My Amazing Husband

My Amazing Husband
Hilang Ingatan


Di ruangan VVIP rumah sakit itu Elvan baru saja membuka matanya, sakit di kepalanya membuatnya segera terbangun dari tidurnya. Ia melihat ada seorang wanita yang tengah memegang tangannya.


"Mas, kamu sudah sadar?" Suara wanita itu yang terdengar pertama kali di telinga Elvan.


"A,, aku,, di,,ma,,na?" Elvan membuka mulutnya, ia kebingungan menyaksikan ruangan putih yang cukup luas itu, ditangan kirinya terdapat selang yang menghubungkan pembuluh darahnya dengan cairan infus yang tergantung di atasnya.


"Mas, kamu di rumah sakit sekarang Mas. Mas baik-baik saja, apa ada yang sakit?" Tanya Marisa yang sangat bahagia, namun ada sedikit kesedihan juga di matanya.


"Kamu.." Elvan berusaha bangun, namun sakit di kepalanya membuatnya mengurungkan niatnya.


"Iya Mas, ini aku." Marisa berusaha berdiri, kakinya yang masih terasa sakit tak mengurungkan niatnya untuk memeluk suaminya. Marisa menyandarkan kepalanya di atas dada bidang suaminya.


Marisa bersyukur suaminya telah sadar, ia memeluk tubuh yang terbaring lemah itu semakin erat membuat Elvan merasa tak nyaman. Elvan mulai mendorong tubuh Marisa yang memeluknya.


"Kamu siapa?" Elvan tak mengenali Marisa.


Hati Marisa bagai tersayat. Apakah suaminya itu sungguh tidak mengingatnya?


"Mas ini aku. Aku istrimu?" Marisa mulai menangis lagi. Namun Elvan masih tak mengenalinya.


Kepala Elvan terasa berdenyut, sakit yang menyerang membuatnya berteriak. Hingga Reyna dan Kakek Darma yang menunggu di luar langsung menerobos masuk ke dalam.


"Elvan." Kakek Darma langsung menghampiri cucunya.


Sementara Reyna yang menyadari Elvan kesakitan langsung memencet tombol untuk memanggil perawat.


"Mas,, Mas Elvan kenapa?" Marisa masih saja menangis.


Elvan semakin kesakitan, lalu dokter datang bersama seorang perawat. Dan setelah diberi suntikan penenang, Elvan kembali tenang.


"Dokter, kenapa suami saya tidak ingat dengan saya dok?" Tanya Marisa dengan linangan air mata yang membasahi pipinya. Matanya memerah, ia semakin terisak.


"Sepertinya pasien mengalami amnesia karena benturan di kepalanya. Kami akan melakukan pemeriksaan lebih dalam untuk memastikannya." Kata dokter menjelaskan.


Reyna dan Kakek Darma yang mendengarnya sontak saja terkejut dengan kenyataan bahwa Elvan kehilangan ingatannya.


Marisa terus saja menangis, Reyna memeluknya memberikan ketenangan pada wanita hamil itu.


Sementara Elvan mulai terpejam.


🌱🌱🌱


Di ruang perawatannya Marisa mengemasi barang-barangnya. Marisa bersikeras untuk pindah kamar, ia ingin mendampingi suaminya. Lagi pula, kondisinya mulai membaik, hanya lecet-lecet pada betisnya saja yang masih belum sembuh. Tapi dokter tetap menyarankan Marisa untuk menghabiskan kantung impusnya sebelum ia benar-benar terbebas dari perawatan rumah sakit.


Dengan selang impus yang masih terpasang di punggung tangannya, Marisa memasukkan baju-bajunya yang dibawakan oleh Reyna. Ia sendirian karena Reyna yang biasa menemaninya telah pulang ke rumahnya.


Kakek Darma masuk ke ruang perawatan Marisa yang akan segera ia tinggalkan itu.


"Aku sudah tau apa yang sebenarnya terjadi." Kata Kakek Darma yang menghentikan tangan Marisa untuk mengemasi baju-bajunya.


Kakek Darma telah duduk di sofa rumah sakit itu, menggenggam ujung tongkat yang selalu ia bawa itu.


Marisa lalu duduk berseberangan dengan sang kakek mertua. Ia mulai gugup, entah apa yang akan dibicarakan kakek tua itu.


"Kecelakaan itu terjadi saat mobil kalian berhenti, dan Elvan terluka karena melindungi wanita tidak berguna sepertimu." Tatapan Kakek Darma menghunus tajam. Dibalik kata-katanya yang tenang itu ternyata mampu menusuk relung hati Marisa.


"Maafkan saya Kek." Kata Marisa menundukkan wajahnya, ia tak berani menatap mata sang kakek mertua.


"Aku sudah memberikan waktu untuk kalian bersenang-senang, untunglah kamu tidak berhasil melahirkan keturunan untuk kami, jadi sekarang kamu bisa pergi." Kata Kakek Darma dengan nada yang masih tenang.


Marisa terkejut, ia mengangkat sedikit wajahnya agar bisa menatap mata Kakek Darma, mencari kesungguhan dari setiap ucapannya melalui mata tua itu.


"Maaf Kek, tapi Mas Elvan belum sembuh betul, saya masih istrinya yang berhak merawatnya." Marisa melihat Kakek Darma bersungguh-sungguh ingin mengusirnya.


"Elvan sudah melupakanmu, itu lebih baik sekarang. Aku akan mengurus perceraian kalian secepatnya. Jadi serahkan buku nikah kalian dengan baik-baik aku akan memberi imbalan yang setimpal untuk itu." Kakek Darma berdiri hendak meninggalkan Marisa. Namun langkahnya terhenti saat Marisa berbicara.


"Saya tidak akan bercerai dengan Mas Elvan. Apapun keadaanya kami tetap suami istri yang sah." Kata Marisa yang ikut berdiri.


"Aku bilang pergilah, pergilah sejauh mungkin sampai tak ada yang mengenalimu lagi. Kalau kamu menolak, aku bisa saja menghabisi seluruh keluargamu, seperti aku menghabisi ibunya Elvan. Aku masih memberimu kesempatan untuk hidup." Kata Kakek Darma yang membuat Marisa merinding.


Marisa teringat dengan ayahnya, ia tak ingin terjadi sesuatu dengan ayahnya. Tapi melihat kondisi Elvan juga membuatnya tidak tega.


Kakek Darma telah meninggalkan ruangan itu. Marisa merasa tubuhnya lemas, kata-kata Kakek Darma bagai mata pisau yang begitu menyayat hatinya.


Marisa menghapus air matanya yang keluar karena sesak di dadanya. Ia bangkit lalu membawa tasnya keluar menuju ruang rawat suaminya.


Marisa berjalan pelan, membuka pintu ruangan dimana suaminya masih terbaring. Ia masih membawa tasnya juga tiang inpus yang didorongnya pelan.


"Mas." Sapa Marisa saat telah berada disamping suaminya.


Elvan masih memejamkan matanya, saat tangan Marisa menggenggam tangan kanannya.


"Aku akan pergi menyelamatkan anak kita Mas. Aku janji akan menjaganya dengan baik. Maafkan aku Mas, semoga ini akan menjadi awal yang lebih indah untukmu." Marisa mengecup kening suaminya, ingin rasanya memeluk tubuh yang masih terbaring itu untuk terakhir kalinya namun ia tak tega membangunkan suaminya.


Marisa melepas selang infusnya, menyebabkan darah segar memaksa keluar dari urat tanganya.


"Maaf aku pergi membawa anak kita Mas, aku mencintaimu." Marisa mencium punggung tangan suaminya. Dan segera keluar dari rumah sakit itu. Ia tak membawa uang sepeserpun karena dompet dan ponselnya berada dalam mobil saat kecelakaan itu.


Marisa berjalan mencari ojek atau taksi, ia berencana untuk pulang ke rumah mereka mengambil baju dan juga beberapa uang.


🌱🌱🌱


Marisa telah sampai di depan rumahnya, seorang ojek telah mengantarnya pulang.


"Tunggu sebentar ya Pak, masuk dulu, saya ambil baju nanti antar saya lagi." Kata Marisa kepada tukang ojek yang mengantarnya.


"Iya mbak, akan saya tunggu."


Marisa masuk ke dalam dan segera menuju ke kamarnya, mengambil koper dan memasukkan baju-bajunya. Ia juga membawa buku nikah miliknya sendiri, ia sengaja meninggalkan buku nikah milik Elvan agar Elvan bisa mengambil keputusan akan melanjutkan rumah tangganya atau menceraikannya, ia pasrah.


Marisa mengambil uang yang sengaja ia simpan di rumah, juga uang di ruang kerja Elvan. Ia harus membawa uang cukup untuk bertahan hidup. Lalu ia kembali ke kamarnya dan mengambil bajunya, ia melihat satu jaket yang tergantung di lemari. Jaket itu yang dulu pernah dipinjamkan Elvan saat pertama kali memboncengnya dengan motor Elvan.


Marisa diam sejenak, lalu ia mengambil jaket itu untuk ia bawa pergi bersamanya. Kemudian Marisa segera turun dan menghampiri tukang ojek yang masih menunggunya di depan.


"Ayo kita berangkat Pak." Kata Marisa kepada tukang ojek itu.


Tukang ojek itu lalu meletakkan tas Marisa di depannya.


"Mbak Marisa, katanya Mas Elvan kecelakaan ya, Mbak Risa mau ke Rumah sakit?" Tanya Bu Esti yang melihat Marisa membawa tas besar.


Marisa mengangguk, lalu setelah berbasa basi sebentar Marisa pergi dengan ojeknya.


🌱🌱🌱


Disinilah Marisa sekarang, di rumah sederhana milik saudara ibunya.


"Kasihan sekali kamu Nduk, kamu harus tinggal disini sampai suami kamu bisa mengingat kamu lagi ya." Kata wanita bernama Dina itu. Merasa sangat kasihan dengan apa yang menimpa keponakannya itu.


"Maafkan Risa yang lagi-lagi ngerepotin Bude." Kata Marisa.


"Sudah, kamu ini anak bude juga. Kamu istirahat ya, kasihan bayi kamu pasti lelah juga." Kata Bu Dina yang dibalas anggukan dari Marisa.


Akhirnya Marisa pun masuk ke kamar yang dulu pernah ia tinggali selama awal kuliah.


Sementara di tempat lain, Reyna yang tak menemukan Marisa di rumah sakit segera menghubungi Alvero. Kemudian Alvero bergegas mencari Marisa ke rumah Elvan, tapi tidak ada. Ia pun kembali ke rumah sakit dan Marisa belum juga ditemukan. Hingga Pak Erwin yang baru mendarat langsung menuju rumah sakit tempat Elvan dirawat.


"Al, gimana Elvan?" Tanya Pak Erwin kepada Alvero dan Reyna yang menunggu di luar ruangan karena baru saja mereka beristirahat setelah lelah mencari Marisa.


"Buruk Pa, Elvan amnesia dan sekarang Marisa menghilang." Kata Alvero.


"Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Pak Erwin tak percaya.


"Tadi pagi, aku pulang sebentar om buat ganti baju, tapi setelah aku balik Marisa udah nggak ada disini, kamarnya kosong barang-barangnya juga udah nggak ada." Kata Reyna yang menangis karena merasa bersalah telah meninggalkan Marisa sendiri.


"Al, apa yang terjadi dengan Elvan?"


Alvero pun menceritakan kecelakaan yang menimpa Elvan dan Marisa.


Pak Erwin mulai curiga, Anita adalah dalang dari semua ini.


Pak Erwin lalu masuk ke ruangan Elvan. Setelah Alvero pergi mengantar Reyna pulang. Kakek Darma sudah ada di dalam, duduk santai di sofa.


"El, gimana keadaan kamu." Tanya Pak Erwin.


"Darimana saja kamu?" Tanya Kakek Darma.


"Aku ada urusan menyangkut rumah tanggaku." Kata Pak Erwin yang lalu duduk dikursi kosong sebelah ranjang Elvan.


"El, kamu ingat Papa?"


"Maaf, aku tidak ingat." Jawab Elvan yang memang tak mengenali siapapun.


"Lalu bagaimana dengan Marisa Elvan? Kemana dia?" Pak Erwin mulai resah, khawatir terjadi sesuatu dengan menantunya itu.


Elvan menatap bingung, kenapa orang-orang mencari Marisa, siapa Marisa itu? Apakah gadis yang tadi sempat memeluknya itu Marisa?


"Sudahlah, tidak perlu bahas orang yang sudah pergi, dia pergi karena keinginannya sendiri. Pasti sekarang dia bersama laki-laki lain." Kata Kakek Darma.


"Kenapa Ayah bicara seperti itu? Apa jangan-jangan Ayah yang mengusir Marisa?" Pak Erwin menuduh Kakek Darma, karena dulu Ayahnya itu juga sering melakukan hal yang sama kepada istri keduanya.


bersambung....