My Amazing Husband

My Amazing Husband
Ancaman


Ruang VVIP itu kembali menegang, Pak Erwin mulai curiga dengan sikap ayahnya. Dulu saat ayahnya tahu pernikahan keduanya dengan ibu kandung Elvan yang sangat Pak Erwin cintai, Ayahnya itu mulai menghancurkan kebahagiaannya. Kakek Darma membuat wanita yang dinikahi secara diam-diam itu harus menderita karena ulahnya.


Pak Erwin selalu berontak, tapi Kakek Darma tetap tidak peduli. Kakek Darma mulai menghasutnya hingga wanita yang telah melahirkan putra untuk keluarganya itu mulai menjauhi Pak Erwin.


"Untuk apa papa melakukannya, dia pasti pergi karena Elvan tak lagi mengingatnya." Kata Kakek Darma menyangkal perbuatannya, lalu keluar dari ruangan itu.


"Maaf bisa berhenti bertengkar, kepalaku sakit." Kata Elvan yang masih bingung dengan keadaan di sekelilingnya.


"El, kamu harus segera ingat semua El. Aku papamu, Papa akan bantu kamu semampu Papa." Kata Pak Erwin.


Elvan mengangguk pelan. Entah ia bisa mengingat atau tidak, tapi setiap kali ia mencoba ia pasti kesakitan.


🌱🌱🌱


Seminggu setelah meninggalkan Elvan dan keluarganya, Marisa mulai menata hidupnya. Ia tahu ada kehidupan lain yang harus ia perjuangkan. Seminggu ini Marisa melanjutkan lagi belajar membuat kue dengan Bu Dina yang dulu sering mereka lakukan. Marisa berharap suatu hari nanti ia bisa membuka usahanya sendiri.


"Risa, ada berita buruk nduk." Kata Bu Dina yang telihat buru-buru masuk ke dapur menghampiri Marisa yang membuat kue.


"Ada apa Bude?" Marisa yang baru selesai memasukkan loyang berisi kue ke dalam oven pun menjadi khawatir.


"Kambing ayah kamu diracun orang, dan semuanya mati Ris." Kata Bu Dina.


"Apa?" Marisa terkejut, alisnya mulai berkerut, dan mulutnya terbuka lebar yang seketika langsung ia tutup dengan telapak tanganya. "Siapa yang melakukannya Bude?" Marisa mulai cemas, ia takut jika terjadi sesuatu dengan ayahnya.


"Bude juga tidak tahu, barusan ayah kamu telepon Bude dan mengabari itu." Kata Bu Dina.


"Ayah bagaimana Bude?" Marisa takut dan khawatir dengan ayahnya.


"Ayah kamu baik-baik saja, hanya kambingnya saja yang tak tersisa."


prang..


Sebuah batu terlempar hingga memecahkan kaca rumah Bu Dina. Marisa dan Bu Dina segera memeriksa kaca bagian depan rumah itu.


Pecahan kaca berserakan, dan ada sebuah kertas yang membungkus batu yang sepertinya sengaja dilempar itu. Marisa membuka kertas itu dan membaca isinya.


'PERGI ATAU KU HABISI SEMUA KELUARGAMU. ANAK LAKI-LAKI BU DINA, LALU BU DINA, LALU AYAHMU, DAN BERIKUTNYA KAMU. SEPERTI AKU MENGHABISI PELIHARAAN AYAHMU. INI PERINGATAN TERAKHIR, PERGILAH SEJAUH MUNGKIN SAMPAI TIDAK ADA LAGI YANG MENGENALIMU!!'


"Bude, sepertinya aku tau siapa yang melakukan ini." Kata Marisa mer*m*s kertas berisi ancaman itu.


"Siapa Ris?" Bu Dina ikut khawatir. Lalu mengambil kertas yang di re**s Risa itu dan membacanya.


Bu Dina terlihat syock, dan tak percaya. "Risa, apa kamu akan pergi Nak?" Tanya Bu Dina yang sangat pucat, takut dengan ancaman itu.


"Bude, demi anakku dan demi kalian semua, aku harus pergi Bude. Sebelum mereka tau aku hamil dan mengambil paksa anakku nanti." Marisa sangat cemas, yang dipikirkannya hanya keselamatan anaknya dan keluarganya. Ia tak lagi memikirkan keadaan Elvan yang entah ingatannya sudah kembali atau belum.


Bu Dina memeluk erat keponakannya itu, Beliau sesungguhnya tak tega, namun Bu Dina tetap menghargai keputusan Marisa.


Marisa pun bergegas mengemasi barang-barangnya. Sekarang ia harus meninggalkan ibu kota secepatnya. Entah kemana ia harus pergi yang pasti ia harus menjauh dari semua yang ia kenal.


Marisa keluar dengan kopernya, Bu Dina menangis melihat nasib Marisa yang begitu menyedihkan. Baru beberapa bulan berumah tangga dan sekarang harus mengalami nasib buruk seperti ini.


"Nduk, ini handpone kamu bawa, biar kamu bisa hubungi Bude, ini punya Bude yang lama nggak kepakek." Bu Dina menyerahkan ponsel model lama yang sekarang sangat jarang digunakan, namun masih berfungsi untuk panggilan dan juga SMS.


"Terimakasih Bude, mungkin aku nggak akan setiap hari ngabarin Bude, tapi aku akan usahakan untuk kabarin Bude tiap bulan." Marisa menerima ponsel pemberian Bu Dina, karena semenjak kecelakaan itu, Marisa belum membeli ponsel, bahkan tanda pengenalnya pun ia belum mengurusnya lagi. Ia harus berhemat untuk hidupnya sekarang.


"Kamu akan kemana Ris, kamu kan nggak ada KTP?" Bu Dina khawatir.


"Aku mungkin akan naik bis kemanapun Bude, yang pasti tidak memerlukan KTP." Kata Marisa. Mereka berpelukan, dan Marisa pun kembali menangis harus berpisah dengan orang-orang yang disayanginya.


"Kamu jaga diri baik-baik ya, ini Bude ada uang buat pegangan kamu disana." Bu Dina menyerahkan uang kepada Marisa.


"Tidak usah Bude, uang Risa masih cukup kok." Marisa menolak karena tak ingin menyusahkan Bu Dina.


"Bude kasih buat anak kamu Ris, terima ya." Bu Dina memaksa.


Akhirnya Marisapun terpaksa menerimanya.


"Terimakasih Bude, tolong jangan cerita ke siapapun termasuk Ayah dan Mas Dito ya." Kata Marisa.


Dito adalah anak satu-satunya Bu Dina, Dito adalah seorang guru yang baru beberapa bulan ini dipindah tugaskan ke luar kota.


"Iya, Insya Allah. Kamu hati-hati ya, jangan lupa sering kasih kabar Bude." Pesan Bu Dina.


"Iya Bude, aku pamit." Marisa mencium tangan Bu Dina dan segera menuju terminal dengan ojek online yang dipesan Bu Dina.


Perjalanan panjang telah ditempuh Marisa, hampir 20 jam lamanya akhirnya ia sampai dihari berikutnya. Ia sesekali masih menangis mengingat Elvan. Ia kini harus melupakan suaminya. Namun Marisa bersyukur bayi yang dikandungnya cukup kuat, ia tak mengalami keluhan berarti selama perjalanan jauh itu.


Marisa turun dari bus lalu menyeret kopernya. Entah kemana tujuannya sekarang, ia bingung. Ia memutuskan untuk berhenti di depan mushola terminal sembari berfikir kemana ia akan pergi lagi.


Kota ini memang terbilang kota kecil, tidak seramai ibu kota yang biasa ia jumpai. Marisa duduk di trotoar depan mushola memeluk kedua kakinya, ia menundukkan kepalanya lalu memejamkan mata sembari berfikir, apa yang akan ia lakukan setelah ini. Kemana ia akan tinggal? Marisa terus memikirkannya.


"Risa." Suara laki-laki yang tengah berdiri didepannya.


Marisa yang mendengar namanya dipanggil pun mengangkat kepalanya. Dan, ia pun terkejut dengan apa yang ia lihat, dia, kenapa dia disini? bagaimana bisa?


"Kamu" Marisa terkejut dengan laki-laki yang masih berdiri didepannya.


"Iya, aku. Kamu tu ngapain disini? Ngikutin aku terus?" Kata laki-laki itu terkekeh.


Marisa ingat ia pernah tidak sengaja bertemu dengannya dalam keadaan berbeda.


"Pede kamu." Kata Marisa yang tersenyum tipis. Ia bersyukur setidaknya ia tidak sendirian lagi di temlat asing itu.


🌱🌱🌱


Elvan sudah diijinkan pulang walau butuh perawatan ekstra, Kakek Darma memutuskan untuk menyewa seorang perawat yang akan menjaga Elvan di rumah besarnya.


Elvan tengah duduk di kursi roda menyaksikan ikan ikan yang berenang di kolam ikan milik kakek Darma.


Pak Erwin tidak masuk kantor hari itu, meski Beliau sudah mengetahui fakta tentang Alvero, tapi kasih sayangnya membuatnya tak memberi tahu Alvero fakta itu. Biarlah ibunya sendiri yang memberitahunya.


"Sendirian El?" Tanya Pak Erwin yang datang menghampiri putra kandungnya itu.


"Iya Pa, susternya lagi siapin obat. Papa nggak kerja?" Tanya Elvan.


"Enggak El Papa pengen di rumah ngobrol sama kamu." Pak Erwin duduk di kursi dekat kolam ikan.


"Apa dulu kita sering ngobrol Pa?" Tanya Elvan yang ingatannya masih belum kembali.


"Kamu belum mengingat apapun?" Pak Erwin balik bertanya.


"Hanya sedikit Pa, aku ingat waktu aku sama Papa ke pantai dan Papa ngajak aku naik ATV, aku juga ingat waktu aku kecil masih sekolah sama Kak Al." Jawab Elvan.


"Kalau pas kamu dewasa?" Pak Erwin bertanya lagi.


"Aku nggak ingat Pa, aku ingat sebagian aja itupun setelah lihat foto-foto lama dan tiba-tiba muncul di ingatan aku."


"Kalau ini kamu ingat?" Pak Erwin menunjukkan foto ketika Elvan akan menikah, foto Elvan sendiri memakai jas dan juga peci, serta dikalungi rangkaian bunga-bunga.


"Apa aku sudah menikah?" Elvan bisa menebak dalam foto itu ia sedang berada dalam acara pernikahannya sendiri.


Pak Erwin sengaja tak memberitahu foto Marisa karena dokter bilang, Elvan harus pelan-pelan mengingatnya dan tidak bisa langsung dipaksa atau malah akan memperparah keadaannya.


"Iya, kamu sudah menikah dan Papa masih berusaha mencari istri kamu, karena dirumah ayahnya juga tidak ada, entah dimana Marisa sekarang." Pak Erwin terlihat khawatir. Marisa tak memberi kabar apapun dan pergi begitu saja.


"Kenapa dia meninggalkan aku Pa, apa benar kata Kakek kalau dia mencintai laki-laki lain, dan meninggalkanku karena keadaanku ini." Elvan kecewa.


"Papa tidak tahu alasan apa yang membuat dia pergi, tapi Papa yakin dia punya alasan yang benar." Pak Erwin menenangkan Elvan dari pikiran buruknya.


"Dia sudah pergi jauh bersama laki-laki lain." Kata Kakek Darma yang tiba-tiba muncul dari dalam rumah.


"Yah, udah jangan memprovokasi Elvan, biarkan dia ingat dengan istrinya." Kata Pak Erwin.


"Kalau tidak percaya lihat ini." Kakek Darma menunjukkan foto Marisa di ponselnya yang tengah duduk di trotoar sedang memandang pria yang tak terlihat wajahnya. Marisa dalam foto itu terlihat sedang tersenyum ke arah laki-laki itu.


Elvan ingat, wanita dalam foto itu adalah wanita yang sama yang memeluknya saat ia tersadar.


"Tidak, tidak mungkin Marisa seperti itu." Kata Pak Erwin.


"Tapi Pa, mereka sepertinya cukup akrab." Kata Elvan yang memang melihat senyum Marisa. Tidak mungkin Marisa tidak mengenal laki-laki itu.


"Sudahlah tidak usah membelanya, Elvan kamu harus segera sembuh, tunjukan pada wanita itu bahwa kamu tidak pantas untuk wanita penghianat seperti dia. Semangatlah belajar jalan." Kata Kakek Darma.


Elvan memang masih belum bisa jalan karena kakinya yang cedera cukup parah. Ia harus duduk di kursi roda untuk sementara.


Elvan mengepalkan tangannya, ia memandang jauh entah kemana. Hatinya terasa sakit saat melihat foto Marisa yang tengah tersenyum untuk laki-laki lain. Walaupun ia tidak bisa mengingat apapun tentang Marisa.


bersambung....