
Cahaya fajar menghias langit, warnanya jingga kemerah-merahan menandakan sang surya masih bersembunyi dibalik cakrawala. Gumpalan awan putih terbentuk indah berpadu dengan warna langit fajar yang berwarna ungu-kebiruan, menambah kesan hangat yang menjalar disepanjang pagi itu.
Di rooftop lantai dua rumah Elvan, pagi itu Marisa menikmati pagi pertamanya setelah kembali ke rumah itu. Rumah yang memberinya banyak kenangan manis, rumah yang pernah menjadi tempatnya menumpahkan tangis.
Marisa seperti mengulang kebiasaannya dulu, menghirup nafas dalam-dalam meresapi aroma pagi yang seakan lama tak ia rasakan. Marisa bersiap mengawali hari ini dan berharap akan seindah warna fajar yang menyongsong dihadapannya.
Elvan yang baru saja selesai sholat shubuh menghampiri istrinya yang tengah merentangkan kedua tangannya, wanita itu seakan sedang terbang bebas, melayang-layang di udara.
Tangan kokoh Elvan menggapai kedua telapak tangan Marisa, lalu membawanya dalam dekapan, dan memeluk istrinya dari belakang, disaksikan sinar fajar yang masih enggan menampakkan kegagahannya.
"Masss, ngagetin aja deh." Wanita itu menoleh kebelakang, hidungnya tepat menyentuh jakun suaminya yang menonjol dibalik lehernya.
"Emang Mas kenapa?" Laki-laki itu semakin mengeratkan pelukannya di perut istrinya.
"Kamu tuh Mas." Marisa tersenyum dengan perlakuan suaminya. "Anak-anak mana Mas?" Sang istri semakin bermanja, menggoyangkan kepalanya pelan seakan menari dalam pelukan hangat itu.
"Lagi mandi mereka, tadinya rebutan siapa yang mau mandi duluan, yaudah Mas bilang ke Zayn aja kalau dia bisa mandi di kamarnya sendiri." Elvan mencium pipi wanitanya. Laki-laki itu tahu istrinya selalu menikmati masa liburnya dalam tanda petik dengan menikmati fajar kesukaannya, sehingga setelah ia selesai menunaikan kewajibannya bersama putra-putrinya ia dengan mudah menemukan istrinya itu.
"Kok kamu tahu aku ada disini Mas, emang Mas ingat kebiasaan aku?" Marisa melepas pelukan itu, dan memandang lekat wajah suaminya yang telah menghadirkan lagi debaran dalam dadanya.
"Tau lah, Mas udah bener-bener inget sekarang. Oh iya hari ini kamu kerja?" Elvan menyelipkan rambut Marisa ke belakang telinga kemudian mencium telinga istrinya itu.
"Em, aku juga bingung Mas, gimana ya, kalau aku berhenti nggak enak sama Pak Alvero sebenernya." Marisa menundukkan kepalanya, hatinya bimbang antara melanjutkan karirnya atau mengurus kedua anaknya.
"Nanti, anak-anak biar Mas jemput aja, hari ini Mas akan jaga anak-anak." Elvan menarik tangan Marisa pelan dan mengajaknya untuk segera bersiap.
"Tapi Mas.." Marisa menghentikan langkahnya.
"Jangan buru-buru keluar, Kak Al udah banyak bantu kita, perusahaan dia itu masih baru kalau kita bisa bantu ya kita bantu, lagian kayaknya Mas akan di usir dari perusahaan." Kata Elvan berpura-pura tak semangat.
"Maksudnya, Mas dipecat? Tanya Marisa tak percaya, masa' iya anak pemilik perusahaan bisa dipecat.
Elvan mengangguk.
"Mas beneran akan dipecat??" Wanita itu semakin heran dengan suaminya.
"Sepertinya gitu, dan kamu harus belajar banyak dari Kak Al biar nanti kalau dipecat juga kamu bisa bantu Mas di bengkel." Elvan mencubit hidung istrinya.
"Ih,, Mas Elvan."
"Udah, sekarang mandi yuk, kamu tadi masak apa?" Elvan merangkul istrinya untuk masuk kedalam rumah.
🌱🌱🌱
Elvan berjalan memasuki loby kantornya, ia tampak gagah dan berwibawa dengan setelan jas berwarna navy. Laki-laki yang usianya lebih dari tiga puluh tahun itu berjalan santai melewati beberapa karyawannya, sedangkan para karyawan yang melihatnya pun menunduk dan tersenyum menyapanya. Banyak yang mengira bahwa Elvan seorang duda yang akan segera menikah dengan Sylvia yang merupakan anak rekan bisnisnya dalam kerja sama membangun sebuah pusat perbelanjaan.
Sylvia sebenarnya telah hadir dalam kehidupan Elvan kurang lebih dua tahun lalu, namun karena keinginan Ayahnya Sylvia dan juga paksaan Kakek Darma, Elvan menerima perjodohan itu. Sylvia gadis yang pintar, cantik dan sangat berkelas di mata Elvan dan semua orang pastinya namun meski begitu satu yang menjadi keraguan Elvan adalah, Sylvia tidak mampu mendapatkan hati Zayn sehingga Elvan tak pernah belajar mencintainya.
Sylvia sering berkunjung ke kantor Elvan tanpa pemberitahuan. Seperti saat ini, ia telah berada di ruangan Elvan bersama Kakek Darma saat Elvan memasuki ruangannya.
"Hai Sayang, kamu baru sampai?" Sylvia berjalan menghampiri Elvan.
"Kamu ngapain sih pagi-pagi kesini." Elvan meletakkan tas laptopnya di meja kerjanya. "Kakek juga ada apa pagi pagi udah disini?" Elvan menghampiri Kakeknya yang duduk di sofa berwarna coklat itu.
"Mau bahas pertunangan kamu lah, kata Sylvia kamu malas-malasan diajak ke W.O" Kakek Darma berbicara dengan nadanya santai, seperti orang tua yang sedang mengobrol dengan anak-anaknya, tapi Elvan bisa menangkap raut memaksa yang ditampilkannya sehingga membuatnya tersulut emosi.
"Kakek, aku tu punya istri dan anak, mereka udah kembali lalu untuk apa aku menikahi Sylvia." Kata Elvan menatap tajam Kakek Darma, menyalakan kobaran api yang mungkin akan membakar mereka dalam permusuhan.
"Kalau kamu tidak mau bertunangan, yasudah pergi saja dari perusahaan ini, biar sekalian kamu jadi gembel." Tantang Kakek Darma yang langsung membuat Elvan berdiri.
"Sylvia, mulai hari ini kita nggak ada hubungan, aku tidak pernah mencintaimu, perjodohan ini batal, aku memilih istri dan anak-anakku." Elvan lalu mengambil laptop miliknya dan segera keluar dari ruangannya.
"Kalau kamu meninggalkan perusahaan ini, jangan pernah kembali sampai aku mati." Kata Kakek Darma yang tak ditanggapi Elvan.
"Kakek, kenapa Kakek usir Kak Elvan sih?" Sylvia terlihat kesal karena pernikahannya yang batal dan Elvan terusir membuatnya tak memiliki sedikitpun celah untuk mendekati Elvan kembali.
"Biarkan saja, akan kakek buat dia kembali dan menikahimu." Kata Kakek Darma.
Sylvia hanya mengerutkan alisnya dan mengerucutkan bibirnya, pupus sudah harapannya untuk menjadi Nyonya Elvan.
🌱🌱🌱
Elvan melajukan mobilnya menuju bengkel utamanya, semenjak ia kecelakaan Galih lah yang berjuang mengembangkan bengkel itu atas permintaan Pak Erwin. Hingga saat ia bertemu Elvan dua tahun lalu Galih berhasil membuka beberapa bengkel cabang atas bantuan Pak Erwin pastinya.
Setelah perjalanan kurang lebih tiga puluh menit Elvan pun sampai di bengkelnya. Bengkel itu sekarang semakin besar, karena Elvan telah membeli beberapa ruko di sampingnya untuk memperluas bengkelnya.
Saat memasuki bengkel Elvan telah disambut oleh beberapa kasir dan pramuniaga yang siap membantu konsumen dalam mencarai onderdil dan sparepart motor yang mereka butuhkan.
Galih baru saja tiba di bengkel saat Elvan akan membuka pintu ruangannya.
"Enggak, dipecat gue, untung bengkel masih aman jadi gue nggak akan jadi gembel." Elvan duduk di kursinya, meletakkan laptopnya di atas meja.
"Hah dipecat? Kok bisa?" Galih buru-buru menarik kursi di depan Elvan karena penasaran seorang pewaris tunggal bisa dipecat dari perusahaan keluarganya sendiri.
"Bisa lah, buktinya gue diusir setelah gue nolak tunangan sama Sylvia." Jawabnya malas.
"Kenapa? Eh tapi dilihat-lihat elu keren juga sih kalau ke bengkel pakai jas gini berasa bos banget lu." Galih memindai penampilan Elvan yang memang terlihat keren dengan pakaian formalnya.
"Keren sih keren, tapi sekarang udah waktunya gue musiumin jas-jas gini. Oh iya gue lupa kasih tau elu, gue udah balikan sama Marisa." Elvan tersenyum bangga, Galih memang sahabatnya sejak lama, sehingga apapun kelih kesahnya sahabatnya itu lah salah satu tempatnya berbagi.
"Serius??"
"Iya serius, dan ternyata bener Zea itu anak gue, jadi sekarang anak gue dua sepasang, keren kan gue?" Elvan melipat tangannya di dada, solah menyombongkan dirinya sendiri.
"Iya elu mah emang paling keren sampek Marisa aja langsung nerima elu, betewe Marisa gimana sekarang? Gendut nggak? Secara udah punya dua anak apalagi kembar kan pasti sama kayak gendutnya kayak bini gue." Ucap Galih sambil membayangkan istrinya yang semakin hari semakin berisi.
"Enggaklah, dia masih cantik dan langsing kayak dulu, tapi nggak usah elu bayangin deh, istri gue tuh." Elvan sewot, bagaimanapun Galih pernah menyukai istrinya.
"Terus sekarang dia dimana? Jadi ibu rumah tangga apa tetep kerja?"
"Dia kerja di tempat Kak Al, sebenernya gue pengen dia di rumah sama anak-anak, tapi gue nggak tega nglarang dia."
"Elu kan suaminya, gue yakin dia pasti nurut apa kata elu kok."
"Ya, tapi kan waktu gue sama dia itu lebih singkat dari pada waktu gue pisah sama dia. Mungkin aja kan dia udah beda nggak kayak dulu lagi."
"Ya udah bro, biar kalian adaptasi lagi dulu baru elu kasih masukan ke dia, udah lama nggak sama-sama pasti kan ada yang beda juga. Eh berarti elu udah buka puasa dong?"
"Buka puasa apanya, orang tadi malem aja pas lagi tegang-tegangnya dia malah bilang 'aku menstruasi Mas' ahhh serasa pengen gue makan aja tau nggak." Kesalnya mengingat kejadian tadi malam.
"Hahahaha kasian banget sih lu Van, balikan pas lagi merah." Galih tertawa terbahak-bahak menertawakan nasib sahabatnya itu. "Yaudah terima nasib aja main ama sabun." Ledeknya semakin membuat Elvan jengkel.
"Langsung berendem gue sejam, pas selesai dia malah udah tidur."
"Tapi, soal Sylvia Marisa udah tau belum sih Van."
"Ya kayaknya dia tau sih, tapi gue nggak yakin juga, gue bingung gimana cara ngejelasin ke Marisa."
"Udah, elu tenang aja, Marisa pasti percaya elu kok."
"Ya semoga aja sih."
🌱🌱🌱
Marisa sedang menunggu Alvero selesai menanda tangani berkas penting saat Reyna istri Alvero yang tengah hamil besar memasuki ruangan suaminya.
"Marisa, jadi ini beneran kamu?" Sapa Reyna yang terlihat semakin berisi, wanita itu langsung memeluk Marisa yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
"Iya Kak, apa kabar?" Marisa membalas pelukan Reyna.
"Aku baik, wah kamu masih langsing aja, aku pengen deh kayak kamu lahiran nanti." Ucap Reyna dengan penuh rasa iri yang menghinggapi.
"Nanti juga kalau udah lahiran kak Reyn juga langsingagi Kak." Marisa mengusap pundak wanita hamil itu memberinya semangat.
"Ya semoga aja sih ya. Em sayang aku ke Mallnya sama Marisa aja ya gimana?" Reyna mendekati suaminya yang sedari tadi belum disapanya.
"Kalau Marisa kamu culik yang ngerjain kerjaan dia siapa?" Jawabnya masih fokus dengan berkas yang diserahkan Marisa.
"Sayang, kan ada Nadin, lagian kamu tarik Marisa kesini kan biar dia balik sama Elvan lagi, dan udah berhasil kan. Jadi biarkan dia jadi adik aku aja ya jangan kamu jadiin sekretaris beneran." Ucap wanita hamil itu dengan manja.
"Maaf maksudnya apa ya?" Marisa bingung dengan kata-kata yang diucapkan Reyna.
"Iya, jadi aku tu kasih usulan ke Al biar bawa kamu kesini biar nggak penasaran pas ketemu Sarah. Dan di CV Sarah emang beneran mirip Marisa, jadi aku usulin untuk narik kamu kesini dan ternyata feeling aku nggak salah." Jelas Reyna.
"Ya, tapi kamu nggak bisa main pecat dia aja dong, siapa tau dia beneran pengen kerja." Kata Alvero yang tak ingin istrinya bersikap egois.
"Jadi kamu maunya gimana Marisa?" Tanya Reyna.
"Emmmm saya..."
bersambung....
Mohon maaf ya kalau up nya terlambat, karena lagi musim hajatan Otornya ikutan sibuk bantu cuci piring ðŸ¤ðŸ¤
Makasih banget yang masih setia nungguin ceritanya. semoga tetep suka dan tetep setia.
jangan lupa like dan komentarnya, kasih kembang atau kopi juga boleh 😊 mumpung hari senin kalau mau kasih vote juga boleh banget kokðŸ¤ðŸ¤ðŸ¤