My Amazing Husband

My Amazing Husband
Kakek Darma yang Licik


Setelah mendapat persetujuan dari papanya, Elvan pun mantap mengakhiri kerjasama dengan perusahaan Pak Danu, walau harus merelakan seluruh sahamnya dan juga Pak Erwin. Elvan meyakini hatinya, untuk bahagia memang harus ada yang dikorbankan, dan demi anak istrinya, ia akan bekerja lebih keras lagi mengganti saham yang ia korbankan.


"Baiklah." Elvan mengangguk. Ini adalah ujung jembatan panjang yang menegangkan baginya, sebelum bertemu dengan anak istrinya dan melanjutkan kehidupan bahagia dengan tenang.


Pak Danu tersenyum puas, kalau menurut perhitungannya, jumlah saham Elvan dan Pak Erwin jika digabungkan lebih dari 40 persen, jadi dia pasti bisa menguasai perusahaan raksasa itu.


"Tunggu dulu…." Kakek Darma baru saja turun dari mobilnya dan langsung tergesa-gesa memasuki rumah Pak Danu dengan membawa map berisi dokumen-dokumen penting.


"Kakek…."


"Ayah…."


Elvan dan Pak Erwin saling pandang, tak ada yang tahu tentang kedatangan mereka di rumah Pak Danu, bagaimana Kakek Darma bisa mengetahuinya? Apa yang akan Kakek Darma lakukan? Dan banyak lagi pertanyaan di benak mereka tentang kedatangan Kakek Darma yang tiba-tiba membawa dokumen itu.


"Kalian kenapa kesini nggak bilang-bilang?" tanya kakek Darma yang kini sudah duduk di sofa setelah dipersilahkan Pak Danu.


Pak Erwin dan Elvan menatap curiga kakek tua itu, pasti ada sesuatu yang direncanakannya.


"Ayah mau apa, kita sudah sepakat untuk mengakhiri hubungan ini?" tanya Pak Erwin.


"Lalu apa hasil dari keputusan kalian?" kakek Darma balik bertanya.


"Aku dan Papa akan menyerahkan seluruh saham kami untuk membatalkan pertunangan dan kerjasama perusahaan," jawab Elvan.


"Apa bisa begitu Pak Danu? Bukankah perjanjian itu bisa batal jika saya juga setuju?" Kakek Darma kini menatap wajah Pak Danu yang hampir saja mendapat kekuasaan atas perusahaan milik Kakek Darma.


"Kalau mereka sudah tidak bisa bersama, kita sebagai orang tua mau bagaimana lagi Pak Darma?" Pak Danu menjawab dengan santai, ia merasa telah menggenggam piala kemenangannya.


Namun Kakek Darma masih terlihat tenang. Elvan dan Pak Erwin hanya mendengarkan saja, apa yang sedang direncanakan kakek Darma.


"Apa Sylvia setuju dengan keputusan ini?" tanya Kakek Darma. Beliau terus memancing kata-kata Pak Danu, sebelum memutuskan untuk menyerang lawan bicaranya.


Pak Erwin mulai resah, sepertinya ayahnya itu memang berniat untuk melanjutkan pertunangan Elvan, tidak mungkin Kakek Darma mau perusahaannya merugi. 


"Ayah sudahlah, Elvan sudah menikahi Marisa tujuh tahun yang lalu, dan itu kenyataannya Ayah." Pak Erwin mulai terpancing emosi dengan sikap Kakek Darma. Pak Erwin kali ini tidak akan membiarkan Kakek Darma memaksakan kehendaknya lagi.


Kakek Darma menatap tajam putranya, di mata pak Erwin kakek Darma bisa melihat jelas amarah, kekecewaan, muak dan juga lelah.


Sementara Elvan menepuk-nepuk pundak Pak Erwin, memberikan ketenangan agar Pak Erwin bisa menahan emosinya menghadapi Kakek Darma.


Empat laki-laki beda generasi itu sama-sama membisu untuk beberapa saat.


Pak Danu sebagai tuan rumah tak ingin terjadi keributan, akhirnya Pak Danu buka suara. "Biarlah mereka mengakhirinya, pertunangan belum terjadi dan saya tidak ingin Sylvia dianggap sebagai pelakor. Soal Sylvia itu nanti urusan saya"


Elvan dan Pak Erwin terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Dalam hal ini Sylvia memang tidak bersalah, dan mereka juga harus memikirkan nasib Sylvia jika pertunangan ini gagal.


Kakek Darma tiba-tiba terkekeh membuat tiga laki-laki itu menoleh ke arahnya. Bingung. Mereka kebingungan, apa yang membuat Kakek Darma sampai tertawa dalam situasi menegangkan ini.


"Berarti memang kamu ingat kalau pertunangan ini belum terjadi kan?" tanya Kakek Darma pada Pak Danu.


"Ma…. Maksud Pak Darma apa?" Pak Danu balik bertanya, suaranya terbata pelan, tunggu ia sadar sekarang, kemana arah pembicaraan kakek Darma itu.


"Bukankah sebelum menandatangani perjanjian itu kita sudah sepakat, jika perjanjian akan dianggap sah jika pertunangan telah dilakukan, sedangkan Elvan dan Sylvia masih belum bertunangan kan?" Kakek Darma mengingatkan, nada bicaranya yang santai membuat Elvan dan Pak Erwin belum mengerti, apa yang dikatakan laki-laki tua yang masih menjadi pemilik perusahaan Guna Cipta itu.


"Maksud Kakek apa?" tanya Elvan penasaran.


"Jadi dalam perjanjian itu tertulis bahwa, kerja sama akan dimulai setelah terjadi pertunangan, jika terjadi pelanggaran kontrak kerja setelah pertunangan, baru pinalti akan berlaku. Jadi ganti rugi itu tidak akan berlaku karena pertunangan belum terjadi," jelas Kakek Darma yang membuat wajah Pak Danu merah padam.


Elvan dan Pak Erwin saling pandang, mereka sama sekali tidak memikirkan hal yang dibicarakan Kakek Darma


"Maksud ayah kita tidak perlu ganti rugi?"


"Tidak bisa begitu dong Pak Darma, bagaimanapun kalian juga harus memikirkan nama baik kami." Pak Danu kesal, semua rencananya telah gagal, kini ia harus mengubur mimpinya.


"Lalu apa Pak Danu juga peduli pada kami saat meminta semua saham perusahaan kami?" tanya Kakek Darma. "Silahkan baca lagi perjanjian yang telah kita tanda tangani." Kakek Darma menyerahkan dokumen berisi perjanjian kerja sama mereka.


Pak Erwin merebutnya lalu membacanya dengan teliti. Surat itu memang ditandatangani Kakek Darma dan Elvan karena Pak Erwin menolak pada saat itu. Sementara Elvan tak membaca detail poin-poin dalam perjanjian itu.


Setelah membaca seluruh poin perjanjian, Pak Erwin tersenyum puas. Ternyata Kakek Darma memang begitu licik sampai Pak Danu yang merupakan pengusaha hebat bisa terpedaya dengan perjanjian yang mereka buat sendiri.


Pak Erwin lalu menyerahkan dokumen itu kepada Pak Danu.


Pak Danu kemudian membaca surat perjanjian yang beberapa minggu lalu ia tandatangani sendiri. Lalu mengumpat dalam hati setelah menyadari kebodohannya sendiri.


"Saya lupa kalau Pak Darma adalah orang yang begitu licik." Pak Danu melempar surat perjanjian itu di meja, tepat di hadapan Kakek Darma.


"Memang begitulah bisnis Pak Danu, saya berharap kita bisa bekerja sama di kesempatan lain." Kakek Darma tersenyum puas.


Pak Erwin juga tersenyum bangga kepada Kakek Darma. Sedangkan Elvan nampak sedang berpikir keras.


"Saya minta maaf atas semua yang terjadi Pak Danu, saya tetap akan bertanggung jawab dengan memberikan 5 persen saham saya, mungkin jika diuangkan sekitar 5 miliar rupiah," kata Elvan dengan yakin.


"El, apa kamu benar-benar yakin? Saham kamu akan tersisa 20 persen saja El?" tanya Pak Erwin yang tak menduga keputusan Elvan.


"Yakin Pa, uang bisa dicari lagi Pa, aku rasa itu sudah sepadan dengan kerugian mereka." Elvan menatap wajah Pak Erwin sambil tersenyum.


"Kakek setuju, dengan keputusanmu El, Kakek juga akan segera membagi saham Kakek untuk kamu dan anak-anak kamu nanti," kata Kakek Darma dengan bangga.


"Ayah serius juga?" tanya Pak Erwin yang terkejut dengan keputusan Kakek Darma.


"Tidak perlu Kek, aku akan mundur dari perusahaan, jadi biar 20 persen saham yang tersisa untuk Zayn dan Zea saja."


"Tidak, keputusan Kakek sudah bulat, kamu tetap harus memimpin perusahaan, sebelum Zayn dewasa dan mengambil alih semua El."


Pak Erwin mengangguk setuju, sementara Elvan nampak berpikir keras. Kakek Darma belum tentu berubah, bisa saja ini hanya jebakan agar ia kembali ke perusahaan.


"Ya sudah lah, kalian bisa membahas ini di kantor kalian. Besok pengacara saya akan datang mengurus pemindahan saham Elvan," kata Pak Danu dengan kesal, namun ia tak mungkin menolak saham dari Elvan walau hanya 5 persen.


Akhirnya, Elvan, Pak Erwin dan Kakek Darma keluar dari rumah Pak Danu. Setelah menghubungi Marisa, Elvan pun mengajak ayah dan kakeknya itu untuk makan di rumahnya, karena memang sedari tadi mereka belum makan malam.


Meski ragu, Kakek Darma akhirnya setuju untuk makan malam di rumah Elvan.


🌱🌱🌱


Elvan memarkir mobilnya di garasi dalam rumah setelah Pak Erwin turun membukakan pintu pagar. Sementara mobil Kakek Darma diparkir di garasi dekat teras.


Elvan, Pak Erwin dan Kakek Darma telah turun dari mobil. Mereka berjalan memasuki rumah Elvan.


"Ayo Kek, masuklah," ajak Elvan saat melihat Kakek Darma hanya berdiri di depan pintu rumah Elvan.


"Apa istrimu tidak marah jika Kakek datang?"


Bersambung….


...Othor cuma mau ngingetin, jangan lupa tinggalkan like dan komentar kalian ya. Pasti Othor balas kok 🤭🤭...


...Kalau suka sama karya ini, boleh banget mau kirim bunga atau kopi,kirim vote juga boleh banget 🤭🤭...


...Terima kasih banyak readers masih setia terus 🤗🤗🤗🤗...