My Amazing Husband

My Amazing Husband
Demi Tas Cantik


Sebagai pengantin baru yang juga baru saling memahami kepribadian dan kebiasaan masing-masing, Elvan dan Marisa memiliki banyak hal yang ingin dilakukan bersama-sama.


Seperti saat ini, mereka tengah berbelanja di sebuah supermarket. Setelah sebelumnya mereka selesai makan siang di sebuah rumah makan.


Marisa membagi tugasnya dengan Elvan. Ia telah menyusun apa saja yang akan dibeli untuk kebutuhan mereka. Elvan bertugas untuk membeli sabun-sabun dan juga makanan dan minuman ringan yang sama sekali tak ada di dapur mereka. Sementara Marisa bertugas membeli sayur dan buah juga bahan-bahan dan bumbu dapur lainnya.


Mereka sibuk dengan tugas mereka masing-masing.


Elvan tak kebingungan mencari produk untuk cuci piring dan cuci baju karena Marisa telah menuliskan nama merk dan juga ukurannya di ponsel milik Elvan, sehingga Elvan hanya tinggal mencari dan mengambilnya.


Setelah membeli barang-barang yang ada dalam daftar belanjanya Elvan mencari keberadaan sang istri, dan secara kebetulan ia melewati koridor yang memajang berbagai jenis pembalut wanita. Elvan pun teringat jika istrinya tak menuliskan daftar pembalut dalam belanja mereka, dan Elvan pikir istrinya itu terlupa tentang hal itu.


Elvan memutuskan untuk mengambil pembalut untuk istrinya, ia tak ingin jika sang istri tiba-tiba datang bulan dan akan merepotkan jika ia harus membelikan untuknya.


"Risa pakek pembalut yang mana ya, kenapa banyak sekali jenisnya. Ini 23cm, ini 29cm." Gumam Elvan membaca satu per satu nama pembalut itu. "Ini apa? Kenapa pakai sayap. Apa bisa terbang sendiri?" Elvan membolak balik pembalut berwarna ungu itu. "Wah siang malam beda ternyata ya." Ia mengembalikan lagi pembalut itu ke tempatnya. Laku ia menemukan lagi yang berbeda. "Sensasi dingin? Apa ini semacam pendingin seperti kulkas? Kenapa banyak sekali sih pilihannya, jadi bingung." Elvan menggaruk-garuk kepalanya.


"Ada yang bisa dibantu kak?" Seorang Sales yang melihat Elvan kebingungan datang menghampirinya.


"Oh,, ini saya lagi cari pembalut buat istri saya tapi nggak ngerti yang mana yang bagus." Kata Elvan yang kebingungan.


"Oh..kebetulan kita lagi ada promo nih kak, beli pembalut ini sebanyak lima pack akan dapat potongan harga sepuluh persen dan dapet tas cantik ini kak." Kata sales itu mempromosikan dagangannya.


"Em,, gitu ya." Elvan manggut-manggut.


"Iya kak, ini tas nya cantik banget loh kak, pasti istrinya suka." Kata sales itu.


"Yaudah saya ambil yang ini sekalian tas nya." Kata Elvan.


Elvan pun memasukkan pembalut yang di pilihnya. Setelah itu Elvan kembali mencari istrinya.


Marisa tengah sibuk mengabsen satu per satu bumbu dapur yang ada di daftar belanjanya.


"Sayang, aku udah dapet semua loh." Kata Elvan yang menghampiri istrinya dengan membawa troli yang penuh dengan barang-barang belanjaan.


"Oh ya. Boleh aku cek lagi mas?" Tanya Marisa.


"Boleh dong. Oh iya mas ada kejutan buat kamu." Kata Elvan dengan bangga.


"Apa mas?"


"Kamu cek dulu nanti juga tau." Elvan senyum-senyum membayangkan reaksi istrinya yang ia pikir akan senang karena ia melakukan hal yang menurutnya romantis.


Elvan sengaja menyembunyikan pembalut yang ia ambil dalam tumpukan sabun-sabun sehingga Marisa harus mencarinya.


"Ini buat apa mas?" Tanya Marisa saat menemukan 5 pak jumbo pembalut berisi sekitar 60pcs masing-masing pak nya.


"Buat kamu lah sayang. Pasti kamu lupa deh nggak nulis pembalut didaftar belanjaan." Kata Elvan dengan yakin. Ia masih tersenyum dengan bangganya.


"Mas, maaf ya aku nggak pakek pembalut ini mas. Aku iritasi, lagian buat apa beli sebanyak ini?" Tanya Marisa heran.


"Tadi kata salesnya kalau beli 5 pak bisa dapat tas cantik ini sayang. Mas pikir kamu pasti suka." Kata Elvan menjelaskan.


"Mas, kalau mas beli sebanyak ini berarti aku harus menstruasi terus setidaknya selama satu tahun ke depan, biar nggak mubazir. Jadi, apa sebaiknya kita tunda dulu punya anaknya demi tas cantik ini mas?" Kata Marisa memberikan pilihan untuk suaminya.


"Aku tau kok niat mas baik, makasih banget udah perhatian ke aku. Tapi jangan buang uang untuk hal yang tidak terlalu dibutuhkan mas. Aku kembalikan ya." Marisa pun mengembalikan pembalut yang telah dikemas bersama tas hadiahnya itu ke dalam raknya, lalu ia mengambil 1 pak pembalut ukuran sedang yang biasa dia pakai.


Marisa pun kembali berjalan untuk menghampiri suaminya yang masih di koridor bumbu dapur untuk menunggu troli belanja mereka.


"Ini mas, aku biasa pakai yang ini." Kata Marisa menunjukkan kepada suaminya itu. "Tapi kalau bisa jangan sampai deh mas beli beginian. Pasti malu-maluin mas." Kata Marisa terkekeh membayangkan suaminya itu akan berbelanja pembalut untuknya.


"Ya, mas pikir kan kamu pasti terpesona kalau mas inisiatif." Elvan cemberut. Usahanya kali ini terbilang gagal melakukan hal yang menurutnya romantis.


"Tanpa melakukan itu pun aku sangat terpesona dan akan terus terpesona dengan suamiku yang amazing ini." Kata Marisa mencubit pipi suaminya karena gemas.


"Yaudah kita pulang yuk. Keburu sore." Kata Elvan lalu mendorong troli belanjanya menuju kasir.


Setelah selesai berbelanja, Elvan dan Marisa pulang ke rumah mereka. Hari semakin sore saat mereka sampai di rumah.


Marisa turun dari mobil untuk membuka pagar rumah agar Elvan bisa memasukkan mobilnya ke dalam halaman depan rumah.


"Eh, mbak cantik. Pacarnya Mas ganteng ya. Tumben sekali Mas ganteng pulang bawa perempuan." Sapa seorang ibu ibu yang mendorong kereta bayinya.


Marisa yang menunggu Elvan memarkirkan mobil pun menoleh kearah ibu-ibu itu.


"Eh, saya bukan pacarnya bu. tapi istrinya." Jawab Marisa sopan.


"Wah, mas ganteng sudah menikah?" Tanya ibu-ibu tersebut.


Marisa hanya tersenyum lalu Elvan keluar dari mobil dan menghampiri istrinya yang masih belum menutup pagarnya itu.


"Assalamualaikum bu.selamat lebaran ya. Minal aidzin wal faidzin." Kata Elvan menyapa ibu-ibu yang memang sering lewat depan rumahnya itu.


"Eh, iya mas ganteng maaf lahir batin juga ya. Mas ganteng kok tiba-tiba sudah menikah, pasti ibu-ibu komplek patah hati semua." Kata ibu tersebut.


"Ibu bisa aja. Tapi kok tumben masih sepi ya ibu-ibunya pada kemana?" Tanya Elvan yang kini berdiri disamping istrinya.


"Mereka belum balik kesini kayaknya, masih otewe mungkin kan lagi pada mudik. Kalau saya mah nggak punya kampung jadi nggak mudik." Kata Ibu itu.


"Oh gitu. Kalau gitu saya sama istri saya masuk dulu ya bu. Permisi."


Elvan pun mengajak istrinya masuk ke rumah. Ia membawa belanjaannya sampai di dapur.


Risa lalu membuka semua barang belanjanya dan menyusunnya sesuai dengan tempatnya.


bersambung....


Halo readers kece 😍😍


terimakasih masih setia dengan Mas Elvan..


jangan lupa tinggalkan like ya.


terimakasih, salam hangat dari autor kece 😍😍