My Amazing Husband

My Amazing Husband
Janji Zayn


Marisa terpakasa mengabulkan permintaan putra kecilnya untuk berbicara dengan laki-laki yang menjadi ayah dari kedua buah hatinya, Elvan Putra Wiguna.


"Assalamu'alaikum Pak Elvan." Sapa Marisa yang kini tengah memegang benda pipih itu, menyaksikan wajah laki-laki yang hampir enam tahun ini tak pernah pergi dari hatinya.


Elvan tak sanggup berkata-kata, wanita yang lima tahun lalu dinyatakan meninggal kini muncul dihadapannya. Benarkah dia wanita itu.


"Waalaikumsalam kamu.... Apakah kamu benar Mamanya Zayn?" Pertanyaan yang tak mungkin akan dijawab dengan jujur oleh Marisa.


"Bukan Pak, nama saya Sarah, sepertinya Bapak juga salah mengenali saya sebagai istri bapak." Kata Marisa.


"Jadi, kamu bukan Marisa istriku?"


Istri? Apa dia masih menganggapku istrinya, walaupun dia telah melupakanku.


"Maaf Pak, saya bukan istri Bapak, saya istri orang lain." Kata Marisa berbohong.


"Tunggu, bisakah kamu panggil aku, sekali saja, panggil "Mas Elvan" tolong!" Kata Elvan yang ingin memastikan, dalam bayangan ingatannya yang selalu teringat adalah panggilan mesrah dari bibir istrinya itu.


Marisa terdiam, harus bagaimana sekarang, ah hanya memanggil saja kan, tidak masalah.


"Mas Elvan, apa kabar?" Tanya Marisa yang kemudian berkaca-kaca.


"Ahhhh,, kepalaku sakit sekali. Maaf kepalaku sakit, Zayn Papa istirahat dulu ya, nanti Papa telfon lagi." Kata Elvan lalu Zayn pun mematikan telfon Papanya itu.


"Marisa kamu baik-baik saja?" Tanya Alvero yang melihat Marisa dengan cepat menghapus air matanya.


"Maaf Pak, saya Sarah." Jawab Marisa.


"Iya Sarah, maaf ya saya suka salah panggil. Adik saya itu menderita amnesia semenjak kecelakaan bersama istrinya, Elvan tidak bisa mengingat siapapun yang dia kenal, termasuk istrinya. Perlahan setelah cukup lama berjuang dia mampu mengingat sedikit-sedikit kenangan melalui wajah orang itu, tapi Elvan tidak pernah bertemu istrinya makanya sampai saat ini dia masih belum mengingat istrinya." Kata Alvero.


"Maaf pak, sebaiknya tidak usah membahas istri Pak Elvan selagi ada Zayn." Kata Marisa yang tak ingin membuat Zayn kecewa dan terluka hatinya.


"Zayn itu korban keegoisan kakek kami, dia tidak memiliki satu pun foto dari ibunya, sampai akhirnya Reyna istri saya memberi hadiah ulang tahunnya yang yang ke 4 tahun. Hadiah itu foto Marisa yang sedang menghadiri pertunangan saya dan Reyna." Kata Alvero.


Marisa berusaha menahan air matanya. Hatinya terasa perih teringat setiap ulang tahun putrinya, malamnya ia akan menangis semalaman karena merindukan putranya yang hilang.


"Mama, jangan menangis, Zayn ada disini Ma, Mama jangan takut apapun Zayn akan jaga Mama." Kata Zayn menghapus air mata Marisa.


Marisa tak tahan lagi, ia memeluk erat putra kecilnya itu. Menumpahkan semua yang ia pendam selama ini dalam pelukan kecil Zayn. Marisa kalah, ia menyerah dalam pelukan Zayn, pria kecilnya.


Setelah Marisa tenang, dan Zayn tertidur dalam pelukannya. Alvero meminta Marisa untuk memindahkan Zayn ke sofa di ruangan Alvero. Karena Zayn terus memeluk Marisa membuat Alvero tak dapat menggendongnya.


Marisa akhirnya menggendong tubuh kecil itu, wajahnya terlihat damai dalam tidurnya. Marisa pun merebahkan Zayn diatas sofa besar. Namun Zayn memegang erat jari telunjuk Marisa.


"Mama, jangan pergi." Kata Zayn dalam lelapnya.


Marisa lalu mengusap rambut Zayn, memberi kenyamanan agar pria kecil itu kembali terlelap.


"Bisa kita bicara sebentar." Kata Alvero setelah Zayn melepas jari tangan Marisa.


Marisa pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Zayn yang telah lelap. Alvero ikut duduk disebelah Marisa, mereka menatap Zayn yang sesekali tersenyum dalam tidurnya.


"Aku tidak mengerti apa alasanmu sebenarnya, tapi apapun itu aku akan membantumu Marisa." Kata Alvero.


"Saya bukan Marisa Pak." Kata Marisa masih berbohong.


"Jangan bersandiwara lagi, Zayn tahu siapa Mamanya, dia yang bisa merasakannya, dan kamu sebagai ibu yang telah melahirkannya, kamu bisa merasakan kesedihan Zayn kan? Zayn sudah lama menunggumu, tidakkah kamu kasihan melihat putramu sendiri seperti itu?" Kata Alvero.


Lagi-lagi Marisa menangis, sekuat apapun ia berusaha menahan, tapi setiap kali melihat penderitaan Zayn ia tetap tak sanggup menahannya.


"Lihat, lagi-lagi kamu menangis, kalau dia bukan putramu untuk apa kamu menangisinya?" Kata Alvero.


"Saya hanya kasihan, dan teringat anak saya." Kata Marisa.


"Bersumpahlah jika bukan kamu yang melahirkan Zayn." Kata Alvero kesal.


Marisa tidak sanggup lagi menjawab kata-kata Alvero, ia tidak mungkin bersumpah tidak mengakui Zayn.


"Baiklah, iya memang aku Marisa, aku ibunya Zayn. Aku ibu yang dipaksa berpisah dengan putranya, tanpa peduli bagaimana perasaanku. Aku kehilangan suamiku, kehilangan putraku, aku menjadi orang lain hanya untuk melindungi satu-satunya yang ku miliki, yaitu putriku." Kata Marisa tersedu-sedu.


"Benarkah? Kamu memiliki putri? Apa kamu sudah menikah lagi?" Tanya Alvero.


Marisa tak menjawab. Ia tidak mungkin menceritakan tentang Zea.


"Jawab Marisa, apa kamu sudah menikah lagi? Aku akan membantumu Marisa, kamu ingat kan aku kakakmu, aku akan membantumu membuat ingatan Elvan kembali. Katakan padaku Risa." Kata Alvero tak sabaran.


"Tolong jangan ganggu tidurnya Zayn Pak." Kata Marisa.


"Baiklah, sekarang katakan apa yang sebenarnya terjadi. Percayalah aku mendukungmu, aku dan Papa Erwin meyakini kalau kamu masih hidup, semua hanya tipuan Kakek Darma tentang kematianmu juga." Kata Alvero.


"Berjanjilah untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang apa yang akan aku katakan, berjanjilah demi Zayn." Kata Marisa menyerah, karena ia tahu Alvero bisa membantunya.


"Aku berjanji Marisa, demi Zayn, demi keluarga kecilku, aku janji akan menjaga rahasiamu, dan akan membantumu Marisa." Kata Alvero.


Marisa menarik nafas dalam dan menghembuskannya dengan kasar, berharap bisa melegakan perasaannya saat ini.


Kemudian ia pun bercerita bagaimana ia dipaksa meninggalkan Elvan, dan akhirnya ditolong Andi dan Sheryl, lalu Zayn yang baru dilahirkan malah diculik oleh orang suruhan Kakek Darma, dan saat itu ia melahirkan Zea. Hingga ia harus berpura-pura menjadi orang lain demi putrinya itu.


"Jadi, semua ini karena Kakek?" Tanya Alvero tak percaya. "Marisa, aku akan melindungi kamu, sampai Elvan kembali ingatannya, dia juga pasti akan melindungimu dan anak-anak kalian." Kata Alvero.


"Tolong rahasiakan semua ini Kak aku mohon, dan anggaplah aku ini Sarah, bukan Marisa." Kata Marisa.


"Baiklah Sarah, aku janji aku akan membantumu."


🌱🌱🌱


"Mama, Mama mana?" Zayn terbangun dan tak mendapati Marisa disisinya. "Mama.. Mama.. Mama.. " Zayn menangis sambil mengusap matanya, kesadarannya belum kembali sempurna tapi ia tetap mencari sosok Mamanya.


"Zayn, Zayn, kenapa?" Tanya Alvero yang baru keluar dari toilet di ruangannya.


"Mama,, Mama,, Mama Zayn mana? Hikss.. Mama pergi lagi." Kata Zayn yang terus menangis.


Alvero pun langsung menggendong tubuh kecil itu, "Zayn, Mama lagi kerja tu disana, kita temui Mama ya." Kata Alvero lalu membawa Zayn yang masih dalam gendongannya keluar dari ruangannya.


"Mama." Zayn langsung meronta minta turun dan berlari menghampiri Marisa yang sedang duduk di mejanya.


"Hai, Zayn ganteng kenapa sayang." Marisa mengusap kepala bocah yang belum genap lima tahun itu.


"Zayn pikir Mama ninggalin Zayn lagi, tadi kan Zayn sama Mama kenapa pas Zayn bangun Mama nggak ada." Kata Zayn yang masih memeluk tubuh Marisa.


"Sayang, Zayn anak cowok nggak boleh cengeng ya." Marisa meraih tubuh Zayn dan memangkunya. "Zayn tau nggak, Zea nggak pernah nangis loh, masa' Zayn nggak malu sih anak cowok nangis." Kata Marisa menghapus air mata Zayn.


"Mama, Zayn nggak akan nangis lagi Ma, tapi Mama jangan pergi lagi ya Ma, janji Ma." Kata Zayn mengangkat jari kelingkingnya.


Marisa tersenyum, "Tapi ada syaratnya." Kata Marisa.


"Apa Ma?" Tanya Zayn bersemangat.


"Em,, dia panggil Kakek dengan panggilan apa sih Pak?" Tanya Marisa kepada Alvero yang kini duduk di depannya.


"Kakek Uyut deh, iya kan Zayn?" Alvero balik bertanya pada Zayn.


"Kalau kakeknya Papa Kakek Uyut, kalau papanya Papa Grand-pa." Kata Zayn.


"Wahh,, Uncle udah lama nggak kesana sampek lupa." Kata Alvero.


"Jadi Zayn harus janji, nggak boleh kasih tau Kakek Uyut sama Grand-Pa kalau Zayn ketemu Mama disini." Kata Marisa merapikan rambut Zayn yang sedikit berantakan.


"Kenapa Ma?" Tanya Zayn penasaran.


"Tapi kalau Mama nggak ketahuan mereka Mama nggak akan ninggalin Zayn kan?"


"Iya sayang nggak akan."


"Kalau Papa tanya gimana Ma, Zayn nggak boleh bohong Ma."


"Kalau sama Papa nggak bohong nggak papa Zayn, tapi kalau sama Grand Pa, apalagi sama Kakek Uyut bohong aja nggak papa Zayn daripada Mama pergi lagi." Kata Alvero.


"Pak Alvero..." Marisa tak suka ide Alvero untuk berbohong, yang hanya dibalas kerlingan mata dari Alvero.


"Oke deh, Zayn janji nggak akan kasih tau mereka kalau Mama udah ketemu, tapi Mama janji juga nggak akan ninggalin Zayn."


"Iya, Mama janji."


🌱🌱🌱


Sore hampir berakhir, Zayn terpaksa harus berpisah dengan Mamanya, dan berjanji akan bertemu kembali esok hari. Setelah saling berpelukan, mereka berpisah di loby kantor, Marisa pulang naik bis menuju rumah Andi dan Sheryl untuk menjemput Zea, sedangkan Zayn pulang bersama Alvero.


Setelah sampai di rumah Sheryl, Marisa langsung mengajak Zea pulang, tanpa menunggu Andi yang masih bertugas.


Zea senang sekali naik bis bersama sang Mama, bertanya banyak hal tentang ini dan itu, berceloteh bahkan ia menceritakan tentang Zayn yang suka dengan masakan Mamanya.


"Mama, tadi aku bawa kotak bekal Zayn pulang Ma, Zayn suka masakan Mama." Kata Zea.


"Oh ya, kalau gitu, besok mau Mama masakin apa Zea biar Zayn juga suka?"


"Emmm." Zea sedikit berfikir, alisnya disatukan, dan matanya menyipit benar-benar menggemaskan. "Nasi gulung sosis gimana Ma?"


"Em, boleh deh." Kata Marisa lalu Zea memeluknya.


"Zea seneng punya Mama, kasian Zayn nggak punya Mama." Kata Zea.


"Zea, kalau Mama jadi Mamanya Zayn, Zea marah nggak?" Tanya Marisa.


"Emm, enggak Ma, Zea pernah bilang ke Zayn kalau Zayn mau, Zea bisa pinjemin Mama atau Bunda ke Zayn." kata Zea.


"Memangnya Bunda mau?" Tanya Marisa


"Tapi Mama mau kan?"


Mereka pun tertawa, hingga tanpa sadar mereka sudah harus turun untuk menuju apartemen mereka.


🌱🌱🌱


Pagi telah berlalu berganti siang, Marisa telah tiba di sekolah Zayn dan Zea saat bel pulang berbunyi.


Zayn dan Zea bergandengan tangan menuju tempat biasa para orang tua menjemput anak-anaknya.


"Mama..." Zea berteriak saat melihat Marisa.


Zea dan Zayn langsung berlari memeluk Marisa.


"Zayn kok peluk Mamaku? Kamu jadi pinjem Mamaku?" Tanya Zea saat melihat Zayn ikut memeluk Mamanya.


"Bolehkan Zea?" Tanya Zayn penuh harap.


Zea tersenyum dan mengangguk setuju.


Marisa menurunkan tinggi badannya menyeimbangi tubuh kedua bocah kecil itu.


"Sayang, Mama kerja di tempat Om nya Zayn, sekarang Mama lagi jemput Zayn, Zea tunggu Bunda ya." Kata Marisa membelai pipi Zea.


"Zea nggak boleh ikut Mama sama Zayn ya?" Zea merasa sedih, bibir mungilnya mengerucut.


"Sayang, Mama kan kerja Nak." Marisa memeluk gadis kecil yang biasanya periang itu.


"Emmm, Zea nanti aku ijin Uncle dulu ya, semoga aja besok Uncle ngijinin Zea ikut sama Zayn ke kantor Uncle, Papa Zayn pulangnya masih lama jadi besok kita masih bisa main, gimana?" Tanya Zayn.


"Emm yaudah deh Zayn, bilang sama Unclenya Zayn ya, besok Zea nggak akan nakal kok, nggak akan ganggu Mama." Kata Zea.


"Zayn, Zea, Mama kan kerja, bukan main-main sayang, besok-besok kalau libur aja ya kita main sama-sama, gimana?" Marisa tak ingin kedua bocah itu menyamakan tempat kerja dan tempat bermain.


"Tapi Ma." Kata Zayn dan Zea kompak, mereka menunjukkan wajah sedihnya.


Marisa melihat kedua bocah itu begitu mirip satu sama lain.


"Yaudah, sekali aja tapi ya, nanti Mama bilang ke Uncle."


"Yeee..." Zayn dan Zea berpelukan sambil melompat-lompat.


Sheryl menghampiri mereka bertiga.


"Kak." Sheryl melihat Zayn dan Zea yang berpelukan lalu melihat Marisa tersenyum memperhatikan kedua bocah itu.


"Iya dia Zayn." Kata Marisa.


"Kakak udah tahu?" Tanya Sheryl.


"Iya, sekarang aku ditugasin Kak Alvero untuk jemput Zayn ke sekolah, karena Papanya ke luar negri." Kata Marisa.


"Kakak ketahuan?" Tanya Sheryl khawatir.


"Belum, jangan sampai lah, aku masih pengen bersama Zayn." Kata Marisa. "Yaudah, tolong ajak Zea pulang ya, aku harus kembali kerja Sher."


"Iya Kak."


Sheryl dan Zea pun akhirnya pulang, sementara Zayn ikut ke kantor bersama Marisa.


*Di dalam mobil*


"Mama, tadi masakan Mama enak sekali." Puji Zayn.


"Oh ya, makasih sayang." Marisa tersenyum kepada putranya.


"Mama, kapan Zayn bisa tidur sama Mama, Zayn kalau tidur sendirian. Zayn pengen dipeluk Mama kalau tidur." Kata Zayn.


"Sayang, Zayn kan sudah besar, Zayn harus tidur sendiri dong." Marisa memeluk erat putranya.


"Tapi Ma, Zayn pengen banget tidur dipeluk Mama, kalau nanti Papa menikahi Tante Silvia, Zayn mau ikut Mama aja boleh nggak Ma?" Tanya Zayn.


"Nanti Zayn tanya Papa ya." Marisa tak tahu harus menjawab apa, bahkan surat cerai pun belum ia dapatkan, apakah suaminya itu akan benar-benar menikah lagi.


🌱🌱🌱


Zayn menggandeng tangan Marisa saat turun dari mobil dan menuju ruangan Alvero, pria kecil itu menyapa semua orang yang ditemuinya, benar-benar mirip dengan Elvan pikir Marisa.


Zayn dan Marisa telah sampai di meja sekretaris tempat Marisa bekerja, Alvero langsung keluar dari ruangannya setelah mendengar keponakannya itu datang.


"Halo Zayn, gimana sekolahnya?" Tanya Alvero yang langsung memeluk bocah yang masih memakai seragam sekolahnya itu.


"Asyik dong." Jawab Zayn.


"Tadi Grand Pa telfon, katanya Zayn nggak mau bawa bekal, kenapa?" Tanya Alvero.


"Emmm, karena Zea udah bawain bekal buat Zayn, masakannya Mama enak banget Uncle." Kata Zayn.


"Zea? Siapa Zea?"