
Sarapan keluarga kecil itu terasa begitu hangat, Zea yang mulai manja karena dekat dengan Elvan sang Papa dadakan, mampu meriuhkan suasana meja makan. Minta disuapin minta ditiupin sambil berceloteh panjang yang sesekali menyemburkan nasi goreng dari mulutnya yang tak berhenti bicara namun dengan sigap Elvan langsung mengelap mulut gadis kecil itu.
Suara Marisa yang mengingatkan untuk diam saat di meja makan tak lagi di dengarkan gadis kecil itu, baginya ini adalah kesempatan emas bisa bermanja dengan laki-laki yang tiba-tiba menjadi Papanya itu.
Sementara Zayn si pangeran tampan nampak tenang di kursinya menikmati nasi goreng yang telah tersaji di hadapannya. Hingga acara makan pagi keluarga kecil itu berakhir dengan sempurna.
Zayn dan Zea telah duduk tenang di kursi belakang mobil Elvan, sementara Marisa berada di depan, disamping Elvan yang mengemudikan mobilnya. Tak ada yang membahas tentang hubungan dua orang tua itu, hanya suara Zayn dan Zea yang sibuk merencanakan pose apa yang akan mereka peragakan nanti saat berfoto di pantai.
Mobil berwarna hitam itu melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan ibu kota yang masih sepi walau dihari minggu. Hingga tak lama mobil itu berbelok di komplek perumahan yang dikenali Marisa. Elvan pun menghentikan mobilnya di depan pagar rumah yang pernah ditinggalinya bersama Marisa.
"Mama masuk yuk." Kata Zayn yang akan turun dari mobil.
Marisa mengangguk pelan, sedangkan Zea dengan manjanya telah masuk ke dalam rumah bersama Elvan.
Suasana rumah itu nampak tidak berubah, cat rumah pun masih dengan warna yang sama saat Marisa meninggalkan rumah itu. Bahkan beberapa bunga yang dulu ia rawat juga masih nampak segar dan terawat.
"Itu Bik Rini yang ngerawat, dia tinggal di kampung belakang komplek jadi hampir tiap hari kesini bersih-bersih." Kata Elvan yang melihat Marisa memperhatikan tanamannya.
Mereka lalu masuk ke dalam, Zayn yang tak sabar menarik tangan Marisa untuk naik ke atas menuju kamar Zayn. Kamar yang dulu kosong itu telah terisi penuh dengan mainan khas anak laki-laki, warna dindingnya pun berganti dengan wallpaper bertema mobil dan kereta.
Zayn yang tadi minta ditemani untuk mengambil kostumnya pun segera mengambil kostum pangeran itu dari lemarinya yang besar.
"Mama, lihat aku pasti keren kan pakek kostum ini?" Kata Zayn memamerkan kostum yang didominasi warna kuning dan biru lengkap dengan topi berhias bulu.
"Iya sayang, tapi nanti kira-kira kepanasan apa nggak coba?" Kata Marisa yang tak ingin anak-anaknya nanti mengeluh karena gerah.
"Nggak papa Ma, demi Zea yang pengen jadi princess." Kata Zayn.
"Emmm gemes banget sih kamu sayang." Kata Marisa yang dibalas senyuman menawan dari Zayn.
"Zayn, ajak Mama ke kamar Papa ya, Papa mau kasih lihat sesuatu." Kata Elvan yang tiba-tiba berdiri di pintu kamar Zayn bersama Zea.
"Ayo Ma." Zayn pun menarik tangan Marisa dan mengajaknya ke kamar Elvan yang dulu juga menjadi kamarnya selama hampir setahun.
"Zayn sama Zea duduk sini bentar ya, Papa ambil sesuatu dulu." Elvan meminta Zayn juga Zea untuk duduk di sofa di kamarnya lalu ia menuju lemari dan kembali dengan membawa sebuah kotak besar.
Elvan meminta Zea dan Zayn membuka kotak besar itu. Dan, Zea dan Zayn pun langsung terkejut setelah melihat isi dari kotak itu, begitu juga dengan Marisa.
"Ini..." Zayn dan Zea terpana dengan foto Marisa bersama Elvan yang saat itu tengah melakukan prosesi adat pernikahan.
"Mama.." Kata Zayn dan Zea bersamaan.
"Iya itu Mama dan Papa waktu menikah." Kata Elvan.
Zayn dan Zea terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Jadi Zayn itu saudara Zea? Apa kita kembar Ma, seperti Naira dan Naura temenku Ma ulang tahunnya sama juga kayak Zayn dan Zea, tapi Zea sama Zayn kenapa nggak sama mukanya Ma, Zayn cowok dan Zea cewek." Tanya Zea dengan kebingungannya
Marisa menarik nafas dalam dan membuangnya perlahan. "Kita berangkat sekarang ya nanti keburu siang." Marisa langsung keluar meninggalkan Elvan bersama Zayn dan Zea yang masih menunggu penjelasan darinya.
🌱🌱🌱
Pantai memang selalu menjadi salah satu tempat wisata menarik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Sama halnya dengan Marisa yang melupakan sejenenak pikirannya saat bertemu dengan ombak laut. Sementara dua bocah yang tadi masih baik-baik saja itu mulai berdebat karena hal-hal sepele.
Sesi pemotretan ala bocah itu akhirnya berakhir setelah sang Papa yang menjadi fotografer dadakan telah mengambil beberapa pose Zayn dan Zea yang menggemaskan. Marisa sendiri mulai khawatir karena anak-anak yang mulai kepanasan karena kostum mereka, akhirnya mengajak dua balita itu untuk berganti baju.
Zayn dan Zea pun mulai mendapatkan lagi keceriaan mereka setelah bermain kejar-kejaran dengan Elvan, sedangkan Marisa duduk santai menikmati hembusan angin yang menerbangkan rambut panjangnya. Zayn dan Zea terus berlarian, hingga tanpa sadar sang ayah telah menarik dirinya dari permainan mereka dan mulai mendekati wanita yang telah melahirkan dua malaikat itu untuknya.
"Kamu masih suka pantai?" Tanya Elvan yang kini duduk di samping Marisa yang terus memperhatikan sapuan ombak di tepi pantai.
"Saya bukan istri Anda, sejak kapan saya suka pantai." Kata Marisa yang masih mengelak.
"Tidak suka tapi dari tadi merhatiin ombak kayak merhatiin cinta pertama, senyum-senyum terus." Kata Elvan yang memang sedari tadi terus memperhatikan Marisa.
"Saya senang lihat anak-anak ketawa." Kata Marisa.
"Aku pikir kamu senang karena lihat pantai, padahal aku sengaja ajak anak-anak kesini karena ingin kasih tahu kamu kalau aku sudah mengingatmu." Kata Elvan.
"Bukankah Zayn sudah hampir lima tahun, lalu bagaimana bisa Anda mengingat istri Anda setelah bertemu saya yang baru kemarin bertemu padahal selama lima tahun lebih Anda telah melupakannya?" Tanya Marisa yang kini menatap mata Elvan, mencari kejelasan tentang arti dirinya di mata laki-laki itu.
"Selama ini aku mengingat hanya sepotong-sepotong dari foto-foto yang tadi pagi kulihatkan ke anak-anak, namun setelah aku melihatmu secara langsung, potongan-potongan itu tiba-tiba menjadi satu ingatan, semakin aku melihatmu semakin jelas aku mengingat kenangan bersama istriku yang aku yakini itu kamu." Kata Elvan dengan serius.
"Tapi maaf Pak, saya bukan istri Anda." Kata Marisa yang kini berdiri hendak menghampiri Zayn dan Zea yang ternyata sedang membuat istana pasir.
Marisa berjalan meninggalkan Elvan, namun baru beberapa langkah tiba-tiba Elvan berkata, "Biarpun kamu menghindariku, tapi aku tetap akan mengingatmu, karena aku benar-benar mencintaimu."
Marisa mengabaikan kata-kata Elvan, ia berjalan semakin dekat dengan dua bocah yang tersenyum melihat kedatangannya.
"Kalian lagi apa?" Tanya Marisa yang kini ikut duduk bersama anak kembarnya.
"Kita lagi bikin istana pasir Ma, bagus nggak Ma?" Tanya Zea yang menunjukkan kedua hasil karyanya bersama Zayn.
"Bagus banget sayang, kalian berdua emang anak anak Mama yang hebat." Marisa mencium kedua pipi anaknya itu.
"Ma, jadi kita nanti akan tinggal sama-sama kan, Mama yang di foto sama Papa itu kan?" Tanya Zayn berbinar-binar.
"Iya Ma, nanti Zea bisa ke sekolah bareng Zayn, nanti Zea juga ajak Zayn ke rumah Bunda Ma kalau Mama Papa kerja." Kata Zea.
"Sayang, emm kita tinggal bersamanya lain kali aja ya, Mama sama Papa nggak bisa sama-sama sayang." Kata Marisa yang memberi pengertian kepada dua anak TK itu.
"Kenapa Ma, apa Mama sama Papa masih berantem?" Tanya Zayn.
"Emm,, pokoknya nanti kalau Papa udah sembuh, Mama akan jelasin semua ke kalian, sekarang kita pulang aja yuk, udah siang panas ni, nanti kebakar loh kulit kalian." Kata Marisa mengajak Zayn dan Zea untuk segera pulang.
"Papa emang sakit Ma, tapi Papa pasti akan cepat sembuh." Kata Zayn saat mereka bertiga berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
🌱🌱🌱
"Mama, Zea seneng banget ada Zayn dan Papa." Kata Zea yang baru selesai menggosok giginya.
Marisa berperang dengan akal dan perasaannya sendiri. Dalam hatinya ia sangat ingin mengatakan kepada Zea bahwa Elvan memanglah papa kandungnya. Namun isi kepalanya mulai memikirkan kemungkinan terburuk bahwa Kakek Darma bisa saja membuatnya kehilangan putrinya itu.
"Sayang, selama ini kita hidup bahagia kan, Zea juga harus terus bahagia ada atau tidak ada Zayn dan Papa."
"Tapi Ma, Zea suka Papanya Zayn, beda sama Ayah Ma." Kata Zea.
"Udah dong sayang, Zea kan belum kenal betul sama Papanya Zayn."
Zea terpaksa menuruti kata-kata Mamanya, mungkin memang benar, Zea belum mengenal Elvan sepenuhnya.
🌱🌱🌱
Pagi harinya, seperti biasa Marisa menyiapkan dua kotak bekal untuk Zea dan juga Zayn dan menyelesaikan sarapan mereka sebelum Sheryl datang menjemput Zea.
Tak lama Sheryl pun datang bersama Andi juga, membuat Marisa bertanya-tanya karena tumben sekali Andi ikut datang menjemput Zea.
"Kalian udah sarapan?" Tanya Marisa saat Andi telah duduk di ruang tamu apartemen menunggu Zea yang masih memakai seragam sekolahnya dibantu Sheryl.
"Udah kok Ris, oh iya apa bener kamu udah ketemu Elvan?" Tanya Andi yang terlihat khawatir.
"Emmmm.... Iya, aku udah ketemu dia dan sepertinya ingatannya mulai kembali." Kata Marisa ragu.
"Aku ikut seneng kalau emang kalian bisa balik lagi jadi keluarga utuh untuk Zea dan juga Zayn." Kata Andi.
"Tapi, jujur aku masih takut sama Kakek Darma, aku bener-bener nggak rela kalau Zea diambil juga dariku Ndi." Kata Marisa yang mulai khawatir.
"Aku akan jamin keselamatan kamu dan Zea, yang terpenting kamu jangan menghindar supaya Elvan bisa cepat kembali ingatannya dan pasti dia akan melindungi kamu dan anak-anak kalian." Kata Andi.
"Aku sendiri masih ragu, apa aku dan dia bisa benar-benar bersatu."
"Tanyakan pada cintamu Marisa, jika memang hatimu masih mengharapkannya kasih dia kesempatan, ini semua juga bukan kesalahannya."
Marisa mengangguk setuju. Tak lama Sheryl datang dengan Zea yang telah berpenampilan sempurna.
"Mama, Bunda mau punya baby loh, Zea mau punya adik." Kata Zea bersemangat.
"Kamu hamil?" Tanya Marisa ikut bahagia.
"Iya kak." Jawab Sheryl yang tersenyum bahagia.
Marisa langsung memeluk erat Sheryl yang telah dianggapnya sebagai adiknya sendiri.
"Semua berkat Zea kak, aku percaya mengurus Zea benar-benar menghadirkan bayi dalam perutku." Kata Sheryl.
"Bukan karena Zea, itu karena Allah dan kesabaran serta keikhlasan kalian." Kata Marisa
🌱🌱🌱
Marisa memilih naik bus setelah mereka berpisah di loby apartemen. Sementara Zea diantar Sheryl dan Andi ke sekolah. Marisa turun dari bus tepat di depan kantor Alvero.
Marisa berjalan menuju pintu masuk gedung itu, namun seseorang memintanya untuk naik ke mobil karena telah ditunggu seseorang di mobil. Siapa mereka? Pikir Marisa, namun ia melihat satpam masih berjaga jadi ia memutuskan menuruti permintaan mereka. Kalaupun ada apa-apa ia bisa berteriak meminta tolong nanti pikirnya.
Marisa mengikuti laki-laki berpakaian serba hitam itu menuju mobil, setelah pintu mobil dibuka Marisa melihat sosok yang sangat dikenalnya, sosok yang telah lama tak ia lihat dan tak ingin ia lihat.
"Marisa lama tidak bertemu." Sapa laki-laki di dalam mobil itu.
"Kakek." Marisa terkejut, secepat itu ia bertemu suami dan juga putranya, namun secepat itu pula Kakek Darma menemukannya.
Marisa dipaksa masuk ke mobil, sementara dua orang yang sama-sama berpakaian serba hitam itu menunggu di luar untuk berjaga-jaga.
"Bagaimana kabarmu? Ku pikir kamu sudah meninggal." Kata Kakek Darma dengan santai.
"Apa yang Kakek mau?" Kata Marisa tak ingin berbasa-basi.
"Apa gadis yang bersama cucuku itu juga anakmu dan Elvan." Tanya Kakek Darma yang sepertinya mulai mengetahui rahasia terbesarnya.
"Bukan, dia anak yatim piatu yang saya adopsi karena depresi setelah kehilangan putra yang saya lahirkan dan harus di culik oleh kakeknya sendiri." Kata Marisa kesal
Maafkan Mama Zea, Mama harus mengakuimu sebagai anak yatim piatu padahal Mama dan Papa masih hidup.
"Jauhi Elvan dan Zayn, kalau kamu tidak mau gadis kecil itu menderita. Jangan mencari Zayn lagi." Kata Kakek Darma dengan angkuhnya.
"Anda benar-benar tidak punya hati." Marisa lalu keluar dari mobil dan berlari menuju kantor sebelum anak buah Kakek Darma menangkapnya.
Marisa menangis di dalam toilet, menumpahkan segala emosinya, kekesalan dan kekecewaannya pada Kakek Darma. Setelah puas menangis ia kembali ke ruangannya setelah merapikan penampilannya agar tak dicurigai Alvero.
Elvan saat ini harus menyelesaikan masalah perusahaannya di London yang sepertinya memang sengaja dilakukan seseorang hingga ia pun harus menetap cukup lama disana.
Sementara Zayn yang harusnya bersekolah justru telah dibawa ke Jepang oleh Kakek Darma setelah pesawat Elvan terbang ke London.
Zea yang tak melihat Zayn di sekolah merasa sedih. Gadis itu menatap kotak bekalnya sendiri, bahkan ia hanya memakan sedikit saja bekal miliknya. Rasanya sungguh tak berselera karena tak ada Zayn seperti biasa.
Dua minggu berlalu, Zayn masih saja tak hadir di sekolah, membuat Zea semakin sedih, apalagi Elvan papanya juga lama tak ia temui. Ayahnya itu bagai hilang ditelan bumi bersama Zayn yang sangat ia rindukan.
Setiap malam ia mengadu pada Mamanya, namun Marisa juga tak bisa membantu, karena tak mungkin ia bertanya pada Alvero dimana keberadaan Zayn dan Elvan, yang ia simpulkan pasti semua ulah Kakek Darma.
Hingga siang itu, Marisa mendapat telfon dari sekolah Zea yang mengatakan bahwa Zea tiba-tiba pingsan di sekolah.
bersambung....