
Masih di ruangan direktur utama, dua pria dewasa itu tengah merencanakan sesuatu untuk membuat Elvan mau membantu di perusahaan itu. Mereka berdua sama-sama tahu Elvan sangat pandai saat kuliah dulu, namun karena dia lebih suka dengan bengkel pemberian almarhum ibunya, Elvan tak pernah mau ikut campur masalah perusahaan.
Kevin dan Elvan dulu kuliah di fakultas yang sama, sehingga ia sangat tahu kepandaian Elvan yang sangat sayang jika tak dimanfaatkan.
"Kita buat Marisa mempengaruhi Elvan bos, Elvan itu cinta mati sama istrinya. Ups.." Kevin tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia menyesali ucapannya barusan.
"Kenapa? Kamu pikir aku akan sakit hati sama adikku sendiri?" Alvero mengangkat wajahnya.
"Bukan begitu bos. Jadi kita harus yakinkan Marisa untuk membantu kita mengajak Elvan bergabung. Biasanya laki-laki kalau udah bucin pasti nurut sama istri bos." Kata Kevin.
"Memangnya kamu tahu Elvan bucin sama Marisa?" Alvero mencibir.
"Setidaknya kita bisa mencoba bos, karena sebetulnya terlihat jelas bagaimana Elvan memperlalukan Marisa, itu bisa disebut bucin, alias budak cinta." Kevin terkekeh.
"Seriuslah, aku sedang tidak ingin bercanda." Kata Alvero kesal.
"Baik bos maaf, tapi pikirkan untuk meminta bantuan Marisa agar Elvan mau bergabung." Kata Kevin kini serius.
Alvero berfikir dengan serius, apa ia harus meminta tolong pada Marisa.
"Panggil Marisa kesini." Perintah Alvero.
Kevin pun keluar memanggil Marisa. Tak lama ia kembali masuk bersama Marisa.
"Maaf Pak, ada apa?" Tanya Marisa formal.
"Marisa, maaf jika harus membicarakan masalah pribadi, tapi ini juga demi kebaikan perusahaan." Kata Alvero, lalu menyuruh Marisa duduk.
Pagi itu mereka bertiga terlibat obrolan yang cukup serius.
"Jadi apa yang mau bapak sampaikan?" Tanya Marisa setelah Alvero dan Kevin diam cukup lama.
"Begini, Marisa kamu sebagai istri Elvan, apa kamu bisa bantu untuk meyakinkan Elvan agar mau bergabung dengan perusahaan?" Tanya Alvero.
Marisa berfikir sejenak. Tidak mungkin suaminya itu mau bergabung.
"Maaf Pak, Mas Elvan sudah memutuskan untuk tidak ikut campur masalah perusahaan." Kata Marisa.
"Kalau Elvan bergabung, dia bisa menangani masalah keuangan perusahaan, sekaligus menaikkan harga saham, itu yang aku dan Papa pikirkan. Coba kamu pikirkan bagaimana nasib para pegawai jika masalah ini terus berlanjut." Kata Alvero meyakinkan Marisa.
Marisa masih berfikir, ia tak tega jika melihat banyak keluarga yang menggantungkan kehidupannya di perusahaan harus berakhir dengan PHK. Jumlah karyawan yang ribuan itu juga menjadi beban tersendiri untuk Alvero dan papa mertuanya. Kalau mereka yakin Elvan bisa membantu, pasti bisa menyelamatkan perusahaan sekaligus para pegawainya.
"Akan saya coba Pak." Kata Marisa akhirnya.
Alvero tersenyum bahagia mendengar keputusan Marisa.
"Baiklah, tolong bujuk dia ya untuk secepatnya bergabung." Kata Alvero.
Marisa mengangguk setuju.
***
Elvan dan Marisa pergi ke kantor polisi setelah makan siang bersama.
"Sayang apa kamu takut?" Tanya Elvan saat mereka akan memasuki kantor kepolisian.
"Tidak Mas, aku sudah ikhlas kok." Marisa tersenyum, lalu Elvan merangkulnya menuju pintu masuk.
Marisa diberi beberapa pertanyaan mengenai kecelakaan yang menimpanya.
Sementara Elvan meminta ijin untuk menemui penabrak itu.
"Jadi, anda yang menabrak istri saya?" Tanya Elvan saat berhadapan dengan penabrak istrinya.
"Saya minta maaf sekali pak, waktu itu saya sedang mabuk, saya tidak sadar, maafkan saya pak." Kata Penabrak itu.
Sebenarnya Elvan tak mempercayai begitu saja, tapi ia tak ingin istrinya kembali bersedih, apalagi bukti yang didapatkan pihak kepolisian memang menyatakan jika pria itu tengah mabuk saat menabrak Marisa, jadi ia memutuskan untuk memendam rasa curiganya.
Setelah pemeriksaan selesai, Elvan mengantar Marisa kembali ke kantor.
Elvan menjadi gemas lalu mengacak rambut Marisa. "Hari minggu besok ya sayang. Oke?" Elvan mencubit pipi Marisa.
"Mas, kalau kita bisa membantu banyak orang, tapi kita tidak menyukai pekerjaan itu gimana Mas?" Tanya Marisa kepada Elvan yang masih fokus menyetir.
"Sayang, kenapa? Kamu tidak suka apa?" Tanya Elvan.
"Bukan aku mas, tapi Mas Elvan." Kata Marisa sedikit ragu.
"Ada apa sayang, Mas kenapa memangnya. apa ada masalah?" Tanya Elvan.
"Perusahaan sekarang sedang memburuk mas. Apa mas tidak mau membantu Kak Al dan Papa?"
Elvan terdiam, harusnya Marisa tahu Elvan tidak akan pernah mau.
"Nasib ribuan karyawan sekarang ada di tangan Kak Al dan Papa, kalau mereka bisa menstabilkan keuangan sekaligus menaikkan harga saham, tentu karyawan juga terselamatkan." Marisa menunduk.
Elvan memperhatikan istrinya yang terlihat sedih. Ia jadi tak tega melihatnya. "Akan mas diskusikan dulu sama papa dan Kakek ya." Ia lalu mengelus rambut istrinya.
Marisa tersenyum bahagia, mendengar keputusan suaminya.
***
Elvan telah mengantar Marisa sampai ke kantor, lalu ia mengemudikan mobilnya menuju rumah besar sang kakek.
Mobil putih itu memasuki gerbang utama yang sangat tinggi, ada dua orang yang berjaga disana. Namun, karena mereka sudah mengenal Elvan, mereka pun membiarkan Elvan masuk.
Setelah melewati gerbang utama, mobil pun melintasi halaman depan yang sangat luas, ada beberapa pohon yang berjajar disepanjang jalan masuk menuju rumah utama. Ditengah tengah halaman itu ada air mancur yang menghiasi halaman depan rumah mewah itu.
Elvan berhenti di depan pintu masuk rumah utama. Lalu ia berjalan masuk mencari kakeknya. Sudah ia tebak jika kakeknya ada di kolam ikan belakang rumah. Kakeknya itu memang hobi memelihara ikan hias yang membuatnya betah berlama-lama di rumah mewahnya.
"Assalamu'alaikum kek." Elvan menghampiri kakeknya lalu mencium punggung tangan yang telah keriput itu.
"Waalaikumsalam, tumben kamu kesini? Apa karena kecelakaan istrimu?" Tanya Kakek Darma yang tengah memberi makan ikan koinya.
"Jadi kakek tau, kecelakaan itu disengaja kan?" Tanya Elvan.
"Apa kamu juga sudah mendengar kabar tentang direktur keuangan perusahaan?" Kakek Darma kini menatap cucunya itu, ia seperti melihat kembali masa muda Erwin putranya.
"Kek, lindungi istriku dari Mama, aku akan membantu mengatasi masalah diperusahaan." Kata Elvan.
"Hmmm baiklah, kamu tenang saja, setelah ini Mama tirimu itu tidak akan berani mengganggumu lagi." Kakek Darma tersenyum penuh kemenangan.
"Tapi aku ada permintaan. Aku mau Marisa bekerja denganku." Kata Elvan.
"Diskusikan masalah itu bersama Alvero. Kakek tidak mau ikut campur masalah percintaan kalian"
"Baiklah, hari senin aku akan datang ke kantor, aku harus mengurus pembangunan bengkelku yang baru. Aku pergi. Assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam"
Elvan lalu berpamitan dengan kakeknya.
Saat berjalan melewati pintu utama, ia melihat mama tirinya baru turun dari mobil. Dan mereka pun saling berhadapan di depan pintu rumah utama.
"Bagaimana keadaan bayimu?" Bu Anita tersenyum sinis.
"Aku tau semua ini perbuatan Mama, tapi perlu Mama tau aku bukan pendendam yang akan membalas semua kejahatan Mama." Elvan menatap wanita setengah baya itu.
"Baguslah, yang harus kamu ingat adalah, jangan pernah membuat manusia yang akan menjadi benalu sepertimu. Pernikahanmu itu kesalahanmu Elvan, aku tidak akan pernah membiarkan kamu merebut apa yang harusnya dimiliki Alvero putraku."
"Aku kasihan dengan Kak Al yang harus dilahirkan dari wanita pembunuh seperti Mama." Elvan lalu berjalan meninggalkan Bu Anita.
"Dasar anak sialan. Lihat saja, aku tidak akan membiarkan kamu memiliki keturunan." Umpatnya kesal.
To be Continued