
Elvan keluar bengkel, setelah mendapat pesan dari istrinya jika ia sudah hampir sampai. Elvan menunggu Marisa dengan duduk di kursi kecil yang biasa dipakai montirnya saat memperbaiki mesin motor pelanggan.
Elvan sesekali mengajari ilmu-ilmu dan tips untuk memperbaiki mesin motor kepada montir-montir baru. Maklum, karena akan membuka bengkel baru, Elvan dan Galih mulai merekrut beberapa karyawan baru.
Tiba-tiba ia mendengar suara benturan yang cukup keras. Dan orang yang melihat kecelakaan itu mulai berteriak histeris.
"Allahu Akbar, itu wanita yang tertabrak." Teriak seorang ibu-ibu yang baru saja keluar dari parkiran minimarket di sebelah bengkel Elvan.
Elvan berdiri, dari tempatnya itu ia melihat seorang wanita tergeletak di tengah jalan. Elvan nampak tak asing dengan pakaian yang dikenakan wanita korban kecelakaan itu. Lalu dengan sepenuh tenaga ia berlari menghampiri korban. Dalam hatinya Elvan berdoa semoga hanya kebetulan saja wanita itu mirip istrinya.
Elvan semakin dekat dengan wanita yang kepalanya telah cukup banyak mengeluarkan darah. Wanita itu masih dalam keadaan tertelungkup, orang-orang yang berkerumun tak ada yang berani mendekat.
Tak ada pilihan lain bagi Elvan selain menyentuh wanita itu, ia takut jika wanita korban tabrak lari itu adalah istrinya. Hati Elvan semakin tak karuan, walau banyak orang-orang yang melarangnya untuk menyentuh wanita itu sebelum polisi datang, tapi Elvan tak peduli, bagaimana jika itu adalah istrinya, ia tak ingin menyesal karena terlambat.
Elvan akhirnya berhasil membalikkan tubuh wanita itu. Mata Elvan melotot saat tahu siapa wanita itu, air matanya langsung keluar tanpa aba-aba.
"Marisa." Teriaknya histeris, ia memanggil nama istrinya dalam tangisnya yang menyayat, namun istrinya itu tak mungkin mendengar.
Galih dan beberapa karyawan juga pelanggan bengkel langsung berhamburan setelah mendengar teriakan Elvan.
Elvan masih meraung-raung, hatinya begitu terluka menyaksikan istrinya yang tak sadar.
"Marisa." Galih ikut berteriak, lalu memeriksa denyut nadi Marisa, berharap masih ada kehidupan dalam tubuh istri sahabatnya itu.
"Van, gue ambil mobil, kita ke rumah sakit sekarang." Kata Galih langsung berlari mengambil mobilnya. Sementara Elvan mendekap erat tubuh istrinya.
Marisa dibawa masuk ke dalam mobil Galih, Elvan yang memangku kepala istrinya itu terus saja memanggil istrinya untuk sadarkan diri. Air matanya masih mengalir, bahkan semakin deras, belum genap satu bulan ia menikah, ia merasa takut kehilangan istrinya yang begitu dicintai.
Galih melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, bahkan ia beberapa kali menerobos lampu merah, baginya tak ada waktu jika menunggu, keadaan Marisa cukup parah, ia pun tak ingin menyesal.
Setelah hampir sepuluh menit mereka sampai di depan IGD rumah sakit. Para petugas yang berjaga langsung membawa Marisa ke dalam ruang IGD.
Elvan dan Galih menunggu di luar pintu kaca, terlihat marisa yang berbaring lemah tak berdaya, sedangkan para perawat dan dokter sedang sibuk untuk menyelamatkan nyawanya.
Elvan terduduk lemas di depan pintu IGD, sedangkan Galih menenangkan sahabatnya itu.
"Van, yang sabar, kita berdoa semoga Marisa baik-baik aja Van." Kata Galih merangkul sahabatnya yang kacau itu.
Sementara Elvan tak sanggup menjawab, ia hanya terbayang-bayang senyum dan tawa istrinya itu.
Dokter Rani yang tadi memeriksa Marisa terburu-buru masuk ke ruangan IGD itu bersama seorang perawat. Namun Elvan tak mengetahui itu.
Setelah menunggu sekitar setengah jam, perawat keluar dari ruangan.
"Keluarga pasien. Dokter ingin bicara." Kata perawat yang keluar dari ruangan IGD itu.
"Saya suaminya sus." Elvan berdiri diikuti Galih.
"Mari ikut saya."
Elvan lalu meninggalkan Galih dan mengikuti perawat tadi. Lalu masuk ke ruangan IGD itu, Marisa masih tak sadarkan diri, kepalanya terbalut perban.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Elvan setelah beremu dokter yang menangani istrinya.
"Alhamdulillah kita masih bisa menyelamatkan istri Anda, namun mohon maaf kami tidak mampu menyelamatkan bayi dalam kandungannya." Kata dokter lalu menjelaskan penyebab Marisa mengalami pendarahan di kepala yang tidak fatal, dan juga benturan yang menyebabkannya kehilangan calon buah hatinya.
"Apa?" Elvan terperangah, seketika tubuhnya tak bergerak, jadi ia sekarang kehilangan calon bayi yang baru saja ia ketahui kehadirannya.
"Apa Bapak belum mengetahui kalau Ibu Marisa mengandung?" Tanya Dokter Rani.
Elvan menggeleng, karena ia memang tak tahu. Marisa sebelumnya menefon dan terlihat sangat bahagia, apakah ini yang membuatnya tak sabar dan langsung mendatanginya ke bengkel.
"Beberapa saat yang lalu, ibu Marisa datang ke tempat saya karena mual dan pusing, ternyata setelah pemeriksaan, ibu Marisa dinyatakan hamil. Namun saya harus menyampaikan ini jika Bu Marisa harus menjalani kuretase karena telah mengalami keguguran."
Galih masuk keruangan setelah dokter keluar, dan ia diijinkan masuk.
"Gimana Van?" Galih melihat Elvan yang membeku, air matanya kembali meleleh membasahi wajah tampan yang terlihat kusut itu.
Elvan lalu duduk dikursi setelah dibantu Galih.
"Marisa keguguran Lih, gue nggak ngerti harus bilang apa ke dia saat dia sadar nanti." Elvan memegang tangan Marisa yang masih belum sadarkan diri.
"Gue turut berduka cita Van, tapi elo harus kuat, Marisa pasti akan terpuruk, dan elo harus kuat untuk dia." Kata Galih menepuk pundak sahabatnya itu.
"Tolong cari tahu apa yang terjadi dengan Marisa, cek juga CCTV depan bengkel Lih." Kata Elvan.
"Tenang aja, gue akan cari tahu semuanya."
Setelah itu Galih meninggalkan Elvan dan kembali ke bengkel untuk memeriksa CCTV.
Elvan lalu menghubungi Kakek Neneknya juga papa dan Kakaknya bahwa Marisa mengalami kecelakaan.
***
Semua keluarga tengah berkumpul di ruang perawatan rumah sakit, karena Marisa telah dipindahkan setelah menjalani kuret.
Elvan duduk tepat disamping istrinya, sementara kakek neneknya telah pulang lebih dulu dan akan kembali keesokan harinya.
Pak Erwin Alvero dan Galih duduk tenang di sofa. Namun diruangan besar itu tak ada percakapan sama sekali, hening.
Marisa mulai membuka matanya. Elvan yang melamun tak menyadari itu.
"Mas." Marisa memanggilnya lirih.
Elvan langsung tersadar dari lamunannya.
"Sayang, mas disini. Kamu sudah sadar hah?" Elvan mencium pipi istrinya, lalu mendekap tubuh yang masih terbaring itu.
"Kenapa aku disini mas, kepalaku sakit." Kata Marisa masih dengan suara lirihnya.
"Iya sayang, mas tau, kamu pasti kuat kan." Elvan duduk kembali dan menggenggam tangan istrinya.
Sementara Pak Erwin, Alvero dan Galih mendekat ke ranjang Marisa.
"Semuanya disini?" Marisa tersenyum. Lalu ketiga orang itu hanya tersenyum tipis menyaksikan Marisa yang dalam sakitnya masih bisa menampilkan senyuman menawannya.
"Lih, tolong panggil dokter ya." Kata Elvan.
Galih mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.
"Mas, sebenarnya aku malu bilang di depan Papa dan Kak Al, tapi aku punya kabar baik mas, kemarilah, aku bisikin." Kata Marisa.
Elvan berusaha tegar, matanya sudah merah menahan air matanya. Lalu ia mendekatkan telinganya ke mulut Marisa, menuruti permintaan istrinya itu.
"Aku udah cek ke dokter, dan aku hamil Mas. Ini surprise aku, Mas suka nggak?" Elvan tak sanggup lagi menahan air matanya yang mengalir, lalu secepat kilat ia menghapusnya. "Apa mas menangis?? Mas Bahagia sekali ya?" Kata Marisa yang hanya melihat rambut suaminya, karena saat Elvan mendekatkan telinganya, ia tak berani melihat ke wajah istrinya.
"Mas, kenapa diam, Mas bahagia atau sedih?"
To Be Continued
Selamat pagi, jangan lupa tinggalkan like dan komennya. klik favorit untuk dapat info updatenya ya.
Terimakasih. Salam hangat untuk readers kece semuanya 😍😍.