My Amazing Husband

My Amazing Husband
Bonchap1 Kamar Hotel


Satu bulan telah berlalu, perayaan ulang tahun yang berujung bulan madu kedua untuk Elvan dan Marisa, menjadi awal yang baru untuk kehidupan rumah tangga mereka.


Setiap pagi, Marisa akan sibuk dengan persiapan sekolah kedua anaknya, juga mempersiapkan suaminya yang makin sibuk mengurus bengkel, sekaligus mengurus perusahaan Guna Cipta Group. Setelah itu, ia akan pergi untuk mengurus toko kue nya.


Marisa telah membuka toko kue yang letaknya dekat dengan bengkel Elvan. Walaupun berdekatan, tapi kesibukan Elvan di kantor membuat mereka jarang bertemu di luar rumah.


Seminggu terakhir, kesehatan Kakek Darma mulai menurun, membuat Marisa dan Elvan harus sering-sering mengunjungi rumah Kakek Darma. Pagi itu, Marisa mendapat telepon dari Pak Erwin bahwa Kakek Darma dilarikan ke rumah sakit, setelah terjatuh di kamar mandi.


Marisa, bergegas menuju rumah sakit dengan taksi. Sesampainya di rumah sakit, Marisa langsung menuju kamar perawatan Kakek Darma.


Saat Marisa masuk ke kamar kakek, Pak Erwin sedang menemani Kakek Darma yang telah sadarkan diri.


“Pa, gimana keadaan Kakek?” tanya Marisa pada ayah mertuanya.


“Kakek terkena stroke Risa, Kakek tiba-tiba pingsan di kamar mandi.” Pak Erwin menatap pilu Kakek Darma yang bibirnya tampak miring.


“Hah … Sa … eh ….” Kakek Darma seolah ingin memanggil Marisa, tapi mulutnya begitu susah untuk mengucapkannya.


“Sepertinya ayah ingin bicara denganmu,” kata Pak Erwin.


Lalu, Marisa berjalan mendekat ke arah ranjang kakek.


“Ada apa Kek?” tanya Marisa setelah mendekatkan telinganya pada wajah Kakek Darma.


“”Ma … ap,” kata Kakek Darma dengan susah payah.


“Marisa sudah memaafkan Kakek sejak lama, Kakek cepat sehat ya, biar bisa main sama Zayn dan Zea lagi.” Marisa tersenyum untuk memberi semangat pada Kakek Darma.


“Assalamualaikum.” Elvan memasuki ruangan Kakek Darma dengan napas terengah-engah.


“Waalaikumsalam.” Pak Erwin menoleh sekilas pada putranya.


“Pa, gimana keadaan Kakek?” tanya Elvan dengan cemas.


“Kakek kena stroke Ell, Kakek akan kesulitan bicara dan tidak bisa jalan lagi,” kata Pak Erwin.


“Ya Allah, apa nggak bisa diterapi Pa?” tanya Elvan.


“Kemungkinan hanya sedikit El, tapi papa akan tetap memanggil dokter khusus untuk menangani Kakekmu,” jawab Pak Erwin.


🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀


Beberapa hari kemudian.


Keadaan Sylvia semakin melemah, ia sengaja mengundur jadwal transplantasi sumsum belakangnya. Wanita itu masih saja terobsesi dengan laki-laki yang begitu digilainya. Laki-laki yang tak akan bisa menjadi miliknya.


“Hari ini, aku akan membuat Elvan menjadi milikku, sebelum aku mati,” kata Sylvia saat meninggalkan rumah sakit tempat ia dirawat.


Setelah mendapatkan kamar, wanita itu segera menghubungi Elvan. Dengan penuh tipu muslihat, wanita itu berhasil membujuk Elvan untuk datang ke kamar hotelnya.


Elvan baru saja pulang dari kantor saat menerima telepon dari Sylvia, dan bergegas menuju hotel tempat Sylvia menginap.


“Sylvia,” panggil Elvan saat sampai di depan kamar hotel Sylvia.


Namun, Sylvia hanya terdiam di belakang pintu. Sementara Elvan mulai masuk ke dalam karena khawatir dengan keadaan Sylvia, apalagi ia mendengar suara gemericik air di kamar mandi.


Saat Elvan menuju kamar mandi, Sylvia segera mengunci pintu kamar hotelnya, lalu menyembunyikannya di dalam bajunya.


“Sylvia, apa yang kamu lakukan?” tanya Elvan yang kini telah terjebak di dalam kamar hotel bersama seorang wanita.


🌱🌱🌱M.A.H.2🍀🍀🍀


Marisa dan kedua anaknya kini tinggal di rumah mewah milik Kakek Darma. Setelah Kakek diizinkan pulang dari rumah sakit, wanita cantik itu selalu merawat Kakek Darma dengan baik. Meski ia ditemani seorang perawat khusus yang merawat lansia, tapi Marisa tetap merawat Kakek Darma dengan tangannya sendiri.


“Mama, kapan sih Kakek Uyut akan sembuh?” tanya Zea saat Marisa menyuapi makanan untuk Kakek Darma.


“Kalau Zea doa dengan tulus, nanti Allah akan kabulkan doa Zea, mangkanya Zea doain Kakek ya.” Marisa mengusap lembut kepala gadis kecilnya itu.


“Iya Ma. Ya Allah, sembuhkanlah Kakek Zea, kasihan bibir Kakek nggak bisa ngomong, Kakek juga nggak bisa jalan lagi, kasihan juga tongkatnya Kakek Ya Allah.” Zea berdoa dengan suara keras dan tangannya diangkat tinggi-tinggi.


“Aamiin, tapi kenapa kasihan dengan tongkatnya Kakek?” tanya Marisa pada Zea.


Sementara Kakek Darma meneteskan air matanya, mendengar doa tulus dari bocah yang pernah ia sakiti, tapi begitu menyayanginya.


“Karena Kakek udah nggak butuh tongkat kalau Kakek nggak bisa jalan,” jawab Zea dengan lucunya.


“Anak Mama, gemesin banget sih.” Marisa mencium pipi Zea dengan gemas.


“Papa kok belum pulang Ma?” tanya Zayn yang sedari tadi bermain sepeda di dalam rumah mewah Kakek Darma.


“Iya ya, udah hampir jam makan malam, tapi Papa belum pulang juga ya. Mungkin Papa masih lembur sayang.” Marisa mencoba berpikir positif.


Bersambung ….


Hai, udah tanggal 7 ya. Ada yang menunggu nggak?


Terima kasih banyak yang bersedia menunggu.


Semoga bisa sedikit mengobati rasa rindu kalian ya.


Tinggalkan Like dan Komentarnya 🥰🥰