
...🌼Happy Reading🌼...
Suasana ruangan itu mendadak tegang saat seorang wanita masuk ke dalam ruangan Alvero. Wanita dewasa seusia Alvero dan Elvan terlihat anggun dengan dress merah maron yang sangat kontras dengan kulitnya yang putih bersih.
"Kamu?" Alvero terkejut mengenali sosok cantik dengan kaca mata hitam yang sangat tidak cocok di pakai di ruangan tertutup itu.
"Iya ini aku, Apa kabar kamu Al?" Tanya gadis itu, rambutnya yang panjang terurai indah, paduan warna hitam dan pirang membuatnya begitu cantik dimata siapapun yang memandangnya.
"Hai Elvan, My First Love Apa kabar?" Sapanya pada Elvan. Sementara wanita disebelah Elvan nampak tak suka dengan sapaan itu.
My First Love? Apa dia mantan Mas Elvan? Bukankah Mas Elvan pernah bilang dia tidak pernah pacaran. Batin Marisa yang mulai terbakar api cemburu.
"Hai Reyna, apa kabar?" Elvan menjabat tangan Reyna.
"Baik El, kamu tambah ganteng aja ya." Wanita bernama Reyna itu terang-terangan memuji ketampanan Elvan di depan semua orang.
"Hahaha, bisa aja kamu." Elvan tertawa renyah, dan itu sukses membuat sang istri semakin cemburu.
Reyna terlihat cekikikan sambil menutup mulutnya dengan jari-jari tangannya yang lentik. Lalu ia duduk dengan anggun di sofa. Jadi posisinya Reyna ada diujung sofa, berhadapan dengan Pak Erwin yang juga duduk di ujung, sementara Elvan dan Marisa duduk berdampingan berhadapan dengan Alvero dan Kevin.
"Om, apa kabar?" Sapa Reyna kepada Pak Erwin.
"Baik, kamu putrinya Pak Aditya Wijaya bukan?" Pak Erwin menyalami wanita bertubuh jenjang itu. Menampilkan senyumnya yang sama menawannya dengan Elvan.
"Iya Om, Papa bilang aku boleh kerja disini sambil bantu naikin harga saham perusahaan om." Senyuman gadis itu merekah.
Marisa dan Kevin hanya diam tak ingin ikut campur. Kevin sendiri tahu wanita bernama Reyna itu dulu sangat tergila-gila dengan Elvan, padahal Alvero sangat menyukai gadis periang itu.
"Maksud kamu, kamu datang kesini karena tahu Elvan akan mengelola keuangan disini, jadi kamu kejar dia kesini? Jangan mimpi, lihatlah wanita cantik disebelah Elvan itu adalah istrinya." Kata Alvero yang terlihat kesal dengan Reyna.
Alvero salah mengartikan maksud kedatangan Reyna, dan kata-kata Alvero itu semakin membuat gemuruh dihati Marisa.
"Em, papa baru ingat papa ada meeting, papa keluar dulu ya." Pak Erwin lalu meninggalkan ruangan.
"Elvan, aku sama istri kamu lebih cantik mana?" Tanya Reyna semakin memprovokasi Alvero untuk lebih marah.
"Em,, jelas cantik istriku lah." Elvan memandang wajah istrinya, ia tersenyum namun Marisa justru terlihat kesal.
"Hmmmm sepertinya gue juga pergi dulu deh." Kevin berdiri hendak meninggalkan ruangan.
"Pak Kevin, saya juga ikut." Kata Marisa juga berdiri.
"Sayang kamu mau kemana?" Tanya Elvan yang mencekal pergelangan tangan istrinya.
"Aku kerja Mas masih banyak kerjaan aku, permisi." Marisa melepaskan tangan Elvan dari tangannya, lalu keluar dari ruangan Alvero menyusul Kevin yang telah keluar lebih dulu.
"Bisa aku tebak, kamu suka sama istri adik kamu sendiri kan?" Reyna menatap Alvero, senyumnya terukir seolah mengejek Alvero yang lagi-lagi kalah dari adiknya.
"Reyn, kamu kesini mau kerja sama kak Al?" Tanya Elvan mencoba mengalihkan pembicaraan dan berhasil.
"Iya, aku dengar disini butuh sekretaris kan, ya sudah aku kesini aja. Elvan kamu tau nggak, papaku punya 10 persen saham disini loh, aku rasa aku sama kuatnya kayak kamu dan Alvero, Iya kan Al?" Reyna menatap wajah Alvero yang sedari tadi terlihat kesal.
Alvero tak menggubris, wanita yang dulu ia cintai itu malah mengejar-ngejar adiknya setelah mengatakan bahwa Elvan jauh lebih sempurna darinya. Reyna bilang jika menikahi Elvan dia pasti akan menjadi wanita paling beruntung memiliki suami seramah, sebaik dan segagah Elvan. Kata-kata itu ternyata cukup menciptakan luka dihati Alvero dan seketika itu merubah rasa cintanya menjadi rasa benci.
"Jadi gimana kak? Apa Reyna bisa menjadi sekretaris kakak agar Marisa menjadi sekretarisku?"Tanya Elvan.
"EL, cari sekretaris itu nggak segampang itu, butuh waktu lah El, apalagi orang yang tidak berpengalaman seperti dia." Alvero menunjuk Reyna dengan dagunya.
"Hey, apa sih tugas sekretaris, palingan juga bikinin kamu kopi, ngatur jadwal kamu, apalagi kamu punya Kevin, pasti nggak semua dikerjain sekretaris kamu kan." Reyna sewot. "Gini-gini aku ini direktur keuangan loh di perusahaan Papaku. Jadi aku pasti bisa lah jadi sekretaris kamu." Reyna mengibaskan rambutnya.
"Ya sudah kalau kamu maksa, kamu aku terima, tapi selama Kevin mengajari Elvan, kamu lakukan juga tugas Kevin disini. Dalam seminggu kamu harus bisa belajar dengan Marisa." Kata Alvero pada akhirnya.
***
Waktu berjalan begitu cepat, Marisa sudah menjadi sekretaris Elvan di kantor, dan membuat hubungan keduanya semakin intens, dua puluh empat jam bertemu setiap hari namun baik Elvan maupun Marisa sama sekali tak merasa bosan. Mereka berangkat dan pulang kantor bersama
Berbeda dengan Elvan dan Marisa, pasangan bos dan sekretarisnya yaitu Alvero dan Reyna justru bertengkar hampir setiap jam, ada saja yang mereka ributkan. Alvero selalu saja membuat Reyna melakukan hal yang sebetulnya bukan menjadi tugasnya di kantor, seperti mengelap meja, mengepel lantai yang sengaja ditumpahi air oleh Alvero membuat Reyna menjadi kesal setiap harinya.
Namun, Kakek Darma yang mencoba memanfaatkan situasi malah membuat rencana untuk menjodohkan keduanya, demi kepentingan bisnis mereka saja. Reyna berpura-pura menolak rencana pertunangan ini, karena ia sendiri berencana membuat Alvero yang kini membencinya untuk bisa mencintainya.
"Nanti setelah makan siang kita ke butik." Kata Reyna setelah masuk ke ruangan Alvero.
"Kamu aja, aku ogah." Alvero menjawab dengan malas, ia masih fokus dengan grafik pendapatan perusahaan.
"Yang mau tunangan itu aku sama kamu, bukan aku aja." Reyna duduk di depan Alvero yang masih fokus dengan laptopnya.
"Bodo amat. Bikin kopi sana, gulanya setengah sendok aja, jangan kemanisan." Kata Alvero.
"Dih,, aku tu ngomongin pertunangan sama kamu ya. Bikin kopi bisa nanti, pertunangan kita itu seminggu lagi tau nggak?" Reyna tak beranjak dari duduknya.
"Sana siapin aja sama mama ribet amat. Aku pusing, cepet bikinin kopi."
Reyna pun beranjak meninggalkan Alvero dengan hatinya yang dongkol. Alvero benar-benar menyebalkan, kalau saja ia tak menyukai laki-laki itu, pasti dia tidak akan mau dijodohkan dengan Alvero.
****
Malam pertunangan pun tiba, Alvero dan Reyna telah resmi terikat setelah mereka bertukar cincin dihadapan kedua orang tuanya. Bu Anita terlihat sangat bangga bisa memiliki calon besan yang sederajat dengannya, namun tidak dengan Pak Erwin, Beliau tahu bahwa Alvero terpaksa menerima perjodohan ini karena kakeknya. Semenjak ada berita yang disebar oleh kakeknya, Alvero tak bisa menolak pertunangan itu, jika tidak mungkin perusahaan akan terpuruk.
Kakek Darma menghampiri Marisa yang tengah ngobrol dengan Sasha.
"Apa kabar cucu menantuku?" Kakek Darma yang menyapa dari belakang Marisa membuat wanita cantik itu menoleh.
"Kakek, sehat Kek, Kakek gimana?" Marisa mencium tangan kakek Darma.
Sasha yang sadar diri segera pamit meninggalkan Marisa dan Kakek Darma.
"Ya... Kakek semakin tua, bagaimana apa kamu sudah ada tanda-tanda hamil, bukankah ini sudah enam bulan setelah kehilangan bayimu, seharusnya kalian sudah mulai program kehamilan kan?" Kakek Darma memberondong Marisa dengan banyak pertanyaan yang meski dengan nada biasa saja, namun tetap berhasil menciptakan perih di hati Marisa.
"Belum kek, Mas Elvan belum mau program kek." Marisa menundukkan kepalanya dihadapan laki-laki tua yang sangat dihormati itu.
"Yang perlu kamu tau, menjadi menantu keluarga Wiguna kamu harus bisa melahirkan cucu untuk menjadi penerus keluarga ini. Kamu tidak punya kebanggaan apapun selain dengan anak, jangan anggap remeh itu. Kamu lihat bagaimana Reyna, dia sempurna sangat sempurna malah untuk keluarga ini, kalau kamu tidak bisa menjadi seperti dia kamu harus melahirkan pewaris untuk keluarga ini." Lalu kakek Darma berjalan meninggalkan Marisa sendirian.
***
Pesta telah usai, Elvan dan Marisa kembali ke rumah mereka untuk beristirahat. Elvan memperhatikan istrinya yang sedari tadi terlihat tak bersemangat.
Setelah membersihkan diri Elvan menghampiri istrinya yang tengah bersandar di ranjangnya.
"Sayang, kamu kenapa Mas lihat dari tadi kamu kayak sedih gitu?" Elvan merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kepalanya yang berada di pangkuan Marisa.
"Mas, aku pengen cepet punya anak." Kata Marisa yang mulai membelai rambut suaminya.
"Ada apa sayang? Cerita sama Mas ya. Mas perhatiin kamu murung terus semenjak di pesta tadi." Elvan memeluk perut istrinya.
"Enggak ada apa-apa mas, aku cuma pengen punya bayi aja kok mas." Marisa masih mengelus rambut Elvan yang kini membenamkan wajahnya di perut Marisa.
"Ya sudah, Mas berhenti pakek pengamannya ya, sepertinya tempat babynya juga sudah siap." Elvan memandang istrinya dari bawah, memperlihatkan jakun besar di leher jenjangnya yang mempesona di mata kaum hawa.
Marisa mengangguk sembari tersenyum, berharap setelah ini mereka akan segera hamil lagi.
"Sholat Isya' dulu yuk, baru kita proses." Kata Elvan lalu bangkit dari posisi tidurnya dan menggandeng tangan istrinya untuk mengambil wudhu.