
Marisa dan si kembar kini telah sampai di sebuah mall bersama Sheryl. Setelah dari sekolah, Marisa langsung mengajak Zayn dan Zea ke rumah Sheryl, sehingga mereka pun berganti pakaian di rumah Sheryl.
Setelah menemukan kostum yang pas sesuai dengan keinginan Zayn dan Zea, mereka pun memutuskan untuk istirahat sejenak di sebuah cafe yang ada di mall tersebut. Marisa memang sudah janjian dengan Ratna untuk bertemu disana.
Zea dan Sheryl pergi ke toilet, sementara Zayn menemani Marisa yang masih menunggu kedatangan Ratna.
"Risa….," sapa wanita yang ditunggu-tunggu Marisa.
"Ratna…." Marisa memeluk sahabat dekatnya itu. "Wah! Kamu bawa rombongan ya, Na?" tanya Marisa saat melihat Ratna datang bersama seorang baby sitter yang menggendong bayinya, sedangkan anak pertamanya, digandeng oleh seorang wanita paruh baya, yang merupakan asisten rumah tangganya.
"Ya, tau sendiri lah anak dua mana bisa kalau nggak rombongan." Ratna mengurai pelukan Marisa.
"Assalamu'alaikum Onty Na." Zayn menyapa Ratna, kemudian mencium tangannya. Zayn juga melakukan hal yang sama dengan baby sitter dan juga ART Ratna.
"Waalaikumsalam Sayang, kamu pinter banget Zayn." Ratna mengusap rambut Zayn dengan lembut.
"Aku juga udah punya dua loh." Marisa tersenyum, lalu mempersilakan Ratna dan rombongannya untuk duduk. Untung saja, ia memesan meja yang lebih luas, jadi mereka bisa duduk bersama dalam satu meja.
Marisa memanggil pelayan lalu memesankan makanan dan minuman untuk semua orang.
"Kamu tuh istri sultan loh, kok bisa ngerjain semua sendiri sih?" tanya Ratna yang kini duduk berdampingan dengan Marisa.
"Mereka sudah besar Na, lagian aku tuh nggak ngapa-ngapain di rumah kalau mereka sekolah, jadi masih bisa lah ngatasin semua sendiri," kata Marisa.
"Aku kagum sama kamu dan Kak Elvan yang sederhana, padahal buat bayar sepuluh ART pun aku yakin Kak Elvan sanggup." Ratna menatap kagum kepada Marisa.
Marisa hanya menanggapi dengan senyum, sejujurnya ia sangat bahagia bisa melayani anak dan suaminya tanpa bantuan siapapun. Walau Elvan pernah mengusulkan untuk mempekerjakan bik Rini yang dulu membersihkan rumah, namun Marisa menolak dan hanya memanggil bik Rini jika memang ia benar-benar kelelahan atau butuh teman ngobrol di rumah.
"Mama, gendongin adik bayinya dong, Zayn pengen lihat," pinta Zayn.
"Zayn, bilang sama Mama, 'minta adik Ma' gitu Zayn." Ratna mulai memprovokasi Zayn.
Marisa segera meraih bayi tampan itu dari gendongan pengasuhnya, lalu menggendong ke dalam dekapannya. Marisa begitu piawai menggendong bayi berusia enam bulan itu, hingga membuat si bayi tenang dan tak rewel.
Zayn pun ikut berdiri dan menarik-narik kaki bayi itu. Zayn begitu gemas dengan bayi montok itu. Hingga suara lengkingan gadis terdengar dari kejauhan.
"Mama…." Gadis kecil yang baru keluar dari toilet itu berlari menghampiri mamanya, di belakangnya ada seorang wanita berhijab yang juga baru keluar dari toilet.
"Zea, babynya gemesin ya," kata Zayn saat saudara kembarnya telah mendekat.
"Iya Zayn, gimana kalau kita pinjam satu hari aja babynya?" Zea memasang wajah serius saat mengatakannya.
"Tidak…." Seorang anak perempuan yang sedari tadi sibuk dengan botol susunya langsung menolak rencana dua balita kembar itu. "Adik aku punya aku, kalau mau adik beli sendiri," serunya terdengar begitu galak.
Semua yang ada di meja itu langsung tertawa mendengar kata-kata tegas dari anak pertama Ratna itu. Bahkan Sheryl yang baru saja duduk juga ikut tertawa.
Mereka pun melanjutkan obrolan dan basa basi perkenalan antara Ratna dan Sheryl, diselingi dengan celotehan Zea dan anak perempuan Ratna yang bernama Tania.
Hingga tak terasa sore pun telah datang, dan mereka pun memutuskan untuk berpisah. Marisa bersama kedua anaknya pergi menemui Event Organiser yang akan mengurusi acara ulang tahun Zayn dan Zea. Sedangkan Ratna dan Sheryl pulang ke rumah mereka.
Elvan tengah berada di perusahaan GC Grup, ia sedang berdiskusi dengan pengacara yang dikirim oleh pak Danu. Elvan yang didampingi Kevin, kakek Darma, juga pengacara perusahaan, kini menandatangani penyerahan saham kepada pak Danu, atas ganti rugi pembatalan pertunangan.
"Jadi dengan ini hubungan pertunangan Pak Elvan dan Nona Sylvia sudah berakhir, dan mengenai kerugian perusahaan atas pembatalan kerjasama akan ditanggung oleh kedua perusahaan sesuai isi perjanjian." Pengacara pak Danu menjabat tangan Elvan dan semua orang yang hadir di ruangan tersebut.
"Tidaaak…." Sylvia tiba-tiba masuk ke ruangan Elvan, diikuti oleh Sasha sekretaris Elvan. Nafas Sylvia yang terengah-engah terdengar dengan jelas, pasti wanita muda itu telah berlari sebelum sampai di ruangan Elvan.
"Maaf Pak, saya sudah berusaha mencegah, tapi Nona Sylvia tetap memaksa masuk." Sasha menunduk hormat, merasa bersalah karena membiarkan wanita yang juga dekat dengannya itu menerobos masuk.
"Tidak apa, kembalilah," perintah kakek Darma.
Sylvia langsung duduk bergabung dengan para laki-laki di ruangan itu. Ia begitu marah dan tak terima jika hubungannya dengan Elvan harus berakhir.
"Aku tidak menyetujui keputusan kalian, kenapa semua orang seenaknya sendiri denganku. Kak, aku bahkan rela menjadi istri keduamu, dan kalian tetap bisa melanjutkan kerja sama kalian. Ayah sudah seenaknya mengatur hidupku, dan saat aku telah nyaman dengan Kakak kenapa aku harus tersingkirkan lagi, katakan salahku apa?" tanya Sylvia yang begitu berapi-api, wajahnya sudah basah dengan air mata.
"Nona, jangan permalukan diri Anda!" Pengacara pak Danu mengingatkan Sylvia untuk mengendalikan emosinya.
"Aku tidak peduli. Kalian seenaknya sendiri menghancurkan hidupku, menghancurkan hati dan perasaanku, hiks….hiks…." Sylvia berkali-kali mengusap air matanya yang meleleh, hatinya begitu terluka. Ia memang hanya korban keegoisan orang tuanya.
"Sylvia, kamu yang aku kenal itu wanita cerdas, wanita berkelas, wanita yang baik, tapi kenapa demi aku kamu berubah?" tanya Elvan yang begitu kecewa dengan sikap Sylvia. "Jangan merusak hidupmu demi aku Syl, apalagi sampai rela menjadi istri kedua, demi Allah aku tidak akan pernah melakukannya."
Sylvia semakin tersayat mendengar kata-kata Elvan, apa yang salah dengan cintanya? Bahkan tak ada satupun yang memahami perasaannya.
"Sylvia, Kakek yakin, kamu pasti akan mendapatkan laki-laki yang terbaik. Terimalah kenyataan ini dengan lapang dada." Kakek Darma menasehati Sylvia, wanita yang dulu begitu diidamkan menjadi menantunya.
"Kakek, bahkan Kakek juga tidak mengerti, aku sangat mencintai Kak El Kek, tolong dukung aku Kek! Bukankah dulu Kakek dan Papi yang selalu memintaku terus berusaha mendekati Kak El, kenapa malah aku yang tersakiti sekarang?" Sylvia begitu histeris.
Saat Sylvia terus menangis dan berteriak, tiba-tiba darah segar keluar dari hidungnya. Mengalir bersamaan dengan air mata yang terus meleleh dari matanya.
"Sylvia, kenapa hidungmu?" tanya Elvan yang menjadi khawatir saat melihat darah segar itu keluar dari hidung Sylvia.
Pengacara pak Danu yang duduk di samping Sylvia langsung panik dan mencoba menenangkan putri dari kliennya itu.
Sylvia menepis tangan pak Danu yang juga cemas.
"Jangan pedulikan itu, pedulikan perasaanku Kak, pedulikan hatiku yang begitu sakit." Sylvia semakin histeris, dan darah pun semakin mengalir deras dari hidungnya. Hingga tak lama Sylvia pun pingsan.
Bersambung….
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🤭🤭
Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🤭🤭
Terima kasih banyak readers masih setia terus 🤗🤗🤗🤗
Mau kenal Othor?
Boleh kepoin ig othor di: ittaharuka