My Amazing Husband

My Amazing Husband
Kebun Binatang


"Bisakah aku menikahi Kak Elvan? Waktuku tidak banyak Marisa, aku ingin menghabiskannya sebagai istri Kak Elvan." Wanita bernama Sylvia itu tiba-tiba meminta hal yang sangat tidak mungkin bisa dikabulkan oleh Marisa.


Telinga Marisa menjadi merah saat mendengarnya, ia mengepalkan tangannya, matanya membara mengobarkan api cemburu dan juga sakit hati dengan kata-kata lancang itu. Bagaimana mungkin wanita seperti Sylvia dengan gamblangnya meminta suami dari seorang istri? Berkali-kali Marisa menarik nafas dalam, bagaimanapun juga ia harus bisa menahan amarahnya.


"Kenapa kamu berpikir bahwa aku wanita yang berhati mulia?" tanya Marisa dengan tenang meski nafasnya sudah memburu, ia seolah mengejek wanita yang memakai dress midi berwarna navy itu.


"Aku sangat yakin Marisa, kamu wanita lemah lembut, sesama perempuan kamu pasti mengerti perasaanku, aku sangat mencintai Kak Elvan," kata Sylvia yang kini menggenggam tangan Marisa, mencoba meyakinkan wanita yang menjadi rivalnya itu.


"Aku mohon, kasih aku kesempatan bahagia, dua tahun aku menemaninya, dan sekarang, kamu malah kembali saat aku hampir mendapatkannya." Wanita itu menampilkan raut wajah selemah mungkin, ia ingin terlihat tak berdaya, penuh permohonan dan harapan.


Marisa mengambil nafas berat, dan menghempaskannya dengan kasar. "Aku tidak akan mungkin membiarkan orang lain merusak ketenangan rumah tanggaku." Marisa menatap tajam, matanya yang berapi-api seolah ingin menyerang wanita yang duduk disampingnya itu.


Sementara Sylvia merasa kaget, ia tak menyangka dengan reaksi Marisa. Wanita yang dikenal lemah lembut itu ternyata bisa marah juga. Namun Sylvia pantang menyerah, ia harus berusaha kuat meyakinkan ibu dua anak itu, demi mewujudkan impian indahnya untuk hidup bersama Elvan.


"Aku terkena leukimia." Wanita cantik itu mulai mengeluarkan senjatanya. "Dokter bilang umurku tidak akan lama lagi, kalau kamu mau berbaik hati, ijinkan aku bahagia bersama Kak Elvan sebelum umurku habis Marisa," katanya memelas.


"Jangan terlalu bermimpi ya, pernikahan itu bukan permainan. Dan aku sangat yakin Mas Elvan tidak akan mau menerima ide gilamu itu. Kalau kamu sakit, maka berobatlah, jangan meminta dinikahi suami orang." Marisa mulai melotot, urat-uratnya mulai menegang. Matanya menatap tajam pada wanita tidak tahu diri dihadapannya sekarang.


"Iya, aku gila, aku memang gila. Tapi kamu yang egois Marisa." Sylvia berdiri, menunjuk wajah Marisa dengan jari telunjuk kanannya.


"Kenapa kamu menyalahkan seorang istri yang berusaha menjaga suaminya? Aku egois?" tanya Marisa. Suaranya tak kalah tinggi.


"Iya…. Kamu yang memilih meninggalkan suamimu demi dirimu sendiri, kamu yang ninggalin dia dalam keadaan seperti itu. Dan…. Saat aku sedang berusaha mendapatkan hatinya, kamu malah datang dengan seenaknya merusak pertunanganku. Itu apa namanya kalau bukan egois? Ternyata aku salah menilai, kamu nggak sebaik yang aku kira, kamu nggak punya perasaan Marisa." Sylvia menumpahkan rasa kesalnya, emosinya meluap ketika Marisa dengan beraninya menolak permintaannya.


"Kalau aku nggak punya perasaan, lalu kamu apa? Pelakor?" Marisa tak kalah emosi. "Bisa-bisanya kamu bertunangan dengan suami orang. Kalau aku egois, kamu apa? Bodoh?." Rasa kesal di hatinya membuatnya tak lagi bisa menahan amarahnya, untung saja anak-anaknya ada di arena bermain dan tak mendengar suaranya. "Seharusnya kalau kamu pintar, kamu minta calon tunangan kamu untuk menceraikan istrinya sebelum menerima perjodohan itu. Dasar bodoh!"


"Marisa, kamu benar-benar bikin kesabaranku habis." Sylvia bangkit dari duduknya, otaknya terasa panas mendengar penghinaan Marisa.


Sheryl yang dari kejauhan melihat Marisa tengah bersitegang pun langsung berjalan cepat menghampiri keduanya.


"Ada apa kak?" tanya Sheryl setelah mendekati dua wanita cantik yang sama-sama sedang emosi itu.


Sylvia memelototi Marisa, lalu ia meninggalkan tempat itu.


Sheryl pun berusaha menenangkan Marisa dengan mengusap punggungnya. Lalu mereka duduk untuk menunggu kedua bocah kembar yang masih asyik bermain itu.


"Bunda…." Zea berteriak saat ia melihat Sheryl, ia sedang bermain kejar-kejaran dengan Zayn saat itu.


"Hallo Princess…." Sheryl menghampiri Zea yang langsung memeluknya sambil berdiri.


"Zea kangen Bunda," kata Zea yang masih memeluk Sheryl.


"Iya sayang, Bunda juga kangen." Sheryl mengurai pelukannya dari tubuh mungil Zea saat ia melihat Zayn yang tengah berdiri mengamati di belakang Zea.


"Halo, kamu pasti Zayn." Sheryl tersenyum pada Zayn.


Marisa berdiri dari duduknya lalu menghampiri Zayn yang masih mematung.


"Sayang, ayo salim dulu sama Bunda," perintah Marisa yang langsung dipatuhi Zayn.


"Halo aku Zayn, apa aku juga boleh panggil Bunda?" tanya Zayn dengan polosnya.


"Boleh dong sayang, sini peluk Bunda." Sheryl menurunkan tinggi badannya lalu merentangkan kedua tangannya agar dipeluk Zayn.


Zayn pun langsung memeluk Sheryl sesuai permintaan Sheryl.


Marisa yang mengerti perasaan sensitif Sheryl yang tengah hamil pun mengusap-usap punggung sahabat yang seperti adiknya sendiri.


"Dia udah besar ya kak," kata Sheryl yang berderai air mata haru. Ia lalu melepaskan pelukannya dari tubuh Zayn untuk menatap pria kecil itu. "Selamat Kak, dia sudah kembali bersama Kak Risa sekarang."


"Udah…. Udah…. Berapa kali harus aku bilang sih, semua ini takdir, jangan menyalahkan dirimu sendiri." Marisa memeluk Sheryl yang masih terharu.


Dua wanita yang sudah seperti saudara itu saling berpelukan, sementara Zayn dan Zea saling pandang. Mereka berdua sama-sama tak mengerti apa yang dua orang dewasa itu bicarakan.


"Zayn, Zea, mau nggak beli perlengkapan buat adik bayinya Bunda?" tanya Marisa yang telah melepas pelukannya dari tubuh Sheryl.


"Mau…." Dua bocah itu kompak menjawab.


🌱🌱🌱


Akhir pekan yang begitu dinantikan akhirnya tiba, Zayn dan Zea sudah berada di mobil menuju kebun bianatang, sesuai janji Elvan pada mereka.


Zayn memakai kaos garis-garis putih dan biru dongker dilapisi jaket levis berwarna navy, celana chinos mocca dan juga memakai topi hitam


Sedangkan Zea tampil imut dengan kaos putih bergambar kelinci dipadu rok tutu dengan aksen mutiara yang menempel pada roknya. Rambutnya dikuncir dua tanpa hiasan jepit rambut, karena ia juga mengenakan topi berwarna putih.


Marisa dan Elvan tampil kompak dengan kaos putih dan celana jeans warna biru langit, Elvan juga memakai kacamata hitamnya.


Akhirnya mereka pun sampai di kebun binatang. Mereka disambut sekumpulan ayam dan burung-burung yang dikurung terpisah. Lalu mereka beralih pada binatang reptil berukuran besar. Zea nampak ketakutan saat melihat buaya yang ukurannya 5 kali lipat dari tubuhnya.


"Papa…. Zea takut sama itu, mulutnya mangap, giginya besar banget Pa," ucapnya yang tengah digandeng Elvan, sementara Zayn menggenggam erat tangan Marisa.


"Sini Papa gendong, buaya itu takut sama Papa." Elvan mengangkat tubuh Zea dalam gendongannya.


"Benarkah?" tanya Zea yang terlihat sumringah.


"Iya, pokoknya Zea jangan takut, selama ada Papa, nggak akan ada yang bisa menyakiti Zea." Elvan mengecup pipi Zea yang digendongnya dengan tangan kiri.


"Pa, gendong Zayn juga dong," kata Marisa yang melihat Zayn hanya diam saja.


"Zayn mau gendong juga, sini tangan Papa satunya masih kuat." Elvan menurunkan berat badannya untuk menggendong Zayn setelah melihat senyum Zayn yang setuju dengan usul Mamanya.


Elvan kini menggendong dua anaknya sekaligus. Untung saja otot tangannya telah terlatih mengangkat beban berat, jadi Zayn dan Zea tetap aman dalam gendongannya.


Sementara itu, dari kejauhan seseorang tengah membidikkan kamera ponselnya ke arah Elvan dan anak istrinya yang terlihat begitu bahagia. Lalu laki-laki bertopi hitam itu segera mengirim foto itu ke orang yang telah menyuruhnya.


🌱🌱🌱


Di tempat lain, Kakek Darma tengah mengamati foto Elvan yang tengah menggendong Zayn dan Zea di kedua tangannya, di sampingnya ada Marisa yang tengah tersenyum menutupi mulutnya dengan tangan melihat ekspresi bahagia kedua anaknya itu.


"Mereka seperti keluarga bahagia, Zayn juga terlihat bahagia bersama ibu kandungnya, dan gadis kecil ini tampak begitu lucu, seperti yang istriku inginkan."


Bersambung….


Kira-kira Kakek Darma akan luluh nggak ya?


Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya 🤗🤗🤗🤗