My Amazing Husband

My Amazing Husband
Siapa Wanita Itu?


Orang bilang rejeki itu tidak selalu berupa uang dan materi, teman yang baik, keluarga yang hangat, badan sehat, anak-anak yang cerdas juga merupakan rejeki yang harus selalu disyukuri. Karena Tuhan dengan begitu baiknya telah memberikan segala yang kita butuhkan.


Itulah yang saat ini dirasakan Marisa, hidupnya dikelilingi oleh orang-orang baik yang selalu membantunya dalam setiap kesusahan. Memiliki Kakak ipar sekaligus atasan seperti Alvero memang salah satu berkah dalam hidupnya.


Alvero itu bos yang baik, dulu awal Marisa bekerja sebagai sekretarisnya Alvero selalu memperbaiki cara kerja Marisa yang belum banyak pengalaman, dengan telaten ia membantu Marisa hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu karyawan terbaik di GC grup kala itu. Meski Alvero sebenarnya mencintai Marisa sejak awal, namun wanita itu malah menikahi adik tiri bosnya itu.


Saat itu hampir jam makan siang saat Reyna yang berniat mengajak Alvero untuk berbelanja baju bayi justru membeberkan fakta bahwa pasangan suami istri itulah yang berperan penting dalam menyatukan hubungan Marisa dan Elvan.


Reyna yang merasa telah berhasil menyatukan Marisa dan Elvan pun meminta Alvero untuk melepas Marisa agar istri Elvan itu bisa fokus mengurus suami dan anak kembarnya.


"Ya, tapi kamu nggak bisa main pecat dia aja dong, siapa tau dia beneran pengen lanjut kerja." Kata Alvero yang tak ingin istrinya bersikap egois.


"Jadi kamu sendiri maunya gimana Marisa?" Tanya Reyna.


"Emmmm saya... Saya terserah Mas Elvan aja Kak." Marisa menunduk lalu mengambil berkas yang telah ditanda tangani Alvero dan segera berpamitan keluar dari ruangan Alvero.


Di dalam ruangan itu tersisa sepasang suami istri yang sebentar lagi akan dikarunia anak pertamanya itu.


"Sayang, jadi aku harus gimana?" Alvero bimbang, baru saja ia mendapat kabar dari Kevin bahwa Elvan telah diusir dari perusahaan oleh Kakeknya sendiri, ia tak tega jika harus memberhentikan Marisa juga.


"Coba kamu telfon Elvan deh Sayang, dia kan suaminya Marisa, biarkan dia yang mengambil keputusan sesuai kata Marisa." Saran Reyna kepada suaminya itu.


Alvero pun berpikir sejenak, "Yaudah deh aku telfon Elvan dulu kalau gitu." Alvero pun segera menghubungi laki-laki yang masih dianggapnya sebagai adik walau kenyataannya mereka sama sekali tak memiliki hubungan darah.


"Assalamu'alaikum kak ada apa?" Terdengar suara Elvan di telepon setelah beberapa kali bunyi nada tunggu.


"Waalaikumsalam, kita makan siang di luar yuk sama Reyna dan Marisa juga. Kamu ajak si kembar juga ya biar kenal juga sama Reyna." Alvero melirik sekilas istrinya yang tersenyum.


"Emm, yaudah kakak share aja alamatnya nanti aku nyusul setelah jemput anak-anak." Kata Elvan.


Lalu tak lama sambungan telepon itu terputus.


🌱🌱🌱


Elvan menunggu di depan gedung sekolah, saat itu anak-anak TK itu belum ada yang keluar karena belum jamnya pulang. Tak seperti hari-hari biasanya saat Elvan menjemput Zayn, Elvan kini datang lebih awal karena pekerjaannya di bengkel tak sepadat pekerjaannya di perusahaan Kakeknya itu, jadi dia memiliki banyak waktu untuk menjemput anak-anaknya agar mereka tak kecewa menunggu lama.


Sepuluh menit menunggu akhirnya jam sekolah pun berakhir, Zayn dan Zea keluar sambil bergandengan tangan. Zayn yang rambutnya lurus berponi terlihat sangat tampan bersandingan dengan Zea yang tak pernah melepaskan senyumnya, bocah itu nampak sangat bahagia rupanya.


"Papa.." Teriak gadis kecil yang memakai bando bunga-bunga itu saat melihat ayahnya.


"Hai sayang, Assalamu'alaikum." Sapa Elvan pada kedua anaknya.


"Waalaikumsalam." Jawab Zayn dan Zea bergantian mencium punggung tangan kanan Elvan.


"Tumben Papa nggak telat jemputnya." Ucap Zayn yang terbiasa menunggu kedatangan Papanya bahkan sampai semua temannya pulang Zayn masih menunggu Papanya yang sibuk.


"Emmm mulai hari ini Papa nggak akan telat lagi kok jemputnya. Zayn sama Zea mau ikut Papa nggak makan siang di Mall." Kata Elvan lalu mengambil tas kedua anaknya itu.


"Aku pengen makan sama Mama Pa." Zayn pun ikutan sedih.


"Emm, Zea, lain kali aja ya makan sama Bundanya, hari ini Papa sama Mama sama Uncle dan Onty mau makan bareng, sama Zayn dan Zea. Gimana kalian mau nggak?" Tanya Elvan yang kepada dua bocah yang bersedih itu.


"Emm makannya sama Mama Pa, Zayn ikut." Kata Zayn bersemangat.


"Kalau Zea gimana?" Elvan masih menunggu jawaban gadis kecil yang nampak sedang berpikir keras itu.


"Yaudah deh Zea ikut." Gadis kecil itu akhirnya menuruti Papa dan saudara laki-lakinya.


"Oke deh, sekarang kita susulin Mama makan di Mall ya." Elvan menuntun kedua bocah itu untuk masuk mobil.


🌱🌱🌱


Suasana sebuah Restoran di pusat perbelanjaan itu nampak ramai karena di jam istirahat. Beruntung karena Marisa yang akan menemani Reyna untuk berbelanja itu sudah memesan tempat untuk makan siang mereka.


Elvan masih menggandeng tangan Zea saat mereka sampai di Mall itu, para pengunjung Mall yang datang pun banyak yang mengagumi ketampanan bapak dua anak itu, terlebih Zayn dan Zea yang begitu imut membuat tak sedikit dari orang orang itu mengucapkan kalimat pujian kepada mereka bertiga.


Zayn tak peduli dengan tatapan kagum pengunjung Mall itu. Baginya yang perlu ia lakukan sekarang adalah segera bertemu dengan Mamanya, maklumlah Zayn telah lama tak mendapat kasih sayang seorang ibu.


Sementara Zea tampak bahagia bergandengan dengan Elvan, ayahnya. Ia dulu sering bergandengan dengan Andi yang sudah seperti ayah kandungnya, tapi rasanya lain saat berjalan dengan Elvan. Gadis itu sesekali melompat kegirangan menggoyangkan rambut lurusnya yang hanya dihias bando.


"Mama..." Zayn yang baru memasuki restauran langsung berlari menghampiri Marisa yang sudah duduk di meja mereka bersama Reyna.


"Sayang, anak Mama yang ganteng kok gak salam dulu." Tegur Marisa yang ingin membiasakan anaknya untuk mempunyai adab dan sopan santun.


"Assalamu'alaikum Ma." Zayn langsung mencium tangan Mamanya dan juga Reyna.


"Waalaikumsalam sayang." Marisa langsung mengangkat Zayn dan memangku pria kecilnya itu. "Papa sama Zea mana sayang?" Tanya Marisa yang belum melihat tanda-tanda kedatangan suami dan anak perempuannya itu.


"Nggak tau Ma, kan Zayn tadi cepet-cepet jalannya karena Zayn udah tau tempat makannya disini." Jawab Zayn.


"Ris, itu bukannya Elvan." Kata Reyna menunjuk kearah pintu masuk restauran.


Marisa langsung menoleh kearah yang ditunjuk Reyna dan ia melihat Elvan yang masih menggandeng Zea nampak berbincang dengan dua orang wanita. Marisa mengenali salah seorang wanita yang bersama Elvan dan Zea itu.


"Ngapain Mas Elvan sama...."


bersambung....


Kira-kira siapa ya dia? 😊😊


Oh ya, boleh dong kasih saran enaknya Kakek Darma diapain yah biar kapok gitu 😅😅


Kasih saran kalian Ya 😅😅