
...🌼Happy Reading🌼...
Pagi yang cerah di hari minggu, Marisa tengah menyapu teras rumahnya yang kini mulai dipenuhi bunga-bunga, Beberapa hari setelah menikah, Marisa memang mulai sedikit demi sedikit menghiasi taman yang sebelumnya gersang itu dengan aneka tanaman hias. Berkat ibu-ibu komplek yang juga menyukai tanaman hias Marisa mulai mengenal beraneka jenis tanaman hias itu.
Pagi itu, Elvan sedang olah raga lari di sekitar komplek. Sedangkan Marisa menyempatkan diri untuk bersih-bersih sebelum mereka pergi ke pantai.
"Mbak Marisa. Assalamu'alaikum." Bu Ana sudah berdiri di depan pagar rumah Marisa.
"Eh, Bu Ana Waalaikumsalam." Marisa lalu menghampiri Bu Ana dan membukakan pintu pagarnya.
"Ini saya ada lavender spanyol buat mbak Risa, cantik kan." Bu Ana menyerahkan pot kecil berwarna putih yang berisi bunga berwarna ungu kepada Marisa.
"Wah cantik sekali bu, Terimakasih ya Bu Ana baik sekali, saya jadi tidak enak sudah dikasih banyak bunga sama Bu Ana." Marisa menerima bunga pemberian tetangganya itu.
"Ah, sama-sama jangan sungkan begitu, kita kan tetangga. Saya punya banyak kok di rumah. Oh iya, Mas Ganteng kemana?" Bu Ana celingukan karena tak melihat ada tanda-tanda Elvan di rumahnya.
"Mas Elvan lagi lari-lari. Bu Ana masuk yuk, mau saya bikinin kopi atau teh?" Marisa meletakkan pot bunga pemberian Bu Ana di taman kecilnya.
"Ah, jangan repot-repot, saya disini aja mbak sambil cari angin, teh manis boleh deh mbak Risa, jangan terlalu panas. Hehehe." Bu Ana terkekeh, memang niat awalnya datang ingin cuci mata melihat Elvan yang mungkin saja tengah bersantai di hari minggunya.
"Siap, saya tinggal sebentar ya." Marisa lalu masuk ke dalam dan membuatkan teh untuk Bu Ana.
Tak lama Elvan pun datang setelah lari-lari keliling komplek.
"Eh, Mas Ganteng udah pulang?" Tanya Bu Ana basa basi.
"Loh, Bu Ana disini?" Elvan yang baru membuka pagar rumah langsung menghampiri Bu Ana lalu duduk dikursi teras dekat Bu Ana.
"Iya Mas, mbak Risa lagi bikinin saya minum. Mas Ganteng darimana?" Bu Ana memperhatikan peluh di wajah tampan Elvan membuatnya terlihat sangat keren dimata Bu Ana.
Bu Ana sebetulnya mempunyai suami, tapi sudah tiga tahun ini suaminya tidak pulang dan rumor yang beredar suami Bu Ana kepincut wanita lain.
"Dari lari-lari Bu, tadi ketemu juga sama Aldo." Elvan lalu memanggil istrinya. "Sayang, Mas udah pulang nih."
"Iya Mas, bentar." Jawab Marisa setengah berteriak karena ia sedang membuat minuman di dapur.
"Oh pasti Aldo sama Rendi anaknya Bu Ririn ya." Kata Bu Ana. Aldo adalah anak semata wayang Bu Ana.
"Iya, anak-anak sering ya bersepeda pagi." Kata Elvan.
"Iya Mas, namanya anak-anak, nanti kalau udah bisa naik motor, pasti keluarnya malem-malem." Kata Bu Ana.
"Ya nggak papa bu, asal positif saja. Saya kalau punya anak cowok juga akan saya ajarin sepeda, lalu sepeda motor, sampai nyetir mobil pun akan saya ajarin langsung." Kata Elvan yang berimajinasi memiliki anak laki-laki.
"Semoga nanti keinginan Mas Elvan terwujud, punya anak yang ganteng dan cantik." Kata Bu Ana mendoakan.
"Aamiin." Marisa keluar membawa teh dan juga kopi untuk suaminya.
"Sayang, kamu denger ya?" Elvan kaget melihat Marisa yang telah membawa nampan berisi minuman itu.
"Iya Mas. Nggak papa kok, aku juga berharap bisa secepatnya hamil lagi." Marisa duduk di kursi kecil di depan suaminya. "Silahkan diminum Bu Ana."
"Iya makasih mbak Risa, tapi kalau saya boleh kasih saran, tunda dulu programnya sampai 6 bulan lah, biar rahimnya benar-benar siap." Kata Bu Ana.
"Iya Bu, dokter juga bilang seperti itu kok." Kata Marisa, senyum hangatnya terpancar, sepertinya ia memang sudah benar-benar ikhlas.
Elvan meminum sedikit kopinya.
"Mas mandi dulu ya sayang. Permisi dulu ya Bu." Elvan masuk ke dalam untuk membersihkan diri dari lengketnya keringat setelah berolahraga.
Marisa dan Bu Ana mengobrol di teras. Bu Ana juga memberi semangat juga beberapa nasihat untuk Marisa sebelum mempunyai anak.
***
Dua manusia yang baru saja berduka itu kini berada di tepi pantai. Mereka menikmati ikan bakar dan juga kelapa muda yang diminum langsung dari kelapanya.
"Sayang, kita berasa kayak lagi pacaran nggak sih?" Tanya Elvan.
Saat itu mereka memakai baju kembaran dan minum dari kelapa yang sama, saling memandang, dan saling tersenyum. Seperti pasangan yang tengah menikmati mekarnya bunga-bunga cinta diantara mereka berdua.
"Biarin aja Mas." Marisa masih memandang wajah suaminya sambil menikmati kelapa muda dari sedotannya. Marisa benar-benar mengagumi ketampanan suaminya, ia berfikir apakah ia bisa selamanya bersama suaminya itu.
"Sayang, kamu cantik." Kata Elvan yang juga memandangi kecantikan alami dari istrinya.
Marisa merona, senyumnya semakin menambah kecantikan parasnya. "Mas, ayo setelah ini kita berdo'a untuk punya anak kembar, cowok dan cewek." Kata Marisa.
"Sayang, orang bilang hamil satu anak aja perjuangan loh, apalagi dua, kamu sanggup?" Kata Elvan sepertinya tak suka dengan ide istrinya.
"Ya kalau Allah mengijinkan pasti sanggup lah Mas. Pokoknya aku mau disetiap sholat kita terutama sholat tahajud kita doanya punya anak kembar." Marisa tersenyum membayangkan mengurus dua anak bayi sekaligus.
"Nanti kita bicarakan lagi sayang, kita nikmati dulu lah pernikahan kita." Kata Elvan.
Marisapun mengangguk, mereka memutuskan untuk berusaha semampunya saja dan tidak akan menjalani program kehamilan dengan cara apapun untuk saat ini sampai Tuhan memberikan mereka kepercayaan menjadi orang tua. Namun Marisa tetap ingin jika setiap berdoa mereka meminta untuk anak kembar seperti keinginannya.
***
Marisa tengah menatap layar laptop di mejanya ketika Pak Erwin dan Elvan akan masuk ke ruangan Alvero.
"Mas Elvan, Papa." Kata Marisa yang saat Pak Erwin dan Elvan masuk ke ruangan Alvero.
"Alvero ada?" Kata Pak Erwin.
"Em, ada pak, sebentar." Marisa lalu mengetuk pintu kaca ruangan khusus direktur utama. "Permisi Pak, ada Pak Erwin dan Mas Elvan."
"Iya suruh masuk."
"Silahkan Pak." Kata Marisa membukakan pintu.
Elvan menatap istrinya, ia tersenyum lalu masuk ke dalam ruangan Alvero. Di dalam sudah ada Alvero dan Kevin yang tengah membahas sesuatu.
Sementara Marisa sedikit terkejut, suaminya datang ke kantor padahal tadi pagi setelah mengantarnya Elvan langsung ke bengkel, dan kini ia telah rapi dengan setelan jasnya datang ke kantor bersama papanya.
Elvan telah setuju untuk membantu Papa dan Kakaknya namun ia tak mau terikat karena ia punya bengkel yang harus ia urus juga.
"Akhirnya kamu mau bergabung dengan perusahaan El." Kata Alvero bahagia menyambut adik tirinya itu.
"Iya Kak, tapi aku mau Marisa yang jadi sekretarisku." Kata Elvan.
"Apa?" Alvero terkejut. "El, Marisa itu sekretarisku, aku tau dia istrimu tapi mana bisa begini El, kerjaan dia sama kerjaan sekretaris kamu itu beda."
"Sama kayak aku yang tiba-tiba jadi direktur keuangan kan, sangat beda denganku yang aslinya hanya montir di bengkel." Kata Elvan.
"Kamu cemburu?" Alvero menatap tajam pada Elvan.
"Kalau kak Al tetep mau Marisa jadi sekretaris kakak ya sudah aku nggak akan mau bantu kalian." Kata Elvan dengan santai.
"Jangan kayak anak kecil El." Alvero menggaruk kepalanya. Sementara Elvan hanya mengangkat kedua bahunya.
"Marisa. Marisa." Alvero berteriak memanggil sekretarisnya.
Marisa pun masuk ke dalam.
"Iya Pak."
"Kamu bisa kerja di dua tempat? disini dan di ruangan Elvan?" Tanya Alvero.
"Maksudnya apa ya pak, maaf saya tidak mengerti." Jawab Marisa.
"Suami kamu itu maunya kamu jadi sekretaris dia, padahal Sasha gantiin kamu beberapa hari aja nggak sanggup, gimana?" Tanya Alvero yang juga kebingungan.
"Maaf pak, tapi bagaimana saya bisa konsen dengan dua pekerjaan sekaligus." Tanya Marisa, lalu melirik suaminya dan memelototinya.
"Sayang, kamu kan istriku, aku nggak mau lah kerja di tempat yang tiap hari lihat istriku sama cowok lain, apalagi Kak Al itu suka sama kamu." Kata Elvan serius.
"Permisi semua, Mas ikut aku." Marisa menarik lengan suaminya keluar dari ruangan Alvero. Ia lalu membawa suaminya ke ruangannya.
"Mas, jangan kayak anak kecil, aku kerja mas bukan mau selingkuh." Marisa kesal dengan sikap suaminya yang kekanak-kanakan.
"Mas cuma bantuin temen mas sayang, bentar ya, dia udah otewe kesini kok." Kata Elvan.
"Ada apa sih mas?" Marisa tak mengerti.
"Udah pokoknya kamu percaya sama suami kamu ini, nanti kamu disana setuju aja ya apapun yang mas katakan." Kata Elvan.
"Aku beneran nggak ngerti mas, ada apa sih." Marisa bingung.
"Duh, gemes deh pengen banget cium bibir kamu yang gak mau nurut ini. Udah, pokoknya nanti kita masuk, kamu diem aja, kalau kamu ngomong Mas akan langsung cium kamu di depan semua orang." Elvan lalu menarik tangan istrinya untuk masuk kembali ke ruangan Alvero.
"Marisa udah setuju. Dia akan jadi sekretaris aku, dia jelas pilih suaminya dong." Kata Elvan.
"**..Tapi.." Kata Marisa tertahan, karena Elvan langsung mengarahkan kepalanya hendak menciumnya. Seketika Marisa melotot.
"Terus yang jadi sekretarisku siapa?" Kata Alvero.
"Bos, sepertinya kita harus cari karyawan baru." Kevin buka suara.
"Papa heran, perusahaan sebesar ini, dan karyawan yang sebanyak ini tidak ada satu pun yang bisa menjadi sekretaris. Apa kita akan benar-benar bangkrut." Pak Erwin mendesah, sejujurnya ia tahu rencana Elvan dan temannya, namun ia berpura-pura tidak tahu apa-apa.
"Saya yang akan jadi sekretaris Alvero." Kata seseorang yang baru masuk ke ruangan itu tanpa mengetuk pintu.
Semua orang melihat kearah wanita cantik itu.
"Kamu????" Alvero kaget melihat wanita yang baru datang itu.
"Iya ini aku, apa kabar Alvero?"
To be continued
Haloo readers, semoga suka ya sama ceritanya, sebentar lagi konflik akan segera dimulai. Tetep setia ya, jangan lupa tinggalkan like dan coment kalian. Terimakasih