My Amazing Husband

My Amazing Husband
Tertangkap Basah


...🍁POV MARISA🍁...


Malam ini, aku masih terbaring di ranjang empuk yang tak mampu membuatku terlelap. Aku merasakan kandung kemihku yang mulai penuh dan minta segera dikeluarkan, hingga membuatku terpaksa harus membuka mata dan menyibakkan selimut rumah sakit yang menutup tubuhku.


"Kamu sudah bangun?" Suara laki-laki yang telah ku kenal dua tahun ini memaksaku menoleh ke arahnya.


Kak Alvero, ia tengah memangku kepala Kak Reyna yang telah terlelap dalam tidurnya. Kata Kak Alvero, Mas Elvan masih belum sadarkan diri setelah operasi dan sekarang masih dirawat di ruang khusus, jadi ia memutuskan untuk menjagaku bersama Kak Reyna sambil menunggu Mas Elvan sadar.


"Iya Kak, aku ingin ke kamar mandi." Kataku terpaksa berbohong, sebenarnya sedari tadi aku tak tidur. Aku hanya pura-pura tidur karena tak tega melihat Kak Reyna yang terus menemaniku tanpa mau istirahat.


Kak Reyna wanita yang sangat baik, ia begitu perhatian kepadaku. Walau awal bertemu dengannya dulu, aku sempat merasa cemburu.


"Mau ku bantu?" Tanya Kak Alvero lalu berusaha meletakkan kepala Kak Reyna di bantal sofa.


"Tidak apa kak, aku bisa sendiri kok." Kataku yang ingin menolak bantuannya. Aku segera turun dari ranjang, Namun rasa pusing dan perutku yang begitu mual membuatku tak sanggup berdiri. Apalagi kakiku yang masih sakit membuatnya tak mampu menopang berat tubuhku.


Aku pasti jatuh, pikirku lalu kupejamkan mataku. Namun ternyata aku salah, sepasang tangan kekar berhasil menangkap tubuhku. Kubuka kembali mataku, ternyata Kak Al yang telah menyelamatkanku. Dia, kakak ipar sekaligus bosku dulu.


"Hati-hati." Katanya terlihat khawatir.


"Ada apa?" Suara serak Kak Reyna yang terpaksa bangun dari tidurnya memaksaku menoleh ke arahnya.


"Reyn, bisa antar Marisa ke kamar mandi, dia masih lemah." Kata Kak Alvero.


Kulihat Kak Reyna mengangguk tanda setuju, lalu ia berjalan menghampiriku dan memegang selang infusku, sementara Kak Al menggendongku sampai ke kamar mandi. Walau aku risih dan tak enak hati pada Kak Reyna, tapi mau bagaimana lagi, aku tak kuat berjalan sendiri.


Setelah sampai di kamar mandi, aku dan Kak Reyna masuk ke dalam, sementara Kak Al menunggu kami di luar.


"Maaf ya Kak, merepotkan Kak Reyna." Kataku merasa bersalah, ya sakit begini yang tidak aku suka, membuat orang lain kerepotan sekaligus khawatir itu membuatku tak nyaman.


"Nggak papa kamu santai aja ya." Kata Ka Reyna dengan lembutnya.


Lalu aku membuang air seniku, namun saat aku selesai dan ingin keluar kamar mandi, perutku tiba-tiba merasa kembali mual. Aku pun mengeluarkan semua isi perutku berharap akan membuatnya nyaman.


"Risa, kamu mual ya." kata Kak Reyna yang memijat tengkukku.


Aku hanya menganggukkan kepalaku. Mungkin bayiku kelaparan, tapi bukankah aku tadi sudah makan walau terpaksa. Kenapa dia rewel begini.


Aku dan Kak Reyna kembali ke ranjangku, walau harus kembali digendong Kak Alvero. Kak Reyna menatapku kasihan.


"Risa, apa nggak sebaiknya kamu cerita ke Alvero juga." Tanyanya setengah berbisik saat Kak Alvero kembali duduk di sofa membelakangi ranjangku.


Aku menggelengkan kepalaku, aku tidak ingin keadaan semakin memburuk jika mereka tahu aku tengah hamil. Lagi pula suamiku sudah melarangku untuk menceritakan kehamilanku ini.


Aku memaksa Kak Reyna untuk istirahat saat ku lihat ia berkali-kali menguap. Sungguh, aku tidak ingin menyusahkannya.


"Kak, tidurlah. Aku tidak akan bisa tidur kalau dilihatin. Kakak tidur ya, biar aku bisa tidur." Kataku kepada Kak Reyna.


"Hmmm yasudah, tapi kamu tidur ya. Kalau butuh apa-apa panggil aku atau Al ya." Kata Kak Reyna. Aku mengangguk lalu Kak Reyna menghampiri calon suaminya, Kak Al.


Sepertinya mereka mulai dekat, ku lihat Kak Al mulai bersikap lembut kepada Kak Reyna, aku tersenyum melihatnya.


Aku pun berusaha memejamkan mataku. Berharap aku bisa tertidur agar bayiku tenang. Namun, bayangan Mas Elvan kembali memasuki pikiranku. Perhatiannya, kelembutannya, dan semuanya membuatku kembali menitikan air mata.


Mas Elvan kamu sedang apa? Apa sekarang kamu udah sadar Mas? Aku kangen kamu Mas.


Rasa sesak menusuk nusuk dadaku. Ya Allah, segera sadarkan suamiku. Aku merindukannya Ya Allah. Berikan dia kesehatan seperti semula.


Aku masih terus menangis, hingga tertidur dalam tangisku. Satu yang kuharap, Mas Elvan akan kembali sadar esok hari.


🌱🌱🌱


...🍁POV AUTHOR🍁...


Pagi masih belum menjelang, cahaya mentari masih belum nampak di kota bernegara Perancis itu. Pak Erwin yang malam tadi baru tiba di kota itu langsung mengikuti istrinya sampai ke kamar hotelnya, kemudian ia memesan kamar untuknya sendiri.


Di pagi buta itu, Pak Erwin mendatangi kamar hotel istrinya. Ia berkali-kali mengetuk pintunya, menunggu sang penghuni kamar membukakan pintu untuknya.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya pintu di buka oleh seorang wanita yang hanya memakai baju mandi yang memperlihatkan belahan dadanya. Wanita itu belum sepenuhnya sadar jika suaminya sudah ada di hadapannya bersiap mengungkapkan kebenaran tentangnya.


"Sialan." Umpat wanita itu saat Pak Erwin menerobos masuk ke dalam kamar hotelnya.


Dan, benar beliau menangkap basah laki-laki yang tak berpakaian sedang tidur nyenyak di kasur hotel tempat istrinya menginap. Beruntung Pak Erwin telah menyiapkan kamera untuk menyimpan bukti perselingkuhan itu.


"Papa." Teriak Bu Anita saat sadar bahwa suaminya telah berada di kamar hotelnya.


"Iya, ini aku. Siapa dia?" Tanya Pak Erwin yang menunjuk laki-laki yang tengah tengkurap tanpa sehelai kainpun yang menutupinya.


"Ini, tidak seperti yang Papa pikirkan, aku.. Aku.. Aku tidak melakukan apa-apa. Iya, benar, aku tidak melakukan apa-apa percayalah Pa." Kata Bu Anita.


"Pengadilan yang akan memutuskan untuk percaya denganmu atau tidak." Kata Pak Erwin lalu segera menyadarkan laki-laki yang masih terlelap itu. "Daniel?"


"Oh, jadi setelah sekian lama ternyata kalian masih berhubungan." Pak Erwin terlihat begitu marah.


Pak Daniel adalah kekasih Bu Anita sewaktu muda. Mereka berpacaran sebelum akhirnya Pak Erwin dan Bu Anita dijodohkan.


"Pa, aku bisa jelasin." Bu Anita memegang tangan Pak Erwin, berharap suaminya itu mau mendengarkannya.


Dengan kasar Pak Erwin melepaskan tangan istrinya.


"Oh, jadi kamu udah tau." Kata Pak Daniel yang menutup tubuhnya dengan selimut hotel. "Baguslah, kamu pikir kamu bisa menang dari aku?" Ejeknya, meremehkan Pak Erwin.


"Dasar manusia sampah, baguslah penghianat ketemu penghianat. Tidak tau diri." Pak Erwin murka kepada istrinya. "Mulai hari ini aku talak kamu." Kata Pak Erwin dengan wajah memerah dan mata berapi-api.


"Pa. Jangan lakuin ini Pa." Kata Bu Anita memohon.


"Baguslah Anita. Jangan sedih, aku akan membahagiakanmu dan juga anak kita." Kata Pak Daniel.


"Apa maksudmu?" Pak Erwin mencekik leher Pak Daniel.


"Hah," Pak Daniel mencebikkan bibirnya. "Kamu pikir Alvero anak siapa?" Tanyanya semakin mengejek Pak Erwin.


"Cukup." Teriak Bu Anita yang juga emosi.


"Jelaskan Anita. Apa maksudnya, Alvero anak siapa?" Pak Erwin melepaskan tangannya dari leher Pak Daniel.


"Iya, Alvero memang bukan anak kamu. Puas kamu? Dulu aku sangat mencintai Daniel dan kami berencana menikah, tapi Papaku malah menjodohkan aku denganmu. Laki-laki yang tidak pernah aku kenal." Bu Anita berteriak di depan wajah Pak Erwin.


"Jadi kamu kembali dengan Daniel?"


"Iya, aku berhubungan dengan Daniel walau aku sudah menikah denganmu, dan ternyata kamu juga selingkuh dengan wanita sialan itu. Untungnya aku hamil, dan Papamu yang gila keturunan itu begitu bahagia padahal anak yang ku kandung bukan cucunya." Kata Bu Anita mengungkapkan kebenaran yang lama ia pendam.


"Apa? Bagaimana bisa? Al bukan anakku?" Pak Erwin mulai terkulai lemas. Anak laki-laki kebanggaanya ternyata bukan darah dagingnya. Padahal Beliau sangat menyayangi Alvero bahkan mungkin melebihi sayangnya kepada Elvan putranya dengan istri keduanya.


Pak Erwin beranjak pergi dari kamar itu, padahal sebelumnya Pak Erwin berencana menghajar Pak Daniel, namun mendengar fakta menyakitkan itu membuatnya tak kuasa hingga memutuskan untuk meninggalkan dua manusia yang telah menghianatinya itu.


Sesampainya di kamar hotelnya, Pak Erwin segera mengaktifkan ponselnya karena semenjak memutuskan untuk mengikuti istrinya Beliau menonaktifkan ponselnya agar tak ada yang mengganggunya.


Pak Erwin menghubungi Elvan, namun ponselnya tidak aktif. Lalu Pak Erwin menghubungi Alvero.


"Al.." Sapa Pak Erwin setelah Alvero menjawab panggilannya.


"Pa,, papa dimana? Elvan kecelakaan Pa." Kata Alvero yang membuat Pak Erwin semakin terkejut.


"Apa?"


"Udah pokoknya Papa cepat kesini. Ke Rumah Sakit Harapan" Kata Alvero.


Pak Erwin pun segera memesan tiket pesawat ke ibu kota.


🌱🌱🌱


...🍁POV MARISA🍁...


Aku sekarang menuju tempat Mas Elvan dirawat. Baru saja aku mendengar bahwa Mas Elvan telah dipindahkan ke ruang perawatan, dan aku segera meminta Kak Reyna untuk mengantarkanku ke kamar rawat Mas Elvan.


Aku masuk ke ruangan itu dibantu Kak Reyna yang mendorong kursi rodaku. Aku melihat Mas Elvan tengah tertidur, kepalanya dibalut perban cukup banyak.


Aku menitikkan air mata saat melihatnya, Kak Reyna lalu meninggalkanku bersama Mas Elvan. Aku meraih tangan Mas Elvan yang juga luka-luka. Kucium tangan halus suamiku itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Mas Elvan yang kucintai terluka parah setelah menyelamatkanku dan juga calon anak kami.


Sangat lama ku ciumi tangan mulusnya, berharap rasa cintaku segera menyadarkannya. Hingga kusadari jemari tangannya mulai bergerak, lalu kulihat matanya perlahan-lahan terbuka.


"Mas, kamu sudah sadar?" Tanyaku yang masih menggenggam erat tangannya.


"A,, aku,, di,,ma,,na?" Suara Mas Elvan terdengar lemah.


"Mas, kamu di rumah sakit sekarang Mas. Apa ada yang sakit Mas?" Perasaanku campur aduk, antara bahagia dan sedih. Bahagia karena Mas Elvan telah tersadar, namun juga sedih melihatnya separah ini.


"Kamu.." Mas Elvan berusaha bangun namun ia kesulitan.


"Iya Mas, ini aku." Aku berusaha berdiri untuk membantunya, walau kakiku masih sakit tapi aku sudah tidak tahan, aku ingin memeluknya. Dan, aku berhasil berdiri, ku peluk tubuh suamiku yang masih terbaring, ku sandarkan kepalaku di dada bidangnya.


Air mataku kembali berjatuhan. Terimakasih Ya Allah, suamiku sudah sadar. Ku peluk lebih erat tubuh Mas Elvan. Kurasakan tangan Mas Elvan yang masih terpasang infus bergerak, kukira Mas Elvan akan membalas pelukanku, tapi ternyata aku salah, tangan itu berusaha melepaskan tubuhku dari pelukannya.


"Kamu siapa?" Kata-kata Mas Elvan membuatku bangun dari tubuhnya.


Ku tatap matanya yang seoalah kebingungan melihatku. Tidak, tidak mungkin. Tidak mungkin Mas Elvan melupakanku.


Bersambung....