My Amazing Husband

My Amazing Husband
Seluruh Saham Kalian


"Maafkan Kakek Zayn…. Maafkan Kakek Zea…." Kakek Darma mengusap lembut rambut Zea yang masih berantakan.


Gadis kecil itu lalu berdiri di hadapan Kakek Darma, mata bulatnya menyelidik penuh tanya. 


"Apa Kakek tidak bohong?" tanya Zea dengan polosnya.


"Tidak Zea sayang…. Kamu sungguh mirip Nenek Uyutmu," jawab Kakek Darma yang mengamati wajah cantik Zea.


"Apa maksud Kakek, Zea kayak nenek-nenek?" Gadis itu salah pengertian, alisnya berkerut, ia nampak tak suka dengan kakek tua itu saat menyebutnya mirip nenek.


Marisa mengurai pelukannya dari tubuh putra kecilnya. Ia tahu gadisnya itu sedang salah paham, namun, sedikit ketakutan di hatinya membuat ia hanya diam menyaksikan reaksi Zea.


"Bukan, bukan itu maksud Kakek…. Zea cantik sekali, seperti istrinya Kakek waktu masih kecil, dia mirip sekali dengan kamu." Kakek Darma tersenyum.


"Kakek Uyut pulanglah sebelum Zayn telpon papa dan bilang Kakek Uyut buat Mamaku menangis," kata Zayn serius, wajah polos dengan leher yang menampilkan urat tegang membuatnya seperti pria kecil yang begitu kejam. Sesungguhnya ia tak ingin kehilangan lagi sosok ibu yang sangat ia rindukan, dan kini berhasil ia dapatkan dari Marisa, ibu kandungnya.


"Zayn, yang sopan sama orang tua." Marisa tak suka anak lelakinya menjadi bocah kurang ajar.


"Maafkan Kakek Marisa, Kakek Tua ini terlalu egois. Tapi sekarang Kakek sadar, bahwa selama ini Kakek telah banyak melakukan kesalahan. Marisa…. Zayn…. Zea…. Kakek pulang dulu ya, biar Mama kalian tenang dulu. Assalamu'alaikum." Kakek Darma bangkit dari duduknya hendak meninggalkan rumah Elvan.


"Waalaikumsalam," jawab Zayn dan Zea bersamaan.


Kakek Darma berjalan menuju pintu utama rumah Elvan, namun, bocah kecil itu berlari menghampirinya.


"Kakek tunggu…." Gadis kecil itu meraih tangan kanan Kakek Darma.


"Ada apa Zea?" tanya Kakek Darma yang terpaksa menghentikan langkahnya.


"Kakek hati-hati ya, nanti kalau Mamaku udah nggak sedih, Kakek kesini lagi" ucap Zea sembari mencium tangan Kakek Darma.


"Kamu anak pintar, jangan berantem sama Zayn ya." Kakek Darma mengusap rambut gadis kecil yang tersenyum manis itu.


"Dah, Kakek…." Zea berdiri di pintu rumahnya, ia melambaikan tangannya saat Kakek Darma keluar dari gerbang rumah.


🌱🌱🌱


Beberapa jam setelah kedatangan Kakek Darma ke rumah Elvan, rumah itu tampak sepi. Zayn dan Zea yang biasa berlarian, bercanda dan saling tertawa itu, hanya diam tak bersuara. Mereka lebih memilih menggambar di buku yang telah diberikan Andi dan Sheryl beberapa waktu lalu.


Kedua bocah itu tidur tengkurap di karpet ruang keluarga, mereka saling melirik karena mama mereka hanya diam melamun sambil berpura-pura menonton TV.


"Zayn, Mama kenapa ya?" tanya Zea sambil berbisik di telinga Zayn.


"Mama masih sedih deh kayaknya, lihat Mama aja belum masak," jawab Zayn yang juga berbisik.


"Assalamu'alaikum." Suara berat terdengar dari ruang tamu.


"Waalaikumsalam…. Papa…." Dua bocah itu berlari menyambut kedatangan bapaknya, meninggalkan coretan pada kertas gambar yang masih tergeletak di karpet bersama krayon dan juga beberapa pensil.


Zea langsung menghadiahi Elvan dengan ciuman bertubi-tubi di area pipi dan kening. Sementara kembarannya, Zayn, terlihat biasa saja, ia berlari karena ingin segera memberitahu papanya itu tentang kejadian beberapa jam yang lalu.


"Pa, Mama lagi sedih…." Zayn tak peduli Zea masih bergelayut manja di leher papanya.


"Loh…. Kenapa memangnya?" tanya Elvan yang kini menggendong tubuh gadis kecilnya yang begitu harum, karena gadis cantik itu baru saja selesai mandi sebelum akhirnya menggambar bersama Zayn.


"Tadi Kakek Uyut ke sini Pa, pas Zayn turun, Mama udah nangis," adu Zayn pada Elvan.


"Udah, nggak papa sayang, Mama lagi capek aja mungkin." Elvan tersenyum, berharap putranya itu tak akan khawatir lagi dengan mamanya.


Elvan pun masuk, ke ruang tengah, lalu menuju ruang keluarga di mana istrinya tengah menonton televisi. Wanita cantik itu sepertinya tak menyadari kedatangan suaminya.


Elvan memilih duduk di samping Marisa, ia memangku Zea yang masih tak melepas pelukannya. Sementara Zayn masih berdiri di depan papanya, sambil melihat Marisa yang masih saja melamun.


"Sayang….," ucap Elvan dengan lembut, ia juga mengusap tangan istrinya itu.


"Baru aja, kamu kenapa sedih gitu?" Elvan kini mengusap lembut pipi istrinya, lalu meraihnya ke dalam pelukannya.


"Nggak papa kok, oh iya, Mas Elvan jadi ketemu orang tuanya Sylvia?" tanya Marisa yang mengalihkan pembicaraan.


"Iya sayang, nanti sama Papa, nggak tau akan makan malam di rumah atau enggak, jadi nanti kamu sama anak-anak nggak usah nunggu Mas makan ya." Elvan mengusap rambut lurus istrinya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya memeluk Zea yang masih bergelayut manja.


Zayn pun ikut bergabung dalam pelukan itu, tangan mungilnya memeluk pinggang Marisa.


"Sayang, apa Kakek ke sini lagi?" tanya Elvan saat Marisa mulai tenang.


"Emm…. Iya Mas," jawab Marisa jujur.


"Apa yang Kakek katakan sayang?" tanya Elvan mulai khawatir. "Apa Kakek mengancammu lagi?"


"Tidak Mas, Kakek kesini karena minta maaf." Marisa mengurai pelukan nya dari tubuh Elvan.


"Apa? Kamu yakin sayang?" Elvan menatap wajah Marisa yang masih sembab.


"Iya Mas, sepertinya Kakek memang tulus. Tapi, aku masih belum siap Mas."


"Sayang, Mas percaya sama kamu, kamu wanita baik, apapun keputusanmu Mas akan terus mendukungmu."


🌱🌱🌱


Setelah berangkat dari rumahnya, Elvan menjemput sang ayah yaitu Pak Erwin yang memilih tinggal di villanya akhir-akhir ini. Elvan ditemani Pak Erwin bermaksud untuk membatalkan hubungan kerja sama mereka, sekaligus membatalkan acara pertunangan yang seharusnya digelar beberapa minggu lagi.


Mobil Elvan memasuki pagar besi yang sangat tinggi, melindungi bangunan rumah yang lebih pantas disebut istana itu. Setelah melewati petugas keamanan, dan memarkir dengan sempurna di garasi yang luas itu, Elvan akhirnya berjalan menuju bangunan utama rumah keluarga Sylvia.


Elvan dan Pak Erwin pun menunggu di ruang tamu, tak berapa lama Pak Danu ayah Sylvia keluar menemui Elvan dan Pak Erwin.


Setelah bersalaman dan saling berbasa-basi, mereka pun memutuskan untuk mengobrol di ruang tamu saja.


"Jadi, bagaimana kelanjutan hubungan kalian, sekaligus hubungan kerja sama kita?" tanya Pak Danu.


"Kalau masalah pertunangan, saya tidak bisa melanjutkan, karena istri saya sudah kembali, dan ingatan saya sudah kembali sepenuhnya. Jujur, saya tidak bisa menikahi Sylvia" jawab Elvan dengan mantap.


Pak Danu nampak berpikir keras, jujur ia sangat kecewa dengan Elvan, apalagi akhir-akhir ini putrinya selalu menangis karena laki-laki di hadapannya itu. Sylvia sangat mencintai Elvan, itu yang Pak Danu tahu.


"Lalu perjanjian kerja sama kita bagaimana? Kalian akan rugi besar, apa kalian siap?" tanya Pak Danu, masih berusaha membuat Elvan bertahan.


"Saya akan mengganti semua kerugian itu." Kini Pak Erwin ikut bicara.


"Kalian tahu kan berapa jumlah kerugian yang harus kalian bayar? Tapi saya minta seluruh saham Elvan juga Pak Erwin di GC group sebagai ganti ruginya," kata Pak Danu. Laki-laki seumuran Pak Erwin itu memang selalu memanfaatkan keadaan untuk keuntungan bisnisnya sendiri.


"Bagaimana Pa?" tanya Elvan mulai tak yakin. Bagaimanapun juga saham Elvan dan Pak Erwin di sana lebih besar dari jumlah saham investor lainnya. Elvan tentu mengkhawatirkan nasib perusahaan.


Pak Erwin dengan mantap mengangguk, karena merasa Kakek Darma sudah keterlaluan dengan hidupnya dan juga Elvan, maka Pak Erwin memutuskan apapun nasib perusahaan yang penting Elvan bisa bahagia dan hidup tenang.


"Baiklah." Elvan mengangguk.


"Tunggu dulu…." Kakek Darma baru saja turun dari mobilnya dan langsung tergesa-gesa memasuki rumah Pak Danu dengan membawa map berisi dokumen-dokumen penting….


Bersambung….


...Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.....


...Mau kasih hadiah dan vote juga boleh banget kok 🤭🤭...


...Terima Kasih...