
Anak-anak memang selalu menyukai jalan-jalan, apalagi melihat hewan-hewan yang jarang mereka temui. Rasa ingin tahu anak-anak biasanya akan muncul saat melihat langsung hewan-hewan yang baru mereka lihat. Jalan-jalan ke kebun binatang bersama anak juga mampu meningkatkan ikatan emosional antara anak dan orang tuanya.
Hari itu, Zayn dan Zea sungguh-sungguh menikmati acara jalan-jalan itu. Mereka tak henti-hentinya bertanya, hewan apa? Makannya apa? Dan banyak hal lain yang mereka lakukan. Hingga hari semakin siang, matahari semakin terik, mereka pun mulai kelelahan. Bahkan Zea sudah mulai merengek dan meminta pulang. Elvan pun akhirnya menggendong anak gadisnya itu sampai ke mobil.
Setelah makan siang di luar, mereka pun kembali ke rumah karena Elvan telah mengundang Andi dan Sheryl untuk makan malam bersama di rumah Elvan. Marisa pun mulai sibuk memasak untuk makan malam itu, sedangkan Elvan hanya membantu mencuci sayur dan buah. Dan dua bocah kembar mereka, Zea dan Zayn sedang asyik menonton kartun di ruang keluarga.
"Sayang, besok malam Mas mau ketemu orang tua Sylvia, menurut kamu gimana?" tanya Elvan yang kini duduk santai mengamati Marisa yang sibuk kesana kemari.
Marisa yang mendengar kata Elvan pun diam, ia mengingat pertemuan dengan Sylvia kemarin. Wanita itu bahkan terang-terangan meminta izin untuk menikahi suaminya. Lalu apakah orang tua Sylvia akan membiarkan anaknya gagal bertunangan.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Elvan saat melihat istrinya melamun.
"Nggak papa Mas, aku cuma kepikiran aja." Marisa berpikir, apakah ia harus mengatakan pada suaminya? Atau, dia harus diam saja dengan sikap Sylvia?
"Sayang, apapun yang terjadi, jangan pendam sendiri ya, cerita sama Mas, kita pasti akan cari jalan keluarnya sama-sama." Elvan melihat istrinya seakan menyembunyikan sesuatu darinya, terlihat dari sikap Marisa yang hanya diam saja.
Marisa menarik nafasnya dengan berat. Sekarang ataupun nanti, suaminya pasti akan tetap mengetahuinya kan?
"Kemarin, aku ketemu Sylvia saat di Mall Mas," kata Marisa yang akhirnya memilih jujur kepada suaminya, ia ingin lebih terbuka lagi dengan Elvan, agar kejadian yang dulu menimpanya tak terulang lagi.
"Apa yang dia katakan?" tanya Elvan yang mulai khawatir.
"Dia minta aku izinan Mas Elvan untuk menikahinya, karena dia sakit." Marisa mematikan kompor karena masakannya mulai matang. Ia lalu duduk di depan suaminya yang masih duduk di meja mini bar.
"Jangan percaya, dan Mas nggak akan pernah mau menikahinya, siapapun itu, apapun yang terjadi, kamu adalah istriku satu-satunya." Elvan terlihat kesal, ia marah mendengar Sylvia yang tetap tak menyerah.
"Aku tau Mas, aku percaya sama cinta Mas Elvan." Marisa menggenggam lembut tangan suaminya. "Aku akan tetap menjaga rumah tangga kita Mas, karena aku juga nggak akan rela berbagi dengan wanita lain, apapun alasannya."
"Iya, terima kasih sayang. Untuk cintamu yang luar biasa." Elvan pun mencium kedua tangan Marisa dengan penuh cinta.
"Aku mandi dulu ya, sebentar lagi Sheryl pasti datang." Marisa lalu melepaskan genggamannya di tangan Elvan, lalu ia segera menuju kamarnya untuk bersiap.
Elvan memilih untuk menemani kedua anaknya yang masih menikmati acara televisi. Kedua bocah itu nampak akur dan hanya fokus dengan layar televisinya. Elvan hanya duduk diam dan ikut mengamati film kartun itu tanpa ada niat mengganggu kedua anaknya.
Ting…. Tong…. Ting…. Tong….
Bel rumah mereka berbunyi, Elvan pun segera membuka pintu rumah dan juga pagar besinya. Elvan melihat Andi yang membuka kaca mobilnya, menunggu Elvan membukakan pagar rumahnya, sementara Sheryl yang turun untuk memencet bel di depan pagar.
"Assalamu'alaikum," sapa Sheryl setelah melihat Elvan keluar rumah.
"Waalaikumsalam, silakan masuk." Elvan mendorong pagar besi berwarna hitam itu, lalu mengisyaratkan Andi untuk memarkir mobilnya di garasi depan, karena mobil Elvan telah masuk ke garasi dalam rumah.
Sheryl dan Andi pun akhirnya masuk, Elvan mempersilakan duduk mereka untuk duduk di ruang tamu.
"Kak Risa dimana?" tanya Sheryl saat merasa sepi di rumah minimalis itu.
"Risa masih mandi, bentar ya, aku panggilin anak-anak dulu," kata Elvan sambil tersenyum canggung, lalu beranjak meninggalkan ruang tamu.
Tak lama Zea pun berlari menghampiri Andi dan Sheryl di ruang tamu, sementara Elvan berjalan bersandingan dengan Zayn.
"Ayah…. Bunda…." Zea bergantian mencium tangan Andi dan Sheryl.
"Princessnya Ayah…. Ayah kangen banget loh." Andi meraih tubuh gadis kecil itu dan membawanya dalam pangkuan Andi.
Elvan menyaksikan sendiri bagaimana Zea bermanja dengan Andi, ia sadar selama lima tahun ini, putrinya itu mendapatkan kasih sayang dari orang lain.
"Zayn, sini sama Bunda," pinta Sheryl pada Zayn yang masih berdiri di depan Elvan.
Zayn menatap Elvan, meminta persetujuan dari papanya. Zayn memang sedikit tertutup dengan wanita dewasa, itu sebabnya Sylvia sulit mendekati bocah tampan itu.
Zayn pun berjalan mendekati Sheryl yang duduk disebelah Andi setelah mendapat persetujuan Elvan. Sementara Elvan kini kembali ke posisi duduknya.
"Zayn berdiri aja ya Bunda, biar dedeknya nggak sakit," kata Zayn setelah mencium tangan Andi dan Sheryl.
"Kamu sayang sama dedek juga?" tanya Andi yang masih memangku Zea.
Suasana pun menjadi canggung, karena Andi dan Sheryl memang belum akrab dengan Elvan, terlebih Zayn mengatakan hal yang cukup sensitif jika dibahas orang yang baru mengenal.
"Kalian sudah datang." Marisa yang baru selesai bersiap pun ikut bergabung dan duduk di samping Elvan.
"Iya Kak, baru aja kok," jawab Sheryl.
"Aku siapin minum dulu ya." Marisa lalu ke dapur untuk menyiapkan minum tamunya.
Tak berapa lama, ia pun kembali dengan membawa minuman hangat serta beberapa camilan untuk Andi, Sheryl, Elvan juga dirinya sendiri, lalu mempersilahkan mereka untuk minum.
"Mama…." Zayn berlari memeluk Marisa setelah Marisa kembali duduk di samping Elvan.
"Kenapa sayang?" tanya Marisa yang melihat putranya tersenyum malu-malu.
"Zayn pengen adik kayak Bunda," bisiknya di telinga Marisa.
Elvan yang masih bisa mendengar dengan jelas suara lirih Zayn pun menoleh ke arah Marisa dan Zayn, ia pun tersenyum dan mengerlingkan matanya ke Marisa.
Sementara Marisa terlihat kikuk dengan tingkah dua lelaki paling berharga dalam hidupnya itu.
"Oh iya, Bunda bawa sesuatu loh untuk Zayn dan Zea." Sheryl menunjukkan dua hadiah untuk Zayn dan Zea.
"Wahhh…. Asyik…." Zea nampak girang mendengar kata hadiah.
"Jangan repot-repot lah Sher, kamu selalu gitu deh." Marisa merasa tak enak hati dengan kebaikan Sheryl dan Andi untuk anak-anaknya.
"Iya, tidak perlu repot, kita kan cuma makan malam aja," sahut Elvan.
"Tidak papa Marisa, Elvan, Zea sudah seperti anak kami sendiri, Zayn juga sama," kata Andi.
Zayn dan Zea pun menerima hadiah mereka, masing-masing satu set alat gambar dan mewarnai, tak lupa Zayn dan Zea pun mengucapkan terima kasih mereka.
"Ya sudah kita makan sekarang aja ya," ajak Marisa karena waktu makan malam memang sudah dekat.
Mereka pun makan malam bersama, menikmati hidangan yang telah disiapkan Marisa.
Dari Andi dan Sheryl, Elvan banyak tahu tentang Zea dan juga Marisa selama mereka tinggal bersama, juga mengenai toko kue yang dimiliki Marisa di kota S. Elvan bisa menyimpulkan bahwa Andi dan Sheryl memang orang yang tulus, menolong Marisa dan Zea tanpa pamrih. Dan Elvan bersyukur karena semua itu.
🌱🌱🌱
Keesokan harinya.
Marisa dan Elvan mulai terbiasa dengan rutinitas mereka, pagi hari setelah sarapan, Elvan akan mengantar dua bocah kembar itu ke sekolah, lalu ia akan pergi ke bengkel untuk bekerja. Siang harinya ia akan menjemput lagi Zayn dan Zea pulang sekolah, lalu makan siang di rumah dan kembali lagi ke bengkel.
Seperti siang itu, Elvan yang telah menjemput Zayn dan Zea pun akhirnya kembali ke bengkel setelah makan siang. Namun, cuaca siang itu begitu mendung. Awan gelap disertai kilatan cahaya menghias langit siang itu.
Marisa yang baru saja melepas kepergian suaminya dari teras rumah, terkejut saat melihat kakek Darma turun dari mobilnya.
Bersambung….
Mohon Maaf ya kalau up nya nggak tentu waktunya..
Karena kadang otak Othor blank juga 🤭🤭
semoga kalian tetep suka dan setia terus sampai ending.
terima kasih.
jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya..
gratis 👍👍👍