dengan bulu ****** yang teramat tipis itu, kini terhiasi bulir-bulir keringat yang masih tercetak jelas di dahinya.
Sementara sang istri tengah bermanja dalam dekapannya, tangan kanannya dilingkarkan pada pinggang suaminya, dan tangan kirinya sibuk bermain-main diatas dada bidang kesukaannya.
Sepasang suami istri yang tidak lain adalah Elvan dan Marisa itu, masih sama-sama enggan membersihkan diri mereka. Marisa bahkan masih asyik mengukir namanya di dada Elvan.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita menemui kakek?" tanya Marisa yang mulai membuka suaranya, sangat pelan, namun masih bisa didengar dengan jelas oleh telinga Elvan.
"Mas masih malas ketemu kakek, Mas mau selesaikan dulu urusan Mas dan orang tua Sylvia Sayang." Elvan merubah posisinya, mensejajari Marisa yang kini dapat ia lihat dengan jelas sorot matanya. "Kamu keberatan?" tanyanya dengan suara yang sama pelannya.
"Nggak lah Mas, malah lebih cepat lebih baik. Aku hanya ingin hidup tenang bersama suami dan anak-anakku." Sorot mata itu tiba-tiba berubah sayu, mengingat kembali ancaman dari sang kakek mertua, yang dengan tega memintanya untuk mengizinkan suaminya berpoligami. Semua itu hanya demi tahta kerajaan bisnisnya.
"Makanya, Mas masih nunggu kabar Sylvia dulu untuk bertemu orang tuanya, Mas nggak mau lah dianggap ba**i karena memutuskan hubungan tanpa berbicara dengan orang tuanya. Setelah semua selesai baru kita temui kakek," kata Elvan dengan manik mata yang terus mengawasi reaksi istrinya.
"Iya Mas, aku tau, tapi apa Mas yakin bahwa mereka akan menerima keputusan Mas?" tanya Marisa ragu, pasalnya pertunangan mereka karena bisnis, jika gagal pasti akan berdampak pada kedua perusahaan.
"Terima atau tidak, itu urusan mereka, yang paling penting Mas udah gentle untuk bertemu mereka secara langsung. Apalagi Mas nggak mau kamu pergi lagi meninggalkan Mas, jadi, apapun itu Mas akan lakukan agar kita bisa hidup tenang sayang." Elvan membelai lembut wajah Marisa, menyibakkan helai rambut yang menerpa sebagian wajah cantik istrinya. "Mas sangat mencintaimu, Mas akan lakukan apapun untuk menebus kesalahan yang telah Mas lakukan." Elvan tersenyum, dalam hatinya, ia begitu menyesali lima tahun yang terlewati dengan melupakan kenangan istrinya.
"Mas, semua itu takdir, aku telah ikhlas menjalaninya, dan inilah hasil dari kesabaranku, kita akhirnya dipersatukan kembali. Aku hanya perlu sedikit bersabar lagi agar bisa mendapat restu dari kakek." Mata Marisa mulai berkaca-kaca.
"Jangan menangis sayang." Elvan mengusap mata Marisa, ia tak membiarkan air mata itu menyentuh wajah istri kesayangannya.
"Aku juga mencintaimu Mas, aku percaya Mas akan melakukan yang terbaik untuk keluarga kecil kita," ucap Marisa yang kini mulai mengukir senyum di wajahnya.
"Pasti, Mas akan lakukan itu, sekarang kita bersih-bersih lalu tidur," kata Elvan yang kemudian mendapat anggukan dari istrinya.
Malam itu, Elvan bertekad akan melakukan segala yang terbaik untuk anak istrinya.
🌱🌱🌱
Siang yang tak terik, langit mulai gelap, pertanda hujan akan segera tiba, menumpahkan air hujan yang telah lama dirindukan bumi. Kilatan cahaya menghias langit yang diikuti dengan suara menggelegar yang memekakkan telinga.
Gadis kecil yang rambutnya tergulung rapi di atas kepala itu bahkan ikut menjerit sembari menutup telinga dengan tangan mungilnya.
"Ma, apa sebentar lagi akan hujan?" tanya gadis itu meyakinkan pikiran polosnya, bukankah kemarin siang matahari masih begitu menyengat? Kenapa tiba-tiba hari ini berubah mendung?
"Iya sayang, kalau hari ini hujan, berarti ini hujan pertama," jelas sang ibu yang tangannya sibuk menggandeng dua bocah balita itu.
Ibu dan kedua anaknya itu terburu-buru masuk ke dalam pusat perbelanjaan, karena khawatir hujan akan segera turun.
"Ya tau lah Zayn, aku kan heran aja, kemarin panas banget kok tiba-tiba hari ini hujan." Gadis yang masih digenggam ibunya dengan tangan kiri itu terlihat menautkan alisnya, mencoba berfikir tentang pergantian musim yang selalu tiba-tiba.
"Udah, nggak usah heran, yang penting sekarang kita udah di mall dan nggak akan kehujanan," ucap bocah laki-laki yang disapa Zayn itu.
"Udah, jangan berdebat, Mama telpon Bunda dulu ya, kalian pegangan tangan," perintah sang ibu yang kini merogoh ponsel di tas selempangnya.
Dua bocah yang baru bertemu setelah lima tahun itu saling menggenggam kedua tangan masing-masing. Mereka dengan patuhnya menuruti kata-kata sang Mama yang sangat mereka cintai.
Marisa, ibu dari dua balita itu mulai menghubungi seseorang yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri yaitu Sheryl. Selama ia berbincang di telepon tentang kesepakatan tempat mereka bertemu, dua balita itu masih saling menggenggam, sesekali keduanya mengayunkan tangan mereka. Mata Marisa terus saja mengawasi kedua anaknya, takut jika seseorang membawa mereka pergi seperti dulu, saat putranya Zayn direnggut paksa darinya.
Marisa pun mengakhiri panggilan nya setelah Sheryl mengatakan akan segera berangkat, sementara ia berencana untuk mengajak dua bocah itu menunggu di arena bermain, tempat yang telah ia sepakati bersama Sheryl. Marisa hendak mengurai pegangan tangan kedua anaknya, saat secara tiba-tiba seseorang memegang tangannya terlebih dahulu.
Tangan halus itu mendarat sempurna di punggung tangan Marisa sebelum ia menyentuh tangan Zayn dan Zea, membuat Marisa reflek menoleh ke arahnya.
"Bisa kita bicara sebentar," kata wanita yang kemarin telah berhasil membuat Marisa merasa iba.
"Ada apa?" tanya Marisa yang mulai merasa gugup, bagaimanapun wanita itu adalah rivalnya.
"Ada yang ingin aku sampaikan, yang mungkin kamu bisa membantuku Marisa, aku yakin kamu wanita berhati mulia." Wanita yang rambutnya di keriting pada ujungnya itu nampak memelas, raut wajahnya seolah tengah berputus asa.
Marisa menarik nafas berat, dan menghembuskannya dengan kasar. "Kita bicara di arena bermain saja, aku tidak ingin anak-anak mendengar pembicaraan orang dewasa," kata Marisa yang langsung menggandeng kedua anaknya menaiki eskalator.
"Tante…. Tante Sylvia ngapain sih, Tante sama Papa kan nggak akan menikah, kenapa Tante ngikutin kita," protes Zayn yang memang tak pernah menyukai wanita yang pernah dekat dengan papanya itu.
"Zayn, jangan ngomong gitu sayang, nggak boleh, itu namanya nggak sopan," tutur Marisa yang selalu mengajarkan sopan santun kepada kedua anaknya itu.
"Maaf Ma…." Zayn merasa bersalah.
"Tidak apa Zayn, Tante kangen sama Zayn, sama saudaranya Zayn juga, Zea kan namanya?" tanya Sylvia yang berdiri di eskalator di bawah Marisa, sedangkan Zayn dan Zea ada di atas Marisa.
Tak lama mereka pun sampai di lantai tempat arena bermain itu berada. Zayn dan Zea masih digandeng oleh Marisa sementara Sylvia mengekor di belakang mereka.
Zayn dan Zea pun memasuki arena bermain, sementara Marisa dan Sylvia menunggu mereka di luar, duduk di kursi tunggu.
"Ada apa?" tanya Marisa saat mereka telah duduk berdampingan.
"Marisa, bisakah aku menikahi Kak Elvan? Waktuku tidak banyak Marisa, aku ingin menghabiskannya sebagai istri Kak Elvan."
Bersambung….