
(Revisi)
happy reading untuk readers kece.
Pada minggu sore yang begitu cerah. Dua insan yang tengah merasakan indahnya jatuh cinta itu tengah duduk santai di ayunan mereka yang terletak di rooftop lantai dua.
Hari itu setelah dari rumah kakek nenek, Marisa minta diantarkan ke kost nya untuk mengambil beberapa barang yang masih tertinggal.
Besok pagi mereka akan memulai aktifitas mereka seperti biasa. Marisa kembali bekerja di kantor, sedangkan Elvan kembali mengurus bengkel yang sebenarnya telah buka sejak kemarin pagi. Namun karena masih lelah Elvan belum sepenuhnya bekerja, tadi siang sebelum kembali ke rumah ia hanya mampir sebentar di bengkel miliknya.
Kini Elvan tengah membelai rambut istrinya sembari menunggu senja di atas ayunan. Angin yang bertiup membuat rambut hitam tergerai itu menari-nari dengan indah, membuat Elvan tak tahan jika tak menyentuhnya.
"Mas." Marisa menggenggam erat tangan kiri suaminya.
"Iya sayang." Elvan masih terus membelai rambut istrinya itu dengan tangan kanannya. Sesekali kaki Elvan bergerak-gerak mendorong ayunan yang mulai melambat.
"Mas udah cerita belum sih ke pak Alvero kalau kita udah menikah." Mariisa merasa ragu jika membahas atasannya itu mengingat Alvero pernah menyatakan perasaannya kepada Marisa.
"Belum sayang. Kamu jangan bilang dulu ya. Mas ingin kasih dia kejutan." Elvan mengecup rambut istrinya.
"Kalau ada yang tanya tentang pernikahan kita gimana mas?" Kata Marisa memandang wajah tampan suaminya. Janggut tipis mulai tumbuh disekitar dagu suaminya itu yang sepertinya mulai lupa mengurus hal-hal kecil.
"Ya kalau temen kantor yang tanya kamu jawab aja sayang, tapi kalau kak Al yang tanya jangan jawab detail. Lagian besok dia nggak lama kan di kantornya." Elvan memandang wajah istrinya. Mata bulat itu sepertinya sedang mengisyaratkan ketakutan. Tapi Elvan masih belum mengerti apa yang istrinya takuti.
"Mas, apa kita beneran akan malam di rumah Papa Erwin?" Tanya Marisa.
"Kenapa sayang, kamu takut?" Elvan membelai wajah istrinya dengan tangan kirinya, lalu mengecup mesrah kening Marisa yang tertutup poni.
"Iya mas, Tuan darma itu terkenal tegas di kantor. Dia orang yang perfeksionis, aku nggak pede mas." Kata Marisa lesu, bertemu di kantor yang hanya beberapa menit saja membuatnya sulit bernafas dengan tenang. Bagaimana ia akan melewati makan malam besok? Marisa benar-benar cemas.
"Kamu tenang ya sayang, si Kakek tua itu nggak jahat kok. Yang kamu harus khawatirin itu Mama Anita. Dia kalau ngomong suka nusuk banget. Tapi kamu jangan pernah masukin ke hati ya. Mas akan selalu disamping kamu, mas nggak akan biarin mulut jahatnya itu menyakiti kamu sayang." Elvan mengecup sekali lagi kening Marisa, lalu direngkuhnya dengan erat tubuh kecil istrinya itu. Berusaha membuat tenang hati istrinya yang belum pernah menghadapi kekejaman keluarganya itu.
Marisa membalas pelukan Elvan, melingkarkan dengan erat kedua tangannya pada punggung lebar suaminya.
Setelah merasa sedikit tenang, Marisa melepas pelukan Elvan.
"Kamu mau tau gimana caranya ambil hati si kakek tua itu?" Elvan menatap tajam mata Marisa.
"Apa mas?" Tanya Risa penuh harap.
"Cicit." Jawab Elvan langsung mengecup bibir istrinya. "Ke kamar yuk." Ajaknya kemudian.
Elvan merangkul pundak istrinya menuju kamar mereka yang tak jauh dari rooftop itu.
Elvan menutup pintu dan juga menguncinya, meskipun tak ada orang yang mungkin akan datang, tapi Elvan hanya tak ingin ada yang mengganggu privasinya.
"Sayang." Elvan mendekati istrinya yang tengah duduk di ranjang.
"Iya Mas." Marisa tersenyum menatap suaminya.
"Aku mencintaimu." Elvan merebahkan tubuh istrinya, membelai rambut hitam dan halus itu.
"Kamu mau kan melahirkan anak untukku."
"Kalau Allah mengijinkan Mas. Tapi Mas, kalau Allah tidak pernah mempercayaiku untuk melahirkan, apa Mas akan meninggalkan aku?"
"Tidak akan, sampai matipun Mas akan selalu menerima semua kelebihan dan kekuranganmu. Karna bagiku, kamu adalah kebahagiaanku."
Elvan mengecup sekali lagi bibir ranum itu. Hingga mereka pun memulai kegiatan penuh energi itu di penghujung sore yang indah.
Hari itu adalah hari minggu pertama mereka setelah menjadi suami istri.
Masa bodoh dengan hari esok yang mungkin akan menegangkan. Tapi, hari ini mereka butuh pelepasan yang semakin mempererat kisah mereka.
Peluh keduanya telah membanjiri tubuh mereka yang bebas tak terhalang. Hingga permainan itu berakhir setelah sama sama menggapai puncak surgawi.
Elvan mencium kening istrinya yang masih dalam kungkungannya. Dibelainya dengan lembut rambut sang istri dengan penuh kasih. Sembari mengucapkan terimakasihnya. Sejujurnya ia ingin mengulanginya lagi, namun karena hari semakin sore, ia putuskan untuk berhenti.
Hingga ia pun melepas penyatuan mereka dan berbaring disamping istrinya. Entahlah saat ini yang ia rasakan hanyalah kepuasan. Tak ada rasa lelah setelah bertempur hebat dalam medan peperangan tadi.
Sementara istrinya terlihat begitu lemas tak bertenaga. Bahkan ia merasa tak sanggup menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Entahlah, wanita itu selalu merasa malu setiap kali mereka selesai dengan permainan panas itu. Akhirnya sang suami yang mulai memahami kebiasaan istrinya berinisiatif mengambil selimut dan menutup tubuh keduanya yang masih penuh dengan keringat.
Kembali ia kecup kening istrinya, perasaannya semakin dalam. Ia berharap Tuhan Yang Maha Esa akan segera menguatkan ikatan cinta mereka dengan kehadiran anak yang mungkin saja bisa menyatukannya dengan keluarga besar Papanya.
Risa terseyum geli menyaksikan suaminya yang tengah melamun, entah memikirkan apa.
"Mas, mas kenapa?" Marisa menatap wajah suaminya yang masih duduk melamun.
Elvan tersadar dari lamunannya, bayangannya tentang anak kecil yang berlari-lari kini hilang berbarengan dengan tangan Marisa yang menggoyang-goyangkan tubuhnya.
"Sayang aku lapar." Elvan ikut menatap sang istri yang begitu lemah. Sebenarnya ia tak tega, namun perutnya sudah mulai keroncongan membuatnya tak kuat menahan lapar.
"Opor ayam tadi siang masih ada mas, mau aku angetin dulu?" Tanya Marisa yang mulai meraih kaosnya.
"Mau lah, apa aja asal masakan kamu sayang." Elvan pun ikut meraih kaos dan segera memakainya.
"Yasudah, aku angetin opornya dulu mas. Mas mau mandi apa langsung makan?" Marisa segera memakai semua pakaiannya.
"Makan dulu deh, laper banget, nanti sekalian mau sholat maghrib aja mandinya."
Mereka pun turun ke dapur. Dan Marisa menyiapkan makanan untuk suaminya, meskipun ia belum lapar, tapi ia tetap ikut makan walau hanya sedikit.
bersambung....
maaf ya Autor Revisi bab ini. karena nggak enak dan nggak nyaman aja bacanya ðŸ¤ðŸ¤
Terimakasih untuk Readers Kece yang selalu setia baca.
**Jangan lupa tinggalkan like dan komen kalian ya.
Salam Hangat selalu**.