
Sheryl telah selesai membersihkan baby Zayn dan telah memasangkan gelang sesuai permintaan Marisa. Ia membawa bayi itu keluar dari ruangan ibu nifas, menuju ruangan melahirkan tempat Marisa baru saja melahirkan.
Namun, dua orang laki-laki berpakaian serba hitam, memakai masker hitam dan juga topi hitam menghampirinya, salah seorang dari mereka menodongkan pisau ke leher Sheryl yang masih menggendong bayi Zayn, memaksanya untuk menuju tempat gelap dan sepi dekat kamar mandi puskesmas.
Kebetulan memang puskesmas sedang sepi, karena malam itu tidak ada orang yang dirawat inap, dan perawat jaga letaknya cukup jauh dari ruang bersalin.
"Tuan Elvan menginginkan anaknya, bayi ini anak kandung Tuan Elvan, jadi serahkan kepada kami, atau kami akan melukaimu." Ancam salah seorang laki-laki yang memiting leher Sheryl dan menyentuhkan ujung pisau ke leher Sheryl hingga melukai kulit lehernya.
"Tapi dari mana saya yakin, kalau kalian bukan penculik yang hanya mengaku-ngaku." Sheryl bergetar mengatakan itu, ia masih mendekap erat bayi kecil yang baru beberapa saat dilahirkan itu.
Lalu salah satu diantara mereka yang tidak memegang pisau melakukan video call dengan seseorang.
"Tuan, bayinya sudah ditangan kami, namun wanita ini tidak percaya dengan Tuan Elvan." Kata laki-laki itu.
Ruangan melahirkan itu berada di dalam ruangan KIA sehingga tak mungkin ada yang mendengar suara mereka.
"Elvan sedang istirahat sekarang, aku adalah Darma kakeknya Elvan, sampaikan kepada ibu bayi itu bahwa keluarga kami akan mengurusnya. Cepat serahkan bayi itu sebelum mereka membunuhmu." Kata Kakek Darma dengan tegas.
"Tidak, tidak mungkin, suami Kak Marisa masih amnesia, tidak mungkin dia menculik bayinya sendiri." Sheryl yang masih gemetar menjawab karena ia sendiri tak ingin melepaskan bayi itu kepada mereka.
"Kalian boleh menuntut kalau memang bisa melawan keluarga Wiguna. Cepat ambil bayi itu jangan buang-buang waktu." Perintah Kakek Darma lalu mematikan sambungan video call.
Laki-laki yang membawa senjata itu lalu sedikit melukai leher Sheryl hingga Sheryl merasa lemas, ia ketakutan karena ancaman itu sehingga mereka dengan mudah merebut bayi Zayn, dan membawanya keluar dari puskesmas. Sedangkan Sheryl terduduk lemas sambil menangis, ia begitu shock dengan apa yang telah terjadi. kulit lehernya sedikit mengeluarkan darah.
"Sheryl." Andi memanggilnya dari kejauhan.
"Maassss." Sheryl menangis saat melihat Andi, membuat Andi berlari kencang ke arahnya.
"Ada apa?" Andi melihat darah di leher Sheryl.
"Mas bayinya." Sheryl menangis, lalu Andi mendekapnya.
"Ada apa katakan?" Andi khawatir, sebelumnya ia melihat dua orang laki-laki membawa bayi dan masuk ke dalam mobil sebelum akhirnya pergi.
"Baby Zayn, diculik kakeknya Mas." Kata Sheryl sambil menangis.
"Apa?" Andi pun langsung berlari, pikirannya pasti bayi yang tadi ia lihat adalah bayi Marisa.
"Aku ikut Mas." Sheryl berhasil mengikuti Andi sampai ke parkiran motor.
"Cepatlah."
Mereka pun mengejar mobil yang membawa bayi Marisa. Sudah sangat jauh mereka tertinggal, tapi Andi masih dapat melihat mobil penculik itu.
"Apa kamu yakin penculik itu suruhan Kakeknya Elvan?" Tanya Andi yang masih melajukan motornya dengan kencang.
"Iya Mas, dia melakukan video call jadi aku lihat jelas wajahnya Kakek itu. Bagaimana ini Mas?" Sheryl ketakutan.
Andi semakin melajukan motornya dengan kencang, mengikuti mobil yang mengarah ke luar kota itu, namun sial memang, motor Andi kehabisan bahan bakar dan membuatnya tak bisa mengejar mobil itu.
"Si...Al.." Andi mengumpat karena kesal harus melepaskan mobil yang membawa bayi Marisa itu.
Akhirnya mereka berdua pun mendorong motor Andi untuk mengisi bahan bakar.
Di Ruang Bersalin.
Bu Sulis telah selesai merawat bayi perempuan Marisa, lalu dengan hati-hati membawanya ke Marisa kembali untuk belajar minum asi.
"Mbak Risa, ini bayi kamu sudah cantik, gemas sekali ya." Kata Bu Sulis yang memindahkan bayi perempuan itu ke tangan Marisa.
Marisa memang membawa beberapa stel baju bayi berwarna netral karena untuk jaga-jaga kalau nanti bayinya butuh baju ganti.
"Terimakasih." Marisa pun mencium kening bayi perempuannya. Wajahnya bulat pipinya merah, cantik sekali. Lalu Marisa segera memberikan Asi untuk bayinya, walau belum keluar namun ia tetap memberikannya sekaligus mengajari bayinya untuk terbiasa minum asi.
"Oh iya, Sheryl sama baby boynya kemana ya Bu Sulis?" Tanya Marisa yang sedari tadi tak melihat Sheryl, seharusnya bidan cantik itu sudah membawa bayi pertamanya kepadanya.
"Di ruang nifas tidak ada Mbak Marisa, apa dia pulang ya?" Jawab Bu Sulis yang memang tak menemukan Sheryl juga bayi laki-laki itu saat membersihkan dan memakaikan baju untuk bayi perempuan Marisa.
"Tapi untuk apa dia pulang, harusnya kan baby Zayn minum ASI dulu sama kayak baby Zea." Kata Marisa.
"Namanya Zayn dan Zea ya?" Tanya Bu Sulis penasaran.
"Iya Bu, suami saya dulu pengen kasih nama itu untuk bayi kami." Marisa tiba-tiba termenung, perasaannya sungguh khawatir dan sangat tidak enak, apa suaminya sedang tidak baik-baik saja.
Tidak mungkin, Kakek dan keluarganya pasti melindungi Mas Elvan dengan baik. Mas Elvan, anak-anak kita sudah lahir, aku memberi nama mereka seperti keinginanmu Mas. Cepatlah sadar dan cepat cari kami Mas.
Marisa lalu mencium bayi Zea yang mulai menikmati cara minum ASI.
"Sheryl kok belum balik ya Bu, sudah hampir satu jam sejak Zayn dibawa keluar kenapa dia belum kembali, atau jangan-jangan ada apa-apa sama Zayn?" Marisa mulai tak tenang.
"Tenanglah, kasihan baby Zea kalau kamu terlalu khawatir, nanti bisa mengganggu produksi ASI kamu Marisa." Bu Sulis mengambil bayi Zea yang telah terlelap lalu mengajak Marisa untuk berpindah ke ruang nifas karena Marisa juga terlihat sudah pulih dengan cepat.
"Bagaimana?" Tanyan Kakek Darma.
"Kami sudah mendapatkan bayinya Tuan, bayi laki-laki dan sangat mirip dengan Tuan Muda Elvan." Kata orang itu.
"Bagus, tapi aku akan tetap melakukan tes DNA untuk bayi itu." Kata Kakek Darma.
"Baik Tuan. Oh iya Tuan, polisi dan bidan itu tadi mengejar kami, tapi sepertinya sekarang sudah aman."
"Apa kamu yakin mereka sudah tidak mengejar lagi sekarang?"
"Yakin Tuan, sepertinya mereka kehabisan bensin."
"Bagus, cepat bawa bayi itu ke rumah sakit, setelah dia diperbolehkan pulang aku akan menjemputnya."
"Baik Tuan, lalu Nona Marisa bagaimana?"
"Biarkan saja dia, dia sudah tidak berguna karena aku sudah mendapatkan penerusku, setelah aku membawa bayi itu, kalian bisa pergi kemanapun dengan uang bayaran kalian. Ibu bayi itu biar saja merasakan kehilangan suami dan anaknya."
"Baik Tuan." Panggilanpun diakhiri.
"Kamu harus tau diri, kamu tidak pantas menjadi anggota keluarga Wiguna, bahkan Elvan dan anakmu pun tidak akan pernah mengingat atau mengenalimu Marisa, lancang sekali kamu menikahi cucuku." Gumam Kakek Darma.
***
Marisa dan Bu Sulis juga bayi Zea sudah berada diruang pasca melahirkan itu. Bayi Zea sudah terlelap di box bayi milik puskesmas. Sementara Marisa sedang bersandar di bantal yang ditempelkan di dinding ujung ranjangnya.
Hatinya begitu khawatir, kemana bayi kecilnya, apa Sheryl selama ini memiliki niat jahat kepadanya. Apa dia orang suruhan Kakek Darma. Tidak tidak tidak, ia membuang pikiran-pikiran buruk itu.
Andi dan Sheryl telah sampai di puskesmas, dan langsung menuju ruangan pasca bersalin dimana Marisa dirawat.
"Andi, Sheryl?" Marisa melihat kedatangan dua manusia yang sepertinya baru saja berlari itu, sedangkan Sheryl matanya sembab, dan ia masih saja menangis.
"Marisa." Andi masuk ke ruangan Marisa sementara Sheryl bersembunyi di belakang Andi.
"Ada apa?" Marisa mulai tegang. "Baby Zayn mana Sher?" Marisa menatap intens wanita yang masih bersembunyi itu.
Sheryl masih menangis namun ia tak lagi bersembunyi di belakang punggung calon suaminya. "Maafkan aku Kak."
Marisa pun dapat melihat dengan jelas darah yang mulai mengering di leher Sheryl.
"Ada apa ini? Bayiku mana?" Marisa mulai menitikan air mata, tak mungkin pikiran buruknya terjadi.
"Ris, bayi kamu diculik orang suruhan Elvan dan Kakeknya." Kata Andi akhirnya menjelaskan.
"Apa? Tidak.. Tidak... Tidak mungkin bayiku..." Marisa histeris.
Bu Sulis yang menyaksikan semuanya langsung memeluk Marisa.
"Bayiku.. Bayiku.. Bayiku.." Marisa terus histeris dalam pelukan Bu Sulis.
"Aku akan mencarinya Risa, aku akan meminta bantuan atasanku." Kata Andi.
"Kak, aku minta maaf karena mereka membawa senjata dan aku sangat takut." Sherly merasa bersalah karena tak bisa menjaga bayi kecil itu.
"Risa, polisi akan menemukan bayimu, kamu tenang dulu ya." Kata Andi.
Tiba-tiba bayi Zea menangis spertinya merasa terganggu karena mendengar keributan. Marisa langsung mengalihkan pandangannya ke arah bayi perempuannya. Andi dan Sheryl pun terkejut karena mereka belum tahu Marisa melahirkan dua bayi.
Bu Sulis menggendong bayi kecil itu kedalam pelukannya lalu memberikannya kepada Marisa.
Marisa menatap bayi perempuannya, pilu sekali yang ia rasakan. Bayi kecil itu harus terpisah dengan saudaranya, begitu juga dengan ia yang harus berpisah dengan putranya. Namun menatap bayi kecil itu ia merasa takut, jika Kakek Darma tahu fakta tentang Zea mungkin mereka akan menculiknya kembali.
"Sheryl apa kamu sungguh menyesal karena bayiku diculik?" Marisa menatap tajam ke arah Sheryl, ada kemarahan yang terbit di matanya.
"Risa, ini bukan salah Sheryl, tapi aku berjanji aku akan menemukan bayimu." Kata Andi.
"Jawab aku Sher." Marisa tak mendengar ucapan Andi, ia terus menatap Sheryl.
"Maafkan aku kak, aku sungguh tidak berdaya, aku benar-benar menyesal kak." Sheryl tertunduk, ia tahu ini termasuk kelalaiannya.
"Kalau begitu, bawa aku jauh dari sini bersamamu, sembunyikan aku dan baby Zea dari tempat ini Sher, aku mohon." Kata Marisa putus asa, ia tak ingin Kakek Darma mengambil paksa Zea darinya seperti saat mengambil Zayn.
"Risa." Andi tak percaya.
"Andi, sebagai polisi bisakah kamu membantuku mendapat identitasku yang baru."
Bersambung....