My Amazing Husband

My Amazing Husband
Melahirkan


Menjadi ibu adalah hal menakjubkan sekaligus membahagiakan bagi seorang wanita bersuami. Setelah mendapat gelar istri, gelar ibu lah yang dinanti-nanti seorang wanita. Sama halnya dengan Marisa, meski ia sendiri tak yakin apakah gelar istri itu masih disandangnya, namun ia tetap menanti kehadiran buah hati yang akan segera dilahirkannya.


Berbeda dengan wanita lain yang ditemani suami dan keluarganya saat berjuang antara hidup dan mati, Marisa sendirian di ruangan bernuansa hijau botol itu. Ia tak merasa sakit parah seperti kebanyakan cerita-cerita wanita melahirkan, ia hanya harus sering bolak-balik ke kamar mandi.


Marisa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah gelang kecil yang terukir nama bayinya "Zayn", meski bayi kecil itu belum keluar dari perutnya, tapi ia meyakini dari hatinya, bahwa bayinya laki-laki sesuai dengan hasil USG puskesmas waktu itu.


"Kak, kakak ngapain, makan dulu nih biar ada energi nanti kalau ngeden." Sheryl datang membawa nasi hangat juga teh.


"Habis jalan muter-muter sama praktek gerakan kayak yang kamu ajari itu." Kata Marisa santai.


"Nggak ngerasain sakit? Dipinggang atau diperut atau di area bawah mungkin? Kayak mau datang bulan gitu?" Tanya Sheryl penasaran.


"Enggak, aku nggak ngerasain Sher, cuma sering kebelet aja sih. Aku beneran ngelahirin nggak sih Sher, kok enggak sakit?" Marisa bingung, pasalnya memang ia tak mengalami kesakitan seperti yang diceritakan Sheryl.


"Insya Allah kak, aku coba cek lagi biar yakin." Kata Sheryl, lalu Marisa pun merebahkan tubuhnya di atas kasur yang telah disediakan puskesmas. "Udah buka empat ini kak, beneran nggak sakit?" Kata Sheryl setelah pemeriksaan selesai.


"Enggak, beneran. Alhamdulillah deh Sher kalau nggak sakit." Marisa tersenyum lalu turun dari ranjang puskesmas itu. "Sher, nanti kalau kamu selesai bersihin bayi aku kamu pasangin ini sebelum pakai baju ya." Kata Marisa menyerahkan gelang bayinya kepada Sheryl.


"Kakak beneran siapin ini?" Sheryl terkekeh, "Kalau cewek gimana kak?" Sheryl penasaran, karena kemungkinan bisa saja kan yang lahir perempuan.


"Kalau cewek ya nanti aku bawa ketukang ukirnya lagi tinggal tambah 'a' jadi ZAYNA kan?" Marisa tertawa, ia sudah merencanakan itu sebelumnya.


"Nanti aku tulisin pakek spidol aja kak." Mereka berdua pun tertawa, tak seperti ruang bersalin yang tegang karena kesakitan hebat yang dirasakan calon ibu.


Sementara itu Elvan di rumah sakit mewah di ibu kota tengah meraung kesakitan. Pinggangnya terasa nyeri, panas dan sakit seakan ditusuk-tusuk. Dokter yang memeriksa pun tak bisa melakukan banyak hal selain memberi obat anti nyeri. Bahkan seorang perawat laki-laki harus memijat dan mengipasi punggung Elvan yang terus kesakitan. Entah apa yang terjadi dengan tubuhnya.


Kakek Darma masuk ke dalam ruang perawatan. "El, gimana masih sakit?" Kakek kini duduk di kursi samping ranjangnya. Perawat laki-laki itu naik ke ranjang sesuai permintaan Elvan untuk dipijat sesekali juga mengipasi kulit punggungnya yang merasa kepanasan.


"Sakit banget kek, panas, nyeri, dokter disini nggak bisa kerja kayaknya." Kesal, marah, emosinya meninggi mungkin karena rasa sakitnya itu.


"Kakek panggil terapis saja sepertinya kamu butuh itu." Kata Kakek Darma lalu keluar ruangan untuk menelpon seseorang.


"Gimana apa dia sudah mau melahirkan?" Tanya Kakek Darma kepada seseorang di telepon saat ia sudah keluar dari ruangan Elvan.


"-----"


"Bagus, awasi terus dan ambil bayinya diwaktu yang tepat, sebelum ibunya melihat bayinya malah lebih baik." Perintahnya.


"-----"


"Setelah kamu mendapat bayi itu, kamu bebaskan dia kita sudah tidak ada urusan dengannya, tidak usah ikuti dia lagi."


Panggilanpun diakhiri. "Ternyata Elvan kesakitan karena wanita itu mau melahirkan. Sudah jauh dari jangkauan saja masih menyusahkan, dasar wanita tidak tau diri." Kakek masuk kembali setelah menghubungi spa khusus laki-laki karena Elvan memang tak suka disentuh perempuan.


🌱🌱🌱


Andi sedang dalam perjalanan menuju kota dimana Sheryl dan Marisa berada. Ia melajukan motornya dengan kencang setelah mendapat pesan dari Sheryl bahwa Marisa akan melahirkan lebih cepat dari perkiraannya.


Sementara di tempat lain Marisa sudah di posisi siap melahirkan, ia baru merasakan sakit yang luar biasa setelah pembukaan delapan, dan sekarang sudah bukaan sepuluh dan ia siap melahirkan, air ketuban juga telah keluar.


Marisa mengikuti setiap aba-aba yang diberikan senior Sheryl di puskesmas, waktu itu hari telah gelap. Setelah hampir tengah malam Marisa pun berhasil melahirkan bayi laki-lakinya.


"Assalamu'alaikum Nak, kamu persis seperti Papa kamy Zayn." Kata Marisa saat bayi kecil itu bergerak mencari letak sumber mata air yang akan menjadi makanan termahal untuknya.


"Kak, aku bersihkan baby Zayn dulu ya nanti dia bisa belajar minum asi lagi." Kata Sheryl yang akan membawa bayi itu ke ruangan sebelah, karena tempat Marisa dirawat saat datang tadi berbeda dengan ruangan saat ia melahirkan sekarang ini.


Marisa mengangguk lalu dengan berat hati melepaskan bayi kecilnya. "Bu Sulis, kok rasanya sakit lagi ya."


"Sebentar ya saya cek dulu, saya juga curiga karena perutnya masih terasa keras, sepertinya masih ada bayinya." Kata Bu Sulis bidan senior yang membantu Marisa melahirkan.


Bu Sulispun menyimpulkan bahwa bayi kedua yang masih di dalam perut Marisa letaknya sungsang dari hasil Usg di layar monitor.


Dan Bu Sulis yang punya pengalaman banyak pun mencoba memutar posisi bayi Marisa, setelah tiga puluh menit, akhirnya lahirlah bayi perempuan Marisa.


Bu Sulis pun meletakkan bayi yang telah dipotong tali pusarnya itu ke dada Marisa seperti bayi sebelumnya. Dan Bu sulis melanjutkan lagi mengurus ari-ari dan membersihkan bekas lahiran itu.


🌱🌱🌱


Elvan yang sebelumnya merasa kesakitan luar biasa akhirnya bisa bernafas lega, tepat setelah Marisa melahirkan bayi keduanya.


"Ahhh, benar-benar lega."


"Kenapa Tuan?"


"Tidak tau, pokoknya lega sekali, sakitnya sudah hilang dan sekarang hanya rasa lega yang tersisa."


"Kalau begitu Tuan bisa istirahat sekarang."


"Ya, kamu pulanglah, kirim tagihannya ke kantor besok. Terimakasih ya."


"Baik, Tuan. Terimakasih kembali untuk Tuan, saya permisi."


Setelah Terapis itu pergi Elvan segera tidur.


Kembali ke ruang bersalin, Bu Sulis telah selesai merawat bayi perempuan Marisa, lalu dengan hati-hati membawanya ke Marisa kembali untuk belajar minum asi.


"Ni, bayi kamu sudah cantik, gemas sekali ya." Kata Bu Sulis.


"Terimakasih." Marisa pun mencium kening bayi perempuannya. Wajahnya bulat pipinya merah, cantik sekali. Lalu Marisa segera memberikan Asi untuk bayinya, walau belum keluar namun ia tetap memberikannya sekaligus mengajari bayinya untuk terbiasa minum asi.


"Oh iya, Sheryl kemana ya."


...bersambung.......


Terimakasih banyak para readers Kece.


Taqabbalallahu minna wa minkum. Minal Aidin Wal Faizin. Mohon Maaf lahir dan Batin. Mohon maaf kalau Autor punya salah, baik yang disengaja atau tidak, mohon dimaafkan Ya.


Selamat Hari Raya Idul Fitri.