
Di pagi hari yang sibuk, Zea sedang asyik mengoles selai coklat di atas rotinya. Sang Mama sedang menggoreng nugget untuk bekal putri kecilnya ke sekolah.
Ini hari kedua Marisa bekerja di kantor Alvero, walau merasa tidak nyaman, tapi sudah terlanjur pindah ke kota membuatnya tak bisa mundur lagi. Diliriknya gadis kecil yang tengah menyiapkan roti untuk Mamanya dan juga untuk dirinya sendiri.
"Zea, gimana sekolah kamu?" Tanya Marisa yang kini mengeluarkan nasi dari cetakan nasi berbentuk beruang.
"Asyik banget Ma, Zea punya banyak temen disana, tapi Ma, Zea kasihan deh sama temen Zea, dia nggak punya Mama, sama kayak Zea yang nggak punya Papa." Zea masih mengoles selai lebih banyak di roti miliknya sendiri.
"Zea kan punya ayah. Zea harus bersyukur dong." Kata Marisa yang kini menata nuget dan juga menambahkan jagung rebus yang telah di potong beserta brokoli kesukaan Zea.
"Mama, apa Papa Zea itu Ayah Andi? Kenapa Ayah Andi menikah sama Bunda Sheryl kenapa nggak tinggal sama kita aja Ma?" Tanya Zea dengan polosnya, selama ini gadis kecil itu memendam sendiri pertanyaan itu karena tak ingin menyakiti Mamanya.
"Sayang, bukan begitu, Bunda Sheryl sama Ayah Andi itu udah anggap Zea seperti putri mereka sendiri sayang, supaya Zea tidak kekurangan kasih sayang." Marisa menutup kotak bekal milik Zea.
"Memangnya Papa Zea kemana Ma?" Tanya Zea yang masih penasaran.
Marisa hanya terdiam, pertanyaan itu, tak disangka akan keluar dari mulut gadis kecil itu, seharusnya ia sudah menyiapkan jawabannya.
"Emmm,, itu,, emm nanti aja ya Mama ceritanya." Marisa mengelak, tak mungkin kan ia berbohong dengan putri kecilnya itu.
"Mama sedih ya kalau ceritain Papa, Zea pernah lihat Mama nangis waktu Ayah ngomongin Papa." Gadis kecil itu tersenyum seakan berkata 'jangan sedih Ma'
"Sayang, jangan mikirin itu dulu ya, Zea anak pinter anak baik kan?" Marisa tak ingin terlihat sedih di hadapan putrinya itu.
"Iya Ma, Zea ngerti Mama kok. Kita sarapan dulu yuk Ma nanti keburu telat."
Marisa tersenyum, Ia bersyukur karena memiliki putri cantik dan cerdas seperti Zea, walau terkadang cerewetnya Zea membuatnya sangat gemas, tapi Zea anak perempuan yang sangat manis.
🌱🌱🌱
Zayn dan Zea kini tengah istirahat untuk menikmati bekal yang mereka bawa dari rumah.
"Zayn, kenapa nggak dimakan?" Zea menghampiri Zayn yang tak menyentuh kotak bekalnya, dan hanya menatap malas saja pada kotak biru di mejanya.
"Aku nggak suka masakan bibi Zea, aku minum susu kotak aja." Zayn mengambil susu kotak dari tasnya.
"Jangan minum susu dulu Zayn, kita makan nasi dulu, kamu mau cobain masakan Mamaku tidak? Ini enak loh." Kata Zea mengambil sendok lalu menyuapi Zayn dengan nasi dan nugget yang disiapkan Mamanya tadi pagi.
"Apa aku boleh mencicipinya?" Tanya Zayn ragu.
"Boleh, kamu coba dulu, kalau kamu suka besok aku bilangin ke Mama untuk buatin kamu juga. Ayo Ak.." Zea mengarahkan nasi dalam diatas sendok itu ke mulut Zayn. Lalu Zayn pun melahap suapan Zea.
"Gimana?" Tanya Zea penasaran, matanya berbinar-binar mengharapkan kata-kata manis yang keluar dari saudara kandungnya itu.
"Emmm,, ini enak Zea, Mama kamu pintar masak ya." Zayn sangat antusias.
"Emm, gitu deh, Mama aku emang jago masak. Sekarang dari pada makanan kamu nggak kemakan, biar aku makan bekal kamu ya, kamu makan bekal aku aja. Nanti kotak bekal kamu aku bawa pulang biar besok di masakin Mama, aku nggak mau kalau kamu bawa kotak bekal aku, itu kesayangan aku soalnya. Aku punya banyak di kota lama aku, tapi aku cuma bawa satu, dan itu kesayangan aku." Kata Zea dengan cerewetnya.
"Zea kamu cerewet juga ya ternyata." Zayn tertawa lalu mengacak poni Zea.
Zea senang bisa menghibur Zayn.
"Wah, Zayn ini dagingnya empuk banget, kenapa kamu nggak mau makan? Kamu nggak suka daging sapi Zayn?" Tanya Zea yang menikmati makanan yang dibawa Zayn.
"Aku nggak suka masakan Bibi, aku suka masakan Mama kamu Zea, besok aku minta lagi ya, biar nanti Papaku kirim bahan makanan ke rumah kamu." Kata Zayn.
"Emm, boleh boleh, di dunia ini emang nggak ada yang gratis Zayn." Kedua bocah yang masih sama-sama polos itu tertawa disela-sela makannya.
Mereka pun menghabiskan bekal makan siangnya, dan sesuai kata Zea, Zea membawa pulang kotak bekal Zayn.
🌱🌱🌱
Marisa sudah berada di mobil bersama supir yang akan mengantarnya menjemput anak kecil yang dimaksud Alvero kemarin.
"Pak Sardi, nama anak kecil itu siapa ya?" Tanya Marisa yang sudah berada di mobil bersama Pak Sardi sopir kantor Alvero.
"Em,, Tuan Muda Zayn Bu Sarah." Kata Pak Sardi sambil melirik Marisa yang ada di kursi belakang.
Zayn? Namanya Zayn?? Ah, mungkin hanya kebetulan. Batin Marisa.
"Apakah Zayn putranya Pak Alvero?" Tanya Marisa penasaran.
"Bukan, dia putranya Pak Elvan, adik Pak Alvero. Kalau Pak Alvero itu istrinya masih hamil." Kata Pak Sardi.
Zayn anak Mas Elvan, jadi dia putraku. Aku sedang pergi menjemput putraku sekarang? Tanpa sadar Marisa meneteskan air matanya.
"Kasihan Tuan Muda yang sejak bayi sudah tidak punya ibu, istri Pak Elvan itu meninggal saat melahirkan putranya Bu." Kata Pak Sardi melanjutkan kata-katanya.
Duar. Jantung Marisa seakan meledak, bagaimana putra kecilnya itu hidup tanpa kasih sayangnya selama ini, mungkinkah sama seperti Zea yang tak mendapat kasih sayang ayah kandungnya, tapi Zea memiliki Andi yang sangat tulus menyayanginya.
Lagi-lagi air matanya membasahi pipinya.
"Ini tisuenya Bu Sarah, memang orang-orang yang mendengar cerita tentang Tuan Muda Zayn pasti akan menangis." Kata Pak Sardi menyerahkan sekotak tisue kepada Marisa.
"Saya teringat anak saya Pak." Kata Marisa yang masih terisak.
Pak Sardi hanya membiarkan Marisa menangis, ia tak ingin bertanya lebih jauh.
Perjalananan ke sekolah memang tak begitu jauh, mobil hitam milik perusahaan Alvero itu berhenti di depan pintu masuk sekolah, tempat biasa orang tua menjemput putra putrinya.
Jadi Zayn sekolah di tempat yang sama dengan Zea. Batin Marisa.
Marisa turun dari mobil, dari kejauhan ia sudah yakin bocah kecil berponi itu adalah Zayn. Ia menghampiri Zayn yang telah menunggunya, sementara Pak Sardi masih berada di mobil.
"Hallo anak ganteng." Sapa Marisa yang berjongkok di depan Zayn, menatap putra kecilnya itu lekat-lekat.
Zayn hanya terdiam, hatinya berdebar-debar, ia merasakan hal yang sama seperti saat Zea menyentuhnya. Tapi perasaan itu lebih dalam.
"Zayn sedang nunggu Tante jemput ya." Hati Marisa teriris, ia harus merelakan putra kandungnya yang ia lahirkan itu memanggilnya 'Tante'.
"Mama.." Zayn menangis lalu memeluk Marisa.
Marisa ikut menangis dan membalas pelukan Zayn. Tapi tunggu, kenapa Zayn memanggilnya Mama.
"Mama, Zayn kangen Ma, kenapa Mama cuma datang di mimpi Zayn, Mama nggak pernah masakin Zayn Ma. Zayn selalu mogok makan dan bilang sama semua orang kalau Zayn cuma mau masakan Mama bukan masakan Bibi. Zayn punya Mama nggak seperti yang mereka bilang kan." Zayn menangis lagi dan memeluk Marisa lebih erat.
Marisa ikut menangis, membalas pelukan Zayn dengan erat. Putra kecilnya itu begitu rapuh karena tak merasakan kasih sayangnya selama ini.
Maafkan Mama Zayn. Marisa hanya bisa membatin, sementara wajahnya telah basah oleh air mata.
"Benarkan pelukan Mama sehangat ini. Aku tau, aku sudah sering merasakannya walaupun cuma dalam mimpi, tapi Papa bilang Mama udah di surga, dan pelukan Mama itu cuma ada di mimpi nggak akan pernah jadi kenyataan." Zayn semakin tersedu.
Marisa hanya terdiam, tak mampu berkata-kata lagi, membiarkan pria kecil itu menumpahkan isi hatinya.
"Mama jangan tinggalin Zayn ya Ma, Zayn mau bilang ke semua orang kalau Zayn punya Mama."
"Mohon maaf ada apa ini? Zayn, kamu kenapa menangis sayang?" Tanya Guru itu.
Marisa langsung mengusap air matanya.
"Maaf Bu, saya sekretaris Pak Alvero yang akan menjemput Zayn." Kata Marisa yang sudah berdiri.
"Mohon maaf, sesuai prosedur, kita akan konfirmasi dulu dengan Pak Elvan sebagai Walinya Zayn ya. Bisa ikut saya ke kantor sebentar." Kata Bu Guru itu.
Marisa dan Zayn pun mengikuti Guru Zayn, setelah berhasil menghubungi Elvan dan mengkonfirmasinya dengan Alvero, akhirnya Marisa diijinkan membawa Zayn pulang.
"Mama, Mama kemana saja, Zayn sangat rindu Mama." Kata Zayn yang terus memeluk Marisa saat mereka sudah berada di mobil.
"Zayn, tante ini bukan Mamanya Zayn sayang." Kelopak Marisa penuh dengan cairan bening yang sudah tidak sanggup ia bendung. Kata-katanya sendiri begitu menyayat hatinya, tak mengakui darah dagingnya sendiri membuatnya merasa jahat, ibu yang egois kah dia?
"Tapi Mama selalu datang di mimpi Zayn, Zayn suka tidur awal biar ketemu Mama lebih lama. Semenjak Mama datang di mimpi Zayn, Zayn bahagia Ma." Kata Zayn yang masih memeluk erat Marisa seakan takut jika kehilangan Mamanya lagi.
"Maaf Bu Sarah, sebaiknya biarkan saja Tuan Muda seperti itu, sepertinya dia sangat merindukan ibunya." Kata Pak Sardi.
Marisa pun membelai rambut putranya.
"Mama cantik seperti Zea?" Kata Zayn yang memandang wajah Marisa, tangan kecilnya menghapus air mata sang ibu.
"Zayn kenal Zea?" Tanya Marisa tak percaya. Zea memang sekolah di tempat yang sama dengan Zayn, tapi ia tak menyangka bahwa diantara banyak kelas dan murid, Zayn bisa mengenal Zea.
"Dia temen Zayn Ma, orangnya bawel banget Ma, tapi Zayn suka Zea." Kata Zayn mengingat tingkah menggemaskan dari Zea.
"Zea itu anak tante sayang." Kata Marisa.
"Zea anak Mama? Kalau gitu kapan-kapan kita bisa main barengkan Ma? Mau ya Ma, nanti Zayn nggak akan nakal kok. Zayn udah lama nggak diajak main sama Papa." Zayn menundukkan kepalanya sedih.
Tidak Zayn, Kakek Darma pasti tidak akan membiarkan kita dekat. Maafkan Mama Zayn, belum saatnya kita bersama-sama Zayn.
"Kenapa Mama diam? Apa Mama marah karena Papa akan menikahi tante Silvia?" Tanya Zayn dengan polosnya.
"Papa Zayn akan menikah?" Tanya Marisa yang cukup terkejut dengan kata-kata Zayn.
"Zayn nggak tau sih Ma, tapi kata Tante Silvia, Mereka akan menikah supaya Zayn punya Mama, tapi Zayn nggak suka Tante Silvia Ma." Zayn memeluk lagi tubuh Marisa, mencari kedamaian yang selama ini sangat ia rindukan.
Jadi, karena ini Mas Elvan tidak pernah mencari tahu kebenaran tentang aku dan Zea. Kasihan Zayn, maafkan Mama Nak, Mama yang salah seharusnya kamu bersama Mama. Mama janji, Mama akan cari cara supaya kita bisa bersama-sama sayang. Marisa mencium puncak kepala Zayn.
Zayn terus memeluk Marisa, tak ingin jauh-jauh dari sosok yang telah lama ia rindukan itu. Sampai di kantor Alvero pun Zayn tetap menggandeng tangan Marisa. Marisa mengantar Zayn sampai ke ruangan Alvero.
"Permisi Pak." Kata Marisa setelah mengetuk pintu dan diijinkan masuk.
"Eh, Iya Marisa, eh Sarah, Maaf." Alvero menutup mulutnya. "Ponakan Uncle yang gemesin ini udah sampai, kenapa nih matanya sembab, habis di cubit Mama, eh maksud Uncle Tante Sarah ya. karena Zayn nakal." kata Alvero.
Zayn hanya diam, ia tersenyum manis membuat Alvero bingung karena biasanya Zayn akan melotot jika ia melakukan kesalahan, termasuk menyebut kata Mama.
"Uncle, makasih ya udah temuin Mama aku." Kata Zayn mencium punggung tangan Alvero.
"Mama?" Tanya Alvero yang terkejut, Ia lalu melirik ke arah Marisa.
"Maaf Pak, Zayn mengira saya Mamanya, mungkin karena kata Bapak wajah kami mirip." Marisa beralasan.
"Emmm, begitu ya. Zayn kamu seneng punya Mama?" Tanya Alvero kepada keponakan kecilnya itu.
"Iya Uncle, bolehkan Zayn sering kesini ketemu Mama?" Tanya Zayn penuh harap.
"Em, kalau Mamanya nggak keberatan ya boleh boleh aja Zayn." Kata Alvero, lagi-lagi memperhatikan ekspresi Marisa.
"Maafkan saya Pak, sepertinya saya harus kembali bekerja." Marisa melepas pegangan tangan Zayn.
"Zayn ikut Ma." Zayn meraih tangan Marisa kembali.
Marisa memandang Alvero, seolah bertanya, bagaimana, apa boleh?
"Ya sudah Zayn boleh ikut Mama, tapi jangan ganggu Mama kerja ya." Kata Alvero mengijinkan.
"Aasyikk.." Zayn memeluk tangan Marisa dan mengikuti Marisa ke ruangannya.
Setengah jam kemudian Alvero keluar dari ruangannya dan menghampiri Marisa yang sibuk dengan komputernya, sedangkan Zayn sedang menggambar di samping Marisa.
"Zayn, Papa telfon, ke ruangan Uncle yuk." Kata Alvero yang tak ingin mengganggu Marisa.
"Nggak mau, disini aja." Kata Zayn yang tak ingin diganggu.
Akhirnya Alvero menyerahkan ponselnya kepada Zayn. Dan ia duduk di depan Marisa.
"Assalamu'alaikum Zayn, lagi apa?" Tanya Elvan lewat video call.
"Waalaikumsalam, Zayn lagi di kantor Uncle. Ini lagi gambar." Jawab Zayn.
"Zayn gambar apa?" Tanya Elvan.
"Gambar Mama sama Zayn." Jawab Zayn singkat.
"Mama kan di Surga Zayn." Kata Elvan mulai kesal saat Zayn mengingat Mamanya.
"Mama disini kok." Kata Zayn.
"Mama disitu?"
"Iya, Zayn udah ketemu Mama, Zayn nggak bohong kan kalau Mama masih disini Mama nggak ke Surga, Papa yang nggak pernah ngerti."
"Coba Papa pengen lihat Mama kayak gimana?"
"Nih Pa, Mama sini lihat ke kamera, biar Papa tahu Zayn nggak bohong." Kata Zayn menarik tangan Marisa.
Marisa menolak dan hak itu membuat Alvero semakin yakin kalau dia adalah Marisa bukan Sarah.
"Mana Zayn, jangan bohongin Papa ya. Nanti nggak Papa ajak naik motor lagi." Kata Elvan yang mulai kesal.
"Ma, ayo dong Ma sebentar aja ya, please Ma." Zayn memohon dengan wajahnya yang memelas.
Akhirnya karena tak tega dan tak enak hati juga dengan Alvero, Marisa pun menghadap ke kamera.
"Assalamu'alaikum Pak Elvan."
Elvan tak sanggup berkata-kata, wanita yang lima tahun lalu dinyatakan meninggal kini muncul dihadapannya.
"Waalaikumsalam kamu...."